Masa lalu tidak akan berubah, masa kini kita jalani, masa depan adalah misteri yang belum jelas bagaimana nantinya.
***
Aisyah yang semula mau mengantarkan cemilan mereka mengurungkan niatnya, karena melihat mereka sedang sangat serius. Aisyah juga berniat menguping pembicaraan mereka, tapi tidak jadi karena ponselnya berdering dan ternyata panggilan yang masuk itu dari Yusuf.
"Ehem, ehem." Raka berdehem bersiap-siap untuk bercerita. "silakan kepada Rangga untuk bercerita," katanya membuat semua yang sudah serius terlihat kecewa, Amira sudah memasang wajah marah. "Ehe, maaf. Pis." Raka menunjukkan dua jarinya.
"Dulu kami bisa dibilang anak yang bahagia sedunia. Kehidupan kami berkecukupan, tidak hanya bekecukupan harta tapi juga berkecukupan kasih sayang. Ibu kami penyayang dan Ayah kami selalu bekerja keras tapi tidak pernah lupa pada keluarganya." Raka membayangkan masa-masa saat dulu dia dan Rangga hidup bahagia sambil tersenyum, membuat hati lainnya merasa teriris. Raka yang periang pasti menyembunyikan kesedihannya dibalik keriangannya itu. Raka kemudian menatap Rangga mengisyaratkan agar Rangga meneruskan ceritanya.
"Waktu itu saat pulang sekolah bersama teman-teman kami tidak sengaja melihat Ayah berciuman dengan seorang wanita di dalam mobil. Teman-teman kami juga melihatnya, saat mereka bertanya apakah itu Ayah kami. Kami spontan berbohong dan berkata bukan." Rangga mencoba mengingat-ngingat lagi peristiwa dulu sambil meletakkan telunjuk di dagunya. "Kami yang tidak mengerti waktu menceritakan kepada Ibu kami tentang apa yang kami lihat, wajah Ibu yang kala itu terlihat ceria seperti hari-hari biasanya berubah jadi murung dan sedih, serta seperti ada kemarahan darinya." Raka melanjutkan ceritanya. Mereka terdiam sejenak dengan wajah sendu, yang lain bisa menebak bahwa lanjutan cerita selanjutnya adalah kejadian yang kelam, dan tidak terduga.
"Malam harinya pas Ayah pulang kerja kita denger suara ribut-ribut dari kamar, akhirnya kita buka pintu kamar kita sedikit buat ngintip apa yang terjadi. Di ruang tengah gak jauh dari kamar kita, kita lihat kalau Ibu sama Ayah lagi adu mulut." Raka menghela napas.
"Terus, setelah itu saat besoknya pulang sekolah lagi kita lewat jalan yang sama di mana Ayah dan wanita itu berciuman di mobil. Kita lihat mobil Ayah ada di rumah wanita itu, akhirnya kita inisiatif buat ikutin. Ternyata pas kita ikuti mereka mampir ke sebuah hotel," sambung Rangga.
"Karena kita tau kita gak boleh masuk hotel akhirnya kita cari jalan lain, nah ternyata ada jendela hotel yang terbuka dan banyak kardus di sana. Yaudah kita susun aja terus kita masuk lewat jendela itu dan cari kamar Ayah, tapi susah cari kamar Ayah sampai kita lihat Ibu ke hotel juga sambil bawa tas. Kita ikutin Ibu sampai di sebuah kamar, terus Ibu ketok pintunya dan kita lihat wanita itu yang buka pintu dan disusul Ayah di belakangnya." Raka terdiam lagi menunggu Rangga melanjutkan ceritanya.
"Wah, kalian kecil-kecil nekat juga ke hotel lewat jendela," celetuk Amira mencoba mencairkan suasana, semuanya tertawa kecil.
"Bocil, bocil, naughty," timpal Fina, membuat semuanya kembali tertawa. Setelah tawa mereka berhenti Rangga melanjutkan ceritanya lagi.
"Setelah itu Ibu langsung menusukkan pisau yang dia ambil dari tas ke wanita itu. Ibu juga mengeluarkan pistol dari tas itu dan menembak Ayah, kami langsung menghampiri Ayah yang terkapar dan Ibu yang mau masuk ke dalam hotel itu. Ibu menembaki Ayah berkali-kali sampai meninggal, saat wanita yang bersama Ayah bangun ...." Rangga menggantungkan ucapannya memberikan isyarat kepada Raka untuk melanjutkannnya.
"Saat wanita itu mau bangun Ibu menembak kaki wanita itu juga, dan wanita itu terjatuh. Setelah memastikan Ayah sudah meninggal Ibu berulang kali menusuk wanita itu dengan pisau yang sudah dia tajamkan di perutnya dari awal sampai meninggal juga, kami juga terkena cipratan darah mereka berdua. Terakhir Ibu menembak kepalanya sendiri, dan kami di situ hanya bisa terduduk lemas." Raka menghembuskan napas lagi, kali ini dia ingin bercerita sampai selesai tanpa mengisyaratkan Rangga untuk bergiliran.
"Setelah itu, tiba-tiba ada seorang petugas hotel yang melihat kejadian itu dan langsung menelepon, sepertinya menelepon polisi. Sebelum polisi datang kami dibawa seorang pria berjubah serba hitam dia bilang dia adalah teman Ibu dan kami menurutinya dan ikut bersamanya." Raka menghentikan ceritanya karena Rangga menyikutnya, Rangga mengangkat dagunya seperti bertanya "Kenapa?"
"Kamu lupa bagian pesan Ibu yang terakhir," jelas Rangga memberitahukan. "Hah, emang Ibu ada bilang apa? Kok aku gak denger apa-apa?" tanya Rangga, dia mencoba mengingatnya tapi tidak mengingat apapun. "pas kita udah agak jauh dari sana dan dibawa orang berjubah hitam itu, Ibu bilang kita harus menjaga satu sama lain, hidup bahagia dan temukan keluarga baru," ujar Rangga jelas-jelas mendengar hal itu. Raka baru tau tentang fakta itu hari ini. "aku gak denger apapun beneran, deh, dan aku baru tau hari ini," jawab Raka dengan penuh yakin. Rangga hanya diam saja, memang mungkin Raka tidak mendengarnya karena jarak yang sudah agak jauh dan suara Ibu mereka yang kecil saat mengatakan hal itu.
Setelah semua kembali kondusif Raka melanjutkan cerita itu karena dia tau semua yang ada di sana tidak sabar menantikannya, terlihat dari mata mereka yang memancarkan keingintahuan tapi tidak berani mengatakannya takut jika itu malah akan membuat Raka dan Rangga merasa sedih mengenang kisah masa lalu yang mereka paksakan untuk diceritakan. "Setelah kami mengikuti seseorang berjubah hitam itu, ternyata orang itu adalah seorang perempuan tua yang kami tidak kenal. Di sana kami dirawat dengan baik tapi tidak diperbolehkan sekolah dengan alasan takut polisi menanyai kami, kami juga tidak boleh menghadiri pemakaman orangtua kami karena katanya kami bisa kembali sedih. Dia selalu memperlakukan kami dengan baik dan penuh kasih sayang membuat kami lupa akan kesedihan dan kesepian kami sejenak, kami merasa jadi mempunyai nenek ketiga setelah nenek dan kakek dari Ibu dan Ayah yang sudah lama meninggal dunia." Raka behenti sejenak, wajahnya menjadi pucat dan takut, setelahnya dia kembali bercerita. "sampai pada suatu malam kami mendengar suara bisik-bisik, suara bisik-bisik itu begitu ramai terdengar seperti tidak hanya satu orang saja. Kami terbangun dari tidur dan keluar kamar terus ke arah sumber suara, kami lihat dari jendela dengan tirai yang sedikit terbuka ternyata ada si nenek yang seperti sedang berbicara dengan seseorang di ruangan yang serba hitam. Di depan dia ada dupa dan cermin yang sangat besar, kami terus memperhatikan si nenek sampai dia membuka pintu dan kami ketahuan pengintipnya. Dia gak marah sama sekali malah tersenyum sehabis itu dia mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya, dia menggores Rangga di bagian lengan kanan, bekasnya masih ada sampai sekarang." Raka menyingkap lengan baju sebelah kanan milik Rangga tanpa permisi dan memperlihatkan luka gores yang cukup dalam dan berwarna keunguan. Rangga melotot dia tidak pernah memperlihatkan luka itu pada siapa pun dan dengan entengnya Raka memperlihatkannya.
"Ya, kan kita keluarga biar gak ada rahasia gitu," ujar Raka sambil cengengesan tanpa rasa bersalah. "terus kita lari dari sana, nenek itu ngejar kita dan bilang bahwa kalau kami dibunuh dia bakal balik muda. Kami terus lari sampai nenek itu gak menemukan kami lagi, terus setelah itu kami pergi ke mana aja yang sekiranya jauh. Eh beberapa hari setelahnya kami pingsan di rumah Bunda sama Ayah tanpa kami sadari terus ditemui Kak Amira dan yang lainnya, selesai." Raka bertepuk tangan untuk mengakhiri ceritanya. Semua menelan slavinanya, mereka tidak bisa membayangkan hal berat yang dialami si kembar ini.
"Lanjut siapa lagi yang mau cerita?" tanya Vina memecah keheningan.
Selanjutnya: Akhirnya bertemu.