c h a p t e r 3 8

1570 Kata

“Kenapa, Dok?” tanya Kak Poppy ketakutan. “Tonjolan di pembuluh darah otaknya telah pecah. Kami akan segera melakukan operasi darurat,” kata dokter itu cepat, sambil buru-buru menuntun brankar Reihan menuju ruang operasi. Kak Poppy mengekor di belakang. Mulutnya berkali-kali merapalkan doa, berharap Reihan akan baik-baik saja. “Keluarga harap menunggu di sini,” ujar salah satu suster, menghentikan langkah Kak Poppy tepat di depan ruang operasi. Dengan sisa-sisa kekhawatiran yang ada, Kak Poppy duduk cemas di kursi tunggu. Tangannya yang bergetar susah payah merogoh saku celana, berniat mengeluarkan ponsel agar bisa menghubungi Bunda dan Delo untuk memberitahukan bahwa jadwal operasi Reihan terpaksa ditarik maju. Tapi sayang, sementara Bunda sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN