Tidak ingin lagi kehilangan, karena luka yang lalu belum juga sembuh. Membuat luka yang dalam itu muda, mengobatinya memakan waktu yang lama.
***
Sesampainya di rumah mereka mengucapkan salam dan segera masuk ke kamar untuk bersih-bersih. "Bunda, kita semua izin tidur sampai siang ya soalnya capek banget," kata Amira.
"Yaudah, buat kali ini aja tapi lain kali gak boleh, ya," jawab Asiyah.
"Siap, Bunda." Mereka kemudian tidur dengan nyenyak, rumah yang biasa ramai menjadi sangat tenang hari itu.
"Eh, sejak kita nemui Yerina waktu itu kok Yerina jadi aneh ya," ujar Raka membuka topik pembicaraan. Mereka melihat ke arah kamar dan tidak ada tanda-tanda Yerina akan keluar dari dalam kamar.
"Iya dia jadi suka sleep tiap hari bahkan tiap hours," tambah Fina.
"Memang si dia jadi aneh banget, dia juga jadi nutup diri sama semua orang dan lebih suka di kamar." Kali ini Amira yang bersuara. Semua tampak berpikir kenapa Yerina bisa berubah. "tapi, ada yang lebih aneh dari itu semua. Yerina jadi suka ketawa mirip si Vina," tambah Amira lagi begitu teringat.
"Ih, gak baik gibahin keluarga sendiri," tegur Rangga ketika semuanya diam.
"Ehe, iya ya. Yaudah kita susun books aja yuk buat sekolah besok," saran Fina mereka semua setuju dan bergegas.
"Eh, jangan lupa siapin seragam, kaus kaki, tali pinggang, dasi, topi. Jangan gue omelin tiap pagi kalian ya." Amira mengingatkan mereka.
"Siap, Bos," sahut mereka serentak.
"Lho, Yerina kamu gak pakai hijab?" tanya Amira merasa aneh saat Yerina sudah selesai memakai seragamnya tanpa hijab yang dia pakai kemarin. Yerina hanya menggeleng, padahal sebelumnya Yerina ingin sekali berhijab tapi Amira memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.
"Lho, Yerina Sayang kaku gak pakai hijab?" pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Aisyah dan lagi-lagi Yerina hanya menggeleng. "kenapa Sayang kan kamu sendiri yang kemarin mau berhijab, apa ada yang ngeledekin kamu di sekolah karena kamu berhijab?" tanya Aisyah cemas. Lagi-lagi Yerina menggeleng, "Adaptasi," jawabnya.
"Iya, si Bun kan Yerina mungkin masih adaptadi, Bun," kata Amira mewakili Yerina.
"Yaudah gapapa Sayang pelan-pelan aja. Aisyah hendak mengelus rambut Yerina tapi dia menghindar membuat semua orang semakin merasa heran.
"Kita pergi dulu ya Bunda, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit semuanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati."
Revan melambaikan tangan sebagai bentukan dia pamit tanpa berbicara lagi, Aisyah membalas lambaian itu. Sesudah itu Asiyah masuk kemudian merenungkan tentang sikap Yerina yang aneh akhir-akhir ini. Setelah sampai di sekolah delapan s*****n langsung menuju kelas mereka masing-masing, "Nanti istirahat pertama kita kumpul di taman terus makan bareng, ya," kata Amira.
"Hari ini gapapa deh kalau besok-besok gak masa kita gak bergaul sama temen sekelas kita," sahut Raka. Benar juga yang dikatakan Raka, Amira baru memikirkannya.
"Yaudah kalau gitu hari ini aja, tapi kalau kalian mau bareng temen kalian seengkanya kalian harus jajan di kantin apalagi gak boleh bawa bekal dari luar kantin ke kantin," kata Amira memberitahukan.
"Aku si gak keberatan gini tiap hari," sahut Revan.
"Udah, ntar aja dibahas lagi aku harus piket ni. Duluan ya." Amira segera berlari ke kelasnya disusul oleh Rai, mereka juga akhirnya ke kelas masing-masing. Mereka mencari nama mereka di depan pintu karena di sana sudah ditempelkan pembagian kelas menurut jurusan yang dipilih masing-masing.
***
"Gimana pelajaran pertama lancar?" tanya Amira saat mereka semua telah berkumpul.
"Lancar dong," jawab Raka.
"Aku tadi answer pertanyaan dari Bu Indah," kata Fina sambil tersenyum.
"Tapi, ngomong loe gak dicampur-campur kan? Bu Indah itu kan guru Bahasa Indonesia." Amira membuka kotak bekalnya.
"Gaklah, kan kalau sama kalian aja aku mix," jawabnya agak sewot.
"Dih, sewot," ujar Amira. "sebelum makan baca doa dulu." Amira mengingatkan kemudian mereka makan dengan nikmat.
***
"Matikan," kata Yerina saat Amira hendak menutup matanya.
"Hah, matikan apaan?" tanya Amira tidak mengerti. "ngapa loe ngomong sekata doang deh, pelit amat," cibir Amira.
"Lampunya," tambah Amira.
"Oh, matiin lampu," kata Amira, dia pun mematikan saklar lampu yang berada dekat dengannya. "eh bentar bukannya loe takut gelap?" tanya Amira heran membuat gerakan tangannya terhenti. Yerina hanya menggeleng, dan Amira hanya menuruti saja tanpa bertanya lebih jauh. Ini jadi semakin aneh, tapi Amira tidak mau berpikir macam-macam begitu juga Fina yang melihat hal itu. Memang semua akan berubah nantinya walau tidak akan secepat satu hari.
"Kamu Amira?" tanya Yelica menghampiri kursi Amira sebelum bel masuk berbunyi, Amira mengangguk. "Yelica kan?" Yelica mengangguk menjawab pertanyaan dari Amira.
"Ada apa ya nyari gue?" tanya Amira penasaran. "oh sebelum loe jawab makasih waktu itu dah nyelamatin gue," tambah Amira lagi.
"Iya, sama-sama. Aku cari kamu karena mau kasih tau sesuatu sama kamu, tadi sebelum ke kelas aku tabrakan sama anak yang name takenya bernama Yerina Aliska. Terus aku teringat kalian bersama saat pergi dan pulang sekolah," jelas Yelica terlebih dahulu.
"Iya terus kenapa?" tanya Amira tidak sabar.
"Kalau aku beritahukan apa kamu akan percaya?" Yelica sedikit ragu.
"Katakan saja, urusan itu akan gue pikirkan nanti," jawab Amira.
Yelica mengangguk "Orang yang bersama kalian itu bukan yang biasanya."
"Hah, maksudnya gimana gue gapaham?" Dan bel masuk memotong pembicaraan mereka. Yelica segera kembali ke mejanya.
Setelah jam istirahat berbunyi tanpa menunggu lama Amira langsung menarik tangan Yelica taman ke belakang sekolah yang jarang dikunjungi anak-anak lainnya, hanya beberapa murid yang berpacaran yang mengunjungi taman itu.
"Jelasin yang tadi!" titah Amira tidak sabar.
"Dia bukanlah yang asli, itu hanya manipulasi saja. Yang asli tidak berada di sini, dia ada di dunia lain," jelas Yelica.
"Ah, kata-kata loe sulit dimengerti. Gue gak suka main teka-teki."
"Intinya Yerina yang selama ini bersama kalian itu bukanlah Yerina dia adalah orang lain," jawab Yelica akhirnya bisa dipahami oleh Amira.
"Seriusan?! Tapi iya si tingkah Yerina agak aneh mirip sama keluarga kita yang dulunya udah meninggal namanya Vina," kata Amira.
"Kamu mau aku buktikan pada semua yang bisa menyaksikannya?" tanya Yelica.
"Boleh, gue akan panggil semua delapan s*****n yang ada buat saksiin itu," kata Amira setuju.
Seperti yang sudah mereka sepakati mereka berkumpul di taman belakang sepulang sekolah, "Mau ngapain si kita di sini?" tanya Raka.
"Iya kita kan harusnya mau _home_ bukan malah di sini," omel Fina. Tidak lama Yelica datang dia membawa sebotol air minum dan tasnya. Yelica meletakkan tasnya di bangku yang ada di taman itu, kemudian mendekati Yerina. Semua mundur beberapa langkah Yerina juga mau mundur, dia menatap Yelica dengan tajam.
"Tatapan Vina," gumam Amira tanpa sadar.
Yelica menciptakan air yang dia tuang beberapa detik berikutnya leher Yerina terasa dicekik. "Panas, panas!" teriaknya sambil menjambak rambutnya.
"Jangan mendekat!" teriak Yelica saat Fina, Raka, dan Rai mencoba mendekat ke arah Yerina. Mereka tidak jadi maju dan mundur kembali.
"Kurang ajar! Siapa kamu sebenarnya?!" suara Yerina berubah menjadu suara Vina, dia terlihat sangat marah dan matanya juga memerah.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku kembalikan yang asli pada keluarganya!" perintah Yelica.
"Aku juga bagian dari keluarga mereka!"
"Kamu mempermainkan mereka, kamu sudah meninggal harusnya kamu berada di alammu kenapa harus mengganggu mereka dengan berada di antara mereka dan berpura-pura menjadi orang hidup!?"
"Harusnya kamu tidak ikut campur!" Kulit Yerina kemudian seperti terbakar dan Yerina berubah menjadi sosok Vina kemudian lenyap begitu saja.
Delapan s*****n tidak percaya dengan apa yang mereka lihat ini seperti sulap saja. "Jadi di mana Yerina yang asli?" tanya Amira.
"Di suatu tempat yang pernah kalian kunjungi tanpa ada kesempatan kedua untuk kalian memastikannya," jawab Yelica. Kemudi berbalik bersiap untuk pergi, tapi di tahan oleh Rai.
"Bantu kami cari Yerina!" perintah Rai. Bersamaan dengan itu Yelica mimisan kemudian jatuh pingsan.
Selanjutnya: Misi pertama