Kini, Alina dan Kanaya bersiap pulang, karema acara bersih-bersih juga sudah selesai. Tapi, baru saja melangkah keluar dari masjid, Alina mendapat telefon dari sang ibu. "Bentar ya Nay, mommy telfon." Kanaya mengangguk dan membiarkan Alina berbicara dengan ibunya. Tapi, tak sampai satu menit, Alina sudah kembali kehadapannya. Namun, kali ini ekspresi Alina seperti orang yang sedang dalam masalah. "Ada apa Lin?" "Nay, mommy..." belum juga Alina menyelesaikan ucapanya. Air matanya sudah turun membasahi pipi. "Lin, kenapa sih?" Kanaya mengguncang bahu Alina. Tapi, isak tangis Alina semakin terdengar keras. "Nay, mommy ku..." "Iya kenapa Lin?" "Mommy ku minta aku pulang sekarang juga, dan..hiks hiks Nay, bantu aku." "Kenapa sih, duduk dulu Lin. Ceritain apa yang sebenarnya terjadi."

