Ruby memejamkan mata

1034 Kata
"Kamu nggak keberatan kakak pegang ini? Tanya Liam pada Ruby Cewek itu menjawab dengan menggeleng pelan. "Udah berapa banyak yang kak Liam znye ekund urejas fuellad Liam terkekeh dengan pertanyaan yang Ruby lontarkan padanya. "This is the first time," bisik Liam tapi Ruby tak percaya. "Boong!" "I hold it all for you, Baby," netra Liam melirik tapi li dahnya bermain di atas buliran berwarna pink itu. Ruby memejamkan matanya, bibirnya menganga dan membusungkan dadanya. Seolah meminta Liam melakukan lebih keras lagi. Setelah puas bermain di bagian atas. Keduanya lunglai dan saling berpelukan, nafas yang masih sama-sama memburu menandakan bahwa gelora di diri mereka sama besarnya. "Tidur ya, kakak takut kebablasan, kamu masih SMA," ucap Liam dengan lembut. "Tapi kakak temenin Ruby kan?" Liam mengangguk dan menyelimuti badan Ruby hingga leher. Liam juga memeluk badan Ruby dari balik selimut. Agar ia masih bisa mengontrol dirinya agar tak bablas. Pagi pagi buta, Liam bergegas pindah kamar dari kamar Ruby ke kamar tamu dimana Keysa berada, dan ternyata Keysa sudah bangun dari tidurnya. "Lo udah bangun?" Tanya Liam dan Keysa menahan air matanya terjatuh. "Gue tau Lo pergi kemana semalam," desis Keysa menatap nanar dirinya sendiri. "Bagus kalau lo tahu, jadi gue nggak perlu repot-repot lagi buat bilang kan?" "Hah?? Gampang banget ya lo ngomong begini ke gue? Lo sama sekali nggak ngehargain perasa gue ya Li? Jahat tau nggak lo! Kurang apa gue Li? Gue selalu sabar ngadepin lo yang gonta ganti cewek, tapi gue nggak pernah berharga sedikitpun di mata to ya anjir?" Keysa marah. la benar-benar marah pada Liam. "Bukanya dari awal udah jelas? Gue nerima lo tapi dengan tidak sama sekali gue sentuh lo! Gue nerima lo karena lo selalu ngikutin gue kemanapun gue pergi." "Jadi sekarang lo mau kita putus ka? Karena lo merasa udah ketemu sama cinta sejati lo itu? Bulshit!! Liam!!!" "Bisa nggak sih nggak usah teriak? Ini di rumah orang asal lo inget!" "Terus kenapa kalau ini di rumah orang? Hah? Ini rumah cewek murahan itu kan? Udah lo apain dia hah???" "Gue anter lo pulang sekarang juga!" Liam menarik paksa lengan Keysa. "Gue mau lo putusin, asal lo mau ngabulin satu permintaan gue!" Liam mengangkat satu alisnya ke atas. "Apa?" "Cium gue di depan cewek murahan itu!" "Jaga mulut lo! Dia nggak murahan! Berani lo ngomong kaya gitu lagi, gue nggak akan segan lagi sama lo Keysa!" Keysa sudah tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh membasahi pipinya. "Gue anter lo pulang!" Liam kembali memaksa Keysa untuk pulang. "Gue akan pulang sekarang asal lo mau cium gue!" "Jangan bikin gue emosi ya Key! Gue masih baik sama lo karena karena gue ngehargain keluarga lo! Jadi nggak usah ngelunjak!" Tegas Liam menarik paksa Keysa keluar dari kamar. Dan saat Liam menarik Keysa keluar, Ruby menuruni anak tangga dengan mata yang masih sayu karena baru bangun tidur, cewek itu terbangun karena merasa Liam sudah pergi dari sisinya. Sayangnya malah ketemu lagi tapi dengan melihat Liam bergandengan tangan dengan Keysa. Keysa yang melihat itu langsung memanfaatkan keadaan dengan bergelendot di lengan Liam. "Kok udah bangun?" Tanya Liam datar. Tak lembut lagi seperti semalam. "Kebangun kak, haus," jawab Ruby berlari ke arah dapur. "Sayang kok pagi banget sih kita pulangnya? Mau lanjut di rumah kamu atau di rumah aku?" Tanya Keysa sengaja suaranya ia keraskan agar Ruby dapat mendengar. "Berisik!" Liam menarik paksa agar Keysa cepat keluar dari kediaman Robert. Sedangkan Ruby menjadi tak semangat dan lesu saat mendengar apa yang di katakan Keysa baru saja. "Kak Liam bohong kan? Dia bilang pertama kalinya sama gue, tapi apa tadi? Apanya yang mau di lanjut?" Gerutu Ruby menggenggam erat gelas di tangan nya, "Apa kak Liam bener cuma mainin gue?" Ruby menjadi pesimis sendiri. Kini perasaan Ruby menjadi galau gundah gulana. Mengingat apa yang ia lakukan bersama Liam semalam sangat bergelora, tapi pagi ini, seolah Ruby menelan pil kepahitan atas kenyataan jika Keysa adalah pacar yang masih sah juga dengan Liam. "Gue lupa kalau kak Keysa juga masih pacar kak Liam. Salah kah gue egois? Karena merasa kak Liam cuma suka sama gue?" Ruby menghembuskan nafasnya panjang lalu kembali melangkah menaiki anak tangga dan menuju kamarnya. Pagi itu masih sangat sunyi karena semua orang masih tidur dengan nyenyak, apa lagi ini adalah hari weekend. Begitu juga dengan Ruby yang ingin kembali tidur, walau keadaan yang tak sama lagi dengan Liam yang tidak ada di sisinya. "Tidur lagi aja deh. Nggak mau mikir yang macem-macem dulu," Ruby kembali tidur setelah ia menghabiskan satu gelas air putih. Sementara Liam yang baru saja sampai di rumah Keysa. Dan apesnya orangtua Keysa yang sudah terjaga pagi dini hari melihat Liam mengantar Keysa pulang. "Waahh... Anak muda jaman sekarang kalau main pulangnya pagi ya?" Tanya om Baskoro. Yng tak lain adalah papa dari Keysa. "Iya om, maaf Liam baru anterin Keysa pulang." "Nggak apa-apa. Om ngerti kok, tapi mampir dulu ya, kita sarapan bareng." "Dengan berat hati Om, Liam berterima kasih dan juga minta maaf karena tidak bisa ikut sarapan dengan Om pagi ini." "Loh kenapa? Ini kan weekend, kalian ada tugas?" Tanya Baskoro dan dengan cepat Keysa kembali memanfaatkan momentum tersebut. "Nggak ada kok pa, sarapan dulu ya, baru itu kamu boleh pulang," kata Keysa sengaja agar Liam masuk ke dalam rumahnya. Netra Liam melirik tajam ke arah Keysa. Ia benar-benar tak menyangka jika Keysa akan selicik itu. "Sorry Key. Aku tetep nggak bisa, ada urusan pagi ini dadakan." Keysa cemberut karena tahu jika Liam pasti akan kembali ke rumah Robert. "Kali ini aja, please!" Rengek Keysa. "Hayo lah Liam, sarapan doang kan? Habis itu kamu baru boleh pergi." "Baiklah kalau gitu Om." Keysa tersenyum dengan puas saat akhirnya Liam mau sarapan di rumahnya bersama keluarganya. "Leher lo kenapa? Di gigit nyamuk?" Tanya Robert yang kini juga tengah menyantap sarapan bersama Ruby dan teman - teman lainya. "Hah leher?" Ruby segera menutupi tanda kecil itu dengan tangannya. la baru sadar jika semalam Liam meninggalkan jejaknya di sana. "Isshhh..... Kak Liam!" Pekiknya dalam hati yang ingin sekali memarahi Liam Wiliam. "Iya itu di leher kamu, perasaan nggak ada nyamuk di rumah ini?" Tanya Robert mendekatkan wajahnya ingin meneliti tanda merah itu. "Ini tadi pas mandi kegaruk dikit kak, makanya jadi luka terus merah gini." Ruby mencari alasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN