Dila berjalan cepat melintasi lorong rumah sakit yang terang benderang. Hilir mudik para suster, brankar yang didorong, anggota keluarga yang menjenguk, bau antiseptik, semuanya sama sekali tak Dila hiraukan. Lepas dari pengamatannya begitu saja. Yang jadi tujuan Dila saat ini cuma satu: lantai tiga, kamar nomor 304. Begitu sampai di depan lift, Dila lantas segera masuk, menekan tombol lantai tiga, lalu berdiri menunggu dengan cemas. Selang beberapa detik kemudian, lift berdenting halus, kedua pintu besi itu perlahan terbuka, dan Dila buru-buru berlari keluar dari dalamnya. 300… 301… 302… Mata Dila memindai dengan cepat nomor-nomor yang terpasang di setiap kamar. Dan begitu akhirnya cewek itu berbelok ke lorong selanjutnya, sosok yang familier di kejauhan langsung menyapa indra pengliha

