Days 3

1747 Kata
Sebuah Dendam Jauh di sebuah rumah megah yang memiliki begitu banyak pengawal dan beberapa mobil mewah terparkir, sebuah lengkingan suara berasal dari nyonya pemilik rumah itu yang membuat beberapa pekerja di sana cukup terkejut tapi tak bisa berbuat apa-apa. “Apa yang kau lakukan Otis?!” jerit Wella ketika mendapati suaminya itu bertelanjang dada dan bercumbu dengan seorang wanita di atas sofa. Sungguh, perlakuan itu adalah perlakuan gila di mana seorang pria bernama Otis yang tak lain adalah suami sah dari Wella ibu Axton terlihat tengah melakukan perbuatan bejat yang membuat dirinya terkejut bukan kepalang. Di siang hari bolong, dia melakukan sesuatu buang menjijikan dan sangatlah tidak pantas. Dsn kebusukan itu disaksikan langsung oleh istrinya yang baru saja datang dari luar kota. Wanita itu dengan lemah membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Lalu tanpa sadar linangan air mata mulai membasahi pipi mulusnya. “Kau… selingkuh dariku?” rintihan suara itu begitu menyayat, terdengar begitu hancur. Namun aoanyang di rasakan Wella tidak serta merta membuat pria itu menghentikan perbuatannya, dia malah menyeringai. Bahkan tanpa menghiraukan istri sahnya, dia melanjutkan apa yang tengah dia lakukan, Ia meremas buah dada wanita itu, membuah desahan seksi itu lolos dari bibir wanita itu, lalu menjawab pertanyaan istrinya. “Kau bisa keluar jika kau tidak suka melihatku Wella.” ucapnya santai tanpa rasa bersalah di dalamnya. “Otis....” ucapan Wella membuat Otis berdecih kasar, lalu berkata, “Dengar Wella…” Otis menarik wanita yang telah tidak berbusana itu agar beranjak bersamanya. Lalu memeluk pinggang wanita itu dari belakang, memasukkan jemarinya di inti wanita itu hingga pekikan erotis terdengar. Sungguh, sebuah perlakuan keji yang dilakukan oleh pria yang selama ini dicintai oleh Wella, dia tidak menyangka jika Otis akan melakukan hal gila seperti ini. Dan lebih parahnya, tanpa malu wanita itu bergerak sambil mengalungkan tangannya pada leher Otis. Otis menatap Wella dengan tatapan mengejek. Tak ada rasa bersalah di wajahnya, bahkan dia seolah-olah menikmati semua hal yang terjadi. “Aku muak dengan semuanya. Pernikahan kita. Juga keluarga bahagia yang kita umumkan di publik. Aku lelah memainkan sandiwara sebagai suami terbaik untukmu.” Bagai tersambar petir, Wella hanya membuka mulutnya tanpa bisa berkata-kata, pernikahan yang selama ini dia anggap kebahagiaan terindah yang pernah dia milikku hanyalah sebuah ladang kebencian bagi Otis. “Apa?” “Ayahmu baru meninggal sebulan yang lalu. Jadi aku tidak perlu lagi bersikap manis lagi di depanmu, dan kau tahu, bertingkah seolah-olah aku mencintaimu adalah hak yang menjijikan untukku.” Otis menyeringai. Ia mengeluarkan jemarinya dan melakukan hal yang lebih gila lagi, dia benar-benar pria binatang yang pernah Wella tahu. Mereka bercumbu dihadapan Wella tanpa merasa terganggu sekalipun. Kemudian Otis mulai menggerakkan pinggulnya pelan. Ritme itu juga diikuti oleh wanita itu. Sambil mencumbu leher wanita itu, Otis menatap Wella. “Aku tidak lagi membutuhkanmu. Lagi pula semua kekayaan milik Ayahmu sudah berada dalam kendaliku.” “Otis… kau…” “Tidak ada pria yang ingin menikah dengan wanita mandul sepertimu.” sentak Otis kasar, dia benar-benar keterlaluan dalam memperlakukan seorang wanita. Di mana itu adalah sebuah kekerasan dalam rumah tangga yang bisa saja merusak mental seorang wanita seperti Wella. Air mata Wella mengalir deras. Kepalanya menggeleng dan hatinya merasa sangat sakit mendengar kata-kata Otis, suami yang sangat ia cintai selama bertahun-tahun ini ternyata memiliki peringai seperti binatang yang begitu menjijikan. Ia tidak mengerti mengapa Otis melakukan semua ini padanya. Semuanya berubah dalam sekejap mata, dan semua topeng kebusukan yang dipakai oleh Otis terbuka. Otis meremas kedua payudara wanita itu hingga lenguhan seksi itu terdengar. Kepala suaminya itu menengadah terlihat menikmati percintaan panas itu. Dan pemandangan menjijikan itu tidak luput dari mata Wella. “Kau pasti sedang bertanya mengapa aku mendadak berubah bukan?” Tangan Otis bergerilya ke bawah mengusap inti wanita itu tanpa malu di hadapan Wella. “Aku suka ketika milikmu menyatu dengan milikku, honey,” bisik Otis sensual di telinga wanita itu, menyulut gairah. Wanita itu mengigit bibir dan mengerang, “Oh, Otis. Kau sangat luar biasa, honey.” “kaupun begitu, honey.” ucap Otis di sela percintaan mereka. Tanpa memperdulikan jika ada sepasang mata yang menatap perbuatan itu dengan dendam yang begitu membumbung di hati seorang wanita. Wella setengah mati menahan amarahnya, dia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga buku tangannya memutih karena hak itu, bibirnya bergetar, dia tak bisa menahannya, air mata yang lolos berhasil membuat dirinya benar-benar terlihat hancur. “Hentikan Otis…” Otis menyangka kepalanya, meninggalkan apa yang dia sukai sejak lama dan menatap Wella penuh dengki. Tatapan yang tidak pernah dilihat oleh Wella sebelumnya. “kau tahu Wella ... Selama ini aku tidak pernah mencintaimu, sedikitpun aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku hanya menghabiskan waktumu, dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali pada wanita yang aku cintai.” Wella menelan salivanya dengan susah payah. Ia mengusap air mata yang terus merembes. “Wanita? Apa mak—” “Clara Kincaid, wanita ini adalah cinta pertamaku. Kekasihku yang aku tinggalkan karena Ayahmu tahu kau begitu mencintaiku.” Otis menjeda kalimatnya, dia menatap Wella dengan tatapan marah. "karena ayahmu yang memaksaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti ucapannya, karena jika aku menolak. Maka pria brengsek itu akan membunuh Clara, dan semua itu karena kau! Karena kau mencintaiku!" “Otis…” “Kau tahu apa yang dilakukan Ayahmu padaku di belakangmu?” Otis mengigit daun telinga Clara, sementara Clara hanya menatap lurus ke arah Wella. Ada gairah bercampur kebencian di sana. Sesekali ia mendesah nikmat oleh sentuhan Otis yang meraba tubuhnya. “Ayahmu membunuh juga merengut harta kedua orangtuaku. Lalu mengancamku akan menyakiti wanitaku. Karena itu akhirnya aku meninggalkannya demi dirimu.” Pengakuan Otis membuat Wella sangsi. “Tidak. Ayahku bukan orang seperti itu,” lirihnya. Selama ini ayah Wella adalah sosok yang baik di hadapannya, dan dia tahu sang ayah adalah sosok yang begitu hebat, dan ayah yang selalu mengerti akan dirinya. Ayah bukanlah orang yang seperti Otis katakan. “Kau tahu jelas Otis. Ia sangat menyayangimu.” ucapnya dengan suara lirih. Mendengar hal itu tawa Otis pecah, dan membahana. Ditatapnya Wella dengan mata mengancam. “kau tahu, semua itu hanyalah kepalsuan Wella. Dan asal kau tahu ... Ayahmu jugalah yang sudah mencelakai Putriku.” Otis kemudian menarik wajah Clara, menciumnya dengan ganas. Seakan tidak mempedulikan keberadaan Wella yang berderai air mata di ujung ruangan. “Putriku yang baru kuketahui setelah ia tiada,” erang Otis di sela lumatannya. Ada rasa pilu dan terluka terselip dalam nada bicaranya. Ekor matanya melirik Wella. “Dan ayahmu lah yang mengambil nyawanya, dia ... Dia menyewa lima pria sialan untuk menodainya sampai tidak bernyawa lagi.” Otis kemudian melepas pagutan mereka. Terengah-engah bersama Clara. Mereka seolah-olah tengah melampiaskan semua kemarahannya di hari ini. Hari yang sudah mereka tunggu untuk membalaskan semua dendam itu. “Tidak hanya itu…” Jemari Otis mengusap sensual bibir bengkak Clara dengan senyum nakal. Kembali memandang Wella tajam. “Kehidupan wanitaku menjadi seperti sekarang karena Ayahmu. Keluarga wanitaku terlilit utang pada Ayahmu dan ia harus melunasinya dengan menjadi wanita mainan Ayahmu, Wella.” Otis menghentikan gerakan tangannya, dia menatap Wella dari ekor matanya, lalu menatap wanitanya dengan sendu. "Kau hanyalah sebuah boneka pajangan yang diberikan semua yang kau inginkan, tanpa tahu peringai seorang ayah di belakang mu. Dia adalah iblis yang sesungguhnya. Dia benar-benar menjebak semua orang yang tidak bersalah." “Hingga…” Kerongkongan Otis terasa kering, tapi ia tetap melanjutkan, “Ia menjadi terbiasa dengan itu dan rela menjadi wanita panggilan pria mana pun demi membiayai kehidupan putriku.” Itu adalah luka yang begitu besar, menganga dan siap tersiram oleh alkohol dan membuat rasa sakit itu kembali terasa. Dia menatap sendu wanitanya, wanita yang selama ini dia cintai dengan sungguh-sungguh harus mengorbankan harga dirinya agar dia bisa hidup di tengah-tengah kesulitan yang dia hadapi. Dia .... "Semua itu karena ayahmu...." Otis menyambar bibir ranum itu lagi. Mencumbuinya dengan gairah yang bercampur dengan amarah. “Ayahku bukan pria bajingan seperti yang kau katakan Otis!” Wella benar-benar merasa marah karena Ayahnya dijelekkan begitu saja, padahal sosoknya telah tiada di dunia ini. "Dan kau! Kau adalah pria brengsek itu sendiri Otis!" “Kau yang bajingan, Otis…” Racau Wella dengan suara lemah, kepalanya tertunduk. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu menangis keras. Tapi detik berikutnya ia terkejut ketika suaminya menarik tangannya. Menyeretnya keluar dari tempat itu secara paksa. “Otis!” pekik Wella saat tersungkur di pekarangan rumah. Hatinya terasa perih seperti ditikam ribuan pisau. Dadanya sesak dan segala perasaan hancur berbaur jadi satu ketika melihat suaminya kini membentaknya, “Dan sekarang sudah saatnya, kau merasakan kesusahan itu Wella!” “Keluar dan jangan muncul di hadapanku lagi!” Setelah itu pintu berdebam kencang, Wella berjengit lalu menangis sesegukan. *** Pagi harinya, Axton menggedor pintu rumahnya. “Dad!” teriaknya lantang. Sementara Wella meringkuk di dekat pot bunga, pandangannya kosong dan terlihat terpukul berat. Entah apa yang terjadi dengan Ibunya, tapi Axton merasa ada yang salah. Kondisi Ibunya tampak memprihatinkan. Menangis dan menjerit ketika ia datang. Tidak fokus pula menatap matanya. “Kau sudah kembali?” pintu itu terbuka dan sambutan cuek diberikan Otis padanya membuat heran Axton. Terlebih ada noda lipstik di bibir Ayahnya itu. “Apa yang kaulakukan Dad? Kenapa Mom ada di luar?” Otis melirik tidak minat ke arah Wella sambil mengancing kemejanya. Istrinya itu menggeleng seperti melihat hantu. “Aku akan menceraikannya. Kau harus siap mempunyai Ibu baru.” “Apa?” Otis mengangkat kedua bahunya cuek. “Jika kau tidak ingin, kau bisa keluar dari rumah ini juga Aro. Daddy sama sekali tidak keberatan.” “Apa maksudmu Dad?” “Simple. Daddy tidak mencintai Mommy lagi. Kau ingin ikut Daddy, maka kau bisa menikmati fasilitas di rumah ini. Tapi jika kau ingin ikut Mommy, kau harus siap menjalani kehidupan keras tanpa sepeser uang.” Setelah itu Otis masuk ke dalam rumah kembali, namun pintu masih terbuka. Axton lantas berlutut dengan satu kaki terlipat dan ingin bertanya pada Wella, memegang bahu Ibunya, “Mom…” Wella segera menepis tangan Axton. “Pergi!!!” teriaknya histeris. Kemudian beringsut menjauh dari Axton segera, membuat sorot sendu meliputi bola mata Axton. Ibunya tampak kacau. Tidak terlihat bagai orang normal pada umumnya. Lalu seruan Otis dari dalam rumah terdengar, “Kau bisa membawanya ke psikiater Aro. Mommy-mu sepertinya mengalami depresi berat!” Axton mengepalkan kedua tangannya, menatap nyalang sosok Ayahnya dari jauh. Sekilas ia menangkap sekelebat bayangan wanita yang bermesraan dengan Ayahnya di dapur, sebelum lenyap begitu saja dari pandangannya. “Apa wanita itu yang menyakitimu Mom?” gumam Axton berang. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN