Bab 37: Malam bulan purnama

1433 Kata
Bulan purnama dipercaya memberikan energi mistis yang sangat besar, dan di malam jumat kliwon semua makhluk berkumpul lebih ramai dari biasanya. *** "Hah, malam bulan purnama di jumat kliwon!?" tanya Amira kaget. "Iya, itulah petunjuk waktu saat buku itu muncul, aku juga dapat info ini dari Vina keluarga kalian itu." Yelica membuat tanda kutip dengan jarinya saat menyebut kata keluarga. "aku tidak yakin dengannya tapi apa salahnya dicoba." Akhirnya semua setuju untuk memulai pencarian pada malam purnama yang jatuh di jumat kliwon. Mereka mempersiapkan semua rencana dengan matang, begitu juga dengan perlengkapan yang dibutuhkan. Rencananya mereka akan menginap malam itu karena mereka akan memulai pencarian sampai tengah malam. Setelah hari itu tiba mereka bersiap-siap. "Karena malam itu rentan di sekolah ini jadi kita akan mencari bersama saja, tolong jangan sampai berpencar aku tidak mau kalian ikutan hilang seperti Yerina," jelas Yelica membuat semuanya tambah ketakutan. Mereka kemudian menuju ke perpustakaan, baru saja mereka melangkah sudah ada suara tawa menggema yang mengerikan. "tidak usah diperdulikan jalan saja dan jangan menoleh ke belakang," kata Yelica lagi memperingati. Mereka mencoba tidak mendengarkan suara-suara yang mengganggu, malam ini lebih mencekam daripada malam saat upacara pembukaan. Fina memegang tengkuknya dia merasa merinding dan merasa ada sesuatu di belakangnya, Raka juga tidak kalah merindingnya sedari tadi kupingnya ditiup entah oleh siapa. "Hihi." Suara tawa itu sangat mereka kenal, itu adalah suara tawa milik Vina. Yelica sudah menceritakan kepada mereka tentang Vina ada rasa kecewa bercampur kesal di hati mereka karena merasa dipermainkan, tapi Yelica bilang mereka tidak perlu membenci Vina walau dia salah karena dia hanya diperintah seseorang saja. "Tolong!" teriak Revan yang ada di depan mereka menbuat mereka yang awalnya tertunduk dan hanya mengikuti langkah Yelica langsung melihat ke arah suara itu. Revan ditarik oleh sosok tinggi besar berbulu, "Ayo tarik!" seru Yelica. Semuanya bersiap menarik tangan Revan, sosok itu menarik tangan Revan semakin kencang membuat Revan meringis. "Amira baca ayat kursi yang lainnya jangan dilepaskan!" Mereka semua menuruti Yelica dan selesai Amira membaca ayat kursi makhluk itu pergi. Ada bekas hitam di tangan Revan, mereka terduduk lemas. Ini sudah tidak wajar. Setelah merasa kuat berjalan mereka mulai berjalan lagi. Setelah mencari di tiga tempat yaitu perpustakaan, gudang, dan ruang kelas Yelica memutuskan meminta bantuan temannya saja. "Sini bantu aku," gumam Yelica, tidak lama angin berhembus menerpa semua wajah yang ada di sana. Yelica kemudian terlihat seperti berbicara dengan seseorang walaupun yang bisa dilihat Amira dan yang lainnya adalah udara yang hampa. "kita tunggu saja di sini, aku sudah minta tolong teman-teman arwahku untuk mencari. Aku tidak mau kalian terluka lagi dan yang paling penting aku tidak mau buang-buang waktu lebih lama lagi," kata Yelica. Mereka kemudian duduk di bangku yang ada di depan ruangan laboratorium kimia. Setelah kurang lebih setengah jam menunggu, Yelica berdiri membuat Fina yang hampir memejamkan matanya ikut berdiri. "Ikuti aku!" seru Yelica kemudian berlari ke arah kamar mandi yang ada di lantai dua, semuanya mengikuti Yelica dengan berlari juga. "Kalian tunggu di sini aku mau ambil gergaji di dalam gudang, kalau kalian takut atau ada suara apapun dan sosok apapun yang menampakkan diri baca doa sesuai agama dan keyakinan kalian saja sambil memejamkan mata. Ingat jangan buka mata sampai aku kembali!" perintah Yelica langsung menuju ke arah gudang yang tiba-tiba pintunya terbuka. "Wah, curang minta tolong temannya, hihi," ujar Vina sambil tertawa, Yelica mengabaikannya dan fokus mencari gergaji. Setelah menemukan itu Yelica dengan cepat keluar. "buka mata kalian! Bantu aku gergaji ini." Yelica menunjuk ke arah sekat yang memisahkan anatara kamar mandi dan juga perpustakaan ada sebuah lubang kecil di sana, dan sekat itu agak menjorok ke depan beda dengan sekat yang terbuat dari dinding seperti memang sudah dirancang khusus menyimpan sesuatu. "Hmm, aku juga baru tau buku yang selama ini harus kujaga ada di sana, hihi," kata Vina sambil tertawa. Mendengar suara Vina Fina menoleh tanpa sadar dan benar saja Vina sudah ada di belakangnya. "hai, lama tidak jumpa," kata Vina sengaja muncul dengan wujud terseramnya, Fina seketika merinding dan berbalik mencoba mengabaikan Vina. "Dih, aku dicuekin," kata Vina sebal. Vina kemudian jahil dengan menutup mata Fina dengan rambutnya dan mengelus kepala Raka. "Jangan teriak nanti penghuni yang lain akan ke sini!" ujar Yelica memperingati, jadi Fina dan Raka hanya bisa diam sambil ketakutan. "kamu pergi saja sana jangan ganggu kami!" Yelica melotot ke arah Vina. Vina hanya berdecak sebal kemudian menghilang. Rai menggergaji papan kayu itu dan akhirnya berhasil mereka menemukan buku itu. Ciri-cirinya persis seperti yang disebutkan Yelica. Saat Yelica akan mengambilnya mereka telempar ke pembatas lantai dua, angin kencang berhembus sesosok makhluk tinggi besar dengan bulu dan bertanduk keluar dari buku itu. Vina bertepuk tangan melihat hal itu, semua jadi tambah seru sekarang, dia suka pertunjukkan semacam ini. "Aku panggilkan teman ya, hihi. Kan asyik kalau keroyokan." Vina lalu membuat kegaduhan yang menyebabkan penghuni yang ada di sekolah itu menuju ke arah mereka. Semua berkumpul mulai dari yang hanya kepala, sampai badannya utuh, dari yang bau amis sampai bau bunga melati semua berkumpul menjadi satu mendekat ke arah Yelica dan lainnya. "Dasar Vina kurang ajar!" geram Yelica. Vina hanya menjulurkan lidahnya. Dia kemudian memanggil semua temannya, dan pertarungan antar hantu pun di mulai. Amira, Fina, Raka, Rangga, Revan, dan Rai hanya bisa melihat langit-langit sekolah bagai mau roboh, dinding sekolah yang bergetar, dan juga dengan lantainya. Selesai membuat para hantu itu mundur mereka masih harus melawan si penjaga buku. "Gimana nih cara ngelawan makhluk halus?" tanya Amira panik. "Kalian cukup berdoa aja bantu aku, inget doanya harus tulus tanpa rasa takut apapun karena rasa takut malah akan memberikan dia kekuatan," ucap Yelica. Mereka semua mengangguk dan mulai berdoa sambil menutup mata mereka. Yelica berdiri, tenanganya sudah terkuras habis tapi tidak ada cara lain lagi "Bantulah hambamu yang memerlukan pertolongan ini Ya Rob, hamba hanya makhluk lemah yang tidak berdaya. Kalahkanlah segala angkara murka dan gelap gulita, terangilah jalan kami dengan ridho-Mu." Dengan berurai air mata Yelica berdoa kepada sang pencipta yang ia percaya. Dia kemudian menyipratkan air sebanyak tujuh kali ke arah makhluk itu, makhluk itu sedikit mengerang kesakitan tapi kemudian Yelica dia cakar sampai berdarah. Yelica meminta bantuan penjaga yang dia punya selama ini, dan mereka bertarung dengan sengit. Akhirnya Yelica menang, dia mengambil buku itu dan tergeletak pingsan. *** Buku itu diserahkan kepada delapan s*****n mereka hanya perlu menyimpannya di tempat yang aman. Karena rumah mereka banyak aura positifnya jadi Yelica berpikir itu adalah yang terbaik aura positif itu akan mengalahkan aura negatif yang ada di dalam buku itu. Saat kembali ke rumah mereka semua izin sakit bersamaan dengan Yelica selama dua hari, sedangkan Yelica izin selama satu minggu. Aisyah begitu khawatir tapi untungnya tidak ada luka yang mereka derita hanya syok saja, luka kehitaman di pergelangan tangan Revan pun perlahan-lahan menghilang setiap kali dia beribadah ke gereja. "Stabi suka amat tidur di buku itu," ujar Amira membuka kaus kakinya sambil melihat Stabi tidur bersama buku misterius yang mereka bawa. Mereka menamankannya buku petunjuk misteri. "Iya, sampai Rangga ngotot bawa itu book biar Stabi sleep sama dia." Fina tertawa geli melihat tingkah Rangga yang tidak seperti biasanya. "tapi gimana keadaan Kak Yelica ya? Apa besok dia masih gak akan school?" tanya Fina perihatin. "Kita doain aja semoga Yelica cepet sembuh," kata Amira. "Aamiin Ya Robbal Alamiin," jawab Fina mengaminkan. Setelah itu keesokan harinya Amira mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal, ternyata nomor itu adalah milik Yelica. "Hari ini bawa bukunya aku mau buka buku itu sepulang sekolah." Begitulah isi pesan yang Yelica kirimkan. Akhirnya Amira membawa buku itu, tapi Stabi sama sekali tidak mau melepaskan buku itu sampai Amira harus dicakar barulah buku itu bisa diambil. "Kenapa tangan kamu Kak kok kayak habis dicakar gitu?" tanya Raka saat Amira duduk untuk sarapan bersama. "Dicakar si Stabi gara-gara mau ambil buku petunjuk petunjuk misteri itu," jawab Amira. "Sini, sini Bunda obati nanti tetanus lagi," ujar Aisyah mengambil kotak P3K dan mengobati luka Amira dengan telaten. "lain kali hati-hati, dong," tambah Aisyah dengan khawatir. "Siap, Bunda," jawab Amira. Mereka pun pergi ke sekolah setelah berpamitan. "Yelica loe dapet nomor gue dari mana?" tanya Amira begitu sampai di kelas dan menghampiri meja Yelica. "Dari Ratna," jawabnya. "Yang udah punya temen baru lupa sama kita," sindir Ratna. "Iya, kita dilupain gitu aja," tambah Sela. "Ih, gak gitu. Jangan ngambek dong." Amira memeluk Ratna dan Sela. "Oh iya kenapa kalian semua delapan s*****n bisa sakit barengan coba?" tanya Ratna. "Itu kita keasyikan mandi di sungai," jawab Amira jelas berbohong. "Dih, udah SMA juga," cibir Sela. "Oh, iya hari ini Yelica mau makan bareng sama kita," kata Amira tiba-tiba tanpa diketahui Yelica. "Boleh aja," jawab Ratna, Sela juga mengangguk. Selanjutnya: Tiga aturan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN