Bab 24: Sampai di tempat ini

1144 Kata
Mari bercerita tentang masa yang penuh luka, karena aku juga ingin kalian mengingatnya. *** Malam yang dingin dan gelap terlihat indah dengan bulan purnama yang bersinar penuh di langit dan tanpa malu memperlihatkan diri. Awan pun seperti enggan menutupi sang bulan agar indahnya terpancarkan dengan hiasan bintang yang menjadi teman, di sebuah komplek perumahan mewah di antaranya ada sebuah rumah berwarna abu-abu bergaya ala eropa. Di sana terdengar suara yang mengalun merdu dari sebuah piano yang dimainkan oleh Amira. Amira dengan gembiranya bermain piano ditemani sinar bulan yang masuk dari jendela di sampingnya. Dia telah memainkan setengah lagu dari lagu yang diminta mamanya, tapi tanpa dia sadari mamanya sedang terlihat panik sambil menggigit kuku jarinya. Dia melihat benda pipih itu semakin cemas karena sedari tadi teleponnya tidak kunjung diangkat, sekali lagi dia menelepon nomor yang sama sambil berjalan ke sana- ke mari menunggu deringan telepon. Selesai Amira memainkan lagu yang di minta mamanya, mamanya menyembunyikan ponselnya dan bertepuk tangan sambil memasang wajah bahagia atas bertambahnya umur anaknya itu. "Bagus sekali, Sayang. Permainan piano kamu sudah semakin bagus saja," puji Mama Amira. Amira sangat senang dan suka dipuji oleh mamanya, tapi detik kemudian wajahnya berubah cemberut. "Papa kok belum pulang si, Ma? Kan Amira mau tiup lilin bareng Papa," ujarnya dengan wajah cemberut. "Aduh, anak Mama ini jangan cemberut gitu dong kan cantiknya jadi hilang. Tadi Mama udah telepon dan katanya Papa lagi di jalan, jalanan macet, Sayang. Jadi kamu sabar, ya." Sang Mama mengelus rambut Amira sambil mencium puncak kepalanya. "Yaudah, Ma kita tunggu Papa," jawab Amira mencoba bersabar. "Gimana kalau sambil nunggu kamu mainin Mama satu lagu lagi?" bujuk si Mama. Amira mengangguk dan menuju kembali ke depan pianonya. Dia kemudian memainkan lagu yang mamanya suka, kembali lagi si Mamam menjadi resah karena suaminya tidak kunjung pulang dan teleonnya tidak diangkat-angkat. Padahal suaminya sudah janji untuk merayakan ulangtahun puti tunggal mereka bersama-sama. Sang Mama malihat ke arah Amira yang terlihat sedang menghayati lagu yang dia mainkan sampai matanya terpejam, Mamanya kemudian menuju ke jendela membuka sedikit tirai jendela dan mengintip keluar. Tidak lama akhirnya telepn berdering, sang istri segera mengangkatnya dengan raut wajah gembira karena yang sedari tadi dia tunggu akhirnya menelepon juga. "Pa, kamu di mana? Dari tadi Mama telepon, Mamam cemas tau," kata sang Mama setelah mengangkat telepon itu. "Papa baik-baik aja kan? Papa bakal segera pulang kan? Amira udah nungguin dan nanyai Papa dari tadi. "Iya, Ma. Papa akan pulang ini Papa udah masuk ke komplek kita," jawab sang suami. "Baguslah, cepetan, Pa!" seru sang istri tidak sabar. Tidak lama akhirnya klakson mobil terdengar, tapi belum sempat sang suami membuka pintu dia melihat ada sebuah mobil yang dia kenal ada di belakangnya. Dengan cepat si sumami masuk ke dalam dengan wajah gelisah, dia tidak sadar jika dirinya diikuti oleh orang yang mengincanya. Sang istri sudah menyambut di depan pintu, sedangkan Amira masih asyik bermain piano sampai tidak menyadari sekitarnya. Sang suami langsung meletakkan jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar istrinya tidak menjerit dan memberitahukan bahwa ada dia kepada Amira yang sedang asyik bermain piano. Istrinya pikir suaminya ingin memberi kejutan sampai dia ikut gembira di dalam hati. Mereka kemudian menuju ke sudut ruangan agak jauh dari Amira dan pianonya, suaminya membisikkan sesuatu kepada sang istri. Wajah istrinya yang semula tersenyum dan bahagia berubah menjadi cemas dan pucat. "Setidaknya kita harus bersandiwara untuk membuat anak kita bahagi, Ma," ucap sang suami sambil memeluk istrinya. **** "Sayang, Papa pulang!" seru sang Papa kepada Amira bertepatan dengan selesainya Amira memainkan piano. "Papa!" Amira langsung ke pelukan papanya dan diangkat tinggi oleh sang papa. "Lihat, Papa bawa hadiah," ujar sang papa memberikan sebuah kado kepada Amira. "Wah, terimakasih, Pa!" Amira berseru senang. Amira langsung membawa kado itu dan membukanya, kado itu berisi piano kecil yang bisa dimainkan. Amira menatap takjub kado itu. "Ayo, Pa, Ma kita tiup lilinnya." Amira menarik kedua tangan kedua orangtuanya menuju ke kue yang ada di meja makan. Papa Amira kemudian menyalakan lilinnya dan mereka mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan bertepuk tangan saat Amira meniup lilinnya. "Papa, ke luar sebentar ya mau masukin mobil ke garasi," ujar sang papa menuju luar diasahuti anggukan dari Amira. "Amira, Sayang kamu sekarang mumpet di sini ya." Sang mama menyuruh Amira bersembunyi di lemari dapur. "Kenapa Amira harus sembunyi, Ma?" tanya Amira bingung. "Biar nanti Papa cariin Amira setelah ini," kata sang mama berbohong. Tidak lama dua orang yang membawa pistol menuju ke dapur, si mama bersikap biasa saja setelah menutup pintu lemari dapur. Salah satu dari pria itu mendorong suaminya. "Wah, wah ternyata istrimu cantik sekali," puji si pria yang membawa pistol. "Jangn pernah kalian sentuh dia!" marah sang suami. "Ke mana anakmu!?" tanya pria yang ada di belakang sang suami. "kami harus memusnahkan seluruh keluargamu," tambahnya lagi. "Dia sedang ada di rumah temannya," jawab sang suami. Untunglah sang istri sudah membuang kue yang tadi mereka tiup lilinnya, jika tidak mereka pasti akan ketahuan berbohong. "Kami akan cari anakmu dan membunuhnya!" ancam pria yang membawa pistol. "Mafia kelas teri seperti kalian tidak akan bisa menyentuh anak kami!" teriak sang istri. Mereka kemudian langsung menembak kedua orangtua Amira tanpa berkata apapun lagi. Amira menutup mulutnya berusaha tidak bersuara dia mengerti situasinya sekarang walau dia masih kecil. Memang pekerjaan papanya sebagai mafia sangat berisiko dan dia selalu dinasehati dan dilatih untuk kemungkinan dan hal-hal yang akan terjadi nantinya, seperti saat ini. Tidak sampai di situ, mata sang suami dicongkel untuk dijual, dan sang istri ditusuk berkali-kali. Setelah itu mereka pergi begitu saja. Setelah mereka pergi Amira keluar dan menangis, tapi ternyata dua orang itu bisa mendengar suara tangisan Amira dan kembali lagi. Amira kemudian di kejar tapi dengan gesit Amira mengelak walau dia agak gemuk. Dia berlari keluar rumah, sepi tidak ada siapa pun di sana. Dia kemudian melihat sebuah mobil seseorang dan masuk ke dalam mobil itu tanpa pikir panjang. Kedua pria itu keluar dari rumah Amira dan tidak menemukannya. "Jaga kesehatan kalian ya, Ayah," kata Aisyah kemudian berpamitan pada ayahnya. "Kami pulang dulu ya, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Yusuf berpamitan. Mereka berdua kemudian menuju ke dalam mobil dan pergi. Di perjalanan Amira merasa sesak dan keluar membuat Yusuf mengerem mendadak. "Astagfirullah, kenapa, Yah?" tanya Aisyah. Yusuf tidak menjawab dan malah melihat ke belakang. "Astagfirullah, kamu siapa, Nak?" tanya Aisyah. Amira tidak menjawabnya dia hanya menangis. Setelah sampai di rumah mereka menyuruh Amira masuk, kemudian membuatkan makanan untuk Amira dan saat dia sudah tenang barulah Aisyah dan Yusuf menanyainya. Setelah Amira menceritakan semuanya Yusuf segera menuji ke tempat kejadian dan menyuruh Aisyah menjaga Amira. Kemudian Yusuf melapor polisi dan pembunuh orangtua Amira berhasil ditangkap. Mereka kemudian mengadopsi Amira menjadi anak mereka untuk pertama kalinya. "Bunda dan Ayah kenapa mau adopsi Amira?" tanya Amira bingung padahal mereka baru saling kenal. "Karena, Bunda udah lama banget pengen punya anak tapi belum dikasih sama Allah," jawab Asiyah sambil mengusap rambut Amira dengan sayang. Selanjutnya: Kisahku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN