Bab 25: Kisahku

1636 Kata
Bercerita kembali sama saja aku menggali ingatanku di saat itu, saat masa laluku yang aku alami. Ini adalah kisahku. *** Sepasang suami istri itu tengah bahagia kini karena keluarga kecil mereka telah lengkap dihadiri oleh malaikat kecil yang diidam-idamkan setiap orangtua. Bayi itu terlahir dengan sangat sehat dan tampan, "Mau kita kasih siapa nama anak kita, Yah?" tanya sang istri. Sang suami terlihat berpikir sejenak, padahal sebenarnya dia sudah menyiapkan nama untuk anak mereka baik itu jika lahirnya perempuan maupun laki-laki. "Aku udah siapin nama, nama yang aku siapin Revan Rajandra gimana menurut kamu?" tanya si suami. "Namanya bagus, aku suka," jawab sang istri sambil tersenyum. "Revan, Revan sayang anak Ayah sama Bunda." Sang istri meenggoyang-goyangnyan jari telunjuk yang digenggam tangan mungil Revan. Setelah itu hari pun berlalu dengan cepat, ayah dari Revan ketauan selingkuh oleh istrinya yang membuat mereka sering bertengkar. Rumah tangga mereka yang awalnya harmonis, keluarga kecil mereka yang awalnya bahagia hancur sudah. "Kenapa, Yah, kenapa kenapa kamu selingkuhin aku!?" tanya ibu Revan dengan nada marah bercampur sedih. "Karena kamu sudah tidak secantik dulu! Lihat penampilan kamu, gendut jelek makannya aku cari perempuan lain yang jauh lebih cantik dari kamu!" jawah ayah Revan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ibunya hanya bisa terduduk di lantai sambil menangis, Revan yang melihat hal itu menghampiri ibunya dan memeluknya tanpa suara. Tapi, kemudian ibunya mendorong Revan sampai Revan yang masih kecil dan tidak tau apa-apa itu jatuh tersungkur. "Menyikir dariku, aku tidak sudi disentuh olehmu!" maki ibu Revan sambil menunjuk ke Revan. Ibunya kemudian menuju ke kamar, ayahnya yang melihat itu hanya diam saja dan kemudian keluar dari rumah. Revan kecil memangis karena dibentak sang ibu, dia tidak tau apa kesalahannya. Sejak saat itu kehidupan Revan yang penuh kasih sayang berubah drastis hanya dalam sekejap. Dia yang awalnya dimanja dan disayang, sering pergi ke banyak tempat sampai semua temannya iri padanya tidak akan lagi ada. Ibu dan ayahnya sering bertengkar setiap malam, tidak jarang Revan melihat ibunya menangis di kamarnya yang gelap. Sedangkan ayahnya selalu membawa gadis yang Berbeda setiap malam di kamar yang berbeda, Revan akhirnya tau dari beberapa omongan tetangga bahwa ibunya adalah model dan ayahnya adalah manajer ibunya dan akhirnya menikah dan lahirlah dirinya. Dengan keadaan demikian Revan menjadi lebih dewasa atau dipaksa dewasa sedini mungkin, dia jadi sering berpikir apakah jika dia tidak bisa terlahir ke dunia ini atau dia bisa memilih keluarga yang sayang padanya mungkin dia masih bahagia sampai sekarang. Setiap hari pula ibu Revan selalu memarahinya tanpa alasan yang jelas, tidak jarang pula dengan k*******n tangan. Padahal Revan hanya diam saja tidak melakukan apapun tapi semuanya serba salah mungkin Revan ada di dekat ibunya adalah sebuah kesalahan. Ayahnya juga tidak pernah menganggapnya ada, walau disiksa ibunya ayahnya hanya memandangnya kemudian pergi dari sana, percuma juga Revan menangis meminta tolong tidak akan ada yang membantu. Andai kamu tidak lahir di dunia ini dari rahimku!!!" hardik ibu Revan saat Revan ikut sarapan bersama ibunya, Revan tidak jadi memakan sarapannya dan hanya tertunduk sedih sambil menangis. Ibunya langsung kehilangan selera makan karena melihat Revan, ibunya langsung pergi ke dalam kamar sambil membanting pintu kamar. Hari-hari Revan semakin berat saja saat semua teman Revan menjauhinya dan malah mengolok-ngoloknya sebagai anak haram, entah siapa yang menyebar rumor tidak berperasaan itu. *** Puncaknya pada suatu malam saat Revan baru saja akan terlelap dia mendengar suara mesin mobil dimatikan, dia melihat dari balik jendela dan itu adalh mobil ayahnya. Ayahnya kemudian masuk ke dalam rumah, istrinya sudah menunggu di dalam. Seperti biasa ayahnya membawa seorang wanita, "Wah, besar sekali rumahmu, Mas," ucap wanita yang dibawa ayahnya itu. "Tenang saja, Sayang ini semua akan menjadi milikmu saat kita sudah menikah," kata si ayah sambil merangkul bahu wanita itu dengan mesra. Revan mengintip dari balik pintu tidak berani keluar takut dia akan dimarahi dan dipukuli lagi. "Bagus sekali, siapa lagi wanita yang kamu bawa ini!?" istinya menaikkan beberapa oktaf suaranya. "Memangnya kamu mau apa, hah!?" tantang si suami. Ibu Revan kemudian mendekati wanita itu dan menjambaknya tanpa ampun. "Kamu, gak waras ya!" hardik suaminya. "Kamu yang gak waras dan gak tau diri!" sahut istrinya. "tanda tangani ini, ini adalah surat cerai kita." si istri memberikan kertas dan pulpen kepada istrinya. "Oke, dengan senang hati, aku juga suah muak dengan kamu!" si suami langsung menandatanganinya dan keluar bersama wanita itu. Setelahnya ibu Revan hanya menangis. Berselang beberapa jam kemudian ibu Revan menjadi Revan di kamarnya, Revan langsung menyelimuti dirinya dan pura-pura tidur. "Aku tau kamu hanya pura-pura tidur, cepat bangun!" marah ibunya sambil menarik selimut Revan. Revan kemudian bangun, ibunya kemudian langsung menarik tangan Revan menuju ke dalam mobil yang satu lagi. "Ibu, kita mau ke mana?" tanya Revan. "Aku mau buang anak gak berguna seperti kamu!" kata sang ibu dengan nada tinggi. Nyeri terasa hati Revan, tapi mungkin inilah yang membuat ibunya akan bahagia jadi dia hanya diam dan menerimanya saja. *** "Amira kita ajak saja ya, Yah kasian kalau ditinggal sendiri apalagi acaranya mungkin akan sampai malam," kata Aisyah pada Yusuf. "Boleh saja, Bun. Ayah juga berencana mengajak Amira," jawab Yusuf. Aisyah kemudian menyuruh Amira bersiap-siap untuk pergi ke pesta pernikahan teman Yusuf di sebuah vila milik temannya itu. Setelah bersiap mereka kemudian berangkat, mereka berangkat sedari sore karena perjalanan ke vila itu hampir memakan waktu dua jam, vila itu melewati sebuah jalan tol yang di kanan dan di kirinya adalah hutan yang hanya ada pohon-pohon. "Bunda, nanti Amira di mobil aja ya. Soalnya Amira gak suka ke pesta," kata Amira di dalam mobil. "Iya, Sayang gapapa kalau kamu gak mau ikut. Bunda sama Ayah cuma khawatir aja soalnya kamu sendirian di rumah kalau siang gapapa lha ini kan sampai malam," jelas Asiyah. "Terimakasih, Bunda," kata Amira. "Sama-sama, Sayang." Setelahnya semua hening, Amira melihat ke jendela memperhatikan pohon yang lebat, Asiyah pun demikian, sedangkan Yusuf fokus menyetir. Revan melihat sisi kiri dan kanan jendela mobil dan di sepanjang jalan hanya ada pepohonan yang dia lihat. Tidak lama mobil berhenti ibu Revan turun dari mobil, "Ayo, kamu turun!" perintah ibu Revan. Revan menggeleng, dia sangat takut, dengan geram ibu Revan membuka pintu mobil dan menarik tangan Revan keluar dari mobil. "Bu, tolong jangan tinggali Revan di sini, Bu," mohon Revan dengan berlinang air mata. Ibu Revan tidak mendengarkan tangisan Revan, hati nuraninya sebagai seorang ibu telah tertutup rapat. "Siapa suruh wajahmu mirip dengan ayahmu!" hardik ibu Revan. Memang salah apa Revan mewarisi wajah ayahnya, dia kan anaknya. Ibu Revan mendorong Revan sampai terjatuh kemudian dengan cepat menaiki mobil dan meninggalkan Revan sendirian di sana. "Ibu!" teriak Revan, dia hanya bisa melihat mobil ibunya perlahan-lahan pergi menjauh. Revan melihat sekitar dengan takut, dia memeluk lututnya sendiri. Sekarang dia hanya bisa berharap belas kasih dari sang pencipta alam untuk mempertemukannya dengan orang yang bisa menolongnya keluar dari tempat itu, tapi Revan juga tidak bisa hanya menunggu saja dan pasrah. Dia dengan tertatih-tatih berjalan sedikit demi sedikit menyusuri jalan untuk keluar dari jalan tol yang dibangun di tengah-tengah hutan itu, ketika lelah dia akan behenti sebentar sambil menunggu mobil yang lewat. Hal itu dia lakukan hingga malam menjelang, sampai ada beberapa mobil yang melintasi jalan itu dan berulang kali pula Revan meminta bantuan dengan melambaikan tangannya tapi hasilnya nihil tidak ada yang peduli. Tidak lama melintas lagi satu mobil yang tidak lain adalah mobil Aisyah dan juga Yusuf, kali ini dengan kaki lemas dan sekujur tubuh yang kotor Revan melambaikan tangannya lagi. "Yah, berhenti Yah ada orang, itu." Tunjuk Aisyah. Yusuf pun menghentikan mobil mereka, "Ayah yang turun, kalian berdua di mobil aja, ya." Setelah menerima anggukan dari Aisyah dan Amira Yusuf turun dan menghampiri Revan, "kamu kenapa ada di sini?" tanya Yusuf. Revan tidak bisa menjawab tenggorokannya sangat kering, sampai akhirnya dia jatuh pingsan. Yusuf membawanya ke dalam mobil, "Astagfirullah, kenapa dia, Yah?" tanya Asiyah. "Pingsan, Bun. Amira tolong jagai dia," kata Yusuf kemudian memasukkan tubuh Revan di kursi belakang bersama Amira. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, sesampainya di resepsi pernikahan Yusuf langsung mencari temannya yang seorang dokter dan juga ada di pesata itu. Setelah diperiksa ternyata Revan kelelahan, dan juga dehidrasi. Yusuf hanya bisa sebentar saja mampir ke sana untuk memberikan ucapan selamat bersama Aisyah kemudian bergegas pulang. *** Perlahan Revan membuka matanya. "Bunda, Ayah, dia udah siuman!" jerit Amira. Yusuf dan Aisyah yang tadinya masih ada di dapur mau menbuatkan bubur menuju ke ruang tengah. "Ini di mana?" tanya Revan sambil melihat ke sekitar. "Ini di rumah kami," jawab Aisyah sambil tersenyum. "kamu tadi pingsan pas berhentiin mobil kami. Jadi kami bawa ke sini karena gak tau di mana rumah kamu," tambah Aisyah lagi. "Ayo, dimakan dulu buburnya. Tapi hati-hati masih panas." Yusuf memberikan sepiring bubur dan air putih di meja. Revan memakannya dengan lahap. "Kamu boleh nginep di sini, nanti kalau udah sehat kamu boleh pulang. Kami antarkan," kata Aisyah hendak mengambil mangkuk dan gelas bekas Revan makan. "Biar Amira aja, Bunda," ujar Amira mengambil piring dan gelas itu kemudian mencucinya. Revan tertunduk lesu, "Saya gak punya rumah lagi." "Kalau gitu kamu mau jadi keluarga kami?" tanya Yusuf, Revan masih ragu. "gapapa kalau kamu masih ragu, kamu gak perlu jawab sekarang," ujar Yusuf. Setelahnya mereka menyuruh Revan untuk beristirahat di kamar sebelah Amira. Beberapa hari setelah tinggal di sana, saat Amira pergi ke sekolah dan Yusuf sedang menonton berita ada sebuah berita tentang mantan model yang sudah pensiun menjadi model karena menikah dengan manajernya dan rumah mereka terbakar, keduanya mati di rumah itu. Revan melihat berita itu saat dia keluar kamar dan tau betul bahwa itu adalah rumahnya, setelah itu penyiar yang ada di televisi mewawancarai seorang polisi yang ada di tempat perkara kejadian dan menanyakan perihal kedua orang itu dan sudah dipastikan mereka adalah kedua orangtuanya Revan. Sedangkan Revan masih dicari keberadaannya oleh polisi, Revan memberitahukan Yusuf segera dan mereka segera ke rumah Revan. Setelah semua di urus Revan menerima diadopsi oleh Aisyah dan Yusuf. Selanjutnya: Kala itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN