Bab 20 Welcome to The Jungle

1626 Kata
“Apa kalian udah gila? Belum-belum kalian udah terlambat.” Sambutan Alfa, sepupu ketiga Adel, menjadi pembuka perang Awan malam itu. Bayangkan, telat lima menit datang ke pesta saja disebut gila. Pantas saja selama di butik Lucy tadi Adel begitu sensi. Dia nyaris menjambak Awan lagi ketika Awan menolak ditata rambutnya. Meski di depan Lucy, seperti biasa, Adel menggoda Awan dengan sukses. Hampir saja Awan mencium Adel di depan Lucy. Tepukan di bahu Awan membuatnya menoleh. Very, sepupu keempat Adel nyengir lebar. “It’s okay. Pahlawan muncul di akhir. Right, Bro?” “Don’t ‘bro’ him. He’s not your bro,” ketus Adel. Mantap sekali Adel kalau berbicara. Cabenya tak pernah lupa. Dua musuh belum cukup? Tenang saja. Duo Upin-Ipin Thomas dan Benjamin, sepupu pertama dan kedua masih ada. Mereka yang tadinya menggandeng istri masing-masing, langsung meninggalkan pasangan mereka dan ikut menghampiri Adel dan Awan. Awan seolah bisa mendengar suara pistol dikokang. “Nilai minus di pesta pertama, huh?” Thomas tersenyum sinis pada Awan. “Better than you, yang nilai minusnya di setiap pesta,” tembak Adel. “Kakek nggak akan suka. Kalian udah jadi perhatian sejak rumor pernikahan kalian tersebar. Dan apa? Datang terlambat ke pesta pengumuman pernikahan kalian?” Benjamin tertawa meledek. “Thanks, Dude,” Adel membalas enteng. Awan sempat heran untuk ucapan terima kasih itu. Namun, kalimat Adel selanjutnya membuat Awan nyaris tertawa di wajah Benjamin, “Pengumuman pernikahanku emang lebih penting dari perayaan ulang tahun perusahaan. We all know that aku lebih penting dari apa pun atau siapa pun yang ada di sini. Right?” Adel menepuk pundak Benjamin dengan ekspresi jijik, lalu menarik Awan pergi dari sana. Jika Adel dan sepupu-sepupunya bertemu, tidak pernah ada pertemuan yang manis layaknya keluarga. Saling menyapa dan menanyakan kabar? Hm, mana sempat? Keburu lempar-lemparan granat. Kakek Adel yang sedang menyampaikan pidato sambutan di stage kecil di ball room hotel itu akhirnya menatap Adel dan Awan. Seorang pria berjas hitam yang berdiri di samping stage, bahkan tanpa diperintah atau diberitahu, langsung pergi menghampiri Adel dan Awan. “Silakan, Nona,” katanya sembari mengarahkan jalan dengan sopan dengan kedua tangannya. Adel tak menyahut dan mengalungkan tangan di lengan Awan, menariknya ke arah stage. Lalu, Awan mendengar kakek Adel mengumumkan, “Di hari bahagia ini, saya ingin mengumumkan pesta pernikahan cucu saya, sekaligus calon pewaris Grup Wiratmadja, minggu depan.” Seketika, tepuk tangan membahana di ball room hotel itu. Adel lalu menarik Awan naik ke atas stage. Wanita itu tersenyum pada kakeknya. Hanya senyum sebagai formalitas. Ketika Adel akhirnya diberi kesempatan berbicara di atas stage, hal pertama yang diucapkannya adalah, “Saya membesarkan A Café tanpa bantuan Grup Wiratmadja. Jika kalian pikir, saya hanyalah bocah manja yang hanya duduk ongkang-ongkang kaki, lalu mendapat perusahaan seperti mendapat permen, kalian salah. Pertama, saya bukan bocah manja. Kedua, saya tidak suka permen.” Awan mengerjap. Ya, memang Adel tidak suka permen biasa. Dia hanya suka … permen kapas. Awan lebih terkejut lagi ketika kata-kata Adel itu justru mendapat sambutan tepuk tangan meriah. Ini orang-orang para pemuja kesombongan dan keangkuhan Adel atau apa? Awan merasa seolah berada di perkumpulan sekte pemuja Adel. “Meski kamu nggak suka, tapi itu milikmu,” kata kakek Adel pelan pada Adel. Adel tersenyum miring. “Biasanya kalau aku nggak suka, aku muntahin makanannya.” Wahai Nona Adelia Wiratmadja, di mana gerangan dirimu ketika pembagian akhlak? Kakek Adel tampak menahan kesal, lalu mengambil alih pidato Adel dan menyebutkan tentang tempat pesta pernikahan, undangan terbatas untuk orang tertentu. Terbayangkah, orang tertentu dari tamu VVIP yang ada di sini? VVVVVIP sekali tamu undangan pestanya nanti. Padahal Awan hanyalah seorang VUP. Very Unimportant Person. Mungkin, Awan bahkan tak lebih penting dari karpet tebal di bawah kakinya ini. Karpet yang tebal dan tampak lembut. Tanpa kasur pun, Awan bisa tidur nyenyak di karpet ini. Lalu, diinjak-injak Adel. Auto jadi karpet Awan. Karpet Aladdin? Lewat. *** Jam dua belas tepat, Adel dan Awan baru bisa meninggalkan tempat pesta. Setelah kakeknya mengingatkan Adel agar mulai serius mengurus Grup Wiratmadja, yang ditanggapi Adel dengan menguap dan alasan sudah sangat mengantuk. Bahkan, Adel berpura-pura hampir pingsan di pelukan Awan demi segera meninggalkan tempat pesta. “Kamu kenapa sih, nggak bisa bersikap sopan ke kakekmu sendiri?” tanya Awan. Adel menguap bosan. “Setelah dengar pengumuman kakekku tadi pasti kamu udah ngerasa kaya banget karena akan jadi suamiku. Ya, emang kalau nanti aku mati, semua yang diwariskan kakekku itu jadi milikmu setelah kita nikah. Tapi, itu kalau aku mati. Sayangnya, aku sekarang masih hidup, sehat, dan baik-baik aja. Jadi, kamu belum benar-benar kaya dan punya cukup banyak uang buat nyeramahin aku, oke?” Lancang sekali pria ini memprotes kesopanan Adel. “Gimanapun juga, dia kakekmu. Sampai dia mewariskan semua itu ke kamu, itu berarti dia sayang ke kamu, kan?” Awan belum mau mengalah. Adel mendengus mendengar itu. “Sayang? Kamu salah paham. Jangan terlalu naif. Di duniaku, nggak ada yang kayak gitu. Keluarga? No. Kamu lihat sendiri sepupuku. Sedetik aja aku balik badan dari mereka, mereka siap nusuk aku dari belakang. “Dan kenapa kakekku mau mewariskan Grup Wiratmadja ke aku? Karena sayang sama aku? Sama sekali bukan itu. Tapi, karena dibanding sepupu-sepupuku yang lain, aku yang paling mampu ngurus perusahaan sebesar itu. Itu udah terbukti dengan kafe yang aku bangun sendiri mulai dari nol. “Jadi, buang imajinasimu tentang keluarga harmonis yang menyayangi satu sama lain. Wiratmadja bukan keluarga kayak gitu. Dan di keluargaku, yang paling berkuasa yang menang. Siapa pun yang nantinya dapat grup Wiratmadja, bisa ngusir yang lainnya dari rumah mereka, dari perusahaan, bahkan dari negara ini. Tentunya, itu nggak berlaku buat aku yang nggak masuk di perusahaan grup Wiratmadja. “Rumah? Keluarga? Wiratmadja bukan tempat kayak gitu. Itu medan perang. Itu hutan. Yang kuat yang menang. Yang kayak kamu gini, incaran paling empuk buat mereka. Kamu punya banyak kelemahan. Kamu lemah karena berpikir Wiratmadja adalah keluarga,” tandas Adel. Awan yang sedang menyetir hanya diam selama beberapa saat. Hingga ketika mobil berhenti di lampu merah, Awan berbicara, “Aku pikir, aku diusir ayahku dari rumah adalah yang terburuk. Ternyata, punya keluarga yang bikin kita kayak selalu di medan perang dan hutan itu lebih buruk lagi, ya?” Adel mendengus sinis. “Tapi, emangnya hidupmu seburuk apa waktu diusir ayahmu? Kamu hidup di jalanan? Nggak, kan? Kamu masih bisa hidup nebeng teman-temanmu yang bodoh itu, masih bisa nebeng makan dari cewek-cewek yang kamu tipu itu. Buruk apanya? Jangan ngebandingin betapa buruknya hidupmu sama hidupku. Keluarga Wiratmadja bukan sainganmu.” Adel tersenyum meledek. “Tapi, aku emang pernah hidup di jalanan,” jawab Awan. Senyum Adel menghilang. “Aku pernah tidur di jalanan, kehujanan dan kepanasan karena gak punya tempat pulang, bertahan hidup dengan sebungkus nasi pemberian orang yang iba lihat aku,” lanjut Awan. “Waktu itu, aku diusir ayahku. Aku sempat kerja di beberapa tempat, tapi pada akhirnya aku selalu dipecat atau mengundurkan diri. Kalau aku nggak mengundurkan diri, temanku yang akan dipecat. Selalu kayak gitu, ke mana pun aku pergi. Ayahku yang buat kayak gitu. “Aku akhirnya nyerah karena aku terus bikin susah orang-orang di sekitarku. Karena nggak kerja, aku nggak punya uang dan berakhir hidup di jalanan. Waktu itu, aku malu buat datang ke adikku atau teman-temanku. Aku nggak mau ngerepotin mereka. Dan aku malu kalau mereka tahu aku kalah dari ayahku. Benar-benar kalah.” Awan tersenyum sendu. “Dulu, aku juga menjunjung tinggi harga diri. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar, itu nggak bikin aku hidup.” Awan menoleh pada Adel. “Aku ingat banget, hari itu hujan, aku berteduh di bawah jembatan penyeberangan, tapi aku masih kehujanan. Bulan sama teman-temanku nemuin aku dan mereka nangis lihat keadaanku. Bulan yang ngajak mereka nyari aku karena tahu aku udah pergi dari kosku. “Waktu aku lihat Bulan dan teman-temanku sampai nangis kayak gitu, aku sadar, harga diri nggak bikin aku bertahan hidup. Dan harga diri nggak bikin orang-orang yang aku sayang bahagia. Jadi, karena mereka aku mencoba bertahan. Harga diri? Udah sejak lama aku ngebuang itu. “Ngutang sama Ramli? Nebeng makan sama cewek-cewek yang jadi pacarku meski aku nggak cinta mereka? Manfaatin teman-temanku buat sepiring nasi? Jadi baby sitter keponakanku demi uang dari adikku sendiri? Itu nggak masalah. Karena itu yang bikin aku hidup kayak orang-orang lain. Dan karena dengan gitu, adik sama teman-temanku nggak perlu khawatir lagi tentang aku. “Tapi, meski aku hidup dengan menyedihkan, tanpa harga diri, aku punya adik dan teman-teman yang tulus peduli dan sayang sama aku. Seberat apa pun masalahku, aku punya mereka. Tapi, kamu nggak kayak gitu. Aku aja nggak mau pulang ke rumah karena punya satu musuh, ayahku. Gimana dengan kamu yang punya begitu banyak musuh? Setiap malam, apa kamu bahkan bisa tidur nyenyak? “Sekarang aku ngerti kenapa kamu selalu bersikap seolah siap perang kapan pun, di mana pun. Ternyata, hidupmu selama ini selalu tentang itu. Kamu tumbuh dan dibesarkan orang tua yang penuh cinta, mereka nggak mungkin ngajarin kamu perang. Tapi, kamu harus menghadapi musuh-musuh yang siap menjatuhkan kamu kapan pun setiap ada kesempatan. “Aku nggak bisa ngebayangin apa aja yang udah kamu alamin selama ini, berapa banyak serangan yang harus kamu hadapi sendiri sampai-sampai kamu bisa jadi sekuat ini. Aku mungkin nggak bisa bantu perangmu, tapi satu hal yang bisa aku janjiin, aku nggak akan jadi kelemahanmu.” Awan tampak sungguh-sungguh mengatakan itu. Adel memutus kontak mata mereka dan menatap ke depan. Lampu sudah menyala hijau, tapi detik berikutnya sudah berganti kuning, lalu merah. Jalanan itu lengang, kosong, hanya ada mobil mereka. Saat ini, seolah hanya ada mereka di sini. Kesunyian malam itu seolah menjadi saksi. Akan kisah perjuangan Awan dan Adel untuk tiba di hari ini, di jalan ini. Berdua seperti ini di tengah malam yang sepi ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN