Apa kenangan saat kamu hidup yang akan kamu kenang sampai mati dan menjadi teman di gelapnya liang lahat, apakah kenangan pahit atau kenangan indah?
***
Malamnya diadakan tahlilan, walaupun agama yang dianut Vina berbeda dari mereka tapi Aisyah, Yusuf dan yang lainnya ingin mendoakan Vina sesuai apa yang mereka anut. Begitulah kebinekaan ada dan menjadi bagian dari tanah air ini. Setelah lumayan larut malam sekitar pukul sepuluh malam semua warga bubar dari tahlilan itu dan ke rumah masing-masing menyisahkan para penghuni rumah yang masih berduka. Mereka mencoba tegar dan tidak mengeluarkan air mata lagi.
"Kalian, istirahat ya. Bunda juga mau ke kamar," ujar Aisyah yang menuju kamar dituntun oleh Yusuf. Semua melihat sampai Aisyah masuk kamar kemudian mereka menyusul, "Kita tidur di ruang tamu aja, yuk bareng-bareng," pinta Yerina masih tidak mau melihat kasur Vina yang kosong. Semua mengangguk setuju, mereka kemudian ke kamar untuk mengambil guling, bantal, dan selimut lalu kembali lagi ke ruang keluarga. Yerina melihat sekilas ke kasur Vina yang masih rapi karena barus dirapikan dan dibersihkan pagi tadi sebelum mereka menjemur pakaian, Yerina kemudian menutup pintu kamar mereka. Setelah semua berkumpul mereka msnyusun posisi tidur mereka, anak perempuan tidur di depan tv. Dipisahkan oleh sofa, sedangkan anak laki-laki tidur di belakang sofa. Mereka menatap langit-langit rumah, terasa hampa, sekali lagi mereka harus merasakan perpisahan dan kehilangan yang sungguh menyakitkan.
"Kita bisa lewati ini, gue yakin. Bareng-bareng kita bisa lewati kehilangan ini lagi. Kita udah pernah merasakan kehilangan bahkan dibuang dan kali ini kita merasakannya lagi, gue juga yakin Vina gak mau kita terus-terusan sedih," tutur Amira memberikan semangat kepada semuanya. Semuanya mengangguk, mereka kemudian bangun secara bersama-sama mereka saling berpelukan memberikan kekuatan satu sama lain.
"Walau Vina udah gak ada tapi dia masih terkenang di hati kita," ujar Raka, semuanya mengangguk dan tanpa mereka sadari air mata mereka mengalir. Mereka lalu tertidur lelap, entahlah karena sebuah kebetulan atau memang hal itu menjadi kenangan yang sangat membekas sampai terbawa mimpi mereka memimpikan hal yang sama yaitu bercerita tentang masa lalu kelam mereka di malam sebelumnya. Malam di mana Vina terakhir bersama mereka.
***
Setelah tawa mereka berhenti, semua kembali diam. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing, Aisyah kembali ke dapur berniat membuatkan camilan untuk menemani malam mereka sembari berbincang-bincang. Vina terlihat berpikir sejenak, ada satu lagi pertanyaan yang ingin dia tanyakan tapi takut mereka tersinggung karena bisa dibilang termasuk privasi mereka.
"Aku mau nanya lagi," ucap Vina akhirnya. Semua orang yang tadinya sibuk dengan pikiran masing-masing kembali melihat ke arah Vina, Aisyah mengintip dari balik dapur. Mereka terlihat kembali serius, "tapi ini pertanyaan privasi si," tambah Vina lagi merasa tidak enak. "Alah, gapapa kayak sama siapa aja," ujar Amira disahuti anggukan dari semuanya. Vina tersenyum, bukan senyum yang seram hanya senyum biasa.
"Gimana ceritanya kalian bisa sampai ke panti asuhan ini?" tanya Vina akhirnya, pertanyaan yang sedari dulu ingin dia tanyakan. "karena aku yang kasih pertanyaan aku yang akan ceritain dulu ya, masa lalu aku dan kenapa aku bisa ada di sini," tambahnya lagi, semua wajah bertambah serius dan juga penasaran.
"Jadi, Ibuku itu kerja di luar negeri jadi TKW alias Tenaga Kerja Wanita di luar negeri. Keuangan kami sulit saat itu, Bapakku hanya kerja bangunan gak bisa mencukupi kebutuhan kami semua." Vina memulai ceritanya, dia kembali membuka memori kelam yang selama ini ingin dia pendam. Tapi tidak ada salahnya menceritakan pada mereka yang sudah Vina percaya, Vina hanya ingin setidaknya ada satu orang saja di dunia ini yang bisa mengenang dirinya dan cerita kelam yang dia bawa dalam hidupnya. "awalnya Bapak gak setuju dan sering bertengkar sama Ibu karena hal itu. Aku yang masih kecil gak ngerti apapun dan hanya bisa nangis waktu liat mereka bertengkar, setelah itu akhirnya Ibu pergi. Saat Ibu pergi hidup yang kami jalani agak sulit, aku harus mandiri ngurus diri sendiri dan Bapak. Tapi, walau begitu kami cukup bahagia, karena selalu dapat kabar dari Ibu dan semua lancar. Sampai Ibu akhirnya punya cukup uang untuk buka usaha, dia memutuskan untuk pulang. Sayangnya dia meninggal dalam kecelakaan pesawat, jasadnya gak pernah ditemui sampai sekarang." Air mata Vina tidak dapat dibendung lagi, Yerina mendekat dan memeluk Vina memberikan dia kekuatan. "Udah, kalau loe gak bisa cerita gak usah dipaksa," ujar Amira tidak tega melihat Vina menangis, ini pertama kalinya mereka melihat Vina menangis.
Vina menolak dengan menggelengkan kepalanya, "Aku mau setidaknya ada satu orang di dunia ini yang memgingat aku dengan kenangan kelam yang aku bawa sampai mati nantinya," jawabnya, dia kemudian menghapus air matanya. Menarik napas dalam-dalam menghembuskannya kemudian memulai kembali ceritanya. "setelah saat itu aku merasakan kehilangan yang amat sangat begitu juga dengan Bapak. Setelah hari itu Bapak jadi sering main judi dan mabuk-mabukkan, hutang di sana-sini. Setiap hari ada saja orang yang ke rumah menagih hutang membuat aku ketakutan, tapi aku tau kalau aku harus tegar. Suati malam Bapak mabuk berat aku membukakan pintu untuk Bapak dan pada saat itu dia melihat wajahku dia bilang mirip sekali dengan Ibu sampai dia berhalusinasi aku adalah Ibu, lalu Bapak memperkosaku aku tidak bisa berbuat apapun. Aku menangis sejadi-jadinya, tapi tidak ada yang menolong, beberapa hari setelah itu Bapak kehabisan uang lagi buat judi dia uring-ringan dan memukulku. Sampai terlintas ide gila di benaknya, dia menjualku ke tempat pelacuran." Fina menutup mulutnya, sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dialami oleh Vina. Rai sampai melotot, Revan mengepalkan tangannya menahan amarah yang entah pada siapa dia tunjukkan, Amira juga geram mendengar hal itu, Yerina menangis di sebelah Vina. Malah Vina yang memeluknya sekarang.
"Akhirnya aku kerja di tempat p*******n setiap hari tubuhku ternodai, sampai akhirnya aku mau bunuh diri. Tapi, waktu itu ada seseorang yang menolongku, aku gak ingat mukanya terus mereka membawaku menemui Bunda dan Ayah dan akhirnya aku sampai di sini. Aku pikir aku orang pertama yang akan diadopsi ternyata aku salah, waktu itu kalau tidak salah udah ada Kak Amira, Fina, Revan, Raka dan Rangga. Aku agak senang karena aku gak sendirian di sini, ditambah lagi sekarang ada delapan orang berasa lengkap." Vina tertawa kecil. Semua memeluk Vina, Vina lagi-lagi merasakan kehangatan yang sudah lama hilang darinya.
"Aah, love you so much semuanya," kata Vina.
"Me, too. Vina," balas Amira.
"Udah, sesek nih. Kok makin lama makin kenceng pelukannya," ujar Vina semua melepaskan pelukannya.
"Maaf, kayaknya aku terlalu kuat meluknya," tutur Revan sedikit malu.
"Pantesan, kan berotot," celetuk Raka. Mereka semua tertawa.
"Oke, siapa selanjutnya" tanya Vina. Semua terdiam, "Kita aja," kata Raka akhirnya. Mereka memasang wajah serius, dan menajamkan kuping mereka, ada juga yang bertompang dagu dan membenarkan letak duduknya.
Selanjutnya: Sebuah kisah di masa lalu.