c h a p t e r 4 0

3425 Kata

“Kenapa rekamannya ada di sini…?” tanya Ina pelan dan bergetar. Dila mengerjap. Getir. Dibalasnya tatapan Ina itu dengan sendu. “Buminya itu Delo, Na…?” Selama beberapa saat, hanya ada kesunyian yang melingkupi. Hanya ada keheningan yang menyelimuti. Baik Dila maupun Ina, keduanya sama-sama diam seribu bahasa. Dila berdiri sabar menunggu jawaban Ina, tapi cewek itu justru tak kunjung membuka mulutnya. “Kenapa lo gak pernah bilang, Na?” Dila akhirnya bersuara lagi. Kecewa. “Karena gue tau reaksi lo bakalan kayak gini!” Ina tiba-tiba menyahut dengan suara tinggi. “Lo itu egois, Dil. Lo cuma mikirin perasaan lo sendiri. Lo gak pernah peduli sama sekitar. Lo gak pernah peduli sama temen-temen lo. Lo gak pernah peduli sama gue,” kata Ina terang-terangan. “Lo selalu pengen jadi pusat perhati

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN