Buku misteri adalah misi pertama yang harus ditemukan sebelum petualangan mematikan dimulai.
***
"Oke, jadi kapan kita mulai cari buku itu?" tanya Raka.
"Besok," jawab Yelica.
"Loe ada ada petunjukkah tentang buku itu, kayak ciri-cirinya atau di mana tempatnya?" tanya Amira.
Yelica hanya menggeleng. "Untuk mendapatkan informasi seberharga itu gak akan mudah, lagipula arwah di sini sulit diajak komunikasi atau lebih tepatnya disuruh untuk tutup mulut akan suatu hal," ujar Yelica menjelaskan.
"Kenapa kamu mau bantu kita?" tanya Rai.
"Ada beberapa alasan. Pertama, hal itu berhubungan denganku, kedua karena tujuan kita sama, ketiga aku tidak mungkin tega membiarkan Bunda kalian kehilangan."
"Kenapa kamu harus peduli sama Bunda kami?" tanya Raka.
"Dia orang baik, dan aku tau rasanya kehilangan jadi anggap saja aku membantu orang yang sama nasibnya denganku," ujarnya.
"Sama?" tanya Amira heran.
"Sama-sama ngerasa kehilangan kayak kita juga," jawab Raka.
"Kalau gitu aku pulang dulu." Yelica kemudian pergi berlalu.
***
Di rumah mereka menjalani hari-hari seperti biasanya walau ada yang kurang, Aisyah juga tidak membahas lebih lanjut atau bahkan menyinggung persoalan kemarin. "Kenapa loe?" tanya Amira pada Raka yang kelihatan gelisah.
"Aku deg-degan ni buat besok," jawab Raka jujur. Amira melihat yang lainnya hanya Rai yang memasang wajah datar seperti biasanya sedangkan yang lainnya terlihat cemas dan gelisah, membuat dia teringat saat mereka akan ke sekolah bersama untuk pertama kalinya. Amira tertawa.
"Ih kenapa sih kok malah laugh?" tanya Fina memasang wajah sebal. Di saat mereka sedang gugup Amira malah menertawakan mereka.
"Ya habis muka kalian lucu," jawab Amira dia tertawa lagi. "gue jadi inget waktu kalian mau masuk sekolah SMA untuk pertama kalinya, nah kayak gini nih mukanya persis banget," lanjut Amira.
Keesokan harinya lagi-lagi Yelica tidak datang sampai dua hari menyebabkan mereka harus menunda apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. "Haduh dia gak dateng lagi percuma dong aku deg-degan kemarin sampai diketawai Kak Amira," curhat Raka saat mereka berjalan menuju kelas Amira untuk menjemputnya.
"Iya, ya gak disangka ternyata badan dia selemah itu," kata Revan prihatin.
Mereka kemudian pulang dengan sepeda mereka ssperti biasanya. Setelah makan malam mereka mengerjakan pekerjaan rumah mereka, Amira yang biasanya rajin tidak mengerjakan pekerjaannya dan tidak menyentuh bukunya dia berjalan ke sana-ke mari seperti setrikaan rusak saja. "Ih, you kenapa si, Kak. Bolak-balik, bolak-balik kayak setrikaan keder tau gak," omel Fina tidak tahan melihat tingkah Amira, dia jadi tidak bisa mengerjakan tugasnya.
"Gue lagi pusing ni," jawab Amira.
"Ya minum obatlah."
"Ih, bukan pusing itu. Buku catatan gue ketinggalan di sekolah di laci gue gimana dong?" tanya Amira mengulurkan keresahannya sedari tadi. Fina menelan slavinanya, membayangkan kejadian di sekolah saja membuatnya ngeri apalagi kalau harus sampi menemani Amira ke sekolah untuk mengambil buku catatan miliknya, Fina yakin pasti akan ada peristiwa aneh yang menimpanya lagi. Fina menggeleng-gelenggkan kepalanya tidak mau hal itu terjadi.
"Tenang aja gue gak akan suruh loe nemenin gue kok buat ngambil buku catatan gue di sekolah," kata Amira seperti tau apa yang dipikirkan Fina.
"Eh, kenapa gak borrow Kak Rai aja kan kalian sekelas," usul Fina.
"Oh, iya ya kok gue lupa." Amira segera menuju ke kamar sebelah dan meminjam catatan Rai.
Keesokan paginya mereka berangkat lebih pagi dari biasanya karena Amira harus piket dan yang lebih penting dia mau mengambil buku catatannya dan mencocokkannya, memang buku catatan Rai sudah sesuai tapi seperti ada yang kurang bagi Amira kalau tidak melihat catatan yang dia tulis sendiri.
Diperjalanan menuju ke sekolah Amira baru mengingat sesuatu dan dia harus memberitahukan ini pada Yelica siapa tau informasi ini akan berguna untuk mereka nantinya, dan sekarang Amira hanya bisa berharap bahwa Yelica akan datang hari ini. Sesampai di kelas Amira langsung mengerjakan tugas piketnya, sedangkan Rai duduk diam di pojok kelas sambil membaca buku seperti biasanya. Setelah selesai Amira segera mencari buku catatannya yang ada di laci, "Eh bentar kok ada yang aneh, kok kayak ada bola," gumam Amira saat merogoh ke dalam lacinya. Dia mengeluarkan benda yang terasa bulat tapi lembek itu bersamaan dengan buku catatannya ke atas meja. "aaa!!!" Amira menjerit dan melemparkan benda yang tidak lain adalah bola mata manusia itu, anehnya bola mata itu bisa bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. Rai langsung terlonjak kaget dengan teriakan Amira yang begitu kencang, "Kenapa?" tanya Rai.
"Itu tadi ada bola mata manusi a bergerak." Amira menunjuk di balik meja guru, tadi dia melemparnya ke arah sana. Rai dengan berani melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Amira. "Gak ada apa-apa kok," sahut Rai. Amira yang tidak percaya perlahan mendekat dan benar saja tidak ada apapun di sana. "lha kok gak ada sih, tadi aku lempar ke sini kok," heran Amira. Rai tidak menyahuti dan kembali ke tempatnya semula.
"Pagi-pagi saja sudah ada hal aneh juga menyeramkan di sekolah," omel Amira dalam hati. "akhirnya selesai juga, pas banget sama catatan Rai. Kalau gitu lain kali kalau ketinggalan catatannya mah biar aja pinjem punya Rai." Amira merapikan bukunya yang sudah dia periksa dengan catatannya sendiri lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Karena Amira sudah selesai piket dia memutuskan duduk di bangku yang ada di depan kelas menunggu Yelica.
Sepuluh menit menjelang bel masuk berbunyi Yelica datang, Amira langsung menarik tangan Yelica agar Yelica duduk. "Gue ada info yang mungkin berguna sih," kata Amira sambil berbisik.
"Nanti aja pas pulang sekolah sekalian kita cari buku itu," ujar Yelica sambil masuk ke dalam kelas.
***
"Jadi ada info apa?" tanya Yelica, seperti biasa mereka berkumpul di taman belakang sekolah.
"Gue dikasih tau sama temen gue, eh ralat temen sekelas kita si Ratna sepuluh misteri itu," jawab Amira.
"Kalau itu aku juga udah dapet dari penunggu di sini," kata Yelica membuat Amira mengerucutkan bibirnya dia pikir informasi ini akan berguna.
"Yaudah ayo kita mulai pencarian bukunya, kalau ada guru yang tanya bilang aja ada barang yang ketinggalan dan mau diambil," jelas Yelica. Mereka kemudian membagi diri mereka menjadi empat tim, Rai dengan Revan, Rangga dengan Raka, dan yang terakhir Fina, Amira, juga Yelica.
"Eh, tunggu bukunya kayak apa aja kita gak tau gimana dong?" tanya Raka sebelum akhirnya berpencar.
"Buku itu berwarna cokelat, bersampul kilat seperti dari kulit hewan, dan buku itu tidak bisa dibuka kalau bukan dengan cara yang khusus, tidak bisa dibakar atau dihancurkan," jelas Yelica. Mereke mengangguk walau tidak sepenuhnya paham.
Rai dan Raka menuju ke perpustakaan. "Karena buku biasanya ada di perpustakaan dan itu hal yang paling logis," jawab Rai saat ditanya Revan kenapa mereka harus ke perpustakaan.
Raka dan Rangga mencari di kelas mereka dan kelas sepuluh lainnya, sedangkan Amira, Fina, dan Yelica mencari di ruang kelas sebelas. Sampai menjelang sore mereka tidak menemukan buku yang dimaksud dan kembali berkumpul di taman belakang sekolah. "Besok kita cari lagi, tapi malam. Kalau gak ketemu dari siang sampai sore kemungkinan buku itu ada pada malak hari, kalian izin sama Bunda kalian dan bawa perlengkapan kalian entah itu makanan atau yang lainnya." Yelica kemudian pergi dari sana dan langsung pulang tanpa menunggu jawaban siapa pun.
"Ih, kok harus night si kan takut," protes Fina.
"Masuk akal buku misteri itu cuma bisa ditemukan malam, namanya juga buku misterius," sahut Amira.
"Yaudah, yuk pulang." Raka mulai merinding.
"Hihi, menarik," kata Vina yang sedari tadi memantau pergerakan mereka.
***
Besoknya mereka mencari buku itu di malam hari tapi juga tidak ketemu, akhirnya Yelica mencari informasi lagi tentang waktu mencari buku itu. Saat ditanyai banyak penunggu sekolah yang tidak tau perihal hal itu, membuat Yelica hampir menyerah tapi kemudian saat melewati gudang dia bertemu dengan arwah Vina.
"Hai," sapa Vina dengan tawa khasnya.
"Kamu, yang pura-pura jadi Yerina dan anggota keluarga mereka," jawab Yelica dengan malas. "kenapa?"
"Aku mau kasih info yang kamu butuhin, hihi," jawab Vina. Yelica mulai tertarik. "tapi ada imbalannya," tambah Vina lagi.
"Apa?" tanya Yelica sebenarnya malas meladeni.
Vina terlihat berpikir sejenak. "Serahkan saja nyawamu dan jadi temanku di sini, hihi. Bagaimana?"
"Entengnya arwah tidak tau diri berkata begitu!" marah Yelica. "aku kehilangan Kakakku juga karena kalian! Cepat beritahukan aku atau aku musnahkan arwahmu sekarang juga!" ancam Yelica sudah tidak bisa sabar.
"Baiklah," jawab Vina malas kalau sudah begini. "tapi kita saling tukar informasi, siapa Kakak yang kamu sebutkan itu dan kenapa dia meninggal. Ceritakan semuanya padaku baru aku beritahukan, bagaiman?" tawar Vina.
"Baiklah." Tanpa pikir panjang Yelica menerimanya, lagipupa tidak ada ruginya. Vina juga tidak akan memberitahukan hal itu pada siapa pun teman-teman hantunya juga tidak akan peduli.
Selanjutnya: Malam bulan purnama