Ketika Awan kembali ke apartemennya, dilihatnya ketiga temannya sudah duduk di lantai ruang tamu, tampak melamun menatap layar televisi yang mati.
“Kalian kenapa?” tanya Awan sembari berdiri di depan mereka.
Seketika, mereka bertiga menoleh ke arahnya.
“Lo nggak diusir kan, Bro?” tanya Wiki.
Awan menggeleng.
“Trus, lo nggak dipecat jadi calon suami, kan?” Nugie memastikan.
Awan menggeleng.
“Stok makanan lo juga nggak diminta balik, kan?” Pertanyaan terbodoh selalu lolos dari Ramli.
“Nggak lah, Ram,” jawab Awan sebal.
Ketiga temannya menghela napas lega. Nugie sampai langsung menggelosor. “Hampir aja gue mampus tadi,” ucapnya lemas.
Awan menggeleng-geleng sembari duduk di sofa.
“Lagian, lo ngapain sih, pakai temenan sama dia segala? Jelas level kita beda, lah. Dia mana mau temenan sama kita?” sembur Wiki.
Awan tersenyum getir. “Ya, gimana? Dia bilang, dia nggak punya teman.”
Ketiga temannya melongo. “Nggak punya teman?” tanya Ramli bingung. “Tapi kan, dia tajir, cantik, bos, masa nggak punya teman?”
“Tapi kan, dia juga galak, seram, kejam gitu, siapa yang mau temenan sama dia?” sahut Nugie.
“Kayaknya hidupnya sempurna gitu, tapi kok … gue malah kasihan, ya?” celetuk Wiki. “Ya, bayangin deh, kalau dia nggak punya teman, trus kalau dia digangguin teman-temannya kayak gue dulu, siapa yang belain?”
“Iya, trus kalau dia nggak punya duit kayak Awan gitu, siapa yang ngutangin?” imbuh Ramli, seolah Adel bisa kehabisan uang.
“Dia kalau patah hati curhatnya sama siapa, ya?” Nugie juga penasaran.
Awan memikirkan pertanyaan teman-temannya itu dan ikut penasaran. Apa wanita itu bahkan tak merasa kesepian? Setiap hari, dia akan pergi bekerja, seharian di kantor, pulang ke apartemen sendirian. Setiap kali juga, dia pasti makan sendirian. Belum lagi ketika dia bertemu keluarganya yang mengerikan itu sendirian.
Awan tahu ia tak pantas merasa kasihan pada hidup sempurna Adel, tapi itulah yang ia rasakan. Untuk semua kesendirian wanita itu, untuk semua kesepiannya, dan mungkin, untuk kesedihannya yang tak pernah dilihat siapa pun.
***
Setelah makan malam dengan teman-teman Awan semalam, malam ini ganti Adel yang membawa Awan ke restoran mewah untuk makan malam romantis mereka. Awan memakai stelan yang rapi untuk malam itu.
Tidak ada yang salah selama acara makan malam mereka. Bahkan, Adel sempat menyuapi Awan kerang ketika makan malam. Ia tak ingin melewatkan satu kesempatan kecil pun untuk memberi foto yang bagus untuk kakeknya.
Namun, ketika mereka kembali ke apartemen, di depan pintu unit apartemennya, Awan tiba-tiba jatuh terduduk. Adel menoleh kaget. Ia menatapnya bingung.
“Kamu kenapa? Ngantuk?” tanya Adel.
Awan menggeleng tanpa menjawab sepatah kata pun. Adel mengerutkan kening curiga, lalu berlutut. Ia terkejut melihat butir keringat di kening dan pelipis pria itu. Pria itu tampak kesulitan bernapas.
“Kamu … kenapa?” Adel tak bisa menyembunyikan cemasnya.
Awan masih tak menjawab.
“Kamu kenapa?!” bentak Adel tak sabar.
“Kerang … aku alergi kerang.”
Jawaban Awan itu membuat tubuh Adel lemas. Alergi. Itu pun alergi kerang. Adel memeriksa leher pria itu. Bengkak. Pernafasannya terganggu. Adel mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghubungi mamanya.
“Ma … Mama di mana? Awan, Ma … Awan …” Suara Adel gemetar.
“Adel, tenang dulu. Tarik napas, bicara pelan-pelan.” Suara mamanya terdengar tenang di seberang sana.
Adel menuruti kata-kata mamanya dan berusaha tenang. “Awan alergi kerang dan … dia makan kerang pas makan malam tadi. Sekarang penafasannya terganggu, kayaknya tenggorokannya bengkak, Ma. Aku harus gimana?”
“Adel, kamu harus tenang. Kalian di mana sekarang? Awan masih sadar, kan?” tanya mamanya.
“Masih, Ma. Aku sama Awan di apartemenku.” Adel menatap Awan. “Dia …” Kalimat Adel berganti pekikan panik tatkala tubuh Awan terjatuh ke lantai. Pria itu sepertinya mulai kehilangan kesadaran. Adel mengecek napas pria itu dengan satu tangannya dan suaranya bergetar. “Ma … Awan hilang kesadaran dan napasnya …”
“Adel, kamu lakukan CPR. Mama ke sana sekarang,” ucap mamanya. “Jangan tutup teleponnya. Terus laporkan kondisi Awan ke Mama.”
Adel mengangguk, lalu meletakkan ponselnya di lantai. Ia kemudian memosisikan tubuh Awan hingga pria itu berbaring, lalu mulai melakukan CPR. Ketika Adel menumpukan kedua tangannya di d**a Awan, ia menatap tangannya sendiri dan teringat ketika tadi ia sendiri yang menyuapi Awan dengan kerang. Tangannya gemetar.
Adel menarik napas dalam, berusaha mengusir ketakutannya. Lalu, ia mulai menekan d**a Awan dengan hitungan teratur, seperti yang diajarkan mamanya. Lalu, Adel mengecek napas pria itu, sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya. Adel mengangkat dagu Awan sedikit, berusaha membuka saluran napasnya, lalu ia menarik napas dan menunduk. Adel menjepit hidung Awan sebelum memberikan napas buatan lewat bibir pria itu.
Dalam hati, Adel terus berharap agar Awan baik-baik saja. Seumur hidupnya, belum pernah Adel merasa seputus asa ini akan hidup orang lain.
***
Ruangan serba putih menyambut Awan ketika ia membuka mata. Apa ini di surga? Bagaimana bisa? Untuk seorang Awan yang hina dan penuh dosa, bolehkah ia berharap surga?
Ketika Awan menoleh dan melihat sosok cantik yang berbaring di sofa di sisi ruangan serba putih itu, Awan nyaris yakin ia berada di surga. Namun, tunggu. Sosok cantik itu adalah Adel. Bagaimana bisa wanita iblis itu masuk surga?
Awan berusaha duduk dan mengamati sekitar. Akhirnya ia sadar, ini bukan surga, tapi kamar rawat rumah sakit. Itu pun sepertinya kamar VIP. Awan perlahan turun dari tempat tidur, dengan hati-hati menarik tiang infusnya bersamanya ke arah sofa.
Awan berhenti di depan meja, berseberangan dengan tempat Adel berbaring miring di sofa itu. Satu lengannya terentang lurus dan digunakan sebagai bantal, sementara tangan lainnya tergeletak di dekat wajahnya.
Awan kemudian melihat pensil dan kertas berserakan di meja. Penasaran, Awan mengambil salah satu kertas itu dan duduk di sofa untuk membacanya. Namun, kertas itu tak berisi tulisan, melainkan gambar. Gambar desain sebuah ruangan. Sebuah kafe. Awan melihat Adel memberikan tanda tanya pada ruang kosong di pojok desainnya.
Awan mengambil pensil dan menggambar panggung kecil di sana. Tidakkah live music adalah komponen populer di sebuah kafe? Meski kafe Adel sudah berhasil dengan baik tanpa itu. Awan lalu menatap Adel yang masih tertidur dan berpikir, betapa wanita itu telah bekerja keras selama ini.
Jika dipikir-pikir, Adel dan Awan sama-sama keluar dari rumah untuk mewujudkan impian masing-masing. Bedanya, Adel berhasil dan Awan … yah, masih begini-begini saja. Awan menghela napas sembari bersandar di sofa dan menatap wajah Adel. Ia kemudian membalik kertas desain kafe itu dan mulai menggoreskan pensil di atas kertas putih itu.
Beberapa saat kemudian, Awan tertegun menatap hasil gambarnya. Wajah tidur Adel bahkan di gambarnya pun tampak cantik. Awan tersenyum menatap hasil gambarnya. Sepertinya, ia punya objek favorit baru untuk digambar.
***
Adel perlahan membuka matanya meski masih terasa berat. Ia mengecek jam. Masih pagi. Adel baru tidur satu jam yang lalu. Semalam, Adel tak tidur sama sekali karena terlalu cemas. Adel beranjak duduk dari posisi tidurnya dan menatap ke arah ranjang rumah sakit, tapi ia terkejut melihat ranjang itu kosong.
Adel berdiri dan hendak pergi ketika akhirnya ia melihat keberadaan Awan di sofa. Pria itu tidur dalam posisi duduk bersandar di sofa. Dengan selembar kertas di pangkuan dan pensil di tangannya. Adel hendak mengambil kertas itu, tapi Awan seketika terlonjak bangun dengan kaget.
“Ini aku, ini aku,” ucap Adel menenangkan pria itu.
Awan menghela napas, lalu melempar kertas dan pensil yang dibawanya ke meja.
“Kamu kenapa tidur di sini?” tegur Adel. “Dan gimana keadaanmu? Kamu nggak ngerasa pusing atau mual?”
Awan menggeleng.
Adel menghela napas lega. Lalu, ia tersadar akan situasi mereka dan amarah menguasainya. “Kamu!” tudingnya ke wajah Awan.
“A-apa?” Pria itu tergagap.
Adel mendesis kesal. “Berani-beraninya kamu makan kerang padahal kamu alergi kerang! Kamu hampir mati, tahu nggak?!”
Awan menggaruk kepalanya. “Tapi, aku nggak mati, kan?”
Adel melotot galak. “Kalau bukan karena aku, kamu pasti udah mati sekarang!”
Awan mendengus pelan. “Sejujurnya, itu yang aku pikirin waktu aku makan kerang itu,” ucapnya. “Karena aku tahu, kamu pasti bakal nyelamatin aku.”
Adel mengumpat kasar. “Kamu udah gila, ya?!” semburnya. “Lagian, kalau kamu alergi, harusnya kamu nggak makan kerang!”
“Trus, aku harus gimana? Kamu nyuapin aku dan ada orang yang mata-matain kita.”
Kalimat Awan itu membuat Adel terbungkam. Jadi, karena itu …
“Kalau gitu, kamu tulis semua hal pribadi tentang kamu yang aku perlu tahu. Alergimu, sakitmu, semuanya. Bahkan, hal yang kamu benci dan kamu suka,” tuntut Adel.
Awan mengangguk santai. “Kamu juga, kalau gitu. Buat daftar itu buat aku.”
“Aku nggak punya alergi atau semacamnya itu,” sengit Adel.
“Aku tetap pengen tahu,” Awan berkeras.
“Kamu nggak punya hak buat tahu,” desis Adel.
Awan menghela napas. “Kalau kamu kayak gini, kamu nggak bakal pernah punya teman.”
“Aku nggak butuh.”
“Jadi, kita nggak jadi temenan?”
“Nggak masalah buat aku,” jawab Adel tanpa ragu. “Nggak ada ruginya juga buat aku.”
“Oke.” Awan lalu memutar tubuh memunggungi Adel dan mengangkat kakinya ke sofa. Pria itu memeluk lutut dan meringkuk di sana.
“Pergi ke tempat tidurmu, biar aku panggilin dokter,” perintah Adel.
“Aku nggak ngomong sama orang yang bukan temanku,” jawab pria itu.
Adel mendengus tak percaya. Awan dan sesi ngambeknya. Lagi!
“Oke, aku juga nggak akan ngomong sama kamu. Tapi, jangan lupa buat bikin daftar itu,” ketus Adel.
Tak ada jawaban.
“Aku ngomong sama kamu!” bentak Adel.
Awan malah membuat gerakan-gerakan dengan jarinya di sofa, seolah menggambar di sana.
Adel mendesiskan u*****n, “s**l! Kamu udah 26 tahun dan kamu akan kayak gini ke aku?!”
Awan masih tetap bergeming.
“Jawab aku!” Adel membentak pria itu.
Awan akhirnya menurunkan kakinya, tapi pria itu pergi, melewati Adel. Dia tampak mencari-cari sesuatu di meja samping ranjang rumah sakit, lacinya, lalu ke lemari yang ada di sana. Pria itu mengeluarkan sebuah benda dari lemari, sebuah ponsel. Ponselnya sendiri.
“Hm … baterainya habis,” gumam pria itu, lalu dia pergi ke arah pintu.
“Kamu mau ke mana?!” seru Adel kesal.
Namun, Awan tak menjawabnya dan keluar dari ruang rawatnya. Adel bergegas menyusulnya. Di koridor, pria itu bertemu seorang perawat dan meminjam charger untuk ponselnya.
Adel menarik napas dalam. Ia benar-benar sudah kewalahan berurusan dengan Awan yang berumur 26 tahun. Sekarang, ia masih harus menghadapi Awan yang berumur 10 tahun dan sedang ngambek padanya? Terkutuklah pria itu!
***