Bab 14 Masa Lalu Menyebalkan

1897 Kata
Ketika Awan dan Adel baru masuk ke restoran, mereka bertemu dengan orang yang tak terduga. Tentu saja, tak diharapkan juga oleh Awan. “Awan?” Vida berhenti di depan Awan dan Adel, tampak terkejut. Awan tersenyum canggung. “Hai,” sapanya. “Dia … siapa?” Vida menatap Adel penasaran. “Dia …” Adel menghela napas, memotong kalimat Awan. “Dia mantanmu?” tanya wanita itu tanpa tedeng aling-aling. Awan mengangguk pada Adel. Di depannya, Vida mendengus. “Jadi, dia pacar barumu?” tanya Vida dengan nada terluka. “Kita bahkan baru putus beberapa hari lalu, tapi kamu …” Vida menahan napas, lalu menatap Adel. “Mbak, Mbak harus tahu satu hal tentang Awan. Dia itu cuma manfaatin ceweknya. Itu juga yang dia lakuin ke Mbak. Jadi, kalau Mbak berpikir Mbak bisa bikin dia jatuh cinta sama Mbak dan berubah, Mbak mending menyerah. Daripada Mbak terluka.” Adel mendengus pelan. “Nggak perlu khawatir tentang itu,” jawabnya santai. “Kami baik-baik aja. Bahkan, sebentar lagi kami akan nikah.” Vida melotot kaget. “Ni-nikah?” Dia tampak sangat shock. Awan berdehem. “Kami saling jatuh cinta. Pada pandangan pertama.” Vida refleks tertawa mendengar itu. Awan melirik Adel, mengecek ekspresi wanita itu. Adel hanya menghela napas. Begitu tawa Vida berhenti, dia berkata pada Adel, “Mbak, jangan percaya sama dia. Dia itu pembohong. Dia bisa bilang cinta ke siapa aja, tanpa benar-benar meniatkannya. Dia nggak pernah tulus. Mbak cuma akan patah hati.” Adel kembali menghela napas. “Nggak perlu khawatir. Kalau ada yang patah hati, orang itu bukan aku.” Setelah mengatakan itu, Adel melewati Vida dan pergi begitu saja. Awan sudah akan menyusul Adel, tapi Vida mendengus meledeknya, menghentikan langkahnya. “Jadi, akhirnya kamu akan ngerasain patah hati juga?” sebut Vida. Awan mengernyit. Namun, ia tak menanggapi kata-kata Vida dan melanjutkan langkah menyusul Adel. Wanita itu sudah duduk di meja dan menerima buku menu dari pelayan restoran. Ketika Awan duduk, Adel berkata, “Aku udah pesan nasi goreng buat kamu.” Awan hanya mengangguk. “Omong-omong,” Adel menatap Awan dengan tatapan dingin, “harus berapa kali aku ngehadapi situasi kayak tadi?” Awan mengernyit. “Mengingat kamu hidup selama bertahun-tahun dengan ngemis ke cewek-cewek kayak tadi, itu berarti ada banyak cewek kayak tadi yang kemungkinan akan ketemu aku,” sebut wanita itu. “Kalau gitu, berapa kali lagi aku harus jadi bahan tertawaan kayak tadi?” Awan tahu siapa yang ditertawakan Vida tadi, mungkin juga dengan mantan-mantannya yang lain. Mereka menertawakan Awan, perasaannya yang tak tulus. Namun, memikirkan Adel menjadi bahan tertawaan karena dirinya membuat Awan terusik. Ia bisa terima menjadi bahan tertawaan orang lain. Itu bukan hal baru baginya. Namun, jika hal itu menimpa Adel, Awan tak rela. Meski wanita itu punya kepribadian seperti iblis, mulut yang hanya bisa mengucapkan hal-hal kejam, tapi … ia menjalani hidupnya dengan cara yang terhormat. Tidak seperti Awan. Jika Awan serendah tanah terendah bumi, wanita itu setinggi langit. Dan Awan tak ingin menyeret wanita itu ke bawah bersamanya. Wanita itu pantas mendapat tempat yang lebih baik, lebih tinggi. Sejujurnya, wanita itu terlalu tinggi untuk diraih oleh seseorang serendah dirinya. *** Dalam perjalanan kembali ke kantor Adel dari restoran, Awan tampak begitu diam. “Kamu kenapa?” tanya Adel ketika mobil berhenti di lampu merah dan pria itu tampak melamun. Awan tak menjawab, tatapannya masih tertuju ke depan, kosong. Adel menjentikkan jari di depan wajah pria itu. Seketika, Awan menoleh padanya. “Kamu ngomong apa barusan?” tanya pria itu. Adel menghela napas. “Nggak ada siaran ulang,” balas Adel kesal, mengikuti kata-kata pria itu dulu. Awan mendengus geli. “Kamu ngambek?” Adel memutar mata. “Kamu dari tadi mikirin apa?” akhirnya Adel bertanya. Awan menggeleng. “Mikirin jumlah mantan yang kemungkinan akan ketemu kita?” cibir Adel. “Nggak,” sanggah Awan. “Cuma mikir, jarak langit sama bumi itu jauh banget, ya?” Adel melongo. Apa itu bahkan hal yang perlu dipikirkan? “Aku tahu isi kepalamu itu nggak penting, tapi … well, oke, harusnya aku nggak tanya.” Awan mendengus geli. “Aku mulai terbisa sama kata-kata kejammu.” Pria itu menatap ke depan dan melajukan mobilnya begitu lampu berganti warna. “Good,” sahut Adel cuek. “Kamu pasti nggak punya teman,” sebut Awan dengan yakinnya. “Emang enggak,” aku Adel santai. “Kenapa? Karena kamu terlalu berharga buat punya teman? Atau, karena nggak ada orang yang cukup berharga buat jadi temanmu?” Sindiran. “Kalau kamu tahu, ngapain pakai tanya?” balas Adel. “Dan jangan coba-coba nyeramahin aku.” Awan menggeleng. “Justru, aku mau nawarin sesuatu.” Adel mengerutkan kening. “Penting?” Awan mengangguk. Pria itu menoleh sekilas. “Kamu mau aku jadi temanmu?” Adel tertegun, tak menduga Awan akan bertanya seperti itu. Namun, dalam dua detik, ia tersadar. “Buat apa aku temenan sama kamu?” sinisnya. “Kalau kamu temenan sama aku, kamu auto punya tiga teman lagi. Teman satu gratis tiga,” promo pria itu. Adel mendengus geli. “Kalau promo itu tentang kamu sama teman-temanmu, aku nggak tertarik.” “Dicoba dulu boleh,” cetus Awan. “Nanti bisa diretur kalau kamu nggak suka.” Mendengar itu, refleks Adel tersenyum. “Well, boleh juga. Meski aku jamin, nggak sampai dua puluh empat jam, aku pasti langsung retur kalian.” Di sebelahnya, Awan tergelak. Adel menatap pria itu dan menyadari, dia mengatakan yang sebenarnya tentang dia yang sudah terbiasa dengan kata-kata kejam Adel. Karena sebelum ini, tak ada seorang pun yang bisa tertawa ketika mendapat kata-kata kejamnya. Tidak. Tak ada seorang pun yang berani tertawa. Pria ini yang pertama. Dan satu-satunya. *** Suasana apartemen Awan yang tadinya seramai pasar seketika berganti senyap seketika karena kedatangan Adel. “Maaf, kayaknya salah apartemen, Bu,” kata Wiki yang membukakan pintu. “Dia yang ngundang aku ke sini.” Adel menunjuk melewati bahu Wiki, langsung ke arah Awan yang langsung tersenyum lebar. “Masuk, Del!” serunya sembari menghampiri Adel dan mendorong Wiki minggir. “Maksudnya apa nih, Bro? Gue ngerasa dijebak,” celetuk Nugie. “Tadi katanya mau ngajak makan malam bareng di sini. Tapi, kok kayaknya kita yang bakal dimasak, ya?” Awan menepuk mulut Nugie ketika lewat di depannya. “Suka nggak di-filter kalau ngomong. Omongan itu doa. Terkabul baru tahu rasa lo!” Nugie refleks menepuk-nepuk mulutnya sendiri. Awan tersenyum geli. “Tapi … kenapa lo ngundang calon bini lo juga? Kenapa lo nggak bilang tadi?” tuntut Nugie. Sebelum Awan menjawab, Adel lebih dulu menjawab, “Dia ngajak aku temenan. Katanya kalau temenan sama dia, teman satu bonus tiga. Bisa diretur juga.” Ketiga teman Awan seketika melongo. “Maksudnya … bonusnya itu kita dan … bisa diretur?” Nugie menunjuk wajahnya sendiri. Adel mengangguk santai, lalu duduk di sofa. Ramli yang duduk di sofa lainnya dan tadinya sedang menoton TV, seketika berdiri dan menjauh dari Adel, tampak takut dan was-was. Awan memaklumi. Itu memang reaksi yang wajar jika berhadapan dengan Adel. “Wiki masak,” beritahu Awan sembari berdiri di samping sofa tempat Adel duduk. Adel hanya mengangguk. “Kalau nggak enak, boleh aku muntahin, kan?” Awan tersenyum geli dan mengangguk menanggapinya, sementara Wiki menggerutu pelan. “Kamu tunggu di sini aja, sambil nonton TV,” ucap Awan. Adel mengangguk, lalu menoleh ke sekeliling. “Mana remote?” Ramli dengan polos menangkat remote di tangannya. “Ganti channel-nya,” perintah Adel. Ramli dengan patuh menurutinya. Awan tersenyum geli melihat itu dan merasa aman meninggalkan mereka ke dapur. Wiki juga akhirnya kembali ke dapur dan bersiap memasak. “Nggak ada akhlak banget lo, tahu-tahu ngundang dia buat makan malam bareng,” desis Wiki. “Tapi, itu calon bini lo tajir-tajir suka nebeng makan, Bro?” bisik Nugie yang mendadak muncul di belakangnya. “Jangan sembarangan. Ini apartemen punya dia, semua bahan makanan juga dia yang beli. Yang ada kita berempat nebeng makan sama dia,” koreksi Awan. “Iya juga, sih.” Nugie garuk-garuk kepalanya. “Tapi, kebayang nggak sih, kalau nanti kita makan bareng dia?” tanya Wiki dalam bisikan. Awan dan Nugie menatapnya, lalu mereka bertiga menoleh bersamaan ke arah Adel yang asyik menonton telvisi sementara Ramli masih berdiri sambil memegang remote dengan tangan gemetar. *** Spaghetti bolognese yang sedang dimakan Adel tidak ada yang salah. Malah, rasanya enak. Namun, di depannya ada empat orang pria yang duduk berdempetan dan sama sekali tidak menyentuh piring makan malam mereka. Adel yang baru memasukkan dua suapan, berhenti dan menatap mereka berempat. “Kalian nggak makan?” tanyanya. Keempat orang itu, seperti diperintah, langsung mengangkat garpu dan melahap spaghetti di piring masing-masing seperti kesetanan. Adel tak melanjutkan makannya dan malah menonton mereka makan. Awan yang baru menyelesaikan setengah piring makanannya, berhenti dan balik menatap Adel. “Kamu kenapa nggak makan?” tanya pria itu. “Kenyang lihat kalian makan,” jawab Adel. “Udah berapa hari kalian nggak makan?” Kalimat Adel dijawab dengan batuk akibat tersedak oleh salah satu teman Awan, Nugie. Seketika, Awan dan Wiki menepuk punggung Nugie dengan keras, sementara Ramli menepuk kepala Nugie, membuat wajah Nugie nyaris mendarat di piring makan malamnya. Nugie yang masih terbatuk menepis tangan ketiga temannya dan memelototi mereka satu-persatu, lalu pergi ke kulkas dan mengeluarkan sebotol air minum sebelum meneguknya. “Sori buat gangguannya,” kata Awan pada Adel. Adel tak menanggapi, tapi Nugie dari kulkas protes, “Yang ada kita yang keganggu makannya, Bro!” Adel mengangkat alis. “Oh, jadi gitu?” Adel memperhatikan perubahan ekspresi Awan dan ketiga temannya. “Dia emang dari lahir nggak ada akhlaknya, Bu, jangan didengerin,” ucap Ramli pada Adel dengan sorot ketakutan. “Iya, Bu, benar.” Sahutan persetujuan itu datang dari Nugie yang kembali ke meja makan. “Sejak lahir saya emang udah nggak kebagian akhlak. Silakan dilanjut makan malamnya, Bu.” Adel menghela napas dramatis, lalu berdiri. “Kalau kalian terganggu, aku pergi aja.” Seketika, Awan dan ketiga temannya berdiri tegak. “Kita aja yang pergi,” Awan berkata. “Kamu lanjutin makan aja.” “Tapi, ini kan apartemenmu,” balas Adel. “Kan, kamu yang beli,” sahut Awan. Ketiga teman Awan mengangguk, lalu mereka berempat saling dorong-mendorong meninggalkan meja makan. Adel tak bisa lagi menahan tawanya, membuat mereka berempat berhenti dan menatapnya ngeri. Mungkin mereka berpikir Adel mendadak gila. “Aku cuma bercanda,” Adel mengaku. “Temenan sama aku itu nggak mudah. Lihat kan, cara bercandaku?” Adel mendengus geli. “Kalian lanjutin aja makan malamnya. Aku udah cukup terhibur lihat tingkah bodoh kalian barusan.” Adel berjalan melewati mereka dan mengambil tas tangannya di sofa, lalu ia keluar dari apartemen Awan. Namun, ia terkejut karena Awan menyusulnya di depan pintu apartemen Adel. “Sori,” ucap pria itu sungguh-sungguh. Adel mendengus geli. “Kamu masih mau temenan sama aku?” tanyanya. Awan tak menjawab. Namun, ketika Adel hendak masuk ke apartemennya, Awan menahan pintunya. Adel menatap pria itu. “Ada yang mau kamu omongin?” tanyanya. Awan menatap mata Adel saat menjawab, “Ya, aku masih mau temenan sama kamu.” Adel tertegun, tapi segera tersadar dan mendengus. “Kamu emang suka bikin diri sendiri susah, ya?” Di luar dugaan Adel, Awan tersenyum geli. “Iya. Itu kebiasaanku. Jadi, kamu juga biasain sama itu.” Adel mendengus geli menanggapinya, lalu menutup pintu di depan wajah pria itu. Ini juga, pria itu harus terbiasa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN