Bab 28: Lembaran baru

1233 Kata
Mari membuka lembaran baru dengan bangkit dari kesedihan dan memasuki halaman kelam yang sama. *** Mereka mulai bangkit kembali, dan hari ini adalah hari pertama mereka bersekolah di sekolah yang mereka impikan bersama. SMA Langgar Jaya. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, suasana gaduh menghiasi persiapan mereka hari ini. Mereka kebanyakan gugup dan merasa impian jadi kenyataan bisa sekolah bersama lagi. "Eh, Fina kaos kaki loe kebalik tuh." Tunjuk Amira, Fina melihat kaos kakinya dan kemudian merapikannya. "Ih, Raka jorok banget. Habis minum s**u itu dilap dong mulutnya masa belepotan gitu, kan udah SMA." Kali ini Amira memarahi Raka, Raka hanya nyengir kuda kemudian masuk ke kamar, melihat cermin dan membersihkan sisa s**u cokelat yang masih menempel di bibirnya. "iih, Revan jangan barbelan mulu keliatan banget gugupnya," ujar Amira kali ini pada Revan yang duduk di sofa dan belum siap dengan seragamnya tapi malah mengangkat barbel kesayangannya. Aisyah yang melihat itu tertawa geli kemudian menghampiri Amira. "Jangan, judes-judes dong, Sayang. Kamu tuh udah kayak Emak-emak muda aja." Aisyah mencubi pipi Amira sambil terkekeh. "Ya, habisnya ni ya Bunda kalau mereka gak dikasih tau gitu mereka gak paham Bunda padahal kan udah mau SMA. Yaudah Bunda Amira mau liat yang lain dulu udah siap apa belom." Amira kemudian menuju ke kamar untuk melihat anak lainnya yang belum keluar sedari tadi. Aisyah hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat itu semua, dia senang karena mereka sudah bisa membuka lembaran baru setidaknya luka kehilangan yang basah itu kini sudah agak membaik. "Aduh, Rangga itu kaos kaki kamu kok beda sebelah." Amira menepuk jidatnya dan langsung mengomel ke arah Rangga yang baru keluar dari kamar. Rangga kemudian kembali masuk ke kamar dan mencari pasangan kaus kakinya. "ish, Fina itu roknya kebalik gak diliat apa gimana, sih," omel Amira lagi kali ini pada Fina. "Oh, iya, ya." Fina baru menyadarinya saat diberitahukan. "Yerina, dah oke. Cek lagi ada yang ketinggalan gak ya." Amira berkomentar setelah melihat Yerina dari ujung kaki ke ujung rambut. "oh, dan kerudungnya bagus banget di loe," puji Amira sebelum akhirnya keluar dari kamar menuju ke kamar para anak lelaki. Yerina memang memutuskan untuk berhijab saat masuk SMA, dan mendengar pujian dari Amira Yerina sedikit tersipu. "Nah, kan pada gak beres semua yang di sini. Cuma Rai yang udah selesai dari tadi." Amira memperhatikan para anak lelaki yang sedang sibuk sendiri, Revan yang sibuk merapikan seragamnya, Rangga yang masih sibuk mencari kaus kakinya sampai mengacak-ngacak seluruh isi lemari dan berakibat berantakan di sana-sini, Raka masih sibu mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil putih. Amira berdecak, "Ish, buruan nanti kita telat. Kita kan pergi naik sepeda gak naik angkot jadi harus pergi lebih pagi," omel Amira dengan wajah memberengut. "Sabar, Kak," jawab Raka. "Yes, akhirnya ketemu." Rangga mengangkat ke udara kaus kaki yang dia cari sedari tadi. "Gue tunggu lima menit lagi di ruang keluarga kalau sampai kalian gak keluar siap gak siap kalian gue seret buat ke sekolah," ancam Amira kemudian keluar dari kamar. Semua yang sudah siap duduk di ruang keluarga sembari menunggu yang lainnya bersiap-siap, mereka mengatur detak jantung yang tidak karuan. Masih merasa senang dan bercampur gugup, Amira dan Rai ikutan gugup karena semua gugup. Alhasil Rai tidak jadi membaca buku yang belum selesai dia baca. "Bismillah aja," ucap Amira kepada Amira dan Fina sambil memegang tangan keduanya. "Bismillahirromanirrohim," ucap mereka berdua bersamaan. Tidak lama trio rempong keluar dari kamar, mereka pun berangkat. "Kita pergi ya, Buda. Doain kita Bunda semoga selamat sampai tujuan dan mereka gak gugup lagi," kata Amira sambil melihat yang lainnya. "Aamiin Ya Robbal Alamiin, hati-hati ya. Doa pasti selalu mendoakan kalian dari sini," jawab Aisyah sembari mengulurkan tangannya untuk dicium. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Bunda ucap mereka satu persatu. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah. "Pergi dulu, Bunda." Revan menjadi yang terakhir mencium tangan Asiyah. Mereka kemudian mengendarai sepeda menuju ke sekolah. *** Sesampainya di sekolah ternyata sekolah sudah ramai dengan para anak mutid baru dan lama. "Yaudah kalian langsung ke aula aja soalnya PLS nya diadain di sana, kita mau ke kelas dulu," ucap Amira setelah memarkirkan sepeda. Semua mengangguk pertanda mengerti. "oh, iya lupa nanti kalau istirahat kita di taman yang kemarin pas pendaftaran aja. Kita kumpul di sana, semangat semuanya." Amira kemudian berlalu menuju ke kelasnya bersama dengan Rai. Di saat semua murid baru melakukan MPL (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), kakak-kakak kelas mereka tetap belajar seperti biasa kecuali para anak OSIS yang menjadi bagian dari panitia persiapan MPLS dan yang membawakan MPL itu sendiri. "Maaf, Bu mengganggu waktunya sebentar saya mau manggil Amira dan Rai, Bu," kata Ratna kepada Bu Indah setelah mengetuk pintu membuat pelajaran berhenti sejenak. "Oh, iya silakan," jawab Bu Indah. Ratna kemudian masuk ke kelas dan memanggil Amira serta Rai dengan lambaian tangan mereka berdua segera keluar dari kelas mengikuti Ratna. "Kenapa?" tanya Amira setelah berada di luar kelas. "Gini, kita butuh bantuan kalian. Jadi anak-anak OSIS kekurangan tenaga di bagain persiapan malam pembukaan penerimaan siswa baru nanti, nah gue dipercaya buat cari bantuan tenaga di luar anak-anak OSIS dan gue mau minta bantuan kalian, kalian mau gak?" tanya Ratna sekalian menjelaskan. "Apa untungnya buat kita?" tanya Rai. "Aku gak suka pelajaranku diganggu," tambahnya lagi. "Ya kalau gak mau gapapa juga, keuntungannya kalian bisa ikut malam pembukaan nanti malam dan bisa liat sambil ngawasi para saudara kalian," jawab Ratna, membuat Rai jadi tertarik. "Iya, juga ya. Kan bakal sepi kalau cuma kita berdua di rumah, Rai," ucap Amira. "Jadi, gimana kalian mau?" tanya Ratna mereka berdua mengangguk serentak. "oke, kalau gitu ayo ikut gue." Mereka lalu mengikuti Ratna menuju ke ruangan auditorium. "Oke, kita bagi tugas ya, Amira dan Rai pasang spanduknya dulu ya, gue mau ambil peralatan lainnya di gudang," ujar Ratna memberikan perintah. "ayo, Sel kita ke gudang ambil peralatan sambil manggil yang lain buat ngangkut speaker," ajak Ratna pada Sela. "Eh, biar gue aja yang pasang spanduk sama Rai. Loe sama Amira aja yang ke gudang," tolak Sela. "Serah loe deh, Sel. Yuk Mir." Ratna mengajak Amira, Amira mengangguk kemudian ikut pergi ke gudang. Di ruang auditorium hanya tinggal Sela dan Rai, tanpa bicara Rai membawa spanduk dan menaiki tangga yang ada di panggung. Sela juga tanpa bersuara membantu Rai, Sela hanya tersenyum saat melihat wajah Rai. Sela tidak bersuara kali ini karena takut Rai terganggu dan membencinya, jadi lebih baik dia diam dan menikmati kebersamaan ini selagi masih berlangsung. Sementara itu Amira dan Ratna memanggil anggota OSIS yang duduk-duduk santuy di bawah pohon, dan meminta mereka membawa perlengkapan dan kembali ke auditorium. Setelah itu mereka kembali lagi untuk mengambil peralatan lain yang masih ada di gudang, Sela memasang wajah cemberut ternyata kebersamaan dirinya dengan Rai tidak berlangsung lama karena yang lainnya ada beberapa yang tetap di auditorium untuk menyusun perlengkapan dan hiasan lainnya. "Lha, ini tadi mana speakernya?" tanya Ratna heran pada semua yang ada di auditorium. Semua hanya menggeleng tanda tidak tau karena memang semua sibuk dengan tugas masing-masing dan Ratna memperhatikan mereka juga sebagai salah satu wakil ketua acara. Akhirnya Ratna memutuskan untuk mencarinya dibantu yang lainnya. Setelah mereka tidak menemukannya di manapun mereka kembali ke tempat semula dan ternyata speaker itu telah ada di tempat semula. "Ish, siapa sih yang iseng?" geram Ratna. Tidak hanya itu, ada beberapa barang yang hilanh dan saat mereka berbalik badan kemudian melihat semula benda itu kembali lagi bagai sulap. Jadi, mereka hanya diam saja tanpa berkomentar dan terus mengerjakan pekerjaan mereka ditemani keanehan yang ada. Selanjutnya: Malam upacara pembukaan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN