Hari pun kembali pagi, Anes telah terbangun dari tidurnya. Seluruh badannya terasah sangat sakit tapi dia mengabaikan itu, untung saja dia kemarin sudah mengasih sinyal keberadaannya melalui jam tangan yang terhubung dengan laptopnya. Anes pun menghela napasnya pelan, dia lega sudah mengasih sinyal pada orang rumah. Tetapi Anes berfikir lagi apa ada yang yang mengetahuinya?. "Semoga saja bang Javin dapan membuka laptopnya" batin Anes. Anes pun menutup mata sejenak. Clekkk "Woy bangun" ucap Fano yang baru saja masuk, Anes pun membuka matanya kembali dan terlihat salah satu anak buah dari Vino. "Nih makan" ucap Fano menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauk serta satu gelas air. "Cepat makan, jangan sampai bos marah sama gue, karena lu gak mau makan" bentak Fano pada Anes, karena Ane

