Bab 26: Kala itu

1426 Kata
Kisahku, kisahmu berbeda. Tapi, kisah kita itu sama. *** Hari ini Fina merasa sangat senang karena sang Ibu akan mengajaknya pergi ke luar rumah yaitu ke pasar, memang cuma ke pasar tapi Fina begitu sangat bahagia. Semenjak ayahnya meninggalkan Fina dan ibunya, ibunya jadi sibuk bekerja dan jarang mempunyai waktu untuk Fina. Tapi Fina selalu coba mengerti dan membantu ibunya sebisa mungkin, dia mengurus rumah seorang diri mulai dari memasak, mencuci pakaian, dan pekerjaan rumah lainnya. Tidak hanya itu Fina juga tidak lagi bersekolah karena tidak punya cukup biaya, dan Fina tidak masalah dengan hal itu asalkan tidak menambah beban ibunya. Fina yakin bahwa jika dia berskiap baik, patuh, dan mau membantu ibunya akan terbantu walau hanya sedikit dan bisa melewati masa-masa sulit ini. "Ayo, Bu. Cepet Fina udah gak sabar mau ke pasar!" teriak Fina dari halaman rumah sambil melompat-lompat. "Iya, sebentar ya, Sayang," jawab sang ibu sambil tertatih-tatih berjalan ke arah ibunya. Badan ibunya yang kurus, pakaian yang lusuh dan juga kebesaran itu adalah baju kesayangan ibu Fina. "Wah, Ibu pakai baju kesayangan Ibu buat keluar sama Fina ya, terimakasih, Bu." Fina memeluk badan ibunya yang kurus. Fina kemudian menggandeng tangan ibunya dan berjalan. Fina heran karena ibunya berjalan sangat lambat, "Ibu kenapa jalannya kok lambat sekali?" tanya Fina, dia memperhatikan sendal ibunya yang ternyata sudah putus dan diberikan karet untuk menyambungnya kembali agar bisa dipakai lagi. "sendal Ibu tidak nyaman ya?" tanya Fina ibunya hanya menggeleng. Fina kemudian menuntun ibunya ke sebuah kursi yang ada di jalan, dia menyuruh ibunya duduk kemudian menukar sendal miliknya yang masih bagus walau warnanya sudah pudar dengan sendal ibunya. "Nah, sudah sekarang pasti jauh lebih nyaman, kan ukuran kaki kita sama." Fina tersenyum sambil memandangi ibunya. Di dalam hati ibunya miris melihat senyuman tulus milik Fina. "Terimakasih, Sayang," jawab ibu Fina sambil mencium pipi Fina. "Kalau begitu kita jalannya pelan-pelan saja, Bu. Biar Ibu tidak capek." Fina menyamakan langkah kakinya dan langkah kaki ibunya. Setelah sekitar tiga puluh menit berjalan kaki mereka sampai di pasar tradisional yang paling dekat dengan rumah Fina. Mereka kemudian berbelanja belanjaan yang mereka perlukan. "Sini, Bu. Fina aja yang bawa belanjaannya biar Ibu gak capek." Fina mengambil kantong plastik berisi kentang yang tadinya ibunya bawa. "Gak usah nanti malah kamu lagi yang capek," ujar ibu Fina menolak. "Ih kalau Fina yang capek gapapa kan Fina kuat masih muda lagi, kalau Ibu kan Fina gak mau Ibh capek terus sakit nanti Fina yang sedih," sahut Fina dengan wajah sendu. "Kalau kamu sakit Ibu juga sedih." Ibu Fina mengelus pipi Fina. "Gak dong, Fina gak akan sakit kan Fina kuat," kata Fina meyakinkan memperlihatkan sederetan gigi putihnya. Akhirnya ibu Fina memberikan kantong plastik berisi kentang itu kepada Fina. Setelahnya mereka pergi untuk berbelanja keperluan lainnya. "Udah semua kan, Bu?" tanya Fina. Ibu Fina menaggguk. "Tapi, tumben Ibu belanja banyak buat apa memang, Bu?" tanya Fina heran. "Ibu mau mulai buka usaha catering, kemarin Alhamdullilah Bu RT pesen buat arisan dia," jelas ibu Fina. Mata Fina langsung berbinar. "Wah, Alahamdullilah. Iya, Bu bener banget masakan Ibu kan enak," kata Fina memuji. Ibunya hanya tersenyum sambil mencubit hidung Fina. "Nah, ini Ibu kasih kamu uang kamu bebas mau beli apa aja, sehabis kamu beli apa yang kamu kamu tunggu Ibu di sini ya." Ibu Fina memberikan uang selembar berwarna biru. Mata Fina langsung hijau melihatnya baru pertama kali ini dia melihat uang sebanyak itu. "Beneran, Bu!?" tanya Fina tidak percaya, ibunya mengangguk membuat Fina senang bukan kepalang. Fina segera berlari menuju ke tempat tukang mainan berada, dan ibunya dengan segera meninggalkan Fina. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu terpaksa melakukan ini, Ibu tidak mau kamu sengsara dan hidup lebih menderita bersama Ibu. Ibu berharap akan ada orang baik yang menemukanmu," kata ibu Fina dalam hati dengan air mata berlinang. Setelah membeli apa yang dia inginkan Fina kembali lagi ke tempat semula, dia melihat ibunya sudah tidak ada di sana. Tapi seperti perkataan ibunya tadi dia akan menunggu di sana. *** "Yah, aku pengen belanja ke pasar tradisional yang waktu itu kita lewati lengkap banget, Yah," rengek Aisyah kepada Yusuf. "Kenapa gak belanja di supermarket aja, Bun pasar deket sini gitu. Ayah males Bun mau keluar jauh-jauh," jawab Yusuf. "Di sana lengkap, Yah. Murah-murah, sayuran sama buahnya juga seger-seger, Yah. Ayo dong Yah ke sana gak jauh kok cuma sejam aja perjalanannya, yah, Ayah, yah." Aisyah menarik-narik lengan baju Yusuf seperti anak kecil minta dibelikan permen. Yusuf menghembuskan napasnya, memcoba bersabar. Sebenarnya dia sangat malas, apalagi harus pergi sejam hanya untuk berbelanja belum lagi macetnya. Tapi, mau bagaimana jika Aisyah sudah merengek dan tidak dituruti dia akan ngambek bisa sampai semingguan, walau Aisyah jarang sekali merengek tapi sekalinya merengek mintanya hal yang merepotkan dan juga terkadang bikin kesa. "Yaudah, kita belanja bulanan di sana tapi kali ini aja, ya," kata Yusuf akhirnya mengalah. Senyum Aisyah terbit seketika, "Nah, gitu dong Yah. Gak dong masa kali ini aja, pokoknya setiap belanja bulanan dong," ujar Aisyah. "Haduh, Bun, Bun. Yaudah deh iya, dah seneng?" tanya Yusuf agak kesal. Aisyah mengangguk, kemudian mereka bersiap untuk pergi. "Amira, Revan. Bunda sama Ayah mau pergi belanja bulanan dulu ya, kalian jaga rumah bisa kan?" tanya Aisyah pada Amira dan Revan. "Bisa, dong Bunda," jawab Amira. Revan mengangguk. "Alhamdulillah, anak-anak Bunda sama Ayah memang bisa diandalkan." Asiyah mengelus rambut mereka penuh kasih sayang. "kami pergi dulu ya Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Aisyah dan Yusuf sambil melambaikan tangganya. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Bunda, Ayah," jawab Amira membalas lambaian tangan mereka. Revan juga ikut melambaikan tangannya. Setelah kepergian mereka, Amira dan Revan mengunci semua pintu dan jendela kemudian sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Aduh, Ayah kok macet banget kayak gini mah gak sampai-sampai,Yah," keluh Aisyah. "Siapa coba tadi yang minta pergi, siapa juga banyak yang ngeluh?" sindir Yusuf. Aisyah hanya nyengir, "Iya, Ayah, ampun," jawab Aisyah pada suaminya itu yang mukanya sudah ditekuk sedari tadi. "Ayah juga jangan cemberut gitu dong nemenin istrinya." Aisyah menoel-noel pipi Yusuf dengan jari telunjuknya, Yusuf memperlihatkan senyumannya yang tidak ikhlas sama sekali. Sesampainya di sana rasanya lelah Aisyah terbalasakan, baru masuk saja dia sudah disuguhi pemandangan sayuran segar berwarna hijau dan buah-buahan. Aisyah langsung berlari dan mencari semua barang keperluan mereka. Yusuf mencari tempat untuk istirahat sejenak dan menemukan sebuah kursi kayu memanjang di dekat pintu masuk pasar. Di sana ada seorang anak yang membawa banyak mainan dengan wajah cemberut. "Kenapa, Nak. Kok mukanya cemberut gitu?" tanya Yusuf menegur anak itu. "Iya, soalnya dari tadi Fina nunggui Ibu di sini gak dateng-dateng juga," jawab Fina. "Oh, namanya Fina. Wah bagus sekali namanya," puji Yusuf. "Kenapa gak ke rumah aja siapa tau Ibu kamu udah pulang, rumah kamu deket sini kan?" tanya Yusuf. "Iya, rumah Fina deket sini paling cuma tiga puluh menit kalau jalan kaki," kata Fina. "Jauh juga berarti ya." Mereka kemudian terdiam beberapa saat sampai Yusuf memecah keheningan diantara mereka lagi. "gimana kalau kita nunggu istri Om belanja, terus nanti Om kasih tumpangan buat ke rumah Fina, mau?" tanya Yusuf. "Om, penculik ya?" tanya Fina curiga. Yusuf terkekeh, "Yaudah kalau kamu gak percaya sama, Om. Emang tampang Om tampang penculik apa?" "Enggak, si. Tampang Om kayak orang baik, tapi kan biasanya kita gak bisa liat orang dari tampangnya doang. Kata Ibu kita harus hati-hati di zaman sekarang ini banyak orang jahat." "Wah, iya bener pinter kamu." Yusuf spontan dan tanpa sadar mengelus rambut Fina. Membuat badan Fina kaku seketika, dia tidak pernah mendapatkan hal itu dari ayahnya sejak dulu. Yang dia ingat tentang ayahnya adalah pria kasar yang selalu memarahinya dan selalu membuat ibunya menangis. "Yah, Bunda udah selesai belanja nih," kata Aisyah tiba-tiba sambil membawa banyak barang belanjaan. Yusuf kemudian membawa sebagian belanjaan Aisyah. "lho, itu siapa, Yah?" tanya Aisyah menunjuk Fina. "Ini anak yang nemenin Ayah dari tadi di sini, kita kasih tumpangan yuk Bun ke rumahnya. Dia kayakanya ditinggal Ibunya," jelas Yusuf. Aisyah mengangguk setuju. Mereka kemudian berangkat ke rumah Fina. "Ini kan rumahnya?" tanya Yusuf memastikan setelah sampai di tempat yang ditunjukkan Fina. Fina mengangguk kemudian turun. Fina menuju ke arah rumahnya, untunglah dia membawa kunci cadangan dia langsung membuka pintu rumahnya "Ibu!" seru Fina memanggil ibunya tapi tidak ada yang menyahuti. Fina mencari ibunya ke setiap sudut rumah tapi tidak ditemukan juga, Fina melihat ke kamar ibunya dan ternyata semua pakaian dan juga barang-barang ibunya sudah tidak ada. Fina menangis sejadi-jadinya dan ditenangkan oleh Aisyah juga Yusuf. Setelah itu Yusuf mengajak Fina ke rumah mereka tapi Fina menolak. Sampai beberapa hari kemudian ada orang datang dan menyita rumah Fina karena rumah itu telah dijual oleh ibunya, Yusuf dan Aisyah pun akhirnya mengadopsi Fina. Selanjutnya: Bercerita kembali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN