Alina berjalan beriringan dengan Kanaya. Mereka berdua memasuki masjid dan duduk dilantai yang sudah dilapisi oleh karpet, acara akan dimulai lima menit lagi. Dam semua orang juga sudah mulai duduk ditempatnya masing-masing. Tempat duduknya tidak pernah bercampur, laki-laki disisi kanan dan perempuan disisi kiri.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap wanita baya yang diyakini adalah narasumber dalam acara ini.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab seluruh orang yang berada didalam masjid.
Tumben, Alina tidak merasa marah dengan suara keras dan berisik seperti ini, seperti bukan Alina saja.
"Sudah tau bukan tema acara kali ini. Nikah muda."
"Sebelum pembahasan, perkenalkan nama saya Ririn Asmawati. Bisa dipanggil umi Ririn."
"Kita mulai pembahasan, menikah adalah proses kompleks yang sangat melibatkan fisik, pikiran, mental, perasaan dan keberanian dalam menempuh kehidupan yang berbeda.
Saat itu seseorang mulai memvariasikan hidupnya dengan mencoba menjadi bagian dari hidup orang lain, dan menjalin hubungan yang berasaskan saling melengkapi untuk mencapai satu kebahagiaan yang ditempuh bersama-sama.
Di sebagian kebudayaan, menikah dan kawin di usia muda adalah hal yang tabu dan asing, apalagi di zaman modern ini. Di negara lain, justru sebaliknya. Remaja zaman now kalau belum punya pacar dan belum pernah berhubungan intim, GAK KEREN namanya."
"Hahahaha." semuanya tertawa, baik laki-laki maupun perempuan.
"Golongan pertama, lebih mementingkan karir yang belum tentu membahagiakannya dan membuat hidupnya lebih tenang. Kelompok kedua, terlalu bodoh melihat hubungan seksual sebatas bukti cinta dan kekinian.
Mereka berusaha mencari sebanyak-banyaknya kenikmatan dunia namun tanpa seseorang yang bisa diajak berbagi suka dan duka di sisinya.
Sebagian yang lain, mencoba untuk menyempurnakan kekayaannya dan berharap dengan banyaknya kekayaan ia akan lebih mudah menjalani rumah tangga.
Tentu, tidak ada salahnya menjalani karir, bekerja dan berusaha mendapatkan harta, namun mau sekaya apakah kita baru akan merasa siap untuk menikah?"
"Di sisi lain ada golongan masyarakat yang menunda pernikahan dengan alasan untuk mendewasakan diri terlebih dahulu.
Dengan alasan, ingin mendalami sifat dan karakter lawan jenis, agar lebih yakin dan mantab dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Untuk mereka, kembali kita ajukan pertanyaan di atas, mau sedewasa apakah dirimu, baru kau berani untuk menikah?"
"Padahal, survey membuktikan mayoritas orang pacaran itu menipu. Artinya, setelah menikah tidak sebaik dan sebagus waktu pacaran.
Ada lagi kenyataan bahwa sebagian paramedis berpendapat bahwa menikah di usia muda itu akan membahayakan sistem reproduksi wanita, dikarenakan sistem reproduksinya belum matang."
"Kami katakan, "Pernyataan mereka itu hanya mengada-ngada!"1Menstruasinya seorang gadis merupakan pertanda bahwa rahimnya telah siap menerima benih.
Mereka berkata bahwa usia ideal menikah adalah 25, 26, atau 27, dengan alasan, rahimnya telah lebih siap menerima janin, dan ia juga akan terhindar dari kanker rahim atau kanker serviks.
Sunggu merupakan alasan yang dibuat-buat.
Kami takut bahwa pernyataan yang mereka (ilmuan barat) keluarkan itu, hanya karena benci dengan banyaknya jumlah kaum muslimin seandainya umat Islam menikah di usia muda."
"Maka, ketika Anda bertemu dengan seorang dokter yang pernyataannya sama dengan ilmuan-ilmuan barat tersebut, abaikan saja ucapannya."
"Baiklah, sekarang saya mau tanya, apa sih enaknya nikah muda itu. Siapa yang bisa jawab.?" tanya umi Ririn yang membuat semua siswa dan siswi Bramasta bisik-bisik gaduh.
"Saya bisa jawab umi." teriak satu pemuda yang terkenal hampir seluruh penjuru Bramasta. Dimas AdityaTama.
Dapat Alina dengar, suara sorakan dari tempat duduknya laki-laki. Dan Alina tahu siapa itu Dimas, Dimas adalah salah satu sahabat dari orang yang selama ini Alina hindari dan Alina abaikan keberadaanya.
"Iya, perkenalkan nama mu dulu."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Dimas."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Jadi gini umi. Enaknya nikah muda tuh banyak umi, apalagi kita kan masih SMA jadi makin enak tuh umi."
"Enaknya yang pertama, kalau pas waktu ujian ada yang menyemangati, apalagi yang menyemangati itu yang halal-halal, makin enak umi. Terus yang kedua, kalo kelulusan, kan biasanya pada pelukan sama temen, dan kalo udah nikah kan bisa pelukan sama yang halal umi. Kan ada tuh umi yang pelukan sama pacarnya, terus pake acara nangis-nangisan segala, kan itu dosa umi pelukan yang bukan sama mahram kita."
Sumpah, demi apapun. Saat ini siswa siswi Bramasta sudah senyum-senyum tidak jelas, apalagi para perempuan yang sudah berteriak histeris dengan penuturan yang diberikan Dimas.
"Temen lo bro, ngebet nikah." celetuk Alfi.
"Hahaha, biarin lah." jawab Arnaf disertai kekehan kecil.
"Yang ketiga umi, kalo bangun tidur pasti disuguhkan pemandangan wajah istri yang, ahh...kalo dipandang dan dikagumi gak dosa umi, kan halal."
"Hahahahah."
"Yang keempat. Ada yang masakin, ada yang nyiapin baju, ada yang nyiapin air buat mandi, ada ya--" ucapan Dimas terpotong, ketika umi Ririn menyela.
"Itu istri atau pembantu?"
Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar juga. Itu istri atau pembantu.
"Istri umi."
"Hahahaha."
"Lanjutkan." pinta umi Ririn dengan menahan tawa.
"Yang kelima, gak dosa umi kalo berbuat yang iya iya."
Kali ini sorakan terdengar kebih keras dari yang pertama.
"Ah itu mah maunya lo."
"Iya iya yang dimaksud itu apa Dim."
"Kok iya iya sih, gak w*****k aja."
"Hahahahah."
Berbagai tanggapan keluar dari mulut sahabat-sahabat Dimas. Alina yang mendengarnya memutar bola mata jengah, "Harus ya mereka sorak-sorak seperti itu."
"Gak harus sih." celetuk Kanaya yang berada disamping Alina.
Alina tak menjawab, ia diam saja dan kembali mendengarkan penjelasan umi Ririn dan juga Dimas yang tengah membicarakan keenakan kalau menikah muda.
Alina mendengarkannya sekitar satu jam an, lalu ditutup dengan salam. Mereka--yang hadir, karena tertarik dengan tema yang diangkat hari ini, yaitu 'nikah muda'. Entah kenapa banyak orang yang ingin menjalani rumah tangga diusia yang masih muda, bahkan usia yang bisa dibilang masih enak-enaknya untuk dibuat jalan-jalan, kumpul bersama teman, dan juga bersenang- senang. Tapi, semua kembali pada diri sendiri.
Ah. Alina banyak mendapat pengetahuan tentang nikah muda hari ini, bahkan acara yang Alina anggap membosankan, rupanya tak seperti yang Alina pikirkan.
Semuanya terlihat mengasikkan.