Bab 35: Misi pertama

1335 Kata
Setelah tau kebenarannya tidak akan dibiarkan begitu saja tapi cari solusinya dan hadapi masalahnya, karena kita bersama. *** Perlahan-lahan Yelica membuka matanya, dia melihat ke arah sekitar sepertinya dia sedang ada di UKS sekolah. "Syukurlah, loe dah sadar." Amira memegang dadanya yang sedari tadu berdetak kencang dia takut Yelica tidak akan bangun lagi, Yelica mencoba duduk dia mengambil tisu yang ada di nakas sebelah kirinya kemudian menyeka hidungnya sepertinya mimisannya sudah berhenti. "Berapa lama aku pingsan?" tanya Yelica. "Satu jam," kata Amira. "Kalau gitu aku mau pulang dulu." Yelica turun perlahan dari tempat tidur UKS. Amira berdiri dan membantu Yelica. "Loe yakin mau pulang atau mau kita anter aja?" tanya Amira menawari, Yelica menggeleng. "Tunggu, kapan kita akan cari Yerina?" tanya Rai pada Yelica. "Rai, itu dibahas besok aja. Loe gak liat apa Yelica masih sakit gini," marah Amira, Rai pun terdiam. "Bukan itu yang genting sekarang," kata Raka. "Yang genting itu gimana cara kita jelasin sama Bunda kalau Yerina gak ada dan ada Yerina yang palsu dan asli, kalian kan juga tau kalau Bunda gak terlalu percaya yang gituan," kata Raka merasa frustrasi. Benar mereka tidak memikirkan itu. "Kalau aku yang ngomong apa Bunda kalian akan percaya? Aku juga yang salah gak mikir sampai ke sana," sahut Yelica. "Kenapa tidak kita coba, daripada berbohong lagi." Kali ini Revan buka suara. "Terimakasih ya, Bu Mila udah ngizinin kita pakai UKS nya sampai Ibu harus pulang telat," kata Amira merasa tidak enak. "Gapapa kok, Yelica sudah baikan?" tanya Bu Mila. "Alhamdulillah sudah Bu Mila," jawab Yelica sambil tersenyum. "Kami pamit pulang ya, Bu," ujar Raka berpamitan. "Iya, hati-hati ya." Bu Mila kemudian mengunci pintu ruangan UKS. Mereka kemudian pulang bersama, Yelica menaiki sepeda beraama Amira. *** "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda kita pulang!" teriak Amira. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, eh anak-anak Bunda udah pulang." Satu per satu dari mereka menyalami Asiyah. "Ini siapa? Teman kalian ya?" tanya Aisyah saat giliran Yelica yang bersalaman. "Iya, Bunda itu temen sekelas Amira," jawab Amira. "Oh, gitu kalau gitu ayo masuk Bunda buatin teh sama camilan dulu ya," ujar Aisyah mempersilakan. "Terimakasih, Tante. Maaf mengganggu, dan gak usah Tante nanti meperotkan." Yelica masuk ke dalam setelah mencopot sepatunya. "Gak repot kok, jangan sungkan anggap aja rumah sendiri." Aisyah kemudian ke dapur untuk membuatkan teh dan camilan. "Kayaknya Bunda belum aware kalau Yerina gak ada karena happy ada tamu," bisik Fina yang hanya bisa didengar oleh delapan s*****n dan juga Yelica. "Sst! Udah biarin aja malah bagu dong," sahut Amira ikut berbisik. "kamu tunggu di sini bentar ya kita mau letakkan tas dulu di kamar sekalian ganti baju," kata Amira kepada Yelica, setelah menerima anggukan dari Yelica mereka menuju ke kamar. Yelica melihat-lihat sekitar, dia melihat foto Yusuf dan Aisyah yang berdua saja dan disebelahnya terpajang foto delapan s*****n bersama dengan Yusuf dan Aisyah mereka tampak sangat bahagia. "Enaknya punya keluarga sehangat ini," gumamnya pada dirinya sendiri dengan sedih. "Maaf, lama ya?" tanya Amira tidak enak membuat Yelica menunggu. "Gak kok santai aja," jawab Yelica. "Kue buatan Bunda udah siap, nih. Silakan Yelica dimakan," kata Aisyah mempersilakan. "Terimakasih, Tante," jawab Yelica. "Kalau gitu Bunda balik lagi ya ke dapur soalnya masih ada kue yang tadi Bunda panggang dan belum diangkat." Aisyah kembali ke dapur. "Kita di luar aja ya ngomongnya," kata Amira, Yelica mengangguk setuju. Mereka kemudian pindah di halaman rumah, Fina membawa kue yang ada di piring sedangkan Raka membawa teh mereka. "Jadi gimana caranya mengembalikkan Yerina?" tanya Rai tidak sabar. "Aku ke sini bukan untuk membahas itu, aku di sini mau menjelaskan tentang situasi yang tadi kepada Bunda kalian," jawab Yelica. "Memang ada apa dengan Yerina? Oh iya Bunda baru sadar Yerina gak ada dia ke mana?" tanya Aisyah akhirnya sadar. "Bunda duduk dulu, ya." Amira berdiri dan mempersilakan Aisyah untuk duduk. Aisyah kemudian duduk berhadapan dengan Yelica. Yelica kemudian menjelaskan apa yang terjadi dengan sejujur-jujurnya tanpa dikurangi mau pun ditambahkan sedikit tapi Yelica tidak menceritakan bahwa yang Menjadi Yerina adalah arwah Vina, memang sulit dipercaya semua yang dijelaskan Yelica tapi Aisyah tau hal gaib itu ada karena Tuhan yang menciptakan alam semesta ini membuat dua alam yang berbeda yaitu alam manusia dan alam gaib itu sendiri. "Jadi kita harus gimana?" tanya Aisyah tidak bisa membendung air matanya, dia sudah kehilangan Vina dengan cara yang begitu menyakitkan dan dia tidak ingin kehilangan lagi. "Tante tenang aja saya akan bantu mereka untuk membebaskan Yerina. Tapi, perlu Tante tau hal ini juga sangat berbahaya bagi mereka semua." Yeilca tidak mau menutupi apapun dari Aisyah. "tapi, kalau saya sendiri juga gak bisa, jadi Tante harus putuskan bagaimana baiknya," tambah Yelica lagi. "Kita akan lakuin, Bunda. Apapun resikonya Amira gak bisa lagi kehilangan Bunda," kata Amira dengan tegas. "Fina juga, Bunda. Yerina udah Fina anggap keluarga sendiri," tambah Fina. "Kita ini keluarga, Bunda dan pasti kita bisa kalau lakuin ini bersama, Bunda." Raka ikut menyahuti. "Terimakasih ya anak-anak, Bunda." Mereka berpelukan. Yelica memalingkan pandangannya dan menyeka air mata yang keluar tadi. "Kalau begitu saya permisi pulang ya, Tante semuanya," ujar Yelica berpamitan. "Eh, nanti aja tunggu suami Bunda pulang, biar Bunda sama suami Bunda yang anteri kamu," ujar Aisyah. "Iya, udah malem juga nih. Kan kita juga yang udah ngerepotin loe," setuju Amira. "Gak usah nanti merepotkan aku bisa kok telepon supir aku, saya pulang ya. Tante semuanya." Yelica menyalami Aisyah kemudian berjalan menuju luar pagar dan menuju ke depan g**g yang tidak jauh dari rumah Aisyah. "Anak yang baik," gumam Asiyah. *** Keesokan harinya Amira mencari-cari Yelica tapi tidak kunjung ketemu juga, saat ditanya kepada teman-teman sekelas yang lain tidak ada yang tau Yelica di mana bahkan sampai tidak tau siapa itu Yelica. "Sela gue mau tanya." Amira menghentikan langkah Sela yang hendak keluar kelas bersama Ratna. "Tanya apa?" tanya Sela, sepertinya suasana hati Sela sudah membaik. "Yelica ke mana ya kok gak ada di kelas? Gue cariin satu sekolah pun gak ada." "Oh, dia gak sekolah hari ini izin sakit," jawab Sela. "Emang ada perlu apaan loe sama Yelica?" tanya Ratna kepo. "Ya cuma mau nanya keadaan dia aja soalnya kemarin dia mimisan," jelas Amira menutupi maksud dirinya yang sebenarnya. "Oh, gitu yaudah kalau gitu kita mau ke kanti loe gak ikut kan kayak biasa," tebak Ratna. "Hehe, iya tapi bisa gak kali ini kalian bawa jajanan kantin yang kalian beli di kelas terus makak bareng gue soalnya semuanya lagi pada sama temennya. Kata mereka nih ya mereka juga perlu bergaul jadi kita gak makan bareng deh," pinta Amira. "Boleh aja, yaudah loe tunggu aja di sini," jawab Ratna. "Makasih Ratna, Sela," ujar Amira senang karena dia tidak suka makan sendirian. "Sip." Ratna dan Sela kemudian menuju ke kantin lima belas menit kemudian mereka baru kembali dan makan bersama Amira. Sudah empat hari Yelica tidak masuk sekolah. "Kalau hari ini dia gak masuk sekolah lagi kita jenguk aja ke rumahnya gimana?" tanya Amira mengusulkan. Semuanya setuju, mereka memang sudah tidak sabar memulai menyusun rencana untuk mencari Yerina. Tapi sepertinya mereka tidak perlu pergi ke rumah Yelica karena Yelica sudah ada di kelas, Amira segera menghampiri Yelica. "Loe dah baikan?" tanya Amira, Yelica hanya mengangguk. "Tapi muka loe masih pucet, yakin baik-baik aja?" tanya Amira lagi agak cemas, dan Yelica hanya mengangguk. "Nanti kumpulkan semuanya kita mulai bahas rencananya ya, dan ada beberapa hal yang mau aku kasih tau sama kalian," kata Yelica dan bel masuk pun berbunyi. "Jadi aku udah cari tau beberapa info dari arwah yang ada di sini, dan untuk bisa mengeluarkan dan menemukan Yerina kita harus memecahkan tujuh misteri yang ada di sekolah ini dari sepuluh misteri yang beredar." Yelica mulai menjelaskan setelah semuanya berkumpul. "terus yang kedua ada sebuah buku yang bisa menuntun kita memecahkan misteri itu, buku itu berisi petunjuk tentang misteri sekolah ini yang dulunya dibuat seorang wanita yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya. Tapi, sekali lagi aku ingeti misi ini akan sangat berbahaya bahkan bisa merenggut nyawa," lanjut Yelica. "Kita udah siap apapun resikonya," jawab Amira mantap yang lain juga mengangguk dengan yakin. "Baik kalau begitu, misi pertama kita adalah menemukan buku itu." Selanjutnya: Buku petunjuk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN