Bab 17 Keluarganya

1795 Kata
Kedatangan kakek Adel di kamar rawat Awan ternyata adalah opening. Sepuluh menit setelah kakek Adel pergi, sepupu-sepupu Adel datang berurutan. Mulai dari sepupu pertama Adel dan istrinya. Sepupu pertama Adel yang tak berakhlak itu berbicara tentang turut berduka cita, seolah ini hari pemakaman Awan. Namun, Adel yang tangguh menanggapi itu dengan, “Aku juga turut berduka karena dia kedatangan tamu kayak kamu.” Nice! Adel 1, Sepupu 0. Sepupu kedua Adel tak kalah akhlak-less-nya. Ini keluarga semua akhlak-less sampai DNA. “Wah, waktu aku lihat karangan bunga di depan kamar ini, aku pikir dia mati,” komentar sepupu keduanya. “Aku tahu kamu berharap dia mati karena kita semua tahu dia akan segera jadi ahli warisku kalau aku mati,” balas Adel santai. “Dan dia bisa nendang kamu dari rumahmu sendiri.” Awan nyaris berdiri dan bertepuk tangan sambil bersorak untuk kemenangan Adel. Adel 2, Sepupu 0. Sepupu ketiga Adel datang seolah hanya sebagai syarat. Tanpa mengatakan apa pun, dia meletakkan bunga dan keranjang buah, lalu pergi. Istrinya yang berpamitan pada Awan dan Adel, hanya mengangguk kecil tanpa kata, lalu pergi juga. Oke, harus Awan akui, kali ini Adel kalah. Berikutnya, sepupu keempat Adel, yang begitu masuk langsung tertawa. Seolah Awan barusan melawak di depannya. Sungguh, Awan takjub bagaimana Adel bisa punya sepupu-sepupu macam ini? Sepupu keempat Adel hanya menepuk pundak Awan dan mengucapkan ‘GWS’, lalu melambai kecil pada Adel dan pergi. Hebatnya lagi, Adel bahkan tak mengangkat tatapan dari ponselnya untuk menatap sepupunya itu. Adel 3, Sepupu 1 mengakhiri skor pertandingan akhlak-less malam itu. Awan pikir ketiga temannya adalah makhluk paling tidak punya akhlak sedunia. Ternyata, masih ada Adel dan sepupu-sepupunya. Ketiga temannya harus belajar lagi dari mereka. “Oke, malam ini nggak ada tamu lagi,” Adel berkata sembari menurunkan ponselnya dan menatap Awan. Wanita itu lalu berdiri dan membawa barang-barangnya, kertas-kertas yang ditumpuk di meja, tas tangan, dan ponselnya. “Kamu mau pulang?” tanya Awan. Adel menggeleng. “Di kamar sebelah. Aku juga mau tidur. Aku capek banget semalam harus tidur di sofa ini.” Adel menatap sofa yang tadi didudukinya dengan penuh dendam. “Kamu … mau tidur di sebelah? Emangnya ada penginapan?” tanya Awan heran. Adel menggeleng. “Aku pesan satu kamar lagi buat aku. Tempat tidur pasien VIP lebih nyaman daripada minta tambahan tempat tidur buat penunggu pasien,” jawab wanita itu dengan entengnya. “Buat jaga-jaga, kalau ada keluargaku yang iseng nyari aku, bilang aja aku pulang buat ambil baju gantimu dan kamu langsung hubungi aku. Aku pergi.” Dan wanita itu benar-benar pergi. Awan benar-benar bertepuk tangan setelah kepergian Adel. Di antara semua makhluk akhlak-less yang dikenal Awan, Adel adalah juaranya. *** Adel mengerutkan kening ketika samar mendengar suara televisi. Ia menarik selimut ke atas kepalanya untuk mengusir suara itu, tapi kemudian terdengar suara tawa yang dikenalnya. Adel seketika membuka mata dan menarik selimutnya turun. Ia terbelalak kaget ketika melihat Awan duduk di sofa kamar tempat ia menginap, menggigit apel sambil menonton televisi di ruangan itu. Adel sontak duduk dan menyembur galak, “Ngapain kamu di sini?!” Awan terlonjak kaget ketika menoleh padanya. “Kamu kenapa, sih? Ngagetin aja. Lagian, ini udah siang. Tadi sekretarismu ke sini, tapi nggak berani bangunin kamu, jadi aku suruh dia pergi dulu.” Awan lalu berdiri dan menghampiri Adel sambil menarik tiang infusnya. “Aku bosan di sini. Kapan aku boleh pulang?” Adel mengembuskan napas kesal sambil menendang selimutnya. “Harusnya besok atau lusa kamu baru boleh pulang. Nanti aku tanyain ke Mama.” Awan manggut-manggut. Pria itu kembali menggigit apelnya, tapi kemudian dia terbatuk. Adel memekik kaget ketika pria itu tiba-tiba jatuh ke tempat tidurnya. Adel berusaha tetap tenang ketika ia membalik tubuh Awan. Ia memeriksa napas pria itu. Tak ada napas. Adel panik. Tatapannya jatuh pada apel di tangan Awan. Apa apelnya tersangkut di tenggorokan? Adel membuka mulut Awan untuk memeriksa, tapi tak bisa melihat apa pun. Adel memutuskan untuk melakukan CPR lebih dulu. Setelah melakukan kompresi d**a, Awan masih tak menunjukkan reaksi. Adel sudah menunduk, hendak memberinya napas buatan, ketika tiba-tiba pria itu tergelak. Adel mundur dan menatap shock pada Awan yang membuka mata, masih sambil tertawa. Matanya sampai berair karena terlalu banyak tertawa. Selama sedetik, Adel merasa lega. Detik berikutnya, tanpa ragu, ia mendaratkan pukulan di mulut pria itu, menghentikan tawanya. Tak berhenti di situ, Adel menyambar rambut Awan dan menjambaknya. Awan seketika menjerit kesakitan. “Del, ampun, Del, aku cuma bercanda,” Awan berkata sembari berusaha melepaskan tangan Adel dari rambutnya. “Ini aku juga lagi bercanda, kok,” balas Adel sambil menarik lebih kuat rambut ikal pria itu. Awan menjerit semakin keras sambil terus minta ampun, tapi Adel masih tak melepaskannya. Berani-beraninya dia membuat Adel ketakutan seperti tadi. *** Setelah tiga hari di rumah sakit, Awan baru bisa pulang ke apartemennya. Namun, traumanya masih berbekas. Bukan, bukan trauma alergi kerang, tapi trauma rontoknya rambut Awan karena dijambak Adel. Bahkan, setiap kali melihat Adel, Awan refleks memegangi rambutnya, melindunginya dari bahaya. Seperti petang itu, ketika Adel datang ke apartemennya, Awan memakai topi sebelum membuka pintu untuk Adel. Wanita itu sepertinya baru pulang bekerja lembur di hari Sabtu ini. “Kamu mau pergi ke mana?” tanya Adel ketika melihat Awan memakai topi. “Nggak ke mana-mana. Buat pelindung aja. Takut rambutku rontok gara-gara seseorang,” sindir Awan. Adel mendengus cuek. “Besok kita harus pergi buat persiapan pesta perusahaan.” Ah, benar juga. Hampir saja Awan lupa. “Kamu udah ngasih tahu adikmu tentang pernikahan kita?” tanya Adel. Awan meringis, menggeleng. Mana sempat? Keburu dia masuk rumah sakit dan dijambak Adel sampai amnesia. “Malam ini kamu makan apa?” tanya Adel lagi. “Belum kepikiran,” jawab Awan. “Mungkin mie instan.” “Kamu baru keluar dari rumah sakit. Harusnya kamu lebih merhatiin makananmu,” tegur Adel sebal. Wanita itu kemudian mendorong Awan minggir dan masuk ke apartemen Awan. Apartemen Adel, sih. Wanita itu pergi ke kulkas dan mengecek isinya. “Kenapa banyak makanan basi di sini?” protesnya. “Aku kan, baru balik dari rumah sakit tadi pagi dan aku belum sempat ngecek kulkasnya,” jawab Awan jujur. Adel membanting pintu kulkas dan menatap Awan tajam. “Kamu udah buat daftarnya?” “Daftar apa?” “Daftar tentang alergi dan semacamnya itu,” sebut Adel. “Oh. Aku lupa. Aku sibuk banget seharian ini,” ucap Awan. “Sibuk?” Adel mendengus meledek. “Kamu kan, pengangguran. Nggak ngapa-ngapain juga. Sibuk apa? Sibuk malas-malasan?” Adel dan mulut manisnya. Gemas sekali Awan ingin menciumnya dengan manis. “Buruan siap-siap. Kita makan malam di luar,” kata Adel sembari mendorong Awan menepi untuk lewat. Wanita itu lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi. Ketika Awan masih belum beranjak dari tempatnya, Adel melemparkan tatapan tajam. “Ngapain masih di situ? Kamu pikir aku punya banyak waktu luang buat dibuang kayak kamu?” ketus Adel. Dulu, ketika ada bagi-bagi kemampuan bicara yang manis, Adel pasti membolos. Bahkan ketika pembagian hati pun, Awan yakin wanita itu hanya titip absen. *** “Besok pagi pastiin kamu udah ngasih daftar itu. Daftar tentang alergimu, sakitmu, hal yang kamu benci dan kamu suka, dan lain-lain,” tuntut Adel ketika mereka menunggu pesanan di restoran. “Kamu juga harus bikin itu buat aku,” kata Awan. “Kalau nanti di depan kakekmu aku salah ngasih kamu makanan gimana?” “Udah aku bilang, aku nggak punya makanan kesukaan atau semacamnya. Alergi, sakit, semua itu nggak ada. Aku selalu rutin check up dan aku sehat,” tandas Adel. “Nggak kayak kamu yang penyakitan.” Awan hanya manggut-manggut. Sepertinya dia benar-benar sudah terbiasa dengan kata-kata Adel. “Lagian, kamu harus ingat. Kamu itu aku bayar. Harusnya kamu nurutin semua perintahku. Paham?” Adel menegaskan. Awan hanya mengangguk cuek sambil memainkan sendok di depannya. Jangan bilang, bocah sepuluh tahun itu datang lagi. “Kalau kamu ngambek lagi …” “Nggak,” sela Awan. “Aku ini orang dewasa. Ngapain pakai ngambek-ngambek?” “Orang dewasa, katamu? Udah berapa kali kamu ngambek nggak mau ngomong sama aku, Bocah?” ledek Adel. “Nyenyenye …” Awan bicara sambil memajukan bibirnya, meledek Adel. Dan apa katanya? Orang dewasa? Awan terselamatkan karena steak pesanan mereka datang. Adel memutuskan untuk tidak membalas pria itu dan menikmati makan malamnya. Namun, ketika Adel memotong steak-nya, ia langsung membanting pisau dan garpunya ke piring. Ia mengangkat satu tangan memanggil pelayan restoran. Begitu pelayan restoran itu tiba di mejanya, Adel menunjuk ke piringnya. “Bukannya tadi aku udah bilang, aku pesan yang medium? Ini well done. Apa aku harus bayar makanan yang nggak aku pengen makan?” sinisnya. Pelayan restoran itu langsung membungkuk meminta maaf. “Maaf, saya akan segera menyiapkan yang baru.” Adel menghela napas kesal. “Nggak perlu. Aku udah nggak selera makan,” ketusnya. Ia menatap Awan yang melongo. “Buruan habisin makananmu.” “Katamu, kamu bukan pemilih dalam hal makanan,” sebut Awan. “Kalau kamu nggak mau makan, kita pergi sekarang.” Adel bahkan berdiri setelah mengatakan itu. Di depannya, Awan buru-buru menyantap makanannya. Adel kembali duduk dan berkata, “Kalau sampai kamu tersedak dan mati di sini, aku nggak akan nolongin kamu.” Awan terbatuk, lalu memperlambat makannya. Pria itu meneguk segelas air putih dan menepuk-nepuk dadanya. Adel menoleh ke luar restoran dan melihat sebuah mobil yang dikenalinya. Ah, benar juga. Kakeknya semakin ketat mengawasi mereka. Adel menghela napas dan menatap ke depan. Ia mengambil serbet dan mengusap bibir Awan. Pria itu seketika menatap Adel dengan tatapan shock. “Kenapa? Kamu pikir aku akan bekap kamu pakai ini?” dengus Adel. Awan berdehem. “Kemungkinan terbesarnya gitu.” “Orangnya kakekku di luar,” sebut Adel. “Oh. Iya. Oke.” Awan melanjutkan makannya. Namun, tiba-tiba Awan menyodorkan sepotong daging pada Adel. “Jangan coba-coba,” desis Adel galak. “Orangnya kakekmu lihat,” kata Awan. “Katamu, kamu nggak ada alergi atau makanan yang disuka dan dibenci. Bukan salahku, kan? Lagian, kamu juga nggak mau bikin daftar itu buat aku.” Adel mendesis kesal. “Harusnya aku biarin aja waktu itu kamu mati keracunan kerang.” “Maaf, yang itu nggak bisa diretur,” balas Awan sembari menggoyangkan garpunya. Adel menarik napas kesal, lalu membuka mulutnya. Awan tersenyum lebar ketika memasukkan sepotong daging ke mulut Adel. “Makannya pelan-pelan. Nanti kalau kamu kenapa-napa, takutnya aku harus nyium kamu kayak yang kamu lakuin ke aku itu,” ucap Awan. “Itu CPR,” desis Adel dengan daging di mulutnya. Awan hanya mengangguk-angguk cuek. “Itu CPR, kataku,” Adel menekankan. Lagi-lagi, Awan menjawab dengan menyebalkan, “Nyenyenye …” Jika tidak ada orang kakeknya, saat ini Adel pasti sudah menjambak Awan hingga kepalanya botak. Adel bersumpah, ia akan melakukan itu nanti. Nanti, begitu mereka hanya berdua. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN