Setelah cukup lama disekap, pikiran positif Manaka sudah tak tersisa. Ia hanya duduk termenung sepanjang hari, menatap ke jendela yang dilapisi oleh teralis itu dengan tatapan kosong. Manaka bahkan sudah berhenti menghitung hari, ogah menyentuh makanan yang diberikan padanya. Reno sama saja. Pria itu sudah terlalu putus asa bahkan untuk sekadar berbicara dengan Manaka lagi. Tidak ada seorang pun yang mengunjungi mereka selain seorang pria yang menjaga dan menyiapkan makanan. Alasan kenapa mereka disekap pun tidak jelas. Tidak ada usaha meminta tebusan ataupun tanda-tanda mereka akan dijual. Di antara keheningan itu, kedatangan sekelompok laki-laki bertubuh besar mengejutkan mereka. Salah satu dari mereka berteriak, “Bawa yang itu!” Orang itu menunjuk Reno. Manaka langsung bereaksi. Ia

