Pertemuan

1008 Kata
Alina mengehentikan mobilnya tepat didepan masjid Ar Rahman, masjid yang Alina ketahui adalah masjid yang sering didatangi oleh anak rohani Bramasta. Dan masjid yang selalu menjadi tempat kegiatan anak rohani. Tapi entah kenapa, sekarang ini ia berhenti tepat didepan masjid itu, seolah-olah ada yang menariknya agar masuk kedalam masjid itu. Tapi untuk apa? Alina memejamkan matanya sejenak, sampai terdengar suara ketukan dari luar, "Iya, ada apa?" tanya Alina malas, ketika kaca mobilnya sudah terbuka setengah. Dapat Alina lihat, ada seorang wanita berpakaian syar'i dengan cadar yang menutupi wajahnya, "Siapa?" tanya Alina. "Alina?" bukannya menjawab pertanyaan Alina, wanita bercadar itu malah menyebut nama Alina. Sungguh, Alina terkejut. Bagimana bisa, wanita didepannya ini mengetahui namanya, "Maaf Anda siapa? Dari mana tahu nama saya?" "Alina, ini aku Kanaya." ucap wanita bercadar itu antusias. "Kanaya?" "Iya aku Kanaya, kenapa kamu ada disini? Apalagi kau masih pakai seragam sekolah. Oh, hmm maaf Alina aku kebanyakan bertanya." Alina sedikit mengulas senyum tipis. Ia tak percaya, Kanaya masih mengingat ucapanya waktu di kelas. "Masuklah kedalam mobilku, Kanaya!" pinta Alina dengan suara pelan. 'Ah, kanapa juga aku meminta Kanaya masuk kedalam mobilku? Buat apa coba?' Batin Alina berteriak. "Masuk?" "Ah, iya. Masuklah." ucap akhir Alina. "Ada apa Alina?" tanya Kanaya hati-hati. Ia tidak mau membuat Alina marah. "Kamu hadir di acara anak rohani?" tanya Alina. "Iya, kenapa memangnya?" Alina membalikkan badanya, agar menghadap kearah Kanaya, "Tidak apa-apa. Tapi, kenapa kamu pakai cadar? Apa gunanya?" Alina dapat mengetahui, jika Kanaya tersenyum dibalik kain hitam yang menutupi wajahnya itu. Karena terlihat dari mata Kanaya yang menyipit. "Imam Ath Thabari rahimahullah  pernah menjelaskan: ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة “Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.“ Silakan buka kitab tafsir manapun di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat sebagian ulama tentang perintah menutup wajah wanita." "Maksudnya?" sungguh, Alina tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Kanaya. "Apa menggunakan cadar itu wajib?" lanjut Alina. Entah kenapa ia penasaran dengan yang namanya cadar. "Masalah kewajiban memakai cadar sebenarnya tidak disepakati oleh para ulama. Maka wajarlah bila kita sering mendapati adanya sebagian ulama yang mewajibkannya dengan didukung dengan sederet dalil dan hujjah. Jika tidak memakai, juga tidak apa-apa. Sekarang kau paham Alina?" Alina mengangguk pertanda ia paham. "Oh iya Alina, tadi aku mengetuk kaca mobil mu, aku cuma mau bilang. Tolong parkirkan mobil mu ditempat yang lain,  soalnya mau di buat tempat masuknya para perempuan, soalnya perempuan sama laki-laki dipisah tempat masuknya." ucap Kanaya memberitahu. "Oh baiklah." "Sekali lagi aku bertanya Alina, kenapa kamu ada disini? Mau juga dateng ke acaranya anak rohani?" "Tidak, aku cuma kebetulan berhenti disini." jawab Alina seadanya. Memang seperti itu kan adanya. "Ya sudah, aku keluar dulu ya." baru saja, Kanaya ingin membuka pintu mobil. Suara Alina membuatnya mengurungkan niat untuk keluar dari dalam mobil. "Apa boleh aku ikut? Tapi aku belum ganti pakaian." lirih Alina, ia sendiri tak tahu kenapa ingin ikut dalam acara anak rohani.  "Boleh Alina, kamu tenang saja aku ada satu gamis didalam mobil. Kau mau kan pakai pakaian ku?" tawar Kanaya sangat antusias. Namun Alina tak kunjung menerima tawaran Kanaya. 'Masa iya aku pakai baju Kanaya? Gamis pula, kan nanti gerah.' "Apa cuma ada gamis?" "Iya, aku cuma bawa gamis." "Ya sudah." putus Alina. "Sebentar ya, aku ambil gamis di mobil dulu. Kau jangan kemana-mana." Belum sempat Alina menjawab, Kanaya sudah dulu keluar dari dalam mobil dan berlari menuju mobilnya sendiri. "Kenapa ya, aku mau ikut diacara anak rohani? Dan ini pertama kalinya dalam hidupku, mengahdiri acara seperti ini. Apa lagi nanti harus pakai gamis, mimpi apa aku semalam. Tapi aku juga penasaran sama acaranya." monolog Alina. Tak lama kemudian Kanaya sudah kembali dengan satu gamis biru tua di tangannya, serta jilbab yang senada dengan warna gamisnya. "Ini, pakailah." ucap Kanaya seraya menyerahkan gamis dan jilbabnya. "Apa jilbabnya tidak ada yang segi empat? Ini terlalu panjang, pasti nanti sampai menutupi setengah badan." protes Alina ketika melihat model jilbab yang diberikan Kanaya. "Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An Nur/24:31 وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ Yang artinya "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke d**a (dan leher) mereka." "Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi d**a dan lehernya. Kalau menutupi d**a dan lehernya saja wajib, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi d**a dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah. Tapi untuk yang menutup wajah dengan cadar, itu boleh dilakukan dan boleh tidak. Karena pendapat para ulama berbeda-beda. Namun, sebaiknya memakai cadar saja." Alina mengangguk karena penjelasan Kanaya. Baru saja beberapa menit bersama Kanaya, tapi ia sudah mendapatkan pelajaran yang sangat banyak. Tentunya pelajaran yang berhubungan dengan agama. "Ini aku juga bawa cadar untuk mu, lebih baik di pakai ya." Alina hanya sanggup menganggukkan kepala, "Iya." Kanaya keluar dari dalam mobil Alina, dan menunggu di luar selagi Alina berganti pakaian. Tak lama kemudian, Alina membuka pintu mobilnya, dan keluar dengan gamis serta jilbab panjang yang menutupi setengah tubuhnya. Sungguh cantik, Alina dimata Kanaya. "Kau cantik Alina." puji Kanaya akan penampilan Alina. Namun, Alina tidak merespon pujian itu. "Ini cadarnya, ayo aku bantu." Alina masih ragu jika untuk memakai cadar, "Tidak usah ah, aku tidak nyaman." "Nanti pasti kau nyaman Alina. Lagi pula banyak juga yang memakai cadar, jadi pakai ya?" "Ya sudah." Kanaya tersenyum dan langsung  memakaikan cadar diwajah Alina. Awalnya Alina risih, tapi lama-kelamaan ia sedikit nyaman dengan memakai cadar. "Kanaya, enak ya pakai cadar. Kita bisa melihat wajah orang-orang dengan jelas, tapi orang-orang tidak bisa melihat wajah kita." Seutas senyum manis terbit dibibir Kanaya, "Iya enak. Dan memakai cadar juga membuat kita lebih dihormati lawan jenis kita." "Oh iya?" tanya Alina tak percaya. "Iya, ya sudah kita masuk. Tapi kamu parkirkan mobil mu di tempat lain dulu." Alina mengangguk dan segera memindahkan mobilnya ditempat yang seharusnya. 'Hitung-hitung menyibukkan diri. Dari pada  terus-menerus memikirkan Daddy dan mommy.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN