Ulang Tahun

1074 Kata
Hari ulang tahun Hardi dan Kevin dirayakan bersamaan di tanggal 18. Hari ini kakek dan nenek Wijaya juga datang dari Solo untuk ikut merayakan ulang tahun Hardi. Mereka sekeluarga makan dengan riang dan hangat. Kakek Nenek Wijaya sangat gembira mendengar berita kehamilan Melin. Kini ganjalan dalam hati mereka hanya satu, Darren. Nenek Wijaya bicara dengan lembut, "Darren, bulan depan kamu telah berusia 20 tahun. Memang terlalu muda untuk menikah. Tetapi kamu sudah bisa mulai mencari pacar." Darren hanya menunduk tanpa tahu harus merespon seperti apa. "Betul sekali. Meski keluarga kita cukup ternama, tapi kami ingin kamu menikah dengan wanita yang kamu cintai. Kami tidak akan menjodohkan mu tetapi kamu juga harus mulai mencari sendiri." Kali ini giliran Kakek Wijaya yang angkat bicara. Darren hanya dapat menghela napas, "Aku masih terlalu muda. Belum berpikir sampai ke sana. Kakek Nenek jangan tergesa-gesa." Nenek Wijaya langsung menimpalinya, "Bagaimana kami tidak tergesa-gesa, anak lain seusia mu sudah punya pacar dua sampai tiga orang. Kamu satupun belum! Kalau tidak mulai dicari dari sekarang, kapan lagi Darren?" Melin segera menengahi setelah mendengar keadaan yang sudah mulai memanas, "Ayah, Ibu. Aku paham kalian ingin melihat Darren segera menikah, tetapi anak muda jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu. Sekarang usia 20 tahun rata-rata masih mengejar karir. Jadi berikan waktu untuk Darren berkarir dulu." Kali ini giliran Kakek Wijaya yang tidak puas, "Melin, kamu tidak bisa mengikuti kemauan Darren seperti itu. Menikah dulu berkarir belakangan bukan tidak bisa. Keluarga kita mampu memberi kesempatan itu pada Darren. Mungkin karena Darren bukan anak kandungmu, jadi kamu tidak terburu-buru." Kali ini semua yang duduk di ruang makan langsung terdiam. "Trang!" Suara gelas diletakkan memecah keheningan. Hardi yang sejak tadi diam akhirnya bicara, "Ayah, Ibu. Tolong jangan bicara seperti itu pada Melin. Pengorbanan dan usahanya untuk keluarga kita sudah terlalu besar. Dan waktu sudah cukup larut, sebaiknya sudahi saja makan malam ini." Darren dan Kevin beriringan masuk ke dalam kamar. Sampai di kamar mereka lebih banyak diam sampai menjelang tidur, Kevin menggenggam tangan Darren, "Kelak akan semakin banyak hal seperti itu. Dan kamu bisa lihat sendiri kalau Ayahmu sengaja membiarkanmu dimarah. Dia hanya membela Kak Melin, tetapi tidak berkomentar tentang masalahmu." Darren mempererat genggaman Kevin sambil terisak. Kevin menarik Darren ke dalam pelukannya. Pelukan Kevin membuat tangis Darren semakin menjadi-jadi, "Semua karena salahku. Papa tadi sengaja ingin aku melihat apa yang akan terjadi kalau aku tetap bersikeras bersama denganmu. Aku telah membuat Mami disalahkan dan membuat Kakek Nenekku khawatir." Kevin membelai kepalanya dengan lembut, "Bukan salahmu. Bukan salah siapapun, kita hanya saling mencintai. Hanya saja... mereka tidak mengerti." ..... Karena ulang tahun Kevin berakhir melankolis, Darren tidak ingin itu terjadi pada ulang tahunnya juga. Jadi dengan dalih ingin liburan pas ulang tahun, Darren mengajak Kevin liburan ke Bali dan mereka berangkat sehari sebelum ulang tahunnya. Agar tidak mendapat halangan dari Hardi, jadi Darren minta ijin Melin dan segera berangkat tanpa pamit pada Hardi. Darren tidak pernah bersikap seperti itu, sejak dulu kemana pun juga dia pasti meminta ijin pada Papanya. Dan ini pertama kalinya, demi bisa liburan bersama Kevin. Dan saat Hardi pulang, Darren sudah berada di Bali. Darren sengaja tidak menginap di hotel milik mereka sendiri, melainkan menyewa sebuah villa cantik di pinggiran Ubud. Nuansa Ubud berbeda dari Bali pada umumnya, villa itu dipenuhi pepohonan hijau dan segar. Oh! Hijau adalah warna favorit Kevin dan dia paling suka berada di pegunungan. Kamar villa mereka tidak terlalu besar, satu kamar, ruang tamu, dan ruang makan, serta sebuah kolam kecil di halaman dekat pintu masuk. Meski tidak besar, tapi dari lokasi saja sudah sangat cantik. Darren merebahkan diri di sofa dengan wajah bangga, "Bagaimana? Pilihanku keren kan?" Kevin tersenyum kecil, "Jangan bilang kalau dulu saat kerja di Bali kamu sempat ke sini juga?" "Enggaklah! Hotel kita ada di Kuta, dulu saat tugas ke Bali kamu baru terluka, aku cuma membenamkan diri sebulan di Kuta tanpa kemana-mana dan dalam keadaan cemas." Protes Darren. Kevin ikut duduk lalu merangkulnya, "Maaf, sudah membuatmu cemas." Darren menghela napas sedih, "Lain kali jangan pernah seperti itu lagi. Aku tidak kuat jika harus menghadapi hal semacam itu sekali lagi." Kevin mencium kening Darren dengan lembut, "Maaf." Ciuman itu berlanjut ke mata, hidung, pipi, lalu mendarat di bibir Darren. Ini pertama kalinya mereka berada jauh dari semua rasa cemas sejak bersama, tanpa perlu memikirkan apa di rumah akan ada orang yang datang atau hubungan mereka akan ketahuan. Ciuman Kevin semakin dalam, erangan kecil muncul dari bibir Darren. Mereka sudah tidak dapat menahan reaksi biologis yang dihasilkan dari ciuman itu. Tangan Kevin mulai menjalari tubuh Darren, dan Darren seolah menanti sesuatu yang lebih intim dan mendalam. Sampai Kevin menarik ciumannya, dia melihat wajah Darren yang sudah merona merah dengan mata berkaca-kaca. Sungguh seksi, pikir Kevin. Darren sendiri merasa kebingungan, "Kenapa berhenti?" Kevin tersenyum kecil, "Masih belum 20 tahun." Darren seolah tak percaya dengan telinganya sendiri, "Apa 20 tahun sepenting itu?" Kali ini Kevin tertawa lemah mendengar ucapan Darren, "Apa kamu sudah ngebet banget?" Darren merasa harga dirinya sedang disindir, "Enggak! Kalo kamu mau pun.. aku belum tentu setuju!" Kevin terlalu mengenal Darren dan mulutnya yang penuh gengsi, "Anggap saja seorang Paman memiliki prinsipnya sendiri." ....... Sepanjang siang mereka habiskan dengan berendam di kolam sambil makan-makan. Santai dan tanpa beban, seolah mereka hanya dua orang yang saling mencintai dan terpisah dari dunia luar. Malamnya, Darren menyiapkan sebuah makan malam romantis di restoran terkenal dekat villa. Mereka makan dengan kecemasan masing-masing. Darren cemas menanti datangnya jam 12. Sementara Kevin sampai detik ini dia masih ragu apakah hubungannya dan Darren harus sampai ke tahap itu. Kecemasan ini berlanjut hingga jam 12 tepat. Tanggal 8 Februari akhirnya tiba, Darren genap berusia 20 tahun. Saat itu mereka berdua sedang berbaring santai di sofa, lalu Kevin beranjak ke kamar dan mengeluarkan sebuah kotak. "Kado untukmu, jangan mikir yang aneh-aneh. Bukan cincin." Kata Kevin melihat raut wajah Darren yang merona. Darren mengambilnya dari tangan Kevin sambil mendengus singkat lalu berkata, "Siapa juga yang mau cincin." Kevin kembali duduk di samping Darren, tetapi kotak itu memang cukup besar untuk sebuah cincin. Lalu Darren membukanya, ternyata memang bukan cincin, lebih tepatnya bukan hanya sebuah cincin. Tetapi sebuah kalung dan dua buah cincin silver dengan ukuran berbeda. Kalung itu berhiaskan liontin walet, binatang kesukaan Kevin dan cincinnya hanya cincin sederhana berhiaskan berlian. "Katanya bukan cincin." Kata Darren berusaha menutupi rasa malunya. Kevin hanya tersenyum sambil mengambil cincin itu lalu memakaikannya di jari Darren, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Tetapi aku masih ingin mengikatmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN