Aska dan Darren masuk ke rumah sakit bersama karena telepon dari Papa Hardi. Mami Melin pingsan di depan ruang operasi karena kelelahan,Kevin masih belum sadar ditambah Maminya ikut ambruk. Dalam semalam kehidupan Darren bagai tercabik-cabik, di usianya yang baru 19 tahun untuk pertama kali dia berharap kalau dia tidak perlu tegar,dewasa, dan kuat.
Mami Melin telah istirahat di ruang VVIP rumah sakit saat Darren masuk. "Mami kenapa?" Tanya Darren pada Hardi. Ini pertama kalinya Darren merasa marah pada Papanya, pertama kali dalam hidup dia ingin menyalahkan Papa Hardi atas semua kegetiran hidup yang dirasakannya.
"Darren, mami kelelahan dan barusan kata dokter.. Hasil tes darah menunjukkan kalau Mami hamil. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, harus tunggu Mami sadar dulu." Jawab Hardi pelan.
Darren menutup mata sambil bersandar di tembok. Kevin luka parah dan Mami hamil. Semoga bayi itu kuat. Pikir Darren.
Hardi : "Kamu temani Mami di sini, Papa harus mengecek keadaan Kevin."
Darren : "Aku ingin menunggu Kevin siuman."
Hardi hanya dapat mengangguk pelan sambil berkata "Pergilah."
Kevin berada di ruang ICU, kata dokter dia baru akan sadar kurang lebih empat atau lima jam lagi. Tom terus menemani Darren duduk di ruang tunggu ICU. Bahkan Darren tidak beranjak sesenti pun dari sana. "Darren, makan dulu. Kalau kamu tidak makan sama sekali, kamu tidak akan punya tenaga untuk menjaga Kevin." kata Tante Siska yang mengantarkan makanan pada Tom dan Darren.
"Kevin... Sejak kecil karena rasa sayang yang terlalu besar maka kami sering mengekang kebebasannya. Meski kami selalu memenuhi segala kebutuhannya secara materi, tetapi kami terus memaksanya tumbuh menjadi orang yang kami inginkan." Ucap Tante Siska sambil terisak. "Dan kami tahu, sifat anak itu... dia tidak bisa dikekang....." lanjutnya.
Darren menutup mata sambil mengenang pertemuan terakhir mereka. Sangat biasa, tidur bersama, pelukan hangat, dan canda tawa.
.................
"Paman kecil... aku takut tidur sendiri" Ucap Darren yang baru berusia 6 tahun. Kevin mengehala napas panjang "Ya sudah, sini tidur bareng!"
"Paman kecil! hahaha 3 tahun kelayapan rasanya seperti apa?!" Tanya Darren yang kini berusia 14 tahun.
"Kamu itu beruntung bisa jadi Paman ku! Banyak-banyaklah bersyukur! Hahaha" Darren 17 tahun tertawa riang.
Dia tumbuh sesuai dengan bayangan Kevin. Riang, hangat, cerdas, terkadang galak.
"Maaf..... aku harus pergi... kita harus akhiri semuanya Vin..." Kali ini bayangan Darren yang berusia 25 tahun muncul. Seolah dapat melihat masa depan, Kevin tahu hari itu akan muncul.
Dia hanya dapat mengejar Darren sambil berteriak "Jangan Pergi!" Berlari terus dan terus sampai sesak nafas... sampai kehilangan arah...
"Dokter...... Pasien telah siuman!!!!" Teriak sebuah suara yang tak dikenal Kevin.
..........
Saat Darren masuk ke dalam ruang ICU, matanya terasa perih! Ada banyak selang yang menancap di tubuh pria itu, mesin kesehatan terus berbunyi sebagai tanda Kevin masih hidup.
Mata Kevin terbuka pelan, lalu ia tersenyum kecil melihat Darren masuk.
Darren segera menggenggam tangannya : "Masih bisa senyum?!"
Kevin menatapnya lembut, lalu berkata "Maaf... pasti sudah mengagetkanmu... Uhuk... uhuk..." Suaranya serak dibarengi batuk. Air mata Darren nyaris pecah di situ, tapi dia tetap menahan diri : "Kata dokter, karena selang bantuan pernafasan yang disambungkan ke tenggorokanmu saat operasi semalam akan membuat suaramu agak serak." Kevin hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan Darren. Selama beberapa saat mereka hanya bergandengan dalam diam. Lalu Darren melanjutkan ucapannya : "Mami... hamil... mungkin besok baru bisa kemari. Terlalu banyak hal yang terjadi, Papa pasti tidak bisa ke kantor jadi untuk sementara aku yang handle. Kamu... baik-baik ya... Aku tunggu kamu pulang."
Kevin tidak berbicara, dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Dia tahu tindakan impulsifnya telah berakibat fatal, dia terlalu memahami Darren. Saat ini Darren pasti merasa lebih ketakutan di banding dirinya. Dapat lolos dari maut, tak ada yang perlu ditakuti Kevin. Tetapi Darren beda, dia sehat tetapi harus menanti orang yang nyaris mati dan entah lukanya masih separah apa. Beberapa saat kemudian Kevin berbicara lagi : "Pulanglah... tunggu aku di rumah. Jangan ke sini lagi." Darren hanya mengangguk pelan, dalam hati dia berpikir "Kevin betul-betul memahamiku, tahu kalau aku terlalu penakut. Takut untuk terus berada di sini dan menyaksikannya terluka."
................
Tak lama kemudian, gantian Hardi yang menengok Kevin. Dia menghela napas panjang sambil duduk di samping ranjang. Kevin menatapnya dengan perasaan rumit. Tentang Kakak Iparnya ini, dalam hidup Kevin dia bukan hanya seorang Kakak Ipar. Dia kadang bagai ayah dan guru yang selalu membimbing Kevin. Sejak kecil, tiap Hardi membelikan sesuatu untuk Darren pasti akan ada bagian untuknya juga. Apalagi setelah orang tua Kevin meninggal, peran Hardi sebagai ayah semakin besar. Mulai dari urusan sekolah sampai kantor, bahkan Hardi sering membelanya saat Kevin ribut dengan teman sekantornya.
Pembelaan itu seolah memberitahu pada orang kantor apapun yang terjadi, Kevin adalah anggota keluarga. Meski dia emosional dan kasar, selama dia tidak melakukan kesalahan fatal maka dia punya hak untuk bersikap seperti itu.
"Maafkan aku..." Kevin yang membuka perbincangan mereka. Hardi kembali menghela napas panjang lalu berkata : "Apakah kamu sadar dengan tindakanmu? Ah! Kamu mabuk... pasti tidak sadar." Hardi terdiam untuk sejenak lalu melanjutkan ucapannya : "Vin... dengarkan ucapanku dengan seksama. Lukamu cukup parah, harus melewati berbagai terapi baru dapat berjalan kembali. Tetapi meski kamu tak bisa berjalan lagi, aku akan menjagamu. Pasti! Jadi jangan banyak berpikir dan tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja."
(Ps. Karena aku penulis super newbie, jadi harap maklummmm jika ada beberapa atau bahkan banyak bagian yang kurang oke! Tengkyuuuuh!)