Bab 18 Medan Perang Kelas Berat

1872 Kata
Awan menjerit kesakitan ketika tiba-tiba Adel menjambak rambutnya di depan pintu apartemennya. Tanpa peringatan. Bahkan, ketika Awan membelakanginya saat akan memasukkan kode pintunya. “Del, kamu kenapa, sih? Aku salah apa lagi?” protes Awan sembari memegangi rambutnya yang dijambak Adel. “Berani-beraninya kamu nyuapin aku makanan yang aku nggak pengen!” bentak Adel. “Katamu, kamu nggak punya makanan kesukaan dan semacamnya,” sebut Awan. “Aku bukannya nggak suka, tapi nggak pengen! Apa kamu nggak bisa bedain dua kata itu? Perlu aku cariin guru bahasa Indonesia juga buat kamu?!” bentak Adel dengan tangan semakin keras menjambak rambut Awan. Saat itulah, terdengar seruan panik serombongan manusia tak berakhlak yang baru keluar dari lift. “Bu, Bu, ada apa ini? Semuanya bisa dibicarakan baik-baik.” Wikipedia. “Iya, Bu, jangan pakai k*******n. Kasihani Awan yang lemah dan nggak berdaya ini.” Nugie Bucin. “Iya, Bu. Teman saya ini mungkin nggak banyak gunanya, tapi dia baru aja selamat dari kematian. Masa harus sekarat lagi, Bu?” Ramli memang selain karena uangnya, tidak ada gunanya sebagai sahabat. Namun, hebatnya kekuatan Adel, ketiga pria dewasa itu tak satu pun yang berani menarik tangan kejam Adel dari rambut Awan yang tersiksa lahir dan batin. “Del, ampun, Del, nggak lagi-lagi,” kata Awan. “Tadi itu khilaf.” Akhirnya, Adel mendorong kepala Awan sebelum melepaskan jambakannya. Hampir saja kepala Awan terbentur pintu apartemennya. Auto pecah berkeping-keping. Nggak cuma otaknya yang hilang nanti, nyawanya juga ikut hilang. Barbar sekali calon istrinya ini. “Ini peringatan terakhirku,” ucap Adel tajam. “Dan besok, kita pergi jam sepuluh. Kalau sampai kamu belum siap jam sepuluh tepat, aku botakin kepalamu.” Mampuslah, dibotakin auto jadi avatar Aang. Adel pergi dengan menghentakkan kaki, lalu membanting pintu apartemennya. Awan menghela napas lega bersamaan dengan ketiga temannya yang sama sekali tak berguna. “Lo kenapa lagi sih, Bro? Suka banget bikin perkara sama si Pencabut Nyawa.” Nugie malah menyalahkan Awan. “Hampir aja copot pala lo.” Awan mengusap-usap kepalanya. Traumanya semakin parah. Mulai sekarang, jika bertemu Adel, Awan harus selalu waspada dan memakai topi. Berlapis-lapis kalau perlu, kayak wafer. “Masuk dulu, deh. Gue haus banget, Bro. Minta minum,” kata Ramli. “Udah otak nggak ada, akhlak nggak ada juga. Paket lengkap emang lo, Ram,” kesal Awan sembari menekan kunci kode pintunya. Begitu pintu itu terbuka, Ramli langsung mendorong Awan dan berlari ke kulkas. Ini sahabat kalau dijual pasti tidak akan pernah laku. Jangankan dijual. Tukar tambah pun mana ada yang mau? “Perkara apa, sih, tadi?” Wiki penasaran. “Sampai mau dibotakin segala.” “Biasa lah, temperamen dia kan selalu gitu. Tinggi mulu. Senggol dikit auto bacok,” jawab Awan sembari melempar tubuh ke sofa ruang tamunya. Ketika Nugie ikut melompat ke arahnya, Awan refleks menendang pantatnya. Nugie seketika tersungkur di depannya. “Heh! Ngajak gelud, ya?!” Nugie melotot kesal. “Eyes-nya dipakai, Bung. Udah ada penumpangnya. Kursi sebelah, kek,” gemas Awan. “Ya ngomong baik-baik kan, bisa,” sungut Nugie. “Mana sempat? Keburu pangku-pangkuan. Sekalian gue ninaboboin mau? Sambil dikasih dot baygon,” ucap Awan asal. “Mulut nggak ada akhlak emang lo,” desis Nugie sembari duduk di sofa lain. “Tapi, lo ngapain mendadak ngundang kita ke sini?” tanya Wiki yang langsung selonjoran di karpet. “Paling juga kesepian. Kan, punya calon bini rasa jomblo,” celetuk Ramli yang baru datang dari dapur dan langsung rebahan di samping Wiki, macam kain pel. “Besok gue ada pesta. Pesta ulang tahun Grup Wiratmadja. Sekalian pernikahan gue minggu depan diumumin di sana,” beritahu Awan. “Biar kalian rada berguna dikit jadi sahabat, bantuin gue kek, mikirin gimana harus ngehadapin orang-orang di pesta itu ntar. Gue mau maju ke medan perang, nih.” “Tamu undangannya pasti kelas berat semua, Bro,” kata Wiki. “Jago gulat sama tinju semua pasti,” celetuk Ramli. “Apa hubungannya?” protes Awan. “Kan, kelas berat,” sebut Ramli. “Sabar, Bro. Berat emang punya teman macam Ramli,” hibur Nugie. “Coba minta list undangannya ke calon bini lo, Bro. Anggap aja latihan buat pesta pernikahan lo ntar,” usul Wiki. Awan mengangguk, lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Adel, meminta list tamunya. Dalam dua menit, Adel membalas dengan mengirimkan sebuah file power point. Ditambah tulisan, ‘Kamu lihat pun, kamu nggak akan kenal mereka. Ingat, kamu nggak boleh ngomong sembarangan di pesta nanti.’ Sekalian saja Awan tidak boleh berbicara. Lalu, masuklah pesan Adel berikutnya. ‘Sekalian aja kamu nggak usah ngomong apa pun di pesta nanti.’ Kan, kan …. “Gimana, Bro?” tanya Wiki. Awan membuka file yang dikirim Adel dan langsung memberikan ponselnya pada Wiki. Wiki membaca nama-nama itu dan ber-wow hampir di setiap nama yang dia sebutkan. “Ini sih, bukan kelas berat lagi, Bro,” sebut Wiki. “Kelas raksasa. Titan. Bukan cuma VIP. VVIP.” “Gue udah minder duluan dengar nama-namanya, Bro,” kata Nugie. “Lo udah pernah ketemu orang-orang yang disebut Wiki tadi, Ram?” tanya Awan. “Sebagian. Tapi, gue juga nggak begitu kenal sama mereka,” jawab Ramli. “Ini ada ketua yayasan kampus gue, yang punya istri dua sama-sama suka ribut,” beritahu Wiki. “Bos besar penerbitan gue juga ada, tuh,” tambah Nugie. “Ada kakek gue juga,” ucap Ramli. “Oh iya, gue lupa. Brahmana kan, kakek lo ya, Ram?” sebut Wiki. “Bokapnya Ramli aja udah tajir. Itu kakeknya lebih tajir lagi,” ucap Nugie. “Dan itu kakeknya Ramli, orang setajir bokapnya Ramli aja kagak diakuin mantu.” “Saking kagak diakunya, gue sampai lupa kalau Ramli punya kakek sultan,” timbrung Awan. Bahkan, sejarah kakek Ramli pun hanya mereka yang tahu. Kalau sampai teman-teman di kampus mereka tahu, bisa-bisa pada nempel semua kayak perangko ke Ramli. Maklum, kakeknya semacam sultan sungguhan. “Trus, kata calon bini lo gimana?” tanya Wiki sembari mengembalikan ponsel Awan. “Disuruh nggak usah ngomong,” jawab Awan. “Malah enak, dong,” sambar Ramli. “Tinggal makan-makan doang di sana ntar. Pasti banyak makanan enak.” “Tuhan Maha Adil, makanya Ramli diciptain kayak gini.” Wiki mengusap-usap kepala Ramli, seolah Ramli hewan peliharaannya. Ramli malah keenakan dan mulai merem, siap tidur. Inilah keadilan, Saudara-saudara! *** Ini sungguh tidak adil untuk Adel. Berapa kali pun Adel memikirkan kejadian di restoran tadi, menjambak rambut Awan saja terasa tidak adil bagi Adel. Seumur hidupnya, tak pernah ada seorang pun yang memaksa Adel memaksa makan makanan yang tak diinginkannya. Apalagi meledek Adel seperti tadi. Seharusnya tadi Adel benar-benar membotaki kepala pria itu saja. Lihat saja, kalau sampai besok pria itu membuat masalah lagi, Adel tidak akan dengan mudah melepaskannya. Selama ini Adel sudah cukup bersabar menoleransi kegilaan, kekurangajaran, dan kebodohan pria itu. Adel yang duduk di atas sofa ruang tamunya mengangkat kaki ke sofa dan bersila. Ia meletakkan kedua tangannya di lutut, lalu memejamkan mata. Adel menarik napas dalam. Menahannya selama lima detik, lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah beberapa kali melakukan itu, Adel merasa lebih tenang. Adel mengambil ponsel dari tasnya dan mengirim pesan pada Lucy, memintanya menyiapkan gaun dan stelan untuk pesta besok. Setelahnya, Adel mengecek jam. Belum jam sembilan. Adel menatap ke pintu, matanya menyipit. Biasanya, Awan suka tiba-tiba muncul di depan pintunya dengan hal-hal aneh jika bersama teman-temannya. Sebenarnya, Adel sudah lelah dan ingin segera mandi dan tidur, tapi ia malas jika harus keluar kamar lagi karena Awan tiba-tiba datang. Sepuluh menit. Adel akan menunggu sepuluh menit. Adel menatap jam di ponselnya. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sembilan menit. Sepuluh menit. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Awan. Lima menit lagi. Tidak ada apa-apa. Tiga menit lagi. Masih tak ada apa-apa. Baiklah. Satu menit. Setelah satu menit berlalu dan tak ada suara bel, Adel berdiri dari sofa. Ia sudah akan pergi ke kamarnya, tapi ia pergi ke pintu apartemennya dulu. Ia mengecek dari monitor LCD-nya. Koridor lantai itu kosong, pintu unit apartemen Awan juga tertutup. Adel menghitung sampai sepuluh sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Jika nanti Awan datang, Adel tidak akan mau repot-repot membuka pintu atau menemui pria itu. *** Jam sepuluh tepat, pintu apartemen Adel terbuka dan wanita itu keluar. Awan yang sudah menunggu di depan pintu apartemennya, bersandar di sana, menegakkan tubuh. “Sejak kapan kamu di situ?” tanya Adel. “Sepuluh menit yang lalu,” jawab Awan. “Kamu … semalam nggak nyari aku atau mencet bel apartemenku, kan?” tanya wanita itu. Awan mengerutkan kening, menggeleng. “Kenapa? Semalam ada yang mencet bel apartemenmu?” Adel berdehem. “Nggak tahu juga. Mungkin semalam halusinasiku aja. Aku tidur lebih awal juga,” ucapnya. “Daftar yang aku minta mana?” tuntutnya kemudian. “Iya, iya, nanti aku kirim ke kamu,” balas Awan kesal. Ia kemudian merapatkan topi yang dipakainya. Adel mendengus ketika tiba di depan Awan. “Semoga hari ini rambutmu aman, ya?” ucap wanita itu tanpa dosa. Awan melemparkan tatapan siap perang padanya. Adel mengabaikannya dan berjalan lebih dulu ke lift. Awan hanya bisa menghela napas dan menyusul wanita itu. “Kita pergi pakai mobilku, kan?” tanya Awan. Adel mengangguk. “Pastiin mobilmu selalu bersih dan nggak bau. Seminggu sekali bawa ke salon.” “Cih. Cuma mobil aja sampai segitunya,” cibir Awan. “Kamu minta dijambak sampai rontok?” ancam Adel. “Iya, iya. Seminggu sekali aku salonin,” Awan mengalah dengan cepat sebelum dia jadi avatar Aang. Segala jadi Aang, jangankan menguasai udara, air, api, tanah, menguasai seorang Adel saja tidak bisa. Yang ada Awan malah jadi tanah yang diinjak-injak Adel. “Kita ke tempatnya Lucy,” beritahu Adel begitu mereka sudah masuk ke mobil. Awan hanya mengangguk. Namun, ketika hendak melajukan mobilnya, Awan melirik Adel waspada dan merapatkan topinya. “Tenang. Aku nggak akan nyerang pas musuhku nggak lihat,” ucap Adel. “Kemarin kamu nyerang dari belakang, tahu!” geram Awan. “Khilaf,” sahut Adel dengan entengnya. Khilaf! Huh! Seolah Awan percaya. Namun, Awan tak berani protes dengan keras. Daripada botak. Awan akhirnya membawa mobilnya pergi dari basemen parkir apartemen menuju salon dan butik Lucy. Ketika mereka sudah dekat dengan butik, ponsel Awan berbunyi. Ia mengambil ponsel dan mengangkat teleponnya. “Bang, sori ganggu. Bulan lagi di rumah sakit sama Safa dan aku lagi dinas di luar kota. Tolong, Bang, temenin mereka …” Suara itu terdengar khawatir. “Kirimin alamat rumah sakitnya,” jawab Awan. Ia menurunkan ponselnya. Tepat ketika mereka tiba di jalan depan butik Lucy, ada pesan masuk di ponselnya. Awan langsung mengecek alamat rumah sakit yang tertulis di sana dan seketika menambah kecepatan, melewati butik Lucy. “Kamu mau ke mana? Butiknya Lucy udah kelewat. Kamu udah gila?!” Adel berteriak di sebelahnya. “Darurat,” Awan menjelaskan. “Tolong, bantu aku kali ini aja,” pintanya sepenuh hati. Di sebelahnya, Adel mendesis kesal. “Kalau sampai ini hal nggak penting lagi, aku pastiin kamu akan pulang dengan kepala botak.” Untuk yang satu ini, Awan tidak akan protes kalaupun Adel membotaki kepalanya. Meski ini adalah hal yang tak penting bagi Adel, tapi ini hidup Awan. Setidaknya, salah satu dari sedikit hal yang ingin ia lindungi. Bahkan dengan nyawanya sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN