Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun acara bersih-bersih masjid yang dilakukan setelah acara berbagi ilmu mengenai nikah muda, tak kunjung selesai. Dikarenakan kurangnya peralatan kebersihan, seperti sapu.
"Alina, capek gak?" tanya Kanaya seraya menyodorkan botol minum ke arah Alina.
Alina yang tadi fokus kearah ponselnya, pun melihat kearah Kanaya, "Lumayan sih, makasih ya."
Kanaya terdiam, tak tahu harus menanggapi apa lagi. Karena ini baru pertama kalinya ia mendengar seorang Alina Elega mengucapkan kata 'terima kasih'
"Alina, nyaman gak pakai cadar?"
"Nyaman."
"Kalo gamis nya gimana? Gak gerah kan?"
"Lumayan."
"Boleh gak, ajak aku kalo ada acara kayak gini lagi?" tiba-tiba Alina bertanya yang membuat Kanaya beberapa kali mengerjapkan matanya.
"Boleh. Tapi kamu datangnya harus pake gamis gini ya, kamu punya dirumah?"
Alina tertawa sumbang, "Nanti beli lah. Temenin ya?"
"Oh iya, Kanaya. Kenapa sih kamu selalu kebesaran, gamis kamu tuh gak ada modelnya. Jadi bentuk tubuh kamu gak kelihatan, malah kamu kelihatan gemuk tau gak. Gamis kamu juga warnanya polos gak ada motif apapun, kayak bunga, gambar hewan atau gambar figuratif."
"Alina, kamu tau gak istilah berpakaian tapi telanjang?"
"Engga, emangnya apa?"
"Berpakaian tapi telanjang adalah, dia yang berpakaian tapi masih terlihat lekuk tubuhnya."
"Wanita dalam berpakain itu ada syarat nya. Semua syarat pakaian wanita adalah syarat yang berasal dari Alquran dan hadis yang shahih, bukan pemahaman golongan atau aliran tertentu. Ulama yang merinci syarat ini dan sangat bagus penjelasannya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah, ulama pakar hadis abad ini. Lalu ada ulama yang melengkapi syarat yang beliau sampaikan yaitu Syaikh Amru Abdul Mun’im hafizhohullah.
Pertama. Menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Kedua. Bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni atau disertai gambar makhluk bernyawa.
Allah Ta’ala berfirman, "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama." (QS. Al Ahzab : 33)."
"Tabarruj itu apa?"
"Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki." jelas Kanaya.
'Rupanya pemahaman Kanaya tentang agama, luas juga ya.'
"Ingatlah, bahwa maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita malah menjadi pakaian untuk berhias sebagaimana yang sering kita temukan." lanjut Kanaya.
"Paham kan? Sekarang lanjut syarat yang ketiga." Alina mengangguk, menunggu penjelasan Kanaya.
"Ketiga. Tidak tipis dan tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh. Pakaian muslimah juga harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh."
"Jadi meskipun gamis, tapi kalo membentuk lekuk tubuh, itu sama aja telanjang ya Nay?"
"Benar banget Lin."
"Terus, kenapa gak boleh ada motif kayak gambar figuratif, hewan, bunga atau apalah itu. Apa itu termasuk menghias diri?"
"Gimana ya Lin jelasinnya, ribet kalau aku jelasin itu. Kamu baca aja artikel islam, pasti kamu akan dapat jawabannya."
Alina tersenyum dibalik cadarnya, "Yaudah, terima kasih ya untuk penjelasannya tadi."
"Dan aku juga minta maaf, kalo sering nyakitin hati kamu, lewat ucapan aku. Sebenarnya aku gak maksud gitu." jelas Alina.
"Iya ga apa-apa kok. Tapi, kamu mau gak Lin, jadi sahabat aku?"
Alina ragu untuk menjawab 'iya', pasalnya ia belum pernah berteman dengan siapapun sejauh ini, tapi sekarang malah ada orang yang ingin menjadi sahabatnya.
Alina ragu, karena ia takut pilih sahabat. Pernah dulu ia mempunyai sahabat yang dianggapnya baik, tapi nyatanya sahabatnya itu malah menghianati dirinya dan memanfaatkan kekayaannya.
"Alina, insyaallah aku akan menjadi sahabat yang baik untuk mu." entah mengapa keraguan Alina perlahan memudar. Ia rasa, Kanaya adalah orang yang tepat untuk dijadikan sahabat.
"Kasih aku alasan, agar aku mau bersahabat dengan kamu."
"Aku akan membuat persahabatan kita sampai ke surga." jawab Kanaya mantap.
"Caranya?"
"Kita akan menjadi sahabat hijrah. Sahabat seperjuangan menuntut ilmu agama, sahabat seperjuangan mencari pahala Allah subhanahu wa ta'ala. Dan sahabat seperjuangan menyebarkan agama islam serta sahabat seperjuangan mengamalkan syariat syariat islam, dan apa yang diajarkan dalam Al-Qur'an."
Alina tersenyum, alasan dan cara yang diberikan Kanaya cukup membuatnya terharu, mungkin ini saatnya berubah. Apalagi, Alina merasa nyaman didekat Kanaya. Seolah-olah dia mendapatkan apa yang namanya warna kehidupan, sejak ia mengikuti acara rohani dan juga mungkin, berteman dengan Kanaya.
"Iya, aku mau bersahabat denganmu."
Kanaya tersenyum dan langsung menarik Alina kedalam pelukannya. Kanaya tak menyangka, jika ia bisa bersahabat dengan si gadis pintar se Bramasta.
"Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar." bisik Alina tepat di telinga Kanaya. Alina masih ingat, apa yang dulu sempat dikatakan oleh guru agamanya.
"Barang siapa yang bersahabat dengan orang saleh, maka ia akan mendapatkan banyak kenikmatan. Contohnya, pelajaran tentang ilmu agama, dan kebaikan lainnya yang akan ditularkan oleh sahabatnya itu."
"Umar bin Khttab berkata,
ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]" balas Kanaya, lalu mengetatkan pelukannya.
Alina mengangguk dalam pelukan Kanaya, "Jangan pernah tinggalkan aku untuk sahabat yang baru Kanaya."
"Tidak akan."