Bab 33: Keanehan

1295 Kata
Aneh, satu kata yang menggambarkan dirinya saat ini. *** Yerina sudah berteriak minta tolong sampai ternggrokoannya kering, tapi percuma saja tidak ada yang mendengarnya. Yerina akhirnya terduduk di lantai, dia melihat bulan yang bersinar terang. Sejam kemudian dia masih dalam posisi yang sama, kemudian kedua sosok yang tadi diceritakan Vina muncul. Mereka mendekat ke arah Yerina, dan menyisahkan jarak satu meter. Tidak lama kemudian ruangan gudang itu berubah perlahan-lahan semua barangnya hilang, hanya menyisahkan dinding dan lantai. Detik berikutnya dinding dan lantai itu berubah menjadi hitam, kemudian semua lingkungannya berubah. Yerina merasa antara asing dan tidak asing pada tempat ini. Yerina mencoba mengingat dan akhirnya dia mengingatnya, ini adalah gua yang pernah dia datangi saat liburan semester dulu. "Selamat datang," kata sebuah suara bariton seorang pria yang Yerina pernah dengar sebelumnya. "Waktunya telah tiba, aku sarankan kamu menikmati waktumu dalam kesendirian tanpa mencoba kabur atau pun berontak karena jika tidak teman-temanmu yang akan diincar satu per satu," ancam suara itu. Yerina sangat ketakutan sampai seluruh badannya gemetar, dia terduduk di tanah dengan perasaan bingung. *** Menjelang subuh banyak orang keluar dari ruangannya masing-masing, Amira yang sudah berada di musholah bersama delapan s*****n lainnya juga Ratna, dan Revan yang menemani merasa heran. "Ada apaan tuh kok pada lari keluar ruangan gitu?" tanya Raka mewakili pertanyaan semua orang yang ada di sana. Suasana yang semula sepi dan semua terlelap mendadak ramai. Ratna langsung pergi ke salah satu kerumunan yang ada di depan kelas itu, "Kenapa?" tanyanya. "Itu, Kak ada temen satu ruangan kami mengerang gitu kayak bintang buas malah teman sebelahnya di cakar Kak. Serem pokoknya deh Kak," jelas adik kelas yang ditanyai Ratna itu. Ratna kemudian mengumpulkan para panitia dan menuruh mereka untuk mengevaluasi semua orang yang keluar dari ruangan. "Oh, iya aku forget Yerina kan masih di dalem masih sleep gimana kalau nanti dia dicakar juga?" tanya Fina panik setelah tau situasinya dari beberapa orang yang dia tanyai. "Loe mah kebiasaan ceroboh, ayo kita jemput Yerina," kata Amira mereka kemudian bergegas mencari Yerina yang ada di ruangannya setelah memastikan Yerina tidak ada di antara gerombolan orang yang keluar kelas itu. "Eh, kalian mau ke mana?" tanya Ratna yang ada di depan salah satu ruang kelas. "Mau jemput Yerina, dia masih di dalem. Nih ditinggal sama Fina," kata Amira menjelaskan. "Yaudah ayo gue temeni juga," kata Ratna ikut menemani. Mereka kemudian masuk ke dalam kelas yang ditempati Yerina dan teman sekelompoknya untuk malam pembukaan, ternyata benar Yerina masih tidur di sana dia sama sekali tidak terganggu dengan suara bising di sektiranya. Mereka melihat sekitar dan ada beberapa orang yang saling menyerang dan mengeram seperti hewan buas, "Ratna!" teriak Amira mendorong Ratna ke untuk menghindari orang yang mau mencekik leher Ratna, alhasil karena hal itu Amira yang kena cekikan orang itu. Orang itu mengeram dengan mata merah dan mencekik Amira lebih kencang. "Amira!" teriak Ratna panik mencoba melepaskan tangan orang itu, Fina juga ikut membantu tapi tenaganya terlalu kuat padahal badannya terbilang kecil dari mereka berdua. Tidak lama seorang datang dari luar kelas sambil berlari, dia menciptakan air yang dia bawa di gelas tidak lama cekikan di leher Amira terlepas dan orang itu pingsan membuat Amira bisa kembali bernapas. Dia juga melakukannya ke semua orang yang kesurupan mereka kemudian pingsan dan suasana kembali tenang. "Yerina, bangun!" Amira menepuk-nepuk pipi Yerina, perlahan mata Yerina terbuka tanpa berkata apapun lagi mereka menarik tangan Yerina dan berkumpul bersama yang lainnya. "Terimakasih, sudah menyelamatkanku," kata Amira pada anak perempuan berkaca mata yang tadi menolongnya. Anak itu hanya mengangguk kemudian hendak berlalu pergi, "tunggu, jangan ke sana bahaya." Amira menarik tangan anak itu. "Tidak, mereka sudah kembali arwah yang merasuki mereka sudah pergi," jawab anak perempuan itu. "Siapa namamu?" tanya Amira. "Yelica," jawabnya kemudian melepaskan tangan Amira dan pergi. Di sisi lain Ratna dan panitia lainnya mengumpulkan anak-anak yang tadi kerasukan di aula, mereka menunggu mereka siuman agar bisa memantau mereka bersamaan. Beberapa menit kemudian satu per satu dari mereka siuman dan bertanya kenapa mereka tidur di aula, satu per satu dari mereka ditanyai dan tidak ada yang ingat mengenai kejadian tadi akhirnya mereka masih harus di sana sampai setengah jam kemudian agar Ratna dan panitia lainnya benar-benar yakin bahwa mereka tidak lagi kesurupan. "Gimana udah selesai?" tanya Amira pada Ratna, Ratna mengangguk lesu. "alhamdulillah," tambah Amira lagi berasa bersyukur. "Oh, iya nama anak yang tadi bisa buat orang kesurupan pingsan itu siapa ya?" tanya Ratna baru mengingatnya. "Namanya Yelica tadi udah gue tanya," jawab Amira. "Yelica, Yelica." Ratna terus berguman sambil terus mengingat nama itu, dia seperti familiar dengan nama itu tapi tidak bisa mengingatnya. "Sela!" panggil Ratna saat melihat Sela yang ada di seberang mereka, "sini." Dengan malas Sela menuju ke arah Ratna dan delapan s*****n lainnya. "Kenapa?" tanyanya dengan nada judes. "Dih galak amat, ini gue mau tanya loe kenal sama yang namanya Yelica gak?" tanya Ratna. "Oh, itu dia temen sekelas kita masa gak tau," jawab Sela masih dengan nada judes dan muka tidak suka. "Gue kok baru liat dia?" tanya Ratna lagi tambah kepo. "Iyalah kan dia sering izin karena sakit mulu makannya jarang dateng ke sekolah dan hanya beberapa orang yang tau dia," jelas Sela lagi. "Terus kalau dia suka sakit-sakitan kenapa dia ke sini?" Amira ikut bertanya. "Lha, mana gue tau gue kan bukan emaknya!" teriak Sela. "Dih, ngegas!" Amira ikutan berteriak. Sela kemudian langsung pergi. "Ehe, maaf sudah merusak suasana soalnya gue kepo. Kan dia sekretaris kelas jadi pasti tau nama anak-anak kelas kita," jelas Ratna tidak enak. "Tapi kenapa loe bisa berpikir dia anak kelas kita?" tanya Amira. "Ya karena gue kayak pernah tau tuh nama cuma lupa yaudah gue asumsiin aja dia sekelas kita karena lebih simple," jawab Ratna disahuti anggukan Amira. Amira melihat ke arah jam tangannya, "Astagfirullah dah jam lima lewat sholat subuh yuk, Rai jadi imam," ujar Amira panik. "Mau sholat di mana?" tanya Raka. "Di ruang osis aja biar gue yang bilangin sama yang lain," usul Ratna. "Makasih, ya Ratna," kata Amira. "Santai." "Yaudah kalau gitu kalian ambil sarung kalian, kita mau ambil mukenah setelah wudhu kita ketemu di ruang osis," jelas Amira memberikan arahan. "Lha ini si Yerina gimana, masih sleep dia malah kelihatan nyenyak banget lagi," kata Fina sambil menunjuk Yerina dengan dagunya. "Biarin ajalah dia tidur kasian tau mungkin kecapean," kata Raka. "Ih ya gak boleh gitu lha kan kita juga tired." Fina bersungut-sungut tidak terima. "Kalau Bunda tau juga dimarahin," tambah Rangga. "Kali ini aja deh, kasian dia," jawab Amira akhirnya jadi menengah mereka pun pergi dari sana untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Setelah matahari terbit panitia acara memutuskan untuk memulangkan seluruh murid dan tidak jadi melanjutkan acara mereka yang harusnya pagi ini mereka senam bersama, sarapan bersama kemudian acara penutup. Semua orang panik, gelisah dan juga lelah jadi memluangkan mereka adalah pilihan yang tepat lagipula besok mereka akan memulai pembelajaran pertama mereka di sekolah itu. "Selamat pagi semuanya!" sapa Sela dengan semangat semua hanya melihat sambil terkantuk-kantuk. "Baiklah tanpa berlama-lama lagi, acara hari ini kita tutup dengan ucapan selamat bergabung di keluarga besar SMA Langgar Jaya. Memang banyak peristiwa yang terjadi tapi kami harap ini semua dapat mengeratkan silaturrahmi kita, selamat pulang ke rumah jangan ada barang yang tertinggal dan beristirahat yang cukup karena besok kita akan belajar bersama di sini." Sela turun dari panggung, semua bubar pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan delapan s*****n. "Udah, kalian pulang aja biar ini gue sama yang lain yang beresin," ujar Ratna saat Amira mau mengajukan diri membantu mereka. "Tapi kan gak enak entar dikira kalian pilih kasih lagi," jawab Amira. "Gaklah memang ini dah kesepakatan yang gue lupa bilang, kalian cuma bantui kita buat dekor tapi gak bantui beresin, semua anak yang di luar OSIS yang mau bantu kita juga gitu kok," jelas Ratna. Amira mengangguk kemudian pulang. Selanjutnya: Raib kembali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN