Perpisahan adalah awal pertemuan, dan pertemuan adalah awal perpisahan. Akhir adalah awal baru yang akan segera dimulai.
***
Setelah beberapa menit menunggu semua bungkam, tidak ada yang berniat ingin bercerita. "Yaudah, kalau gak ada lagi kita tidur, yuk," ajak Vina tidak mau memaksa. Dia berdiri dan masuk ke dalam kamar, semua masih membisu. "Wah, cerita yang berat. Otak gue aja masih mencerna nih," tutur Amira kemudian menyusul Vina ke kamar.
"Lha, dikira itu pencernaan apa sedang mencerna," celetuk Raka sambil terkekeh. Amira berhenti melangkah mendengar celetukan Raka kemudian melotot ke arahnya, Raka langsung berhenti tertawa dan masuk ke kamar di susul yang lainnya. "Maaf, ya kalau aku buat malam ini jadi suram," tutur Vina tiba-tiba saat semua sudah ada di ranjangnya.
"Eh, enggak kok santai aja," jawab Amira yang disertai anggukan Yerina dan Fina. "Sebenarnya aku masih kepo sama cerita yang lainnya, tapi aku juga gak mau maksa buat kalian cerita karena aku tau itu terlalu kelam dan menakutkan untuk diingat. Tapi, aku harap suatu hari nanti kalian mau bercerita sama aku walau aku telah tiada setidaknya aku bisa mendengar dari alam baka. Aku juga berharap kalian bisa berdamai dengan masa lalu kalian," ucap Vina panjang lebar sambil tersenyum memperlihatkan sederetan giginya. "Ih, kok ngomongnya tentang dead, dead, si. Serem tau," protes Fina. "maaf, deh kalau gitu ayo tidur." Vina tertawa kecil kemudian menyelimuti tubuhnya. "jujur, kita seneng liat perubahan loe yang mau terbuka dan gak nyeremin lagi," ucap Amira kemudian ikut menyelimuti tubuhnya. Vina hanya tersenyum.
***
Mereka semua terbangun setelah mengenang hal itu, mereka melihat satu sama lain. "Kalian ...." Amira tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena semua mengangguk seperti mengerti apa yang Amira pikirkan, setelah itu mereka tidak bisa lagi tidur dan begadang sampai pagi menjelang.
Begitu mendengar adzab subuh semua bersiap untuk menjalankan sholat, Revan yang hari ini berencana akan ke gereja tidur sebentar takut mengantuk saat ibadah nantinya di gereja. Setelah mereka sholat mereka berdoa yang dipimpin oleh Yusuf, serta mengaji bersama mendoakan Vina, setelah itu mereka sarapan dan Revan pergi ke gereja. Suasana terasa sepi, hati mereka masih hampa. Bicara soal menyemangati memang mudah tapi luka itu tetap saja ada, dan harus menunggu dokter segala penyakit yaitu sang pencipta dan sang waktu mengobatinya. Hari ini mereka tidak bersemangat melakukan apapun, jadi mereka semua termasuk Asiyah hanya berbaring di ruang tv sambil melihat ke langit-langit rumah. Yusuf hari ini dan beberapa hari ke depan berencana untuk cuti, menemani mereka semua. Yusuf ikut berbaring dan membiarkan semuanya bermasal-malasan hari ini, karena pasti semuanya masih lelah.
Mereka akhirnya tertidur di ruang keluarga sampai Revan pulang, saat Revan pulang pun dia ikut tidur mencari posisi yang nyaman. "Astagfirullah jam berapa ini? Belum nyiapin makan siang!" seru Aisyah panik kemudian menuju ke dapur. Anak-anak lainnya ikut terbangun. Saat sudah di dapur Aisyah melihat Yusuf sudah mengiapkan makan saing, "Ya Allah, Mas maafkan Asiyah ya Mas Asiyah ketiduran sampai Mas yang harus nyiapin makan siang," ujar Aisyah dengan menyesal.
"Gapapa, sekali-kali Mas juga pengen masak," ujar Yusuf sembari tersenyum.
"Aciee, Bunda sama Ayah mesra nieee," goda Amira.
"Uhuy, so sweet," timpal Fina. Yang lainnya bertepuk tangan.
"Ih, kalian berani ya godain Bunda awas kalin." Aisyah berlari ke arah mereka dan mengejar mereka kemudian mengelitikinya. Semua tertawa entahlah dengan tulus atau memang ingin melupakan sejenak kesedihan mereka, dan menutupi kesedihan mereka dengan tawaan yang menggema berharap itu bisa sedikit membantu.
Mereka lalu membantu Yusuf menyiapkan makan siang, ada yang mengambil bumbu dapur seperti yang diminta, ada yang mengelap msja, ada yang mengambil piring dan meletakkannya di atas meja, di susun berdasarkan kursinya, ada yang meletakkan cangkir, sendok. "Bunda, duduk aja biar kita aja yang nyiapin," ujar Amira, Aisyah tersenyum mengelus rambut Amira kemudian duduk di meja makan.
***
Beberapa hari setelahnya semua kembali seperti semula mereka mencoba manjalani hidup yang biasanya, luka itu memang masih ada tapi hidup tetap berjalan. Waktu dan hidup tidak akan menunggu luka kita sembuh kemudian berjalan kembali, mereka akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. "Yuk, sarapan. Sarapannya udah siap," ujar Aisyah ke setiap kamar, mereka masih membereskan tempat tidur. "Siap, Bunda," jawab mereka dengan kompak.
Mereka agak terkejut begitu sampai di meja makan, "Kok, ada delapan sarapan yang disiapkan Bunda," bisik Raka. "Udah diem aja jangan ngomong apa-apa," kata Amira memperingati sambil melotot. Mereka lalu duduk dengan rapi, tapi sesekali juga masih melirik makanan yang disiapkan di piring Vina biasanya itu. "Astagfirullah, Bunda buat delapan, Ya Allah." Aisyah sendiri terkejut dan panik dengan apa yang dia lakukan. Bukannya menyiapkan makanan yang sama berarti menganggap yang telah tiada masih ada?
"Gapapa, Bunda. Walau sekarang kita tinggal tujuh orang tapi kita tetap delapan s*****n gak akan pernah berubah, Bunda," celetuk Revan berharap bisa sedikit menenangkan Aisyah. "Iya, Sayang. Terimakasih ya." Aisyah memeluk mereka semua. "Ayah ikutan peluk juga, deh," ujar Yusuf yang baru keluar dari kamar.
"Bunda, hari ini kita mau go kita ada schedule hari ini," tutur Fina saat semuanya selesai makan.
"Yaudah, tapi hati-hati ya," ujar Aisyah mengingatkan.
"Ashiap, Bunda."
Mereka kemudian pergi dengan sepeda mereka setelah memberi salam dan mencium tangan. Hari ini mereka ingin pergi ke tempat peristirahatan terakhir Vina, ada yang perlu mereka katakan. Setelah sampai di pemakaman mereka kemudian mencari tempat untuk memarkirkan sepeda yang dirasa aman dan cocok, mereka bergegas ke tempat Vina. Fina sangat tidak suka pemakaman tapi hari ini saja dia ingin menahan dirinya, dia merapatkan tubuhnya ke Amira.
Setelah sampai di kuburan Vina mereka berjongkok mengelilingi kuburan itu, kemudian berdoa menurut agama dan kepercayaan mereka masing-masing. "Hai, Vina baru beberapa hari tapi kita datang lagi ke sini," lirih Amira membuka suara, sekuat tenaga mereka mencoba air mata mereka.
"Baru juga kemarin kita ke sini kita dah kangen lagi aja sama kamu." Revan ikut berujar.
"Kita yakin kamu di heaven sana sedang bahagia daripada di erath ini," cicit Fina.
"Kita ke sini mau ceritakan hal yang pengen loe tau. Cerita kelam yang sempet pengen loe denger, tapi kita gak bisa cerita ke loe karena kita takut buka luka kita lagi." Kali ini Amira yang berbicara di temani semilir angin yang lewat begitu saja. "memang kita belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalu kita, tapi seperti yang loe bilang pasti kita bisa berdamai dengan hal itu, dan tujuan kita di sini mau ceritain hal ini adalah karena kita pengen seengaknya ada satu orang aja di muka bumi ini yang mendengarkan walau gak mengingat sekali pun masa kelam yang kita alami. Kita pengen terbuka satu sama lain, karena kita adalah keluarga." Amira menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Oke, gue dah buat daftarnya buat mereka cerita jadi gak perlu nunggui lagi deh kelamaan kayak nunggu doi peka." Amira tertawa kecil dengan lelucon yang dia harap agar membuat air matanya tidak tumpah, dia tidak ingin ini menjadi hal yang menyedihkan karena ingin berbagi kenangan bersama bukan mengeluarkan air mata bersama. "oh, lupa satu lagi sebelum di mulai kita mau bilang. Walaupun kita tinggal bertujuh tapi tetap aja kita ini berdelapan sama loe dan gak akan pernah berubah karena kita ini delapan sekawan." Semilir angin kembali terasa menerpa wajah.
Mereka akhirnya mulai bercerita satu per satu, dimulai dari Amira, Revan, Fina, Rai dan yang terakhir adalah Yerina. "Dan begitulah akhirnya kita bisa bertemu dan menjadi keluarga yang sekarang ini," tandas Yerina mengakhiri ceritanya sebagai penutup.
Selanjutnya: Sampai di tempat ini.