Bab 20: Kematian

1249 Kata
Kematian adalah sebuah takdir yang tidak bisa terhindarkan dan tidak tau kapan dan bagaimana kematian itu akan datang. *** "Dapat," ujar Vina sambil memeluk Stabi. "Ada apa ni?" tanya Raka yang disusul para anak laki-laki lainnya. "Noh, Vina lagi nolongin Stabi," jawab Amira sambil menunjuk ke atas pohon. "Kalau gak bisa jangan dipaksa, Vin. Turun aja biar aku sama Rangga aja yang manjat," teriak Raka dari bawah dengan nada khawatir. "Gak, kok. Si Stabi dah aku gendong nih." Vina menunjukkan Stabi yang ada dalam gendongannya. "Hati-hati turunnya," ujar mereka semua cemas, Vina mengangguk. Saat Vina mau turun ada semut yang mengigit tangannya membuat Vina jadi tidak seimbang, sedangkan Stabi sudah diturunkan Vina lebih dulu. Dia memberikan Stabi kepada Rai. Badan Vina mulai tidak seimbang, dan dia jatuh. Vina menyangkut di kabel listrik yang menjuntai, dia tidak bisa turun dan mencoba melepaskan diri tapi badannya terlilit kabsl itu akhirnya terkena tengan listrik berkekuatan tinggi sampai tubunya gosong dan tidak bergerak lagi. Tubuh Vina kemudian jatuh dengan sendirinya, lehernya menancap di pagar rumah. Bau gosong juga tercium sangat menyengat. Delapan s*****n yang melihat hal itu terjadi langsung terdiam dan membeku di tempat bagaikan patung. Asiyah langsung pingsan ditempat, "Vinaaa!!!" jerit Amira histeris setelah terdiam cukup lama. Yang lainnya masih belum merespon, mereka masih mencerna apa yang terjadi. Kejadian yang mengerikan yang tiba-tiba terjadi di depan mata mereka sendiri. Darah segar mengalir begitu saja, dengan tubuh yang sudah gosong mereka segera berlari menuju jasad Vina. Tapi tidak ada yang berani menyentuhnya, mereka sangat ngeri. Yerina ikut pingsan karena tidak kuat melihat hal itu. Raka segera berlari ke dalam rumah kemudian menelepon Yusuf, Raka tidak menceritakan yang terjadi dengan detail takut Yusuf terguncang dan terjadi apa-apa di jalan saat dia menyetir. Raka hanya mengatakan untuk Yusuf segera pulang karena ada keadaan darurat. Yusuf langsung pulang dari tempatnya bekerja secepat mungkin dengan terus berdzikir dan menenangkan hatinya. Sesampainya di rumah Yusuf disuguhkan pemandangan yang tidak menyenangkan yaitu adalah Aisyah dan Yerina yang pingsan dan Amira juga Fina mencoba menyadarkan mereka berdua. "Aisyah, Yerina," panggil Yusuf langsung menghampiri mereka. "Ayah, di sini keadaannya lebih darurat," cicit Raka dengan air mata yang sedari tadi mengalir. Raka kemudian menunju ke halaman belakang diikuti oleh Yusuf, dan hal yang disaksikan Yusuf lebih mengerikan daripada yang di dalam. Dia berjalan dengan gontai dan hampir terjatuh, "Astagfirullah, Ya Allah. Innalillahi Wa'inaillahi Rojiun." Yusuf ambruk di tanah dengan kedua lutut yang tertekuk menyentuh tanah, air matanya mengalir deras tanpa dia tahan. Rai, Revan, dan Rangga yang masih ada di sana tidak berani melihat lagi, mereka juga tidak bisa bergerak dan hanya duduk di rerumputan dekat jenazah Vina. "Raka, tolong panggilin Pak RT dan para warga ya," titah Yusuf dengan suara serak. Raka langsung berlari keluar rumah, walau dia juga terguncang tapi dia harus menahannya. Raka kemudian memanggil Pak RT dan Pak RT memanggil seluruh warga, tidak lama semuanya berkumpul di halaman belakang rumah Aisyah dan Yusuf. Beberapa detik para warga yang ada di sana mematung melihat hal yang mengerikan itu, warna pagar yang awalnya biru sudah berubah menjadi merah dengan darah yang terus mengalir dan merembas ke tanah, bau gosong juga masih tercium dan sekarang tubuhnya mengeluarkan sedikit asap. Dengan perlahan mereka menurunkan jenazah Vina, dan membawanya ke dalam. Lehernya menyisahkan lubang di kedua sisinya akibat tertusuk, tubuhnya juga gosong, Yusuf dipapah menuju ke dalam karena tidak sanggup berdiri. Tidak berapa lama kemudian semua warga membagi tugas yang diberikan Pak RT, mereka menyiapkan acara pemakaman Vina saat itu juga. Delapan s*****n lainnya tidak disuruh ikut membantu karena masih terlalu shock dengan kejadian itu. Stabi sedari tadi mengeong seperti ikut menangisi kepergian Vina. Aisyah tersadar dan melihat jenazah Vina yang berlumuran darah serta dalam keadaan gosong di atas sebuah kasur yang diletakkan di tengah-tengah rumah. Aisyah kembali pingsan setelah melihat hal itu, sedangkan Yerina masih belum sadarkan diri. "Bunda," panggil Amira dengan pilu dan air mata yang mengalir deras, dia sangat sedih melihat Aisyah pingsan lagi karena masih tidak kuat menerima kenyataan ini. Di dalam pingsannya Yerina bertemu dengan sesosok anak perempuan kecil yang cantik, anak seumurannya dulu saat dia ditinggalkan kedua orangtuanya. Yerina mencoba mendekati anak kecil itu, dia memegang sebuah boneka persis seperti boneka kelinci miliknya dulu, tapi boneka itu sudah ikut hancur dan terkubur bersamaan dengan mobil yang Yerina naiki kedua orangtuanya dan jatuh ke jurang. Beberapa langkah Yerina mendekat, gadis itu berbalik. Wajahnya yang lugu memancarkan aura kebencian yang amat sangat dalam membuat sekitarnya menjadi hitam legam, dia berbalik menatap Yerina dengan keadaan datar. "Akulah Vina yang asli," ujarnya kemudian. "Vina yang selama ini kalian kenal hanya kebohongan," lanjutnya. Yerina mengerutkan dahi mencoba mencerna kata-kata anak perempuan itu, kalau dilihat-lihat lagi anak itu memang tidak ada mirip-miripnya dengan Vina yang mereka kenal. "Dari awal kamu memang sudah ditargetkan, mereka memberikanmu boneka yang sama denganku." Gadis kecil yang mengaku sebagai Vina itu memandangi boneka kelinci yang dia pegang dengan raut wajah tidak suka, kebenciannya semakin bertambah. "Mungkin kamu masih belum mengerti tapi ini hanya permainannya saja, oh iya aku akan bantu kalian sekali saja itu pun jika dibutuhkan. Tuan telah menipuku dan aku membenci itu membuatku menunggu selama puluhan tahun sampai aku lupa dengan tujuanku, aku lebih canti dari Vina yang kamu kenal itu. Dia hanya boneka dan aku yang memasukinya, jangan salah sangka aku menceritakan semua ini karena aku ingin dikenang sebagai Vina yang asli. Aku ingin kamu mengenang diriku yang asli, walau hanya satu orang yang bisa mengenangku di dunia ini itu sudah cukup bagiku," jelasnya panjang lebar membicarakan hal yang bahkab tidak Yerina pahami. "yah, setidaknya aku masih polos dan lugu di wujud yang aku tunjukkan padamu ini, sebelum aku jadi monster. Aku ingin dikenang jadi anak baik," tambahanya lagi sambil melihat wajahnya di gendangan air yang tiba-tiba ada di di sana seperti keinginannya dengan wajahnya yang berubah menjadi sendu, "Jangan tangisi boneka itu, jangan tangisi aku karena memang aku sudah mati jauh sebelum kalian hidup." Perlahan anak kecil itu menjauh menjatuhkan boneka miliknya. Yerina memberanikan diri untuk mengambil boneka itu, tapi kemudian mata boneka itu berubah menjadi merah "Kamu akan jadi pengikutku, hahaha," ujarnya sambil tertawa, tawaan seorang pria yang pernah Yerina dengar sebelumnya. Boneka itu kemudian menghilang. Perlahan Yerina membuka matanya, "Alhamdulillah, Yerina udah sadar," ucap Fina merasa sangat bersyukur. Yerina memandang sekitar, kemudian mencoba duduk dibantu yang lainnya, tatapan Yerina kosong. Dia masih saja mencoba mencerna kata-kata anak perempuan yang ada dalam pingsannya itu, "Apa ada yang sakit, atau gimana?" tanya Amira cemas, Yerina hanya menggeleng. "Masih agak pusing aja," jawabnya. Yerina kemudian turun dari sofa tempat diletakkan dia saat dia pingsan, dia memberikan diri menuju ke arah zenazah Vina yang berada di tengah-tengah rumah. Dia mencoba menyingkap kain putih yang menutupi wajah Vina dengan gemetar, kondisi Vina sungguh mengenaskan sekujur tubuhnya gosong dengan leher yang bolong dan penuh darah di sekujur tubuhnya, bahkan darah itu masih mengalir dan membuat kain yang menutupi kasur basah akan darah. "Tidak sama," gumam Yerina. Setelahnya acara pemakaman di mulai, jenazah Vina dimandikan, kemudian di pakaian baju cantik yang belum sempat Vina pakai, dan dikuburkan dengan peti sesuai dengan agama yang Vina anut, tidak lupa diletakkan benda-benda kesayangan Vina di sampingnya, kemudian jenazah Vina langsung dikuburkan, alasan tidak dibiarkan di rumah dulu adalah karena mereka tidak kuat dan masih sangat terguncang, maka dari itu jenazah Vina langsung dikuburkan. Aisyah pingsan sampai tiga kali di hari itu, dan Yerina seperti melihat sosok gadis kecil yang dia lihat saat dia pingsan tapi dengan wujud bukan gadis kecil lagi beberapa kali saat upacara pemakaman di langsungkan. Selanjutnya: Yang kembali terkenang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN