“Aku tidak seberuntung dirimu, Cora.” Jhon tersenyum miris, “Kalian saling mencintai untuk yang kesekian kalinya. Cintaku berbeda, aku hanya ingin melihat dia bahagia walaupun bukan aku yang bisa membuatnya bahagia. Stop membicarakan masa lalu, Cora. Jalani masa depan ini penuh dengan semangat. Jadi apa mau aku antar pulang?” Jhon menatap sepasang mata di hadapannya dengan tatapan yang menuntun sebuah jawaban. Cora menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. “Aku mau pulang.” Cora tahu, ia tidak mungkin bisa terus berlari seumur hidupnya. Kenyataan pasti selalu lebih pahit dari sebuah khayalan dan kenyataan itu harus dihadapi bukan dihindari maupun diacuhkan begitu saja. Ia tidak ingin terus tersakiti. Rasa sakit karena mencintai membuatnya sadar bahwa mencintai bukanlah hal yang mudah

