Bab 11: Pertengkaran

1432 Kata
Pertengkaran bisa menjadi awal retaknya sebuah hubungan atau malah maenjadi mempererat hubungan jadi lebih baik, tergantung bagaimana kita menyikapi sesudah pertengkaran itu. *** Sebelum sempat bertanya Marimar sudah bersuara lebih dulu, "Ini sebagai permintaan maaf kami, dan juga sebagai bantuan untuk anak-anak di sini." Marimar membuka tas itu dan memperlihatkan isinya, isinya adalah uang seratus ribu rupiah yang bertumpuk-tumpuk dengan nominal sejuta yang dijadikan satu. Baru hendak Aisyah membuka mulutnya lagi-lagi Marimar menyela "kami juga berencana membawa Yerina pulang untuk kami urus, bagaimana juga dia itu keponakan kami." Aisyah menutup mulutnya kembali, mencerna sejenak kata-kata Marimar. "Maaf, Bu sebelumnya saya tidak bisa menerima uang pemberian kalian. Jika kalian mau memberikan donasi kepada kami silakan ke badan yang mengurusinya saja, kami tidak bisa langsung menerima begitu saja tanpa adanya surat keterangan bahwa uang atau benda apapun seperti pakaian dan lainnya akan dinoasikan," jawab Aisyah panjang lebar. "dan juga untuk membawa pulang Yerina selain dari kemauannya sendiri silakan urus surat adopsinya dulu," tambah Aisyah lagi. Wajah Marimar yang semula terlihat ramah langsung berubah tidak suka, "Baik tidak apa jika tidak mau menerima sumbangan kami, tapi jangan halangi kami membawa pulang Yerina!" Nada bicara Marimar naik beberapa oktaf, "Yerina kamu mau kan pulang sama Bibi dan Paman?" tanya Marimar sambil menatap Yerina. Yerina menatap Aisyah dia takut salah bicara. "Ikuti saja kata hati kamu, Sayang. Kalau kamu mau ikut Paman dan Bibimu silakan Bunda tidak akan memaksa kamu untuk tetap tinggal di sini." Aisyah memegang tangan Yerina sambil tersenyum dengan tulus. Yerina berpikir agak lama, jujur dia sangat bingung dan ini dilema baginya disatu sisi dia sangat senang bibi dan pamannya tidak lagi membencinya bahkan mau mengurusnya, tapi di sisi lain Aisyah dan Yusuf sudah merawatnya dengan tulus sejak orangtuanya meninggal dan memberikan keluarga baru serta teman-teman yang baik. Yerina tidak pernah menyimpan dendam apapun pada paman dan bibinya, setelah apa yang mereka lakukan pada Yerina karena menurutnya dendam tidak akan menyelesaikan apapun malah akan menambah penyakit hati saja. Yerina jadi teringat faktor lain yang tidak ingin dia kembali ke rumah nenek dan kakeknya yang sekarang sudah ditempati Marimar dan Maryatno yaitu gangguan yang sering Yerina alami sampai dia bisa terluka bahkan cedera, walaupun di sini dia juga mengalami gangguan setidaknya tidak separah di sana dan masih ada teman-teman yang mau berbagi suka duka dengannya. Akhirnya dengan berat hati Yerina menolak tawaran itu, dia menggeleng sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menatap mata kecewa atau pun marah paman dan bibinya. Ada rasa senang yang menyelinap ke dalam hati Aisyah, karena jujur saja dia tidak sepenuhnya percaya pada Marimar dan Maryatno. "Niat baik kami sepertinya disepelekan begitu saja! Percuma kita datang ke sini, ayo kita pulang saja!" geram Maryatno yang tidak bersuara sedari tadi, dia langsung menarik tangan Marimar dan meninggalkan rumah itu. Yerina agak terkejut dengan jawaban pamannya begitu juga Aisyah terbukti mereka memang tidak tulus terhadap niat mereka, Aisyah menghela napas sambil beristighfar. "Sudah, Sayang jangan sedih ya. Kan kamu sudah mengikuti kata hati kamu Insyaallah semua akan baik-baik saja." Aisyah mencoba menenangkan Yerina sambil mengelus rambut hitam panjang milik Yerina, Yerina memeluk Aisyah dengan erat. *** "Apa-apaan itu tadi padahal aku sudah menahan diri untuk tersenyum sampai pipiku sakit," gerutu Marimar sambil memegangi pipinya. "Memang salah kita ke tempat ini!" geram Maryatno. Mereka kemudian menaiki mobil yang terpakir di depan gerbang rumah dan pergi dari sana. "Ayo, cegat!" seru Amira kemudian mendorong Raka, Maryatno yang menyetir mobil langsung mengerem mendadak. "Hey! Kalian gila ya, mau mati!" Maryatno menyembulkan kepalanya dari kaca mobil yang dia buka sambil meneriaki Raka. "Ma ... maaf," jawab Raka. "Kalian mau apa?!" Maryatno keluar dari dalam mobil sambil membanting pintu mobil kesabarannya sudah habis. Raka mundur beberapa langkah, "Orang dewasa jika sudah marah memang mengerikan sampai wajahnya bisa merah padam begitu," ungkap Raka dalam hati. "Maaf, sebelumnya kalau kami mengaggu." Amira berdiri di depan Raka. "saya tidak akan basa-basi, bisakah uang yang kalian bawa itu untuk kami?" tanya Amira, Maryatno menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan itu. "Bukankah kalian memang bermaksud memberikan uang itu untuk kami, jika Bunda kami tidak mau menerimanya kami mau menerimanya. Karena jujur kami memerlukan uang." Amira berkata tanpa ragu dan malu. Maryatno tersenyum, dia senang dengan sikap jujur Amira tidak munafik sama sekali tentang uang. "Baik, akan aku berikan uang itu untuk kalian, karena niatku dari awal memang begitu." Maryatno segera kembali ke mobilnya mengambil tas warma cokelat itu dan memberikannya pada Amira kemudian pergi berlalu. "Terimakasih, Tuan dan Nyonya!" teriak Amira setelah mobil itu agak jauh. "Sepertinya tidak terlalu sia-sia kita datang ke sini," kata Maryatno pada Marimar sambil tersenyum. Setelah mobil itu tidak kelihatan mereka kembali ke kamar mereka lewat pintu belakang, "Gila! Kita benar-benar melakukannya!" seru Raka tidak percaya. Setelah sampai di kamar Amira langsung membuka tas itu, semua ternganga karena baru pertama kalinya melihat uang sebanyak itu. Amira menghitung uang itu dan ada sekitar lima belas juta di dalamnya. "Bagaimana jika, Bunda tau?" tanya Revan tiba-tiba menjadi takut. "Bunda saja menolak uang ni, dan kita malah ...." "Urusan itu dipikirkan nanti saja, lagipula kita ngelakuin ini karena pengen bantu mengurangi beban Ayah dan Bunda juga," tutur Amira memotong omongan Revan. Beberapa saat yang lalu mereka memang sepakat untuk melakukan hal ini, mereka juga menguping percakapan Aisyah, Yerina, Maryatno, dan Marimar tadi. Amira berpikir tidak apa mereka mengambil uang itu toh itu memang mau diberikan pada mereka tanpa pikir panjang, mereka sudah siap menerima konsukensinya. Rencananya uang itu akan digunakan untuk membayar sekolah mereka masing-masing selama setahun penuh, selain itu mereka juga mau membeli ponsel untuk diri mereka masing-masing seperti anak-anak lainnya. Karena selama ini memang mereka hanya memiliki satu ponsel yang dipakai secara bergantian, selain itu uang jajan yang diberikan Aisyah juga terbilang kurang karena Aisyah kalau soal uang memang pelit. Tapi tidak untuk membeli kebutuhan untuk anak-anak dan juga pakaian mereka hanya uang jajannya saja yang kurang, tapi itu pun akan ditabung Aisyah nantinya. Yerina masuk ke kamar dan agak terkejut dengan tas yang dia kenal, tanpa perlu ditanya Amira langsung menjelaskan semuanya. "Aku gak setuju, Kak," komentar Yerina setelah penjelasan Amira selesai. "walau ini untuk membantu Ayah dan Bunda tapi kan Bunda sudah menolaknya," tambah Yerina lagi menjelaskan alasannya. "Iya, gue tau. Tapi tetap aja emang loe gak mau uang jajan lebih bisa jajan di luar sekali-sekali punya ponsel buat diri sendiri?" tanya Amira. Yerina tertegun, benar dia juga menginginkan hal itu "Iya, Kak aku mau tapi ...." "Udah gak usah pakai tapi, mau ya mau gak ya enggak." Amira menutup tas itu kembali kemudian meletakkannya di bawa kolong kasur dirinya dan Yerina. Vina hanya terus menatapi saja uang dan tas itu, tidak ada lagi yang menolak mereka semua diam saja dengan keputusan yang diambil Amira karena mereka percaya pada Amira. Setelahnya keesokan paginya saat mereka pergi ke sekolah, tanpa sepengetahuan Aisyah dan Yusuf mereka membawa uang sejumlah yang mereka butuhkan masing-masing untuk membayar sekolah mereka selama satu tahun. Saat pulang sekolah mereka bertemu di halte tempat biasa mereka berpisah untuk ke sekolah masing-masing dan menuju ke toko ponsel sesampainya di sana mereka membeli ponsel yang sama, wajah mereka terlihat berseri-seri. "Akhirnya aku have ponsel juga." Dengan wajah semringah Fina melihat ponsel barunya, begitu juga dengan yang lain. "Tapi, inget jangan sampai ketauan sama Bunda," ujar Amira memperingati. "so, ponsel yang dikasih Bunda sama Ayah for what?" tanya Fina pada Amira. "Kita bawa aja kaya biasa kan kalau Bunda dan Ayah telepon udah kita bawa, biar mereka gak curiga," jawab Amira semuanya mengangguk setuju. Aisyah dan Yusuf tidak tau perihal itu sampai beberapa minggu, tapi seperti kata pepatah "Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga." "Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya." Setelah delapan s*****n pergi ke sekolah Aisyah membersihkan kamar mereka, dan menemukan tas cokelat yang Aisyah masih ingat tas apa itu serta masih ada sejumlah uang di sana. Ditambah lagi Aisyah menemukan ponsel di kasurnya Vina yang sepertinya masih baru. Mengetahui hal itu Aisyah merasa cukup kecewa dan juga marah kepada anak-anak dia langsung menelepon Yusuf dan memberitahukan semuanya. Sepulang mereka sekolah Aisyah dan Yusuf seperti sudah menunggu mereka dengan tatapan tajam. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Mereka mengucapkan salam saat memasuki rumah. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah dan Yusuf serentak. Meliha dari ekspresi Yusuf dan Aisyah Amira tau bahwa akhirnya mereka akan ketauan. "Apa maksudnya ini!" Aisyah langsung membanting tas cokelat kehadapan semua anak, untuk pertama kalinya Aisyah membentak mereka. Amira salah menduga, Amira kira Aisyah dan Yusuf akan memberikan kesempatan untuk mereka menjelaskan, tapi Aisyah dan Yusuf memarahi mereka habis-habisan. "Bisa tidak biarkan kami menjelaskan dulu!" bentak Amira dengan napas memburu. Aisyah dan Yusuf terdiam sejenak seperti memberikan kesempatan untuk Amira menjelaskan semuanya. Selanjutnya: Kucing hitam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN