Kalau hilang pasti dicari, kalau hilang baru terasa, maka saat masih ada lebih di sayang dan diperhatikan harusnya.
***
Sementara itu Yerina mengikuti sosok yang megaku sebagai Vina sampai ke lantai dua, sosok itu menuntunnya ke dalam gudang yang berada di pojok lantai dua. Gudang itu jarang ditangi bahkan dimasuki karena letaknya yang berada di paling pojok. Yerina melihat ke sekitar, dia ragu untuk masuk ke dalam tapi kemudian seperti ada sesuatu yang mendorongnya masuk ke gudang dan pintu pun dikunci.
Di gudang itu sangat gelap, hanya ada penerangan dari cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dan jendela. Sosok itu duduk di atas jendela yang disinari cahaya bulan, dengan wajah putih pucat rambut yang menutupi sebagian wajahnya, kantung mata hitam, dan baju putih berlumuran darah. Penampilan wajahnya seperti Vina yang dia kenal dulu.
"Sebenarnya ka ... kamu siapa? Kenapa kamu mengaku-ngaku sebagai Vina?" tanya Yerina sedikit gemetar.
"Aku akan jawab pertanyaanmu, tapi sepertinya akan lama kamu keberatan?" tanya sosok itu. Yerina ragu sejenak, tapi dia memantapkan hatinya dia mempunyai sang pencipta Allah Subbahana Wata'ala yang dia percaya akan selalu menemaninya dan membantunya di kala sulit. Yerina kemudian mengangguk.
"Iya, aku memang Vina. Vina yang asli, Vina yang kalian kenal selama ini, hihi," jawab Vina dengan suara tawanya yang khas.
"Lalu siapa orang yang meninggal itu apakah dia memang tubuhmu?"
Vina mendecak, dia kemudian menekan kuat-kuat boneka kelinci yang dia pegang menyebabkan banyak barang yang jatuh. Yerina menghindari jatuhan barang itu sampai dia terduduk. "Aku marah jika mengingat hal itu," katanya. "dia hanya boneka, jangan samakan aku dengannya!" Vina mengeram seperti binatang buas hendak menerkam mangsanya.
Yerina masih tidak mengerti, "Bisa jelaskan secara lebih rinci?"
"Dia payah, tubuh itu payah sangat lemah tidak seru. Aku diberikan tubuh orang yang baru mati beberapa hari, untuk dimasuki dan dijadikan sebagai tubuhku. Aku kesal kenapa tidak yang masih hidup saja, aaarrrgghhh!!!" Lagi-lagi Vina mengeram membuat bola lampu yang ada di atas pecah dan mengelurkan percikn listrik.
Kini Yerina sedikit mengerti, "Kenapa kamu melakukannya jika tidak suka?"
"Itu semua karena perintah Tuan sok penguasa itu!" Mata Vina menjadi semerah darah membuat tubuh Yerina melayang, kemudian Vina mencoba menahan amarahnya agar Yerina tidak sampai terlempar ke benda runcing yang ada di sana dan mati seketika, pasti tidak akan seru.
"Siapa, Tuan yang kamu maksud itu?" Yerina mencoba berdiri walau sepertinya bahunya agak terkilir karena dihempaskan dari udara menuju ke ubin lantai yang dingin dan keras.
"Nanti juga kamu akan ketemu kalau semua berjalan lancar, hihihi."
"Terus kenapa kamu melakukannya menyelinap diantara kami membuat Bunda sampai benar-benar merasa kehilangan sosokmu yang kami anggap berharga?" Wajah Yerina menjadi sendu mengingat hal itu, dia merasa dibohongi dan dibodohi apalagi kalau Aisyah tau yang sebenarnya.
"Sudah aku bilang bukan aku ingin dikenang setidaknya oleh satu orang di dunia ini. Walaupun kalian tidak tau sosokku yang asli dan yang tau hanya dirimu tapi itu sudah cukup bagiku." Wajah Vina juga berubah jadi sendu membuatnya semakin menyeramkan. "apakah semua pertanyaanmu sudah terjawab semua?" kali ini Vina yang bertanya sambil melihat ke arah Yerina.
Yerina merinding seketika, dia memegang tengkuknya. Dia hanya diam saja, kemudian berpikir sejenak dan teringat peristiwa di auditorium mungkin Vina tau siapa pelakunya, dia kemudian menggeleng. "Apa lagi yang ingin ditanyakan?" kata Vina. Hawa dingin yang menusuk semakin terasa, mata Vina melihat ke arah belakang Yerina. Yerina secara spontan membalikkan badan, ternyata ada beberapa sosok makhluk di sana yang membuat Yerina takut dan mundur beberapa langkah. Jika hanya dengan Vina Yerina tidak terlalu takut dibandingkan dengan hantu lainnya penampilan Vina kelihatan jauh lebih baik, entahlah kenapa saat Vina menjadi manusia Yerina malah takut dan saat melihat arwah Vina sekarang ini dia tidak takut, mungkin karena Vina bertingkah normal tidak banyak tertawa seperti dulu, entahlah.
Yerina tanpa sadar berada di sebelah Vina, jika mungkin Vina bisa di pegang Yerina akan bersembunyi di belakang Vina saat ini. "Jangan ganggu dia, dia tamuku dan tamu Tuan," kata Vina kepada dua sosok makhluk yang baru saja masuk itu dengan suara yang mengintimidasi. Kedua sosok itu kemudian menjaga jarak.
"Me ... mereka siapa?" tanya Yerina dengan gemetar.
"Penghuni di sini juga, yang satu itu penghuni kamar mandi, yang ada di sebelah perpustakaan." Vina menunjuk sosok yang berkuku panjang, baju compang-camping dan penuh tanah, kulit yang penuh luka dan darah, wajahnya juga penuh luka dan ada belatung dari luka-lukanya. Sosok itu adalah sosok yang menganggu di auditorium, dan juga yang mengganggu Amira. Sosok itu bersemayam di dalam kaca kamar mandi.
"Nah, yang sebelahnya itu penghuni auditorium." Vina menunjuk sosok yang sebelahnya lagi, sosok yang hanya mempunyai kepala, dengan mata yang satu keluar dan satu normal, rambut gimbal panjang, wajah penuh bisul dan berbau amis. Vina kemudian menuju ke arah dua sosok itu dan menghilang beberapa saat tidak lebih tepatnya berpindah tempat. Setelahnya Vina kembali lagi ke gudang.
"Sepertinya sudah waktunya, padahal aku masih ingin berbincang denganmu, hihi." Vina kemudian pergi dari gudang itu, meninggalkan Yerina sendirian di sana. Yerina panik dan mencari ponselnya tapi tidak ada.
***
Ratna, Sela, dan delapan s*****n lainnya sudah mencari-cari Yerina ke setiap sudut lantai satu tapi tidak menemukan dia. Akhirnya mereka semua berkumpul kembali di depan lantai 11 IPS-2, jam sudah menunjukkan tiga pagi dini hari. "Yerina gak ketemu," ujar Amira yang masih ngos-ngosan.
"Sama, gue juga udah cek musholah, aula, belakang aula, sama setiap kelas juga gak ada." Ratna juga masih ngos-ngosan. Mereka duduk di ubin lantai sambil menyender tembok.
"Kemana kira-kira ya Yerina?" tanya Raka.
"Apa dia di second floor kali ya," kata Fina menduga-duga.
"Ogah gue ke lantai dua masih trauma sama kejadian di kamar mandi," sahut Ratna.
"Kalau gitu aku aja yang cari ke lantai dua," kata Rai membuat Sela bersungut-sungut tidak suka walau tidak diperlihatkan.
"Aku, ikut." Raka mengajukan diri, Rangga juga mengacungkan tangannya.
"Aku juga ikut," ucap Revan. Akhirnya Rai, Revan, Raka dan Rangga pergi ke lantai dua, sedangkan Amira, Sela, Fina, dan Ratna masih duduk dan mengatur napas mereka.
"Nah, itu Yerina." Tunjuk Raka saat mereka sudah naik di anak tangga terakhir menuju ke lantai dua. Mereka menghampiri Yerina.
"Kamu dari mana aja si, Yer? Semua orang panik nyariin kamu?" tanya Revan. Yerina hanya menunjukkan ponselnya.
"Oh, cari ponsel toh," kata Raka yang mengerti maksudnya Yerina. "yaudah, yuk kita balik ke tempat yang lainnya biar mereka gak cemas." Raka kemudian menuruni tangga diikuti yang lainnya. Rangga berhenti sejenak karena mendengar suara, dia menajamkan pendengarannya tapi tidak ada suara apapun lagi yang terdengar. Rangga kemudian ikut menyusul yang lainnya.
"Nah, tuh dia anaknya!" seru Ratna saat melihat Yerina bersama yang lainnya.
"Dari mana aja si? Kita khawatirkan tau gak!" omel Amira.
"Maaf," lirih Yerina sambil tertunduk.
"Udah, jangan di marahin dong. Yang penting kan Yerina safe," kata Fina sambil memeluk Yerina. "ih, kok your skin dingin amat, kamu kedinginan?" tanya Fina saat menyentuh kulit Yerina yang terasa dingin seperti es. Yerina mengangguk.
"Yaudah, kalau gitu ayo kita balik ke ruangan masing-masing kasih Yerina selimut," kata Ratna yang disahuti anggukan yang lainnya. Rai melepas jaket yang dia pakai kemudian memberikannya pada Yerina.
"Aduh, co cweetnya," ujar Raka menggoda. Sela yang tidak suka melihat itu langsung mengambil jaket Rai dari tubuh Yerina dan membuangnya ke lantai kemudian dia pergi begitu saja.
"Idih, why deh tuh mak centil," cibir Fina. Rai kemudian mengambil jaket itu lagi dan mengenakannya lagi ke tubuh Yerina. Sesampainya di ruangan mereka Yerina langsung diberikan selimut oleh Fina yang memang berpindah ruangan agar bisa bersama Yerina. Yerina terpejam kemudian tertidur, begitu juga dengan Fina yang ada di sampingnya.
Selanjutnya: Keanehan