Dengan pakaian Ruby yang biasa cewek itu kenakan setiap akan tidur. Celana piyama pendek yang hampir mirip hot pant dan atasan yang memakai tang top dengan tali spaghetti.
Satu tangan Liam menarik tali itu hingga turun ke lengan Ruby.
Liam tersenyum menyeringai, ia merasa harapannya selama ini tak sia-sia, menahan segala gai rah saat ia bersama wanita wanita lainya atau bahkan dengan Keysa pun Liam tak mau menyentuh wanita itu.
Liam Wiliam. adalah cowok tampan dengan tinggi 185cmdan berkulit putih, yang masih berkuliah di salah satu universitas yang terkenal di kota itu,
Anak satu-satunya dari keluarga konglomerat, sayangnya kedua orang tua Liam harus berpisah karena hubungan orang tuanya tak pernah harmonis, kendati begitu Liam tak pernah kekurangan jika masalah finansial dan keuangan.
Dia terkenal bad boy dan playboy, karena terlihat selalu gonta ganti pasangan, tapi siapa sangka jika cewek - cewek yang sering bergelendot di lengan Liam adalah hanya untuk hiburan saja, tak ada yang sentuh sama sekali oleh Liam. Karena cowok itu diam-diam menyukai adik dari sahabatnya sejak pertama kaili bertemu.
Sementara Ruby Hazel, adalah cewek yang masih duduk di bangku SMA High School. yang diam- diam juga menaruh hati pada teman kakaknya yang sering berkunjung ke rumahnya.
Tapi Ruby tak pernah berani mengungkapkan perasaanya karena tatapan cowok itu selalu tajam jika melihatnya.
Dan malam itu, semua berubah tiba-tiba.
"Kak...." Ngeluh Ruby saat Liam menggigit bahu Ruby karena gemas.
"Kalau keluar jangan pakai pakaian kaya gini ya," pinta Liam.
"Emangnya kenapa?" Ruby merasa bingung karena ia terbiasa dengan pakaian seperti itu.
"Kakak nggak mau orang lain lihat apa yang udah kakak lihat, everything in your body is mine, kamu ngerti kan?" Ruby mengangguk pelan.
"Kamu nggak keberatan kan? kalau sekarang kakak ngelarang kamu?" Ruby menggeleng lagi.
"Pinter." Cup. Liam mengecup bibir Ruby sekilas sebelum ia akan keluar dari kamar Ruby.
"Kakak mau kemana?" Ruby menarik ujung kaos yang Liam kenakan.
"Mau keluar, terlalu bahaya kalau kakak lama-lama di sini,"
Ruby melepaskan tangannya, tapi ekspresinya cemberut.
"Kok cemberut?" Liam kembali menghampiri Ruby.
"Kalaupun aku minta kak Liam untuk tetep disini juga nggak akan ngaruh kan? jadi ya udah kak Liam pergi aja." Ruby menunduk kan kepalanya.
"Kamu mau kakak tetep disini? kamu nggak takut kalau tiba-tiba kakak rekam kamu? kamu belum kenal kakak sepenuhnya loh."
Liam mengangkat dagu Ruby agar cewek itu menatapnya,
"Kenapa harus takut? Emangnya kak Liam mau kabur?" Liam terkekeh mendengar penuturan dari Ruby.
"Kakak temenin sampai kamu tidur ya," Ruby menggeleng.
"Nggak mau?"
"Aku maunya di temenin sampai pagi."
Rengek Ruby yang semakin membuat Liam gemas.
"Kakak baru tahu kalau kamu senakal ini," keduanya terkekeh bersama, dan Liam menggendong badan Ruby lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Kalau kakak kamu tiba-tiba dateng gimana?"
"Nggak apa-apa, kan biar langsung di nikahin sama kak Liam."
Deg.
Detak jantung Liam tiba-tiba berdetak dengan cepat, "kamu mau nikah sama kakak?" Tanya Liam serius.
"Emangnya ada yang nggak mau nikah sama kakak? Semua cewek juga mau nikah sama kakak."
"Oh ya? Kok kakak nggak tau sih?"
"Kak Liam mah cuma pura-pura nggak tahu, padahal kan kakak sering gonta-ganti cewek. Ruby yakin kalau cewek yang kakak putusin pasti juga nolak diputusin kan?"
"Kamu peramal ya? Kok bisa tahu semuanya sih? Boleh ramalin kakak nggak? Tapi bukan di tangan."
"Aku kan bukan peramal, cuma naluri sesama cewek aja yang suka sama kak Liam."
"Kalau kakak bilangnya kakak sukanya sama kamu doang, kamu percaya nggak?"
Seketika wajah Ruby merona lagi. "Aku nggak percaya."
"Kalau kamu nggak percaya sama kakak, kenapa mau di ci um sama kakak tadi?"
Netra Ruby beralih ke bibir Liam yang kecil tapi sedikit bervolume. Dan itu membuat Liam semakin terlihat sexi.
"Emangnya ada cewek yang nolak di cium sama kak Liam? Ruby rasa nggak akan ada."
"Mana HP kamu?" Tanya Liam tiba-tiba.
"Nih." Ruby memberikan ponselnya. " Mau ngapain?" Tanya Ruby penasaran.
"Ini no kakak, kalau kamu butuh bantuan atau butuh apapun itu. Kamu bisa telepon kakak, jangan minta tolong ke orang lain!"
"Kak Robert juga nggak boleh?"
"Hem...... Boleh sesekali, karena dia kakak kandung kamu."
"Kalau aku telepon, emangnya kak Liam langsung bisa dateng?"
"Kakak usahain dateng,"
Ruby tersenyum lalu memeluk badan Liam.
la tak menyangka jika Liam dengan cepat akan membalas cintanya.
"Jadi kita sekarang ini apa?"
"Kamu maunya apa?"
"Pacar kak Liam. Tapi pacar kak Liam bukan cuma aku," Ruby menjadi lesu mengingat ada Keysa yang tidur di kamar tamu.
"Nanti, pada waktunya kamu akan jadi one and only buat kakak."
"Kak Liam nggak lagi mabuk kan ngomong gini?"
"Emangnya tadi pas ciu man nafas kakak bau alkohol?" Wajah Ruby kembali merona mengingat bagaimana dia juga tak bisa menahan gejolak yang ada di dalam hatinya.
"Dikit," sahut Ruby menunduk.
"Kakak minum dikit doang, dan kakak nggak lagi mabok."
"Boleh cium lagi nggak?" Pinta Ruby yang malah memancing singa tidur.
"Kamu minta lebih juga kakak kasih."
Grep.
Dengan cepat Liam menyerbu bibir Ruby.
Melumat dan mengisap bibir Ruby dengan penuh gairah.
Bahkan Liam tak segan membuka kaos yang ia kenakan. Membuat netra Ruby terbelalak saat melihat otot perut Liam yang sixpack.
"Mau pegang?"
Kini posisi Liam duduk bersandar di bahu ranjang.
Liam menepuk pahanya, menitah Ruby untuk duduk di atas pangkuannya.
Ruby merayap dan duduk dengan pelan di atas pangkuan Liam.
Dan Liam menggiring jamari mungil Ruby untuk menyentuh otot-otot perutnya yang terekspos dengan nyata.
"Sshhh...." Lim menelan ludahnya kasar. Dan itu bisa di lihat dengan jakunnya yang naik turun.
Liam menarik pinggang Ruby agar semakin mendekat. Tapi sayangnya tongkat sakti milik Liam terasa di jepit.
"Masa kakak doang yang buka kaos. Nggak adil kan?" Kata Liam dengan senyum smirknya.
Dan dengan mudahnya Ruby mengangkat tangtop yang ia pakai. Hingga kini menyisakan kedua bulat kembar itu tanpa terbungkus kain apapun lagi. Karena itu sudah menjadi hal biasa jika Ruby akan tidur.
Ia akan melepas bra yang ia pakai. Sungguh Mengejutkan, apa yang di lakukan Ruby.
"Ohh.... s**t! Boleh kakak pegang?"
"Bukanya kak Liam bilang kalau aku cuma punya kakak?"
Senyum semakin mengembang di bibir Liam.
Saat bagaimana rasanya telapak tanganya untuk pertama kali menyentuh bagian yang sudah lama ia inginkan itu.