Bab 19 Wanita Nomor 1

1682 Kata
Adel menahan segala macam omelannya ketika melihat kekhawatiran Awan sepanjang perjalanan entah ke mana mereka pergi. Hingga mereka tiba di rumah sakit, Adel tak tahan untuk bertanya, “Siapa yang sakit?” Awan menggeleng. “Aku belum tahu. Tapi, adik sama keponakanku di sini,” jawabnya. Jadi itu, sumber keberanian Awan melawan Adel. Awan menghampiri seorang satpam dan menanyakan arah ruang rawat yang dicarinya. Pria itu bergegas pergi ke arah yang ditunjukkan satpam. Dia sampai meninggalkan Adel. Untungnya, di tengah koridor, pria itu sepertinya teringat dan berhenti, lalu berbalik kembali ke arah Adel. “Sori, aku lupa sama kamu. Terlalu panik,” katanya. Lalu, mengejutkan Adel, pria itu menggandeng tangan Adel dan menariknya pergi. Adel masih diam saja di koridor pertama. Ketika mereka berbelok ke koridor kedua, Adel sudah akan protes, tapi Awan tiba-tiba berbelok masuk ke sebuah ruangan. Ruang Mawar. Mereka masuk ke dalam ruangan yang berisi beberapa ranjang pasien. Tiga ranjang terisi pasien anak kecil di ruangan itu. Salah satunya, ranjang yang langsung dihampiri Awan setelah melepas tangan Adel. “Bulan, Safa kenapa?” tanya Awan cemas. Seorang wanita dengan kecantikan yang lembut tampak terkejut menatap Awan. “Kakak ngapain di sini? Kok bisa tahu aku di sini?” “Amri telepon Kakak tadi, dia khawatir banget,” beritahu Awan. “Padahal udah aku bilangin buat nggak ngabarin Kakak. Kakak pasti khawatir.” Wanita itu menatap Awan dari atas ke bawah dengan cemas. “Kakak udah makan?” Awan mengangguk. “Makan apa? Mie instan lagi?” Wanita ini sepertinya tahu sekali tentang kehidupan Awan. Bahkan kemudian, wanita itu mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan, menyodorkannya pada Awan. “Kakak makan dulu, deh. Beli nasi, daging, makanan yang sehat dan enak.” Wanita itu mendorong Awan pergi, hingga dia melihat Adel dan berhenti. Dia menatap Awan dan Adel bergantian. “Kak, jangan bilang, cewek ini …” “Um … biar aku kenalin kalian dulu. Adel, ini Bulan, adikku. Bulan, ini Adel, calon istriku …” “APA?!” Bulan sampai berteriak, membuat ibu-ibu di ruangan itu langsung menegurnya. Bulan menatap ibu-ibu lain dan meminta maaf. Dia menoleh ke ranjang tempat anaknya berbaring untuk mengecek jika anaknya aman sebelum menarik Awan ke pojok ruangan. Adel tadinya tidak mau ikut, tapi ia penasaran juga melihat Awan diomeli oleh wanita selain dirinya. Adel diam-diam bergeser mendekat dan ikut mendengarkan. “Kamu bilang apa? Calon istri? Kamu udah gila, Kak? Kamu manfaatin dia sampai segitunya?” Bulan melotot pada Awan. “Yang ini beneran bukan gitu,” balas Awan dalam desisan. “Bukan gitu apanya? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu manfaatin cewek-cewekmu buat biaya hidup?” Bulan tampak frustrasi. “Kak, daripada kayak gitu, Kakak mending pulang dan …” “Aku nggak bisa pulang, kamu tahu itu,” Awan memotong tajam. Awan lalu menatap Adel sekilas dan menarik Bulan ke depan Adel. “Aku cinta sama Adel dan minggu depan kami menikah.” Bulan mendengus tak percaya. Wanita itu lantas meraih tangan Adel. “Kak, maafin Kak Awan, ya? Sebenarnya, Kak Awan itu cuma manfaatin kamu. Dia …” “Kami saling mencintai,” Adel menyela Bulan. “Aku tahu tentang apa yang dia lakuin sebelum ketemu aku, tapi kamu nggak perlu khawatir. Kali ini, dia benar-benar jatuh cinta, kok. Lagian …” Adel mengusap perutnya, “dia harus bertanggung jawab.” Bulan terkesiap dan menutup mulutnya. Dia melotot pada Awan yang menggeleng panik, tapi Bulan langsung menarik Awan keluar dari ruangan itu dan Adel bisa mendengar Awan berteriak kesakitan, sepertinya dipukuli Bulan. Puas dengan itu, Adel pergi ke ranjang tempat keponakan Awan berbaring. Adel membaca identitas di papan identitas pasien di ranjang itu. Safa Mutiara A. 1 tahun. Adel memperhatikan tubuh mungilnya yang terbaring di ranjang pasien. Ketika bayi itu tersentak dalam tidurnya, Adel mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk sisi tubuhnya dengan lembut. Adel tersentak ketika tangan mungil bayi itu bergerak dan memegangi jari kelingking Adel. Lama Adel menatap bayi itu. Cantik dan menggemaskan. Adel tak dapat menahan senyum ketika bayi di depannya itu tersenyum dalam tidurnya. *** Awan sempat membeku, mematung, saking shock-nya melihat Adel yang tersenyum lembut sembari menatap Safa. Tak hanya itu, tampak tangan mungil Safa menggenggam jari Adel. Awan merasakan degup jantungnya meningkat. Inikah yang dinamakan sakit jantung? Apa perlu Awan sekalian check up mumpung di rumah sakit? “Yang ini … kayaknya kamu benar-benar jatuh cinta ya, Kak?” Kalimat Bulan itu membuat Awan menoleh. “Ha? Apa?” Bulan tersenyum. “Kelihatan kok, dari mata Kak Awan.” Kelihatan apa? Awan mengangkat ponsel dan membuka kamera, mengecek bayangan wajahnya di sana. Ia sampai melotot melihat matanya. “Bodoh,” gumam Bulan sebelum meninggalkan Awan dan mendekati Adel dan Safa. Awan menyimpan ponselnya di saku celana sebelum menyusul. Ia berdiri di seberang Adel yang sudah menarik tangannya dari pegangan Safa. “Safa kenapa, Lan?” tanya Awan akhirnya. Dan akhirnya, Bulan menjawab, “Demam. Aku juga kaget dia semalam mendadak demam tinggi dan nangis terus nggak berhenti-berhenti. Mas Amri juga lagi di luar kota. Makanya aku bawa ke rumah sakit dan tadi baru aku ngabarin Mas Amri. Ini masih nunggu hasil tes darahnya,” beritahu Bulan. “Kenapa hasilnya belum keluar juga?” tanya Adel. “Kita pindah rumah sakit aja. Biar aku telepon mamaku.” Adel mengambil ponsel dari tas tangannya. Bulan menatap Awan bingung. “Orang tuanya dokter,” jelas Awan. Bulan lalu menahan tangan Adel. “Nggak pa-pa, Kak, di sini aja. Sebentar lagi juga …” Adel menggeleng dan menarik tangannya dari pegangan Bulan. Ia kemudian berbicara di telepon, “Ma, ini keponakannya Awan sakit. Umur satu tahun. Semalam dibawa ke rumah sakit kondisinya demam tinggi dan anaknya nangis terus. Ini masih nunggu tes darah lama banget.” Adel menatap Safa dan menyentuh keningnya. “Ini juga masih demam.” Adel tampak menyimak kata-kata mamanya karena wanita itu hanya mengangguk-angguk. “Oke, Ma. Makasih.” Adel lalu menutup telepon dan menatap Bulan. “Mama langsung ngurus semuanya, jadi ini kita tinggal bawa anak kamu ke rumah sakit mamaku aja,” ucap Adel. Bulan mengerjap bingung. “Itu … rumah sakit mamamu?” Adel menggeleng. “Tapi, papaku direktur rumah sakitnya. Ayo ikut aku urus kepindahannya.” Bulan masih tampak bingung, tapi dia terpaksa menurut ketika Adel melangkah pergi. Awan menunggu di samping ranjang pasien dan menatap Safa. Awan tersenyum dan mengusap lembut kepala Safa. “Kamu beruntung, Bayi. Meski ommu nggak guna, tapi kamu punya calon tante yang baik dan perhatian sama kamu. Padahal, kalau sama Om dia galak banget,” aku Awan. Bibir Safa bergerak kecil, membentuk senyum tipis. Apa dia meledek Awan? Namun, mengingat perhatian Adel pada Safa, Awan lega. Ia pikir, Adel akan bersikap dingin pada Bulan dan keluarganya. Wanita itu sendiri yang sudah mengingatkan Awan bahwa dia tidak mau membuang-buang waktunya menemui adiknya di pesta pernikahan mereka nanti. Namun, siapa sangka, wanita itu kini justru mengurus adik dan keponakan Awan dengan baik. Ternyata, Adel tidak selalu menepati kata-katanya. Awan tersenyum dan menggenggam tangan mungil Safa. “Calon tantemu itu aneh, Bayi,” beber Awan, masih dengan senyum di bibirnya. *** Begitu mereka datang di rumah sakit tempat orang tua Adel bekerja, mama Adel sendiri yang datang dan mengantar mereka ke kamar rawat. Mama Adel juga yang mengambil darah Safa untuk dites. Seorang dokter anak langsung masuk ke ruangan tak sampai lima menit setelah mereka tiba di kamar rawat. Sementara Bulan berbicara dengan dokter yang merawat Safa, Adel keluar dengan Awan. “Makasih,” ucap Awan begitu mereka berada di luar kamar rawat VIP. Adel hanya mengangguk sembari bersandar di dinding koridor. “Kamu nggak perlu ngelakuin ini buat keluargaku,” ucap Awan lagi. “Udah telanjur gini. Mau aku balikin lagi mereka ke rumah sakit tadi?” sinis Adel. “Bukan gitu maksudku,” debat Awan. “Aku cuma … berterima kasih banget. Banget banget banget, gitu maksudku.” Adel lagi-lagi hanya mengangguk. “Buat aku, dia satu-satunya keluargaku,” Awan berkata. “Karena cuma dia yang nerima aku meski aku nggak berguna kayak gini. Kamu juga udah tahu sendiri betapa nggak bergunanya aku.” Adel berdehem. Well, ia memang selalu menyebut Awan tak berguna, tapi … “Aku selalu aja ngerepotin dia dan bikin dia khawatir,” lanjut Awan. “Buat aku, dia orang nomor satu di hidupku. Dia wanita nomor satu di hidupku.” Adel mengerutkan kening. “Bukan ibumu?” Awan menggeleng. “Ibuku kabur dari ayahku, ninggalin aku sama Bulan waktu Bulan masih bayi. Waktu kabur, ibuku meninggal.” Adel tertegun. “Aku tahu ibuku pergi karena ayahku orang yang keras, juga karena istri ayahku sekarang, jadi aku nggak bisa nyalahin ibuku, tapi … tetap aja, dia udah ninggalin aku sama Bulan,” urai Awan dengan tatapan lurus ke depan. Adel tak tahu harus menanggapi bagaimana. “Bahkan terkadang, aku ngerasa kangen sama ibuku. Setelah dia kabur ninggalin aku sama Bulan dan meninggal pas jauh dari kami kayak gitu.” Awan mendengus pelan, seolah meledek dirinya sendiri. “Bodoh, kan?” Awan menoleh padanya. Adel mengerjap. Ia memerintahkan otaknya untuk bekerja memikirkan jawaban, hingga kemudian bibirnya meloloskan jawaban, “Ya. Kamu kan, emang bodoh.” Bahkan Adel terkejut dengan jawabannya itu. Ia hanya … ia tak pernah mendengar cerita seperti ini langsung dari seseorang, menghadapi kisah sedih seseorang. Ia tak pernah … Awan mendengus, lalu menatap ke depan dan mengangguk setuju. “Jadi, itulah kenapa Bulan adalah wanita nomor satu di hidupku. Selain ketiga temanku, cuma Bulan sama keluarga kecilnya yang ada di daftar kesukaanku. Cuma itu yang perlu kamu tahu di daftar itu.” Pria itu menoleh sekilas pada Adel. “Karena itu, makasih kamu udah bersikap baik di depannya. Aku janji, aku akan jadi suami sempurna yang kamu butuhin.” Adel berdehem dan mengangguk. “Emang udah seharusnya gitu. Kamu kan, udah aku bayar.” “Itu artinya, aku harus bekerja super keras buat jadi suami sempurnamu. Iya, kan?” sebut Awan. “Bagus deh, kalau kamu tahu,” sahut Adel cuek. Adel melirik Awan dan pria itu hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Sepertinya, Awan benar-benar menyayangi adiknya. Wanita nomor satu di hidup pria itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN