day's 2

1361 Kata
Tiga bulan kemudian… Clara membuka pintu rumah itu, mempersilahkan seorang gadis yang ia tidak sengaja temukan di jalanan pada malam dimana butiran salju turun. “Masuklah.” Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia memilih untuk melangkah masuk, dia mengedarkan pandangan untuk mengamati seluruh penjuru ruangan itu. Terlihat sangat sederhana, tapi terasa begitu nyaman. Perabotannya pun tidak terlalu banyak. Terlihat seperti baru saja pindah. Cahaya pagi menelusup di balik tirai jendela memberikan sebuah kesan yang terlihat nyata di sana. Ia kemudian menatap Clara dengan bingung. “Mulai sekarang ini adalah rumahmu. Kau akan tinggal bersamaku di sini.” Clara, wanita itu tersenyum manis dengan raut ramah yang membuat ia merasa begitu dihargai dan disambut dengan dekapan hangat di musim dingin. Sejenak dia terenyuh. Namun detik berikutnya Clara tersadar saat menyadari dahi gadis itu mengernyit. Ia segera meralat ucapannya. Tangannya merapikan beberapa helai rambut yang menjuntai hingga menutupi wajah gadis itu. Lalu menyelipkannya di telinga. “Maksudku, ini adalah rumah baru kita. Mommy baru saja menyewa tempat ini karena suasana di sini jauh lebih nyaman dari pada tempat lama kita Milly.” ucap Clara meyakinkan, dia berusaha bersikap sebagaimana mestinya, karena bagaimanapun juga dia berharap jika gadis yang bernama Milly akan percaya dengan ucapannya. Lagi, sorot mata gadis itu menerawang. Menjelajah seluruh isi rumah itu dengan seksama untuk memastikan satu hal. Sedangkan Clara kembali berbicara, “Dan Mommy baru bisa memindahkan beberapa barang saja dari tempat lama kita.” Gadis itu kemudian terkejut ketika Clara tiba-tiba menariknya, membawanya ke hadapan cermin. Clara mengumbar senyum hangat padanya. Kemudian mengeluarkan ponsel. Menggeser sesuatu dan memamerkan sebuah foto padanya. “Lihatlah. Ini adalah foto kita sewaktu berada di rumah yang lama.” Pelan, gadis itu mengambil ponsel Clara. Menatapnya lama, lalu memandang pantulan dirinya. Raut wajahnya berubah sedih. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Mom?” Pertanyaan itu langsung di sambut dengan sebuah pelukan hangat dari Clara. Gadis itu, walau ragu dia membalas pelukan Clara. Dan tersenyum tipis. “Kau mengalami kecelakaan dan aku tidak ingin kau mencoba mengingatnya karena kenangan itu tidaklah baik untuk mu. Tidak apa kau jika kau harus menyingkirkan kenangan indah tentang kita dulu, karena kita bisa memulainya dari awal.” “karena mulai sekarang, kau hanya perlu mengenang segala hal indah dalam kepalamu.” Kemudian pelukan Clara terurai. Lekat ditatapnya bola mata hijau gadis itu. Sorot hangat yang memancarkan kebingungan di sana tak menyurutkan betapa cantiknya gadis itu. Dia benar-benar memiliki bola mata yang indah laksana embun di pagi hari. “Kau adalah Milly Kincaid, putri yang sangat aku sayangi. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu.” Clara menatap sepasang bola indah itu dengan senyum penuh keyakinan, yang mana hal itu tentu saja membuat Milly sedikit luluh karena ucapan dari wanita di hadapannya kini. Lalu untuk pertama kalinya Milly menarik tipis seutss senyum di bibirnya dan membuat tubuh gadis itu kembali terdorong, terbenam dalam dekapan Clara lagi. “Milly?” gumam gadis itu. “Ya. Kau mungkin lupa identitasmu setelah kecelakaan itu. Tapi aku akan membantumu. Perlahan-lahan kau akan ingat masa-masa menyenangkan bersama yang pernah kita lewati, sayang.” Rengkuhan Clara makin erat dan bibirnya turut memberikan kecupan singkat di kening gadis itu. Dia akan melakukan semuanya demi bisa mendapatkan sebuah rasa percaya dari gadis ini. Maafkan dirinya yang bertindak egois. Perasaan tidak rela melepas kematian putrinya membuat ia melakukan semua ini. Kepada gadis yang terbangun dan seketika melupakan memori di kepalanya, Clara memanfaatkannya, mengubah seluruh hal tentang gadis itu hanya untuk dirinya sendiri. Walau ia tahu siapa gadis itu sebenarnya. Pikiran itu terlintas begitu saja di benaknya. Hingga wajah gadis itu sekarang telah dipermaknya serupa dengan putrinya yang bernama Milly Kincaid, tapi telah meninggal beberapa bulan lalu akibat insiden yang begitu menyayat hatinya, anak tercinta yang sudah dia besarkan penuh kasih dan sayang harus kehilangan nyawa saat diperkosa dan ditinggalkan begitu saja dalam keadaan tak bernyawa. Sungguh para pria bejad, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa peduli dengan nyawa orang lain, bahkan jika mereka semua tertangkap, mereka akan menyalahkan kaum wanita dengan dalih jika kaum wanita harus memperjuangkan pakaian mereka. Padahal, semua itu terjadi karena pikiran mereka dan niat terselubung yang begitu busuk. Clara selalu menyimpan dendam itu dan berdoa, tak akan ada kebahagiaan untuk mereka yang selalu berbuat jahat. Kini sebuah harapan datang ketika dia mulai putus asa dan tenggelam dalam rasa kesedihan. Dihadapannya kini seorang gadis berdiri dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Tidak akan ada yang mengenal gadis ini lagi. Sebab mulai detik ini, gadis ini akan hidup sebagai putrinya. Dan Clara bersumpah tidak akan membiarkan hal buruk itu dialami oleh putrinya lagi. Milly-nya. *** “Kau sudah menemukannya?” tanya Fernandez Miller, salah satu sahabat karib Axton yang telah lama berteman sejak duduk di bangku junior high school. Lelaki itu duduk di sebelah sofa Axton sementara suara musik menghentak di sekeliling mereka. Kerlap-kerlip lampu warna-warni menyala, membuat suasana malam itu semakin heboh. Beberapa para pasangan berdansa dengan liar di dansa floor. Memeluk dan bercumbu dengan panas tanpa peduli dengan ribuan orang yang ada di sana malam itu. “Tidak…” balas Axton lesu. Tangannya menuangkan botol berisi alkohol ke dalam beberapa gelas, lalu setelahnya dia mengambil salah satu menenggaknya hingga kandas. “Thomas sudah mencarinya.” lanjutnya lagi sembari meletakkan gelas di tangannya dengan sedikit kasar. “Kurasa… kau harus melupakannya, Axton,” ujar Fernandez ikut menenggak minuman yang dituangkan Axton ke gelasnya. “Aku yakin ia masih hidup, Andez.” Kemudian Axton melirik ponselnya yang menyala dan menampilkan wallpaper kemesraan dirinya dengan Evelyn. Di foto itu mereka terlihat bahagia dengan saling merangkul mesra dan gambar itu angelnya diambil dari atas kepala. Tentu saja Axton yang memegang kameranya. “Entah di mana dia…” lirih Axton. Fernandez menyandarkan punggung ke sofa. Ekor matanya melirik Axton yang terlihat begitu kacau. Lalu setelahnya pria itu mengusap wajahnya, dan mengerang. “Aku berniat melamarnya malam itu di hari ulang tahunku.” itu adalah rencana indah yang selalu ingin Axton lakukan sejak lama, jauh sebelum mereka berada di titik seperti sekarang ini. “Kau sudah menyiapkan segalanya dengan baik, hm?” Axton menggeleng akibat rasa pening mendera kepalanya. Ia kemudian menyandarkan kepala di sandaran sofa. Matanya menerawang dengan tatapan hampa. “Ya. Dan seharusnya hari ini ia bersamaku, menghabiskan malam kami di atas ranjang.” Fernandez mendesah kesal. “Jika isi otakmu hanya tentang ranjang, maka kau bisa menghabiskan waktumu dengan gadis pirang itu.” “Apa maksudmu?” “kau tahu. Dia sangat tergila-gila padamu. Kau bisa menuntaskan fantasimu tentang Eve dengannya.” Fernandez melirik ke arah Chloe yang berjalan dengan gaun seksinya-mengekspos belahan dada juga paha mulusnya. Mengoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, menghampiri Axton. Gadis itu adalah teman senior high school mereka dan begitu terobsesi dengan Axton. Namun pupus ketika Axton memilih memacari Evelyn, gadis yang mampu menarik perhatian seorang Axton hingga membuat dirinya tergila-gila pada wanita itu. Namun usai mengetahui kabar duka tentang Evelyn beberapa hari lalu, gadis itu kembali berusaha mendapatkan Axton. Ia berharap bisa menggantikan posisi Evelyn di hati Axton dan mendapatkan hati seorang pria tampan dengan kemewahan yang luar biasa. “Hei Axton,” sapa gadis itu. Dengan senyum centil dia mendekat, bahkan tanpa aba-aba tangannya terjulur pada sisi kepala Axton di sandaran sofa, dan mengurungnya. Mata Axton menggelap memandangi gadis pirang itu. “Sepertinya kau sedang mengalami hari yang buruk hm.” Fernandez menghela nafas melihat Chloe mulai menggoda Axton dengan jemari lentiknya. Bermain di sekitar pipi Axton. “Aku bisa menemanimu malam ini ...." “Dan kau…” Chloe menatap Fernandez dengan senyuman miring. “Bisa kau meninggalkan kami berdua?” “Sayangnya aku tidak bisa.” Fernandez menolak mentah-mentah pengusiran Chloe. Ia kembali asik menuang minumannya. Sementara Chloe berdesis dan pada detik yang sama Axton menarik kepala gadis itu, menciumnya dengan panas. Fernandez yang melihat itu hanya tersenyum sinis. Tegukan demi tegukan cairan alkohol itu menjalar di kerongkongannya. Satu hal yang tidak pernah Axton ketahui, bahwa dirinya yang menjadi dalang dari kecelakaan kekasihnya. Evelyn Blossom. Dan Fernandez bersumpah akan menemukan gadis itu lebih dulu daripada Axton. Lalu menghabisinya. Jika perlu mengirimkan jasadnya setelahnya kepada Axton agar lelaki itu bisa merasakan sedih juga sehancur apa kehilangan orang yang memiliki andil penting dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN