Kejadian hari ini sangat tidak masuk akal, dan semuanya terjadi di tempat aku menimba ilmu.
***
Setelah ujian selesai dan pendaftaran sekolah SMP dibuka Rai dan Amira ditemani oleh Aisyah mendaftarkan diri. Rai dan Amira tidak lagi satu sekolah karena mereka memilih sekolah yang berbeda. Kehidupan sekolah mereka tidak jauh berbeda, Amira yang supel dan ramah mendapatkan banyak teman di sekolahnya, sedangkan Rai hanya mendapatkan beberapa teman karena dia pendiam. Tapi tetap saja Rai selalu populer karena tidak hanya tampan, dia juga pintar dan baik hati.
Pagi ini mendung melanda mentari enggan menyapa, seperti biasa delapan s*****n bersiap ke sekolah.
"Anak-anak jangan lupa bawa payung, ya," kata Aisyah mengingatkan setelah melihat mendung yang begitu pekat pagi ini.
"Siap, Bunda." Amira menghormat.
"Of course, Bunda." Vina ikut menjawab.
"Kita berangkat sekolah dulu ya, Bunda." Amira dan lainnya berbaris sambil mencium tangan Aisyah.
"Oh, iya Bunda Ayah ke mana kok belakangan ini jarang kelihatan kalau pagi?" tanya Raka.
"Ayah sibuk kerja sampai lembur jadi ya masih tidur, tapi setelah kalian pergi sekolah pasti bangun terus nanyain lho anak-anak udah berangkat, gitu." Aisyah menjelaskan sambil memperagakan apa yang Yusuf lakukan. Semua tertawa melihat gerakan Aisyah, kecuali Vina, dan Rai yang hanya tersenyum tipis.
"Aduh, aduh!" Baru beberapa langkah menuju ke luar rumah suara rintihan dari Vina membuat semua mata tertuju ke arahnya.
"Loe kenapa, Vin?" tanya Amira.
"Perutku mules ni," jawab Vina.
"Ih, muka loe tambah pucet tuh, walau udah pucet si," tutur Revan keceplosan, dia langsung menutup mulut ketika menyadarinya.
"Pegang dulu payung, gue." Amira menyerahkan payungnya ke Fina dan Fina membawanya. Setelahnya Amira meletakkan punggung tangannya di dahi Vina dan punggung tangan satu lagi di dahinya sendiri.
"Loe agak demam," jelas Amira. "loe tadi makan apa aja?"
"Gak makan si kayanya tapi kelamaan di bathroom." Fina menjawab teringat dirinya yang harus menggedor-gedor pintu kamar mandi berulang kali saat Vina di dalam, dan saat ditanya katanya Vina sakit perut.
"Kok, loe baru bilang?"
"Ya kan aku kira perut dia udah better gitu."
Aisyah yang melihat semuanya belum berangkat ke sekolah langsung menghampiri mereka. "Lho, kalian kok belum berangkat? Nanti telat gimana?"
"Ini Bunda Vina diare kayanya dan kena demam juga," jelas Amira.
"Astagfirullah, Vina. Yaudah kamu gak usah sekolah ya, Bunda buatin surat izin terus Bunda suruh Ayah anterin ke sekolah." Vina mengangguk pelan. "yaudah kalian cepetan berangkat nanti telat," kata Aisyah kemudian membawa Vina masuk ke kamar.
"Kamu ganti baju terus istirahat ya Vina, Sayang. Bunda buatin bubur dan bawain obat nanti ke kamar kamu." Aisyah hanya tersenyum karena Vina tidak suka jika rambutnya dipegang. Vina mengangguk pelan. "kamu mau Bunda panggilkan dokter aja?" tanya Aisyah sebelum meninggalkan kamar.
Vina menggelang, "Gak usah," jawabnya. "cuma perlu istirahat aja."
"Yaudah, Bunda tinggal ya." Aisyah meninggalkan kamar menuju ke dapur.
"Hihihi, berhasil." Vina tertawa pelan. Vina kemudian meletakkan tas sekolahnya dan mengganti bajunya, setelahnya Vina menuju ke jendela melihat mendung yang semakin gelap. "Sudah dimulai, ya. Hihihi," ujar Vina dengan mata yang berbinar. "aku akan menonton dulu saja," lanjutnya.
Anak-anak lainnya berjalan dalam diam menuju ke sekolah, tidak ada yang berani berkomentar atau memulai topik tentang Vina yang tiba-tiba sakit perut. Mereka semua berjalan sampai di halte kamudian berpisah dengan Rai dan Amira menaiki yang harus menuju ke sekolah mereka menggunakan angkot. Sedangkan Fina, Raka, Rangga, Vina dan Yerina terus berjalan kaki karena jarak sekolah yang tidak terlalu jauh.
***
Seperti hari biasanya Amira mengikuti pelajaran, tapi entah mengapa sedari tadi perasaannya tidak enak dia sungguh gelisah. Setelah bel pulang sekolah berbunyi dengan cepat Amira membereskan tasnya.
Saat hendak melangkah keluar tiba-tiba teman sebangku Amira kejang-kejang, membuat Amira sungguh terkejut dan takut. "Loe gapapa kan?" Amira memegang kedua pundak temannya itu, setelahnya Amira segera berlari ke depan pintu meminta tolong kepada beberapa murid yang lalu lalang. "Jangan diliatin aja dong, tolongin!" seru Amira panik kepada beberapa teman sekelasnya yang masih berada di kelas tetapi hanya melihat saja.
Teman lainnya segera membantu disusul yang lain yang datang dari lorong karena mendengar suara minta tolong Amira. Saat satu siwi memegang siswa tersebut siswi itu ikut kejang-kejang, mereka menggelepar di lantai. Amira semakin panik begitu juga dengan anak lainnya yang masih ada di sana, Amira berinisiatif untuk memanggil guru yang belum pulang. Tapi saat Amira keluar dari kelas dia melihat di lapangan banyak orang yang berkumpul ada juga para guru di sana, dengan cepat Amira menuju ke lapangan.
Amira menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang dia lihat, banyak para murid yang juga kejang-kejang di lapangan para guru tidak berani memindahkan mereka karena takut ikut kejang-kejang juga. Semua orang sangat ketakutan, tidak lama kemudian suara petir yang menggelegar terdengar di susul oleh beberapa asap hitam yang melayang-layang. Semua orang yang menyaksikannya merasa heran, ada juga yang membuat video kejadian aneh itu.
Asap hitam yang melayang itu semakin lama semakin banyak, beberapa menit kemudian mereka terbagi menjadi kabut yang kecil-kecil dan masuk melalui mulut para murid yang kejang-kejang. Semua orang langsung berlarian menuju gerbang untuk keluar dari sekolah.
Amira masih mematung, tubuhnya tidak bisa bergerak karena seperti ada yang menahannya. Dia menutup matanya tapi entah mengapa tidak bisa dia seperti dipaksa untuk menyaksikan kejadian itu tanpa ada yang terlewat. "Saksikanlah, saksikanlah!" seru sebuah suara di telinga Amira.
Kemudian setelah asap masuk ke dalam mulut murid yang kejang-kejang mereka berhenti kejang-kejang dan terlelap tidur. Setelah beberapa menit mereka membuka mata mereka tapi semua bola mata mereka berwarna putih, mereka kemudian berlari ke arah semua murid dan guru yang mencoba kabur dan tertahan di depan gerbang sekolah karena gerbang tidak bisa dibuka dan mencekik mereka, anehnya tidak ada satu pun yang mencekik Amira. Amira tercengang bukan saja melihat hal itu tapi dia melihat ada asap putih yang mengelilinginya membuat semua murid yang ingin mencekiknya berlalu pergi.
Semua teriakan panikan terdengar, Amira mencoba menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun dari tempat semula. Dia ingin menolong semua orang tapi dia tau dia tidak biaa melakukannya seorang diri. Semua berlangsung selama kurang lebih setengah jam sampai semua teriakan berhenti, begitu pula cekikan dari para murid yang awalnya kejang-kejang. Semua tertidur lelap, dan gerbang sekolah terbuka. Semua orang kemudian berjalan layaknya zombie yang diambil alih tubunya dan keluar dari gerbang sekolah menyisahkan Amira seorang diri, setelah semua keluar dari gerbang sekolah Amira baru bisa menggerakkan tubuhnya dan berlari pulang ke rumah tanpa menoleh ke belakang lagi.
Asap hitam itu kembali berputar-putar bertambah banyak dan pekat, setelah beberapa detik mereka menghilang di udara dan langit yang semula gelap berubah menjadi cerah.
***
Di sekolah Rai juga mengalami kejadian yang hampir serupa, tapi bisa dibilang di sekolah Rai terjadi saat upacara dan juga sepulang sekolah.
Setelah semua barisan rapi, protokol atau pembaca tata tertib upacara memulai membacakan tata tertib upacara. Semua berjalan seperti biasa dan sampailah mereka ke amanat pembina upacara, "Untuk amanat istirahat ditempaaat gerak!" seru pemimpin upacara memberikan perintah, dengan serentak seluruh peserta upacara ke sikap istirahat di tempat. Setengah jalan pembina upacara memberikan amanat, pemimpin upacara bertingkah aneh membuat semuanya merasa heran. Pemimpin upacara memegangi lehernya yang terasa dicekik, semakin lama cekikan itu semakin kuat dan pemimpin upacara sampai ambruk di tengah lapangan dan pingsan. Beberapa murid pertugas kesehatan langsung bergerak cepat membawa pemimpin upacara, pembina upacara melihat hal tersebut dengan terkejut begitu juga dengan peserta upacara lainnya. Posisi pemimpin upacara digantikan oleh yang lain, dan pembina upacara melanjutkan amanatnya.
Buk, suara itu menyita seluruh perhatian seluruh peserta upacara termasuk pembina upacara, dan tidak jadi meneruskan amanatnya. Semua mata tertuju pada sumber suara, "Aaa!!!" teriak salah seorang peserta upacara begitu melihat ada seorang yang jatuh dari gedung sekolah dan berasal dari suara yang barusan terdengar. Semua orang menjadi panik, bagaimana tidak tepat di depan mata mereka mereka melihat mayat seseorang yang baru saja loncat dari gedung sekolah, darah segar mengalir dari kepalanya membuat semuanya merasa merinding.
Bersambung ....