Setelah kesibukan acara penutupan akhir tahun, maka pergantian tahun datang juga. Tiap pergantian tahun rumah Hardi Wijaya selalu mengadakan open house. Malam ini juga sama, keluarga dan para sahabat serta pegawai yang berhubungan dekat dengan Keluarga Wijaya telah memenuhi rumah mereka.
Dan seperti tahun sebelumnya, tiap mendekati jam 12 malam mereka akan mulai mengadakan pesta kembang api. Darren yang takut dekat-dekat dengan kembang api biasanya selalu kabur ke kamar Kevin di lantai dua. Dan dari balkon kamar mereka akan menyaksikan pesta kembang api bersama.
Malam ini masih sama, sebelum pesta kembang api dimulai dia sudah menuntun Kevin selangkah demi selangkah untuk naik ke lantai dua.
"Selamat tahun baru." Kata Darren sambil memeluk Kevin. Semoga kisah cinta mereka tidak padam secepat kembang api malam ini, pikir Kevin dalam bathinnya.
Meski dia berusaha mencintai Darren dengan baik, tetapi dia sendiri tahu suatu hari hubungan mereka akan padam seperti kembang api. Satu-satunya alasan Hardi belum memisahkan mereka sangat sederhana, setiap anak pasti akan memberontak pada waktunya.
Dan akan jauh lebih baik jika pemberontakan anaknya dilakukan bersama dengan anak asuh yang paling dia percaya. Sayangnya, Darren mungkin belum berpikir sampai di situ. Tetapi Kevin tahu, daripada Darren mencari masalah di luar dan melukai dirinya sendiri. Lebih baik Kevin yang menjadi alasan pemberontakan Darren.
.......
Januari selalu menjadi bulan sibuk di Keluarga Wijaya, bukan dalam hal pekerjaan! Tetapi ada 2 orang yang berulang tahun di bulan Januari. 18 Januari ulang tahun Hardi dan diikuti dengan 19 Januari ulang tahun Kevin.
Hari minggu sangat jarang Darren bisa bersantai di rumah, saat bangun dia melihat Kevin sudah bangun terlebih dulu. "Lapar..." Gumam Darren. "Martabak mie spesial gimana?" Tanya Kevin sambil tersenyum. Saat ini Kevin sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat. "Boleh... sana masak." Jawab Darren santai. "Dasar, bocah kejam." Gerutu Kevin, tetapi masih menuju ke dapur untuk memasak sarapan.
Melin sudah 3 hari pulang ke Solo untuk urusan pekerjaan, dan di rumah hanya ada 3 pria. Selesai cuci muka, Darren langsung menuju dapur. Aroma indomie membuat perutnya semakin kelaparan.
Saat masuk ke dapur mata Darren tampak bersinar melihat indomie. "Kamu kalau sangat suka makan martabak indomie harusnya belajar masak!" Gerutu Kevin. "Malas." Jawab Darren sambil tersenyum polos. "Kamu ya... apa kamu pikir aku bisa melayani kamu seumur hidup!" Kevin tertawa kecil lalu terdiam setelah sadar ucapannya agak aneh didengar. Darren juga menyadari hal itu, lalu dia tersenyum cuek sambil berkata, "Bisa melayani Tuan Muda seumur hidup adalah berkah untukmu!" Lalu mereka tertawa bersama.
"Pagi-pagi kalian sudah riang sekali." Suara Hardi menggema dari ruang keluarga. "Ini... Kevin masak martabak indomie, papa mau juga gak?" Tanya Darren. "Kalian anak muda jaman sekarang makannya yang instant begitu. Aku tidak cocok dengan makanan kalian. Lagipula aku sudah ada janji di luar." Jawab Hardi. Kevin mengernyitkan dahi menatap martabak mie yang baru selesai di masaknya.
Lalu Hardi melanjutkan ucapannya, "Kevin, tahun ini ulang tahunmu diadakan di rumah dan cukup makan-makan biasa saja. Kondisimu baru sembuh, lebih baik kita rayakan dengan sederhana." Kevin mengangguk singkat. Hardi tampak puas dengan reaksi Kevin, "Ya sudah kalian lanjutkan saja. Aku keluar dulu."
"Ulang tahunmu tahun ini cuma makan di rumah secara sederhana. Padahal dulu kamu pasti pesta kesana sini sampai semingguan lebih." Kata Darren. Kevin tersenyum sambil membelai rambutnya, "Masih bisa bersama keluarga saja sudah syukur. Lagipula sekarang aku juga tidak suka keluar." Darren mendengar ucapan Kevin dengan mata takjub, "Seorang Kevin yang dulu tiga hari gak shopping bisa ngomel, seminggu gak kumpul-kumpul bisa stress. Dan sekarang bisa bilang gak suka keluar rumah?" Kevin hanya tersenyum kecil, "Makan saja mie mu. Habis makan kita bisa nonton dvd." Darren menggeleng-geleng sambil melahap mie, "Habis makan kita keluar, jalan-jalan. Aku bosan di rumah."
Darren sebenarnya merasa Kevin mungkin tidak leluasa keluar karena kakinya. Jadi dia ingin menghiburnya. Tetapi sebenarnya Kevin sendiri benar-benar malas keluar, sejak kecelakaan dia merasa ada banyak hal yang berubah. Dia merasa lebih tenang berada di rumah dan menikmati hidup dalam keheningan. Namun karena Darren berkata bosan di rumah, jadi Kevin setuju saja. "Kemana kita?" Tanya Kevin. "Puncak" Jawab Darren sambil makan.
.......
Perjalanan hampir dua jam mereka tempuh, akhir pekan biasa kalau agak macet. Tetapi mereka menikmati perjalanan ini. Sepanjang jalan mereka mengobrol tentang berbagai hal. Dimulai dari masa kecil sampai kisah sepele di kantor. Lucu rasanya kalau dulu selalu Kevin yang mengemudi dan menjemput Darren kemana-mana, tetapi sekarang keadaan mereka malah terbalik.
Memasuki area pegunungan, mereka tiba di sebuah cafe lounge private. Tempat itu khusus menyajikan berbagai jenis kopi dan teh dengan kualitas nomor satu. Dan memiliki balkon private di lantai 2. Kevin takjub melihat indahnya pemandangan pegunungan hijau dari balkon ruangan mereka. "Darimana kamu tahu tempat sebagus ini?" Tanya Kevin. Lalu Darren menuntunnya ke sofa, "Internet, menjawab segala hal. Tapi sebenarnya kemarin saat mengurusi cabang hotel di Puncak, aku sempet mampir."
Kevin merentangkan tangan lalu menunggu Darren masuk dalam pelukannya, "Gak nyangka Tuan Muda bisa romantis juga. Apa benar cuma mampir atau..." Darren memeluk erat Kevin sampai dia merasa tulang pinggangnya akan remuk. Lalu Kevin segera menjerit kesakitan, "Maaf... maaf... becanda."
Darren : "Dasar pria tanpa hati nurani. Kalau bukan sama kamu, aku mau pergi sama siapa lagi. Aku sudah susah payah mencari tempat seindah ini untuk kita tapi kamu..."
Sebuah ciuman mendarat di bibir Darren, omelannya tertelan ke dalam ciuman memabukkan Kevin. Ciuman mereka tidak berlangsung lama, tetapi setelah itu Kevin mempererat rangkulannya lalu dia menatap Darren sambil tersenyum nakal. Darren ikut tersenyum melihat tingkah Kevin, sudah lama dia tidak melihat Kevin sesantai sekarang. Pikir Darren sepertinya Kevin memang kurang piknik. Kevin sendiri semakin terharu melihat upaya Darren untuk membahagiakannya, dia tahu sikapnya belakangan ini seperti pengecut. Tidak berani kehilangan, tetapi tidak berani memberi kepastian. Terutama tiap melihat Hardi muncul di sekitar mereka, perasaannya semakin rumit. Dia juga tahu kalau perasaan Hardi tidak kalah rumitnya dari dia. "Darren, apa kamu pernah bertanya pada Papa mu mengenai masalah kita?" Tanya Kevin sambil membelai kepalanya. "Dia tidak berkomentar, aku juga merasa tidak perlu membicarakannya." Jawab Darren singkat. "Tetapi Papamu juga tidak mudah, bagaimana pun juga kita tidak boleh mengabaikan perasaannya. Apalagi dia sudah tahu." Kata Kevin. "Bicara juga percuma, dia pasti tidak setuju. Kamu pasti tahu Papa orang yang kolot seperti apa. Kalau aku bersikeras, paling parah cuma diusir dari rumah. Kita bisa keluar bersama dan..." Darren belum menyelesaikan ucapannya tetapi mulutnya sudah dibekap oleh tangan Kevin. "Jangan bicara ngawur! Meski Papamu tidak mau menerima kita, tetapi kita tidak boleh mencampakkannya!" Kata Kevin dengan tegas.
"Darren, aku bisa menjamin kalau kamu tidak akan pernah kehilangan diriku. Aku akan selalu ada untukmu, tetapi aku tidak berani menjamin kalau aku dapat terus menahanmu." lanjut Kevin. Kali ini giliran Darren yang bingung, "Apa maksudmu?"
"Suatu hari nanti, selain beban pekerjaan akan ada beban lainnya sebagai seorang pewaris sah. Sampai saatnya tiba, aku tidak dapat melarangmu atau pun menahanmu. Tetapi aku akan selalu ada untukmu." Kata Kevin pelan. Darren orang yang cerdas, bagaimana mungkin tidak memahami maksud Kevin. Dia hanya dapat mempererat pelukannya dan berkata, "Aku harap hari itu tidak akan datang."
Kevin tersenyum sambil mengangguk pelan.
Mereka bersantai sambil berbincang dan bermesraan sampai sore dan lupa waktu. Saat di jalan, ponsel Kevin berdering tanpa henti. Saat baru mengangkatnya, orang di telepon sudah mengamuk, "Kamu kemana saja?! Apa kamu tahu kalau kamu itu masih sakit? Kalau di jalan kamu kenapa-kenapa aku harus bagaimana?!" Kevin menghela napas panjang saat mendengar rentetan omelan Melin.
"Kak, aku hanya liburan dengan Darren. Kami sudah di jalan kok. Semua baik-baik saja." Jawab Kevin manis. "Cepat pulang." Lalu telepon di matikan. Darren langsung pucat, "Celaka, lupa laporan sama Mami! Aku lupa kalau Mami pulang sore ini." Kevin tersenyum tak berdaya, "Nanti sampai di rumah kamu diam saja. Biar aku yang urus Kak Melin." Darren segera mengiyakan, "Selama ada Paman yang melindungi, sebagai Ponakan aku nurut saja!"
...............
Sampai di rumah, Melin sudah duduk di depan ruang tamu utama sambil menunggu mereka. Darren langsung pasang muka polosnya sambil menyapa, "Mami..." Yang luar biasa adalah Kevin. Dia segera duduk di sofa samping kakaknya sambil menggandeng lengan Melin dan mulai merajuk manja, "Kak~~~ Maaf~~~ Aku sudah membuatmu khawatir~~" Tiap nada suaranya sengaja dibuat sedemikian lembut dan manjanya. Darren yang melihat hal itu cuma menggeleng sambil berpikir, Kevin ini pasti titisan siluman rubah penggoda! Melihat tingkah Kevin yang sangat manis membuat emosi Melin sedikit mereda, adiknya yang satu ini memang paling pintar mengambil hati orang! Siapapun pasti luluh mendengar suara dan rayuan manisnya. Akhirnya Melin bicara juga, "Kamu itu masih sakit sudah keluyuran." Tetapi kali ini Darren yang menjawabnya, "Maaf Mom, aku yang mengajak Kevin keluar." Melin memandang Darren dengan tatapan tidak percaya, "Jangan membelanya. Pasti dia yang jenuh di rumah lalu mengajakmu keluar." Kevin menghela napas panjang dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, tetapi dia juga tidak berdaya. Sifatnya yang dulu memang hobi jalan-jalan. "Kak~~~ iya aku yang salah, aku terlalu jenuh di rumah~~ Tapi cuma sekali ini saja~~ Jadi jangan marah yaaa~ Marah tidak baik untuk Ibu hamil loh~~~ " Kevin masih mencoba merayu Kakaknya yang emosi. Darren sekali lagi merinding mendengarnya, dasar pria penggoda!
"Ya sudah, jangan diulang lagi. Bukan tidak boleh keluar. Tapi ijin dulu! Jangan buat aku khawatir." Kata Melin yang telah luluh hatinya. "Siapppp~~~ Aku pasti akan minta ijin dulu~" Jawab Kevin manis. Lalu berdiri menuju ke kamar sambil menggandeng Darren.
"Wah! Kamu hebat sekali. Kemampuan menggodamu sungguh luar biasa!" Puji Darren setelah mereka tiba di dalam kamar. "Peluk~~~" Kali ini Kevin merajuk pada Darren. Darren tak dapat menahan tawanya sambil memeluk Kevin. "Kamu kalau manis begini, membuat orang tidak tahan." Kata Darren.
"Bocah~~ jangan menggoda pertahanan Pamanmu~ Meski aku manis dan pintar merajuk, tetapi kemampuanku di atas ranjang tetap perkasa~" Kata Kevin dengan nakal.
"Kalau begitu buktikan." Tantang Darren. Kevin malah tersenyum melihat tingkah Darren, lalu dia mencubit pipi chubby Darren sambil berkata, "Pembuktiannya bisa kamu masukkan sebagai harapan ulang tahun di usia ke 20 mu."