Kejadian semalam membuat Kevin serba salah. Dia ingin mengikuti ucapan Aska untuk mencintai Darren dengan baik, tetapi di sisi lain... Dia merasa semua seperti mimpi indah yang akan hilang kapan saja. Serba salah dan mimpi indah, kata-kata ini memenuhi pikiran Kevin sepanjang pagi.
Sementara Darren, bocah itu tampak riang dan berangkat ke kantor dengan tenang. Darren memang seperti itu, saat dia sudah membuat keputusan maka tidak ada alasan untuk mundur atau ragu. Saat dia memutuskan untuk bersama Kevin, saat itu pula dia sudah siap dengan semua resikonya.
...
Hari berlalu dengan cepat, sejak kemesraan malam itu, Kevin dan Darren kembali seperti magnet yang tak bisa dipisahkan. Hubungan mereka membaik secara perlahan, bagi Kevin jika semua adalah mimpi maka semoga dia bisa tertidur lebih lama. Dan bagi Darren, dia hanya jujur pada perasaannya sendiri. Dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Dan pesta penutupan akhir tahun akan segera tiba. Tanggal 24 akan diadakan rapat dan gladi bersih terakhir. Namun karena Kevin baru sembuh. Jadi dia tidak perlu datang ke lokasi. Cukup besok datang ke acara saja.
Siangnya Hardi pulang dan memanggil Kevin ke ruangannya. Lalu Hardi memapah Kevin untuk naik ke lantai dua bersamanya.
Ruang kerja Hardi berisi berbagai macam buku dan sebuah meja kerja kayu, lalu di pojok ruangan dekat jendela ada dua buah kursi kayu dan satu meja teh. Hardi memiliki hobi yang sangat kuno, seni minum teh. Dan hobi itu malah diturunkan pada Kevin, selama beberapa bulan karena tidak ada kerjaan dan gerakannya terbatas, Kevin jadi belajar tentang seni minum teh. Kevin sendiri memiliki satu set teko teh di halaman bawah. "Biar aku yang membuat teh." Kata Kevin pelan. Hardi hanya tersenyum kecil lalu menuju ke meja kerjanya sambil membawa banyak berkas. "Tehnya harum sekali. Dan daunnya juga aneh." Kata Kevin. Selama belajar seni teh, Kevin belum mengenal banyak jenis daun teh. Daun teh itu membuat Kevin tampak antusias. "Kamu katanya mulai belajar seni teh. Itu teh jarum silver. Di sini masih ada satu kotak, nanti kamu bawa saja."
Kevin nyengir polos sambil berkata, "Terima kasih kak. Ini tehnya." Lalu Hardi duduk di samping Kevin sambil mencicipi teh dari cangkir teh mungilnya. "Hm... Panasnya sudah cukup tetapi kamu menaruh tehnya kurang banyak. Harumnya sudah keluar tapi rasanya masih kurang." Kata Hardi. "Baik, aku akan mengingatnya." Jawab Kevin dengan cepat. Hardi kembali tersenyum lalu menjulurkan beberapa berkas.
Hardi : "Setelah peringatan tahunan, sudah saatnya kamu kembali. Sudah empat bulan lamanya, dan proyek mu yang dulu sudah diserahkan ke orang lain. Berkas ini adalah beberapa proyek baru. Semuanya di Jakarta, kamu bisa pilih mana yang mau kamu kerjakan. Sudah saatnya kembali."
Suara Hardi terdengar tenang tetapi membuat Kevin terharu. Dulu saja proyek kerjanya tersebar di beberapa kota yang berbeda, tapi sekarang dia dapat tetap bekerja di Jakarta. "Kak... " Kevin baru membuka mulutnya tetapi Hardi sudah memotong kata-katanya, "Kamu adalah anak didik ku sejak dulu. Aku tahu dan percaya pada kemampuanmu. Aku harap kamu bisa tetap bekerja dengan baik dan tidak terpuruk hanya karena kondisimu belum pulih. Karena kamu pasti akan pulih. Setelah tragedi besar akan ada keberuntungan yang lebih besar menunggumu." Kata Hardi lembut. Selalu seperti ini, pikir Kevin. Sejak kecil Hardi selalu menjadi guru bagi Kevin. Bahkan sekarang, Hardi juga jadi guru untuk seni teh nya.
"Baik... Aku akan memilih proyek yang cocok untukku." Jawab Kevin singkat. Kevin selalu takut membahas tentang hubungannya dan Darren, tetapi sikap Hardi yang selalu baik padanya. Membuat Kevin semakin bimbang. Lalu Kevin memberanikan diri membahas masalah Darren, "Kak... soal aku dan Darren....." Lagi-lagi sebelum Kevin selesai bicara, Hardi telah memotong ucapannya. "Kalian berdua sudah dewasa. Selain masalah pekerjaan yang sangat penting, kalian jangan minta pendapatku." Kevin menghela napas panjang setelah mendengar jawaban Hardi. Hardi malah tertawa melihat wajah Kevin, "Kamu itu ya.. sejak kecil selalu berani dan bersikap sesukamu sendiri. Kenapa sekarang kamu seperti orang tua banyak beban?"
Kevin menjawab singkat, "Sudah tahu kenapa, malah nanya!" Dibanding Darren, sebenarnya hubungan Kevin dan Hardi lebih mirip seperti ayah dan anak. Mungkin karena sifat mereka yang mirip jadi dalam hal komunikasi, mereka malah lebih dekat dan cocok. "Kamu itu ya!" Hardi mengangkat tangan seolah akan memukul kepala Kevin.
Lalu Kevin menghindar dengan cepat sambil berteriak, "KDRT! Ada Ayah yang mau memukul anak sendiri!" Kemudian mereka tertawa bersama.
Sebenarnya, saat mereka sedang berdua Kevin suka bercanda seperti ini. Memanggil Hardi sebagai ayahnya lalu menyindir sikap Hardi yang lebih cocok sebagai Paman Darren. "Sudah! Urusi saja dulu pemulihan tubuhmu dan pekerjaan di kantor! Umur masih muda tapi sudah seperti orang tua!" Kata Hardi. Kevin membela diri lalu berkata, "Apa Kakak Ipar gak salah ngomong? Anak mu itu yang umur masih muda tapi seperti orang tua!" Kali ini giliran Hardi yang menghela napas tanpa berkata-kata. Dan giliran Kevin yang menertawakannya, "Darren makin jaga jarak dari Kakak? Wajar! Siapa suruh tiap hari bersikap tegas sama dia. Kalian belum musuhan saja sudah ajaib."
Kali ini Hardi benar-benar memukul kepala Kevin sambil berkata, "Bawa berkas dan teh itu lalu enyah dari sini!" Kevin melihat kakinya lalu berkata, "Kalau dulu aku pasti sudah lari turun.. tapi sekarang..."
Hardi menghela napas lalu menelepon ke ruang tamu untuk memanggil pelayan, ternyata yang mengangkat telpon adalah Darren. "Kenapa kamu bisa di rumah?" Tanya Hardi. "Oh... aku pulang untuk mengambil berkas yang ketinggalan." Jawab Darren pelan. "Dasar ceroboh berkas saja bisa ketinggalan. Cepat naik dan bawa Kevin turun dari sini!" Kata Hardi tegas. Kevin hanya menggelengkan kepala sambil melihat sikap Hardi. "Berkas ketinggalan saja mau kena omel... Keponakanku... menderita sekali" Sindir Kevin. Hardi baru mau mengatakan sesuatu, Darren sudah mengetuk pintu ruang baca. "Masuk." Jawab Hardi. Setelah melihat Darren, dia melanjutkan ucapannya, "Cepat bawa makhluk itu enyah dari sini." Lalu, Kevin hanya nyengir nakal dan turun bersama Darren.
"Kalian bicara apa saja?" Tanya Darren. "Kak Hardi menyuruhku bersiap-siap untuk kembali kerja." Jawab Kevin singkat. Darren sebenarnya sering iri dengan kedekatan Kevin dan Ayahnya. Kevin selalu bisa mengatakan hal yang membuat Hardi menunjukkan emosinya, entah itu kesal atau senang. Di depan Darren, Hardi adalah orang yang minim emosi dan selalu tampak tenang. Cuma ngomel saja baru bisa membuat Darren melihat kalau ayahnya memiliki emosi tertentu. Kevin melihat Darren yang termenung langsung mencubit pipinya, "Ayahmu memang seperti itu... Dia cuma takut kamu salah jalan makanya dia selalu bersikap tegas sama kamu." Darren balas mencubit pipi Kevin, "Aku sudah tahu!"
............
Akhirnya malam perayaan tahunan tiba juga. Selain kata sambutan dan makan malam kantor, ada yang spesial dari malam ini. Kembalinya Kevin Candra. Tidak hanya kolega dan partner bisnis tetapi media juga sangat tertarik pada berita itu. Kedatangan Kevin menjadi sorotan pada malam itu.
Sampai pada penutupan acara, Kevin berjalan sendiri untuk naik ke panggung dan melakukan sesi foto bersama. Saat itu Hardi mengumumkan, "Mulai Februari Kevin sebagai CEO akan memegang bisnis properti perusahaan Wijaya di seluruh area Jakarta. Tolong bantuan seluruh pihak. Terima kasih."
Darren sudah tahu kalau Kevin akan kembali bekerja, tetapi tidak tahu pekerjaan Kevin akan sepenting itu. Sementara Kevin sendiri hanya bisa melongo. Memang berkas yang diberikan Hardi berhubungan dengan perusahaan properti, tetapi... menjadi CEO dari perusahaan properti di Jakarta.
Selesai bicara, Hardi menatap Kevin sambil tersenyum lembut. Tuhan saja memberikan kesempatan kedua padanya, sebagai manusia Hardi ingin melihat sampai dimana kemampuan Kevin setelah mendapat kesempatan kedua darinya.