Jangan biarkan di berkunjung karena dia hanya ingin melihatmu yang ketakutan dan memberikannya kekuatan.
***
Pembina upacara terlihat syok dan bingung harus bagaimana, akhirnya pembina upacara memutuskan untuk melanjutkan upacara dan menyuruh beberapa orang mengurus mayat itu. Setelahnya semua jadwal kelas diberhentikan sejenak karena ada rapat mendadak tentang kejadian yang tidak terduga itu. Saat jam istirahat berbunyi semua murid tetap di dalam kelas hanya beberapa saja yang menuju ke kantin, "Kamu!" tunjuk salah seorang murid berambut panjang yang teriak pertama kali melihat kejadian saat upacara. "bukannya kamu tadi loncat dari lantai dua!?" tanyaya memastikan, Rai memperhatikan mereka berdua karena dia juga penasaran. "Hah, maksudnya apa si? Aku tidak loncat dari gedung lantai dua. Aku tadi pagi di UKS saat upacara," jawabnya dia juga ikut keheranan. Tanpa ba bi bu murid itu langsung membawa temannya bersama dengan Rai ke ruang guru. "Kamu jadi saksinya, Rai," ucapnya kemudian seperti tau apa yang ada dipikiran Rai.
Sesampainya di ruang guru semua murid dan guru yang ternyata telah berkumpul di sana terkejut melihat murid yang tadi melompat dari gedung lantai dua ternyata masih hidup. Semua kebingungan dan melongo, murid itu beserta Rai dan perempuan yang membawanya tadi juga ikut ditanyai. Dilihat dari sudut pandang mana pun ini terlihat tidak masuk akal, karena bukan hanya satu dua orang saja yang menyaksikan kejadian itu tetapi satu sekolah. Akhirnya masalah ini tidak diperbesar dan hanya diumumkan sebagai prank saja agar tidak membuat yang lainnya panik. Sepulang sekolah kejadian yang sama seperti yang terjadi di sekolah Amira juga terjadi di tempat Rai, dan merenggut satu nyawa yaitu teman Rai yang tadi membawanya ke ruang guru.
Sepulang sekolah dan makan siang, Amira mengumpulkan delapan s*****n dan bercerita tentang hal ini. "Gue mau cerita soal kejadian yang aneh di sekolah gue hari ini," ujar Amira memulai ceritanya. "jadi tadi di sekolah gue tuh ya, pas gue pulang sekolah ada beberapa murid kan, nah pas gue mau berbalik temen sebangku gue kejang-kejang terus gue minta bantuan." Semua serius mendengarkan Amira bercerita, Amira menarik napas sejenak. Raka membenarkan posisi duduknya. "nah, pas orang yang mau nolongin temen gue ini megang dia, mereka juga langsung kejang-kejang. Akhirnya gue panggil guru, dan ternyata di lapangan juga gitu. Habis itu ada asap hitam yang masuk ke mulut mereka dan mereka mencekik orang yang masih sadar kaya di film zombie, gue juga gak bisa bergerak sama sekali. Pas asap hitam itu udah keluar mereka langsung menuju ke gerbang sekolah dan pulang aja kaya gak terjadi apapun, aneh banget kan?" Amira mengakhiri ceritanya.
"Serem banget, hiii." Revan memeluk dirinya sendiri.
"Banyakan halu, impossible itu mah," komentar Fina. Yang lainnya hanya diam saja.
"Tapi, itu sama persis sama kejadian di sekolahku juga." Semua mata memandang ke arah Rai, untuk pertama kalinya Rai berbicara sepanjang itu. Akhirnya Rai juga menceritakan apa yang terjadi di sekolahnya, saat upacara dan saat dia pulang sekolah. Mereka semua merasa kaget bukan dengan cerita yang Rai tuturkan tapi dengan ekspresi Rai yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Selesai Rai bercerita datang dua orang tamu yang merupakan sepasang suami istri, Yerina sangat mengenali kedua orang itu. Dia sedikit terkejut saat mereka datang. "Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa ya? Dan ada perlu apa kemari?" tanya Amira dengan sopan.
"Perkenalan saya Maryatno ini istri saya Marimar." Maryatno menunjuk Marimar dengan jari jempol. "Kami ini Bibi dan Paman Yerina datang ke sini hanya sekadar ingin berkunjung melihat keponakan kami." Maryatno tersenyum ke arah Yerina, Yerina sangat senang paman dan bibinya berkunjung untuk melihatnya tidak ada yang curiga sedikit pun.
"Kalau begitu kami panggil eh maksudnya saya panggilkan Bu Aisyah dulu." Amira menuju ke dalam rumah untuk memanggil Aisyah.
"Silakan duduk dulu, Paman, Bibi." Yerina berdiri dari tempat duduk yang semula didudukinya sambil mempersilakan paman dan bibinya untuk duduk, Rai juga ikut berdiri agar paman dan bibi Yerina bisa duduk.
"Bunda, ada Bibi dan Paman Yerina berkunjung," ujar Amira tanpa basa-basi. Aisyah mengerutkan dahinya, "Ya sudah ayo kita ke depan," jawab Aisyah beberapa detik kemudian. Asiyah menuju ke teras rumah diikuti oleh Amira di belakangnya.
Semua menunggu Amira dan Aisyah dalam diam, suasana hening sampai Aisyah dan Amira keluar dari dalam rumah. Paman dan bibi Yerina langsung berdiri. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu Aisyah," sapa Marimar sembari tersenyum manis. Jujur Aisyah tidak terlalu suka dengan keberadaan mereka mengingat tingkah kasar mereka yang dulu, tapi mereka adalah tamu dan tamu adalah orang yang harus dijamu dengan baik. Lagipula tidak baik jika Aiysah menyimpan dendam, pencipta-Nya saja mampu memaafkan hambanya apalagi hanya dirinya yang merupakan butiran debu di alam semesta ini.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Aisyah menjawab salam dari Marimar. "maaf sebelumnya ada perlu apa ya datang ke mari?" tanya Aisyah tanpa basa-basi. Sejenak Maryatno dan Marimar saling berpandangan, "Jadi maksud kedatangan kami untuk berkunjung dan melihat keponakan kami." Marimar melihat ke arah Yerina sambil tersenyum. "dan juga kami mau minta maaf atas sikap kasar kami waktu itu," tambahnya lagi. Hati Aisyah sedikit luluh, dia sangat senang jika Maryatno dan Marimar mau melihat keponakan yang dulunya mereka benci serta untuk minta maaf.
"Kalau begitu silakan duduk dulu, mari kita berbincang-bincang," kata Aisyah mempersilakan. Aisyah, Marimar dan Maryatno pun duduk, delapan s*****n berdiri dan hendak menuju ke dalam. "Amira buatkan teh dan ambilkan camilan, Yerina di sini ya. Kan Paman sama Bibi kamu mau liat kamu, Sayang, yang lainnya pindah dulu ke kamar ya." Aisyah melanjutkan ucapannya membuat langkah delapan s*****n berhenti dan mengangguk, selanjutnya mereka menuju tempat masing-masing. Yerina duduk dihadapan Maryatno dan Marimar, Amira membuatkan teh dan membawa camilan sedangkan yang lainnya pergi ke kamar para anak perempuan.
"Silakan diminum dan dimakan, Pak, Bu." Amira meletakkan teh dan camilan dari nampan yang dia bawa, "Wah, terimakasih, ya." Marimar langsung meminum teh yang disajikan. "enak sekali tehnya," puji Marimar, Amira tersenyum, Amira kemudian masuk ke dalam meletakkan nampan itu di dapur dan ikut bersama yang lainnya ke kamar. "Gue jadi iri sama Yerina," ujar Amira tiba-tiba setelah membuka pintu dan melihat semua temannya. Mereka melihat ke arah Amira, "dia masih punya keluarga bahkan dikunjungi lagi," lanjutnya kemudian duduk di samping Fina. "But, yang aku heran why gitu dia masih punya family tapi bisa si sini?" Fina mengerutkan dahinya. "Iya, juga ya," setuju Raka. "Nanti kita tanya Bunda aja kalau kepo." Amira mencomot camilan yang diletakkan di tengah-tengah mereka. "yuk lanjut kerjai tugas sekolah." Amira mengakhiri pembicaraan mereka dan fokus pada tugas sekolahnya begitu juga dengan yang lainnya, seketika mereka juga tidak membicarakan lebih lanjut tentang peristiwa yang terjadi di sekolah entahlah karena sudah tidak seru lagi, atau memang mereka lupa.
***
"Jadi, seperti yang kami katakan dari awal kami ke sini untuk menjenguk Yerina dan meminta maaf atas sikap kami." Akhirnya Marimar buka suara setelah beberapa menit hanya hening yang menghiasi. Aisyah mendengarkan sambil memasang senyum manisnya, Yerina menundukkan kepala masih tidak berani melihat walau sekarang dia merasa senang. "kamu sehat kan Yerina?" tanya Marimar, Yerina menengakkan kepalanya dia mengangguk kemudian tersenyum tipis. Pertanyaan seperti itu saja sudah membuatnya sangat bahagia, "Baguslah kalau begitu." Marimar meletakkan tangannya di atas tangan Yerina sambil tersenyum.
"Kami juga minta maaf sekali lagi atas perbuatan kami waktu itu." Marimar mangalihkan pandangannya ke arah Aisyah. "Insyaallah saya sudah memaafkan dan melupakan hal itu, Bu." Aisyah tersenyum tulus. "Baguslah," balas Marimar. Marimar kemudian menyikut Maryatno yang sedari datang tidak bersuara dan hanya memasang wajah datar, setelah disikut Maryatno meletakkan tas berwarna cokelat ke atas meja, Aisyah hanya mengerutkan dahi.
Selanjutnya: Pertengkaran