Malam kelam kembali terkenang saat sebuah peristiwa membawa suram, suram yang dalam bagi semua yang menyaksikan di sana.
***
Begitu panitia yang berjumlah tiga orang itu menuju ke arah suara yang seperti benda jatuh tadi mereka tidak menemukan apapun, semua kosong tidak ada yang jatuh atau yang lainnya. "Gak ada apapun kok di sini," ujar panitia yang membawa lampu senter.
"Tapi kenapa suaranya kenceng banget ya?" tanya panitia yang ada di sisi kiri si pembawa senter.
"Mungkin angin kena pohon atau ada yang jatuh di luar kali," jawab panitia yang ada di sisi kanan si panitia yang membawa senter.
"Yaudah, ayo kita lapor," kata panitia yang membawa senter. Dua yang lainnya mengangguk kemudian menuju ke belakang panggung lagi untuk melaporkannya pada Ratna.
Sedangkan suara teriakan yang terdengar itu masih saja terdengar dan Ratna sudah mengirimkan beberapa panitia untuk memeriksanya, saat diperiksa tidak ada siapa pun yang berteriak. Mereka ditanyai satu per satu oleh panitia tapi tidak ada yang mengaku akhirnya acara kembali dilanjutkan. Setelah Sela diberitahukan tidak ada masalah apapun dia memberikan isyarat kepada Raka untuk meneruskan ceritanya yang sebentar lagi mencapai k*****s, tapi baru saja Raka membuka mulutnya hendak berbicara ada suara raungan seseorang diiringi suara tangis dan suara teriakan secara bersamaan. Semua terdiam, salah satu dari peserta menyalakan senter yang sedari tadi dia pegang karena penasaran.
Mereka semua terkejut saat melihat ke arah yang ditunjukkan senter itu, ada seorang perempuan di pojok auditorium dekat pintu masuk yang sedang meraung-raung dan berteriak dengan bahasanya yang tidak jelas. Wanita itu kemudian menggaruk-garuk lehernya sampai berdarah, tidak sampai disitu wanita itu kenudian mengggaruk tangannya juga sampai kulitnya terlepas, kemudian dari balik kulitnya terlihat belatung-belatung yang keluar. Semua berteriak panik dan berlarian membuat panitia juga ikut bingung, tidak ada yang berani keluar dari ruang auditorium semua menuju ke belakang panggung atau di sudut panggung. Ratna akhirnya memutuskan untuk menghidupkan lampu seluruh auditorium dan saat lampu dinyalakan wanita itu tidak ada di sana. "Semua ini hanya prank saudara-saudara," ujar Sela mencoba menenangkan suasana. Semua bersorak tidak terima dan kembali ke tempat duduknya kembali, tapi baru saja mereka hendak melangkah ada sebuah benda bulat yang ternyata adalah kepala manusia. Kepala itu yang awalnya botak tumbuh rambut disusul munculnya kepala, mulut, hidung, dan alis. Kemudian kepala itu tertawa membuat semuanya kembali ketakutan ada juga beberapa siswa yang pingsan.
"Ini bagian parnk juga?" tanya Sela turun ke dari panggung.
"Gak ada prank kita juga gak tau siapa wanita yang tadi," jawab Ratna panik, Sela ikutan panik.
Sementara itu si kepala melompat-lompat sambil terus tertawa kemudian mendarat di pundak salah seorang siswa. Kepala itu menggigit leher si siswa dengan giginya yang runcing sampai robek dan mengeluarkan banyak darah, semua tambah panik dan berlarian keluar auditorium. Kepala itu merobek beberapa leher beberapa orang siswa dan siswi yang ada di sana sampai semuanya meninggalkan ruang auditorium. Setelah setengah jam agar tidak menimbulkan kepanikan panitia memutuskan untuk semuanya beristirahat di dalam kelas dan tenda di luar kelas yang sudah disediakan. Saat kondisi sudah kondusif Ratna dan yang lainnya termasuk Rai dan Amira melihat ruangan auditorium untuk mengecek keadaan di sana.
Alangkah terkejutnya mereka saat memeriksa ruang auditorium karena tidak ada ceceran darah atau pun mayat siswa dan siswi yang di gigit lehernya semua bersih dan seperti semula saja. "Apakah ini semua prank? Siapa sih yang ngelakuin kurang kerjaan banget!?" Ratna sangat marah karena siapa pun yang melakukan hal ini sudah sangat keterlaluan dan menimbulkan kepanikan, terlebih lagi Ratna, Rai dan Amira tidak habis pikir jika memang benar ini dilakukan untuk mengerjai orang alias prank bagaiman mereka bisa membuat ini begitu nyata. Ratna kembali ke ruang OSIS dia ingin melaporkan hal ini kepada ketua OSIS dan ingin menginterogasi satu-satu panitia OSIS agar menemukan dalang di balik semua ini.
Setelah diselidiki dan ditanyai satu per satu tidak ada yang mengaku bahkan menuduh satu sama lain menimbulkan kericuhan yang malam membuat tambah pusing dan terasa semakin aneh, akhirnya mereka beristirahat dan melupakan hal itu yang terpenting tidak adanya korban jiwa dalam peristiwa itu atau mungkin mereka yang tidak tau tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang membuat semuanya ketakutan. Amira dan Rai memutuskan melihat delapan s*****n lainnya di ruangan yang berbeda karena mereka juga beda kelompok dan mereka sangat lega karena semuanya lengkap, dan selamat tidak ada luka sedikit pun.
***
"Halo, Amira. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, gimana kalian di sana? Baik-baik aja kan?" tanya Aisyah bertubi-tubu dari telepon.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Bunda. Kita di sini baik-baik aja kok Bunda, kita kan cuma di sekolah Bunda gak kemana-mana," jawab Amira sambil tertawa kecil karena menurutnya kekhawatiran Bundanya lucu, seperti anak kecil saja. "udah Bunda jangan khawatir, ya. Kalau Bunda khawatir banget kan Bunda bisa ke sini gak jauh juga dari rumah Bunda lima belas menit aja Bunds kalau naik sepeda," tambah Amira lagi mencoba bergurau.
"Ih, kami ni ya malah bercanda terus ledekin Bunda. Bunda tuh khawatir soalnya perasaan Bunda dari tadi gak enak sampai Bunda gak bisa tidur," gerutu Aisyah.
"Pantesan aja, Bunda belum tidur udah tengah malam gini." Amira melirik ke arah jam yang ada di ruangan khusus bagian tenaga sementara untuk membantu OSIS dan khusus perempuan.
"Oh, iya kenapa ponsel kalian dari tadi mati? Udah Bunda telepon berkali-kali," omel Asiyah.
"Iya, Bunda kita lupa kasih tau Bunda selama acara ponsel gak ada yang boleh diaktifkan kalau ketauan akan disita biar acara gak terganggu Bunda," jelas Amira.
Aisyah mengangguk, "Alhamdulillah kalau kalian baik-baik saja semua. Bunda jadi tenang dan bisa tidur sekarang, kalau gitu Binda tutup ya teleponnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat tidur, Sayang."
"Iya, Bunda. Pokoknya Bunda jangan cemas ya, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Malam juga Bunda, mwah." Akhirnya sambungan telepon pun diputus.
Amira berbalik badan mencari posisi tidur yang enak, tapi sampai jam satu pun dia belum bisa ridur juga. Sama halnya dengan delapan s*****n lainnya, akhirnya Amira mengirimkan pesan pada mereka bagi yang tidak bisa tidur untuk berkumpul di taman. Semuanya kemudian bergegas dan bertemu di taman, "Wah ternyata kalian juga pada gak bisa tidur semua ya," kata Amira saat melihat semuanya berkumpul. Ternyata tidak hanya mereka saja banyak para murid lain juga berjalan-jalan keluar ada juga yang makan, dan panitia yang berjaga.
"Iya, nih kayaknya kita gak bisa sleep karena gak terbiasa sama tempatnya," komentar Fina semua menggangguk setuju.
"Oh, iya tadi Bunda telepon nanyain keadaan kita dia cemas banget," tutur Amira teringat akan telepon dari Asiyah.
"Bunda juga telepon aku dan ngomong sama aku tadi," sahut Raka.
"Loe gak bilang kejadian yang ...."
"Gaklah bisa-bisa kita dijemput sama Ayah pakai mobil, kan malu di tengah-tengah acara pulang. Itu bukan cara lakik, sis." Raka memotong ucapan Amira. Amira bernapas lega.
"Ilih, sok lakik you," cibir Raka.
"Lha, emang saya lakik,' jawab Raka.
"Oh, iya, ya." Fina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau gitu gimana kalau kita makan aja camilan yang dibuat, Bunda," saran Revan. Semua setuju.
Amira kemudian menuju ke ruangan tempat nantinya ia tidur dan mengambil tasnya. Dia kemudian kembali ke taman dan mengeluarkan camilan yang dibuatkan Aisyah. "Serbu!" seru Raka hendak mencomot kue kering itu, Amira dengan cepat menepis tangan Raka.
"Aww, sakit," ringis Raka.
"Baca doa dulu," kata Amira sambil melotot.
"Oh, iya lupa." Raka hanya nyengir kuda, semuanya kemudian membaca doa dulu. Setelahnya mereka makan dengan nikmat. Tapi kunyahan mereka berhenti karena mereka melihat ada dua orang yang berjalan dari balik kegelapan ke arah mereka.
Selanjutnya: Menghilang