Bab 31: Menghilang

1217 Kata
Kehilangan adalah bagian pendewasaan yang harus dilalui, berbeda dengan hilang tanpa jejak padahal kita baru bercerita satu menit yang lalu. *** Ternyata dua orang yang menghampiri mereka adalah Ratna dan Sela. "Dih, makan gak ngajak-ngajak," protes Ratna. Mereka bernapas lega karena mereka kira Ratna dan Sela adalah hantu. "Ehe, ya sori kan kita beda ruangan. Lagi pula gue kira kalian udah tidur," jawab Amira. "Dengan kejadian tadi mana mungkin kita bisa tidur," gerutu Sela. "Kita juga lagi nyelidikin siapa sebenarnya dalangnya," bisik Ratna. "Lha, kan udah pada diinterogasi dan bilang gak ada yang ngelakuin hal itu," ujar Amira. "Nah, maka dari itu kan aneh kalau sampai gak ada yang buat prank itu tapi bisa kejadian," cici Ratna. Benar juga bagaimana mungkin semua bisa sangat nyata dan menakutkan tanpa adanya kesalahan atau jejak yang tertinggal sedikit pun. "Oh, iya kita bawa makanan juga ni. Yuk makan bareng." Ratna dan Sela ikut duduk di rerumputan yang telah terkena embun pagi dan berbagi makanan bersama mereka, kebersamaan memang paling pas rasanya di situasi saat ini. Selesai makan mereka berjalan-jalan sejenak di lapangan, menghirup udara yang masih terlalu pagi. Tidak lama perhatian Ratna teralihkan oleh sosok yang ada di ruangan auditorium, sosok wanita yang menggaruk tubuhnya sampai luka-luka dan berdarah, tanpa pikir panjang Ratna mengikuti sosok itu. Sosok itu mengarah ke lantai kedua dan Ratna terus mengikutinya, dia berpikir mungkin ini adalah petunjuk yang bisa dia dapatkan. Petunjuk tentang siapa sebenarnya dalang dibalik peristiwa yang terjadi di auditorium dan mengacaukan acara yang harusnya sudah disusun sebaik mungkin. Ratna merasa jengkel karena merasa ide dan tata acara yang dia buat menjadi sia-sia. Ratna mengikuti sosok itu sampai ke kamar mandi lantai dua, sosok itu masuk ke dalam kamar mandi diikuti Ratna. Saat Ratna masuk pintu kamar mandi tiba-tiba terkunci dan sosok itu sekarang berada di depannya, dengan baju compang-camping dan bau amis. Ratna kaget saat ternyata sosok itu tidak menyentuh lantai, dia mulai ketakutan dan mundur secara perlahan menggedor-gedor kamar mandi tapi kamar pintu mandi itu tidak juga mau terbuka. Ratna membaca doa sesuai dengan agamanya, perlahan sosok itu menjauh dan masuk ke dalam kaca kamar mandi. "Tolongin gue, gue kejebak di kamar mandi!" seru Ratna setelah telepon tersambung ke Sela. Sela dan delapan s*****n lainnya yang awalnya memang mencari Ratna langsung menuju ke kamar mandi yang berada di lantai dua dan membuka pintu itu dari luar tanpa kunci. Ratna segera memeluk Sela dan Amira dengan gemetar, mereka kemudian membawa Ratna ke tempat duduk di depan kelas IPS-2. "Minum dulu airnya." Sela menyodorkan air minum dari botol yang juga itu adalah botol minum Ratna yang dibawa Sela. Ratna meminum air itu, kemudian mengatur napasnya secara perlahan. Setelah beberapa menit barulah Ratna tenang, dia mulai menceritakan apa yang dia alami tadi. "Jadi, tadi itu pas kita lagi jalan-jalan gue liat sosok wanita yang tadinya ada di auditorium. Sosok yang garuk kulitnya sampai berdarah-darah itu dan dia yang berjongkok di pintu masuk auditorium." Ratna mengelap keringatnya dengan punggung tangan. "setelah itu gue ikutin deh, dan gue lupa bilang ke kalian. Gue ikutin dia sampai di lantai dua, nah terus di masuk ke kamar mandi yang ada di lantai dua itu, terus pas gue juga ikut masuk pintunya ke kunci gitu aja. Terus yang buat gue terkejut dia gak nginjek lantai dia melayang, pas gue baca doa dia menjauh sampai di depan kaca kamar mandi. Tapi setelah itu dia masuk ke kaca kamar mandi itu, makannya gue panik dan langsung telepon kalian," jelas Ratna menyelesaikan ceritanya. "Tapi loe gak kenapa-kenapa kan? Gak ada yang luka kan?" Sela melihat sekujur tubuh Ratna yang terlihat baik-baik saja. Ratna hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa dia baik-baik saja. "syukurlah." Sela mengelus dadanya. "Yaudah kalau gitu kalian masuk ke ruangan kalian aja terus tidur," saran Amira. "Gak bisa tidur beneran deh," jawab Sela dan Ratna bersamaan. "Kalau gitu kita mau ngapain?" tanya Amira tidak punya ide sama sekali. "Gimana, kalau kita cek setiap kamar terus setiap sudut sekolah siapa tau ada yang berbuat enggak-enggak. Lagipula emang tujuan awal kita kan mau ngecek kondisi dan situasi," kata Sela. "Tapi, Ratna kayaknya masih lemes banget, muka dia juga masih pucet." Amira melihat ke arah Ratna dengan cemas. "Yaudah, kita tunggu aja beberapa menit lagi sampai Ratna agak baikan," jawab Sela, semua mengangguk setuju. Jadi mereka hanya diam ditemani sunyi, dan karena bosan mereka mengeluarkan ponsel mereka dan bermain ponsel. "Aduh," ringis Fina. "Kenapa?!" tanya Amira, Raka, Revan, dan Yerina bersamaan dengan nada panik. "Kebelet pipis," jawab Fina sambil nyengir. "Yeee, nakut-nakutin aja kirain kenapa." Amira menyenggol bahu Fina. "Yaudah aku temenin ke kamar mandi ayo. Tapi kamar mandi lantai satu aja," ujar Yerina. "Gue juga ikut," sahut Amira. "kalian di sini aja jagain Ratna ya," titah Amira kepada yang lainnya semuanya mengangguk. Amira, Fina dan Yerina akhirnya berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai satu dekat dengan aula. "Aduh, aku duluan ya kalian jaga di outside," ujar Fina kemudian masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi. "Duh, tiba-tiba gue kebelet juga nih. Yerina jagain bentar ya," kata Amira, Amira juga kemudian masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi setelah mendapatkan anggukan dari Yerina. Yerina menunggu sambil melihat sekitar, saat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dia melihat sosok wanita seusianya membawa boneka kelinci miliknya dulu. Kemudian sosok itu menuliskan di dinding jendela kamar mandi 'Namaku Vina.' Kemudian dia menghilang. "Apa itu Vina yang pernah masuk ke dalam mimpiku waktu aku pingsan di acara pemakaman Vina?" tanya Yerina dalam hati. "apa dia sebenarnya Vina yang selama ini kami kenal?" banyak pertanyaan teroontar dalam pikiran Yerina. Sosok itu kemudian muncul lagi dan menulis lagi di jendela dengan sesuatu berwarna merah, 'Pasti banyak pertanyaan yang ingin kamu ajukan, ikut saja denganku. Aku tidak akan menyakitimu.' Setelah membaca itu tulisannya menghilang bersamaan dengan sosok itu juga. Yerina ragu, tapi rasa penasarannya mengalahkan keraguannya. Dia akhirnya mengikuti sosok itu dan lupa memberitahukan Fina, Amira maupun yang lainnya. "Lha, Yerina ke mana?" tanya Amira heran. "Lha, i don't know kan tadi sama Kakak aku masuk duluan," jawab Fina. "Iya, sih. Tadi gue suruh dia jaga di sini soalnya juga tiba-tiba gue kebelet," sahut Amira. "Dia kebelet juga kali, kita check aja satu persatu ini biliknya," saran Fina yang diangguki oleh Amira. Mereka kemudian mengetok satu per satu bilik dan jika tidak ada sahutan maka mereka akan memasukinya memastikan tidak ada Yerina di sana. "Lha, ngapain kita capek-capek begini yak. Kan biliknya bawahnya bolong jadi kita bisa liat ada kakinya apa gak." Amira menepuk jidatnya. "Ya, kan gapapa make sure aja gitu," sahut Vina. Setelah tidak menemukan Yerina di kamar mandi mereka langsung menuju ke depan kelas 11 IPS-2 tempat yang lainnya berkumpul. "Kenapa kok lari-lari gitu?" tanya Ratna saat melihat Amira dan Fina. "Dikejer setan ya?" tanya Raka juga. Mereka menggeleng kemudian mencoba mengatur napas mereka yang ngos-ngosan. "Yerina udah balik ke sini belom?" tanya Amira kemudian. Semua menggeleng secara serempak. "Lho, bukannya dia sama kalian ya pergi ke kamar mandi?" tanya Ratna heran belum paham akan situasinya. "Nah, itu dia masalahnya. Tadi pas di kamar mandi, pas kita udah selesai dan keluar dia gak ada di luar padahal udah gie suruh dia jaga di luar. Terus kita cari ke setiap bilik kamar mandi dan gak ada juga," jelas Amira. "Yaudah, ayok kita cari," sahut Rai. Semua mulai mencari di lantai satu gedung sekolah. Selanjutnya: Pencarian
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN