Prolog
Di tengah ramainya coffee shop itu, ia mengobrol bersama beberapa orang yang baru ia temui hari ini. Sebenarnya mereka sudah beberapa kali saling bertukar informasi melalui email dan juga pesan singkat, tapi baru kali ini mereka semua berkumpul di satu waktu dan tempat yang sama. Mereka saling bertukar kertas resmi yang sudah memiliki kop dan cap basah perusahaan. Mereka juga menandatangani kertas-kertas itu dan memastikan kertas itu tersimpan aman di dalam amplop cokelat yang sudah mereka bawa. Setelah kurang lebih 1 jam lamanya berdiskusi, beberapa orang yang berpakaian rapi itu berpamitan dan meninggalkannya sendiri di sudut cafe itu.
Sepeninggalnya mereka, ia kembali terduduk dan termenung, pandangannya kosong melihat ke arah luar jendela. Saat ini, masih musim panas, tapi tiga bulan lagi suasana akan berbeda ketika memasukki musim gugur. Ia membayangkan apakah musim gugur dengan angin yang kencang nanti akan membuatnya merasa tambah 'sepi' atau malah sebaliknya.
Ia pula kembali mempertanyakan pada dirinya sendiri, apakah keputusan yang dibuatnya sudah benar. Walau saat ini, ia tidak memiliki pilihan, karena baru saja ia menandatangani perjanjian dengan tim tersebut. Tapi, tetap saja keraguan masih penghantui pikirannya. Ia menengguk secangkir kopi yang ada di hadapannya, berharap kafein yang terkandung dalam kopi itu dapat membantunya menenangkan pikirannya.
'sudah terlanjur, aku harus menghadapinya apapun yang terjadi'
Ia beranjak berdiri, mengambil tas tangan yang berada di sebelahnya, dan melangkah keluar dari cafe itu.