Akhirnya project yang selama ini Rayya kerjakan selesai juga. Dua hari lagi adalah hari spesial Nathan, tapi sampai saat ini mereka belum juga bertukar kabar. Sudah sekitar delapan hari Rayya menghabiskan waktunya di workshop. Delapan hari itu juga, Rayya hanya fokus di lantai tiga. Bahkan Boy yang notabene jahilnya minta ampun, tidak berani mengerjainya.
Ini adalah waktu terlama Nathan menyendiri. Biasanya dia hanya butuh waktu dua atau tiga hari untuk meredakan kekesalannya kepada Rayya. Ketimbang bertengkar, Nathan lebih memilih untuk mengamankan posisinya. Masalah ini bukanlah yang harus dia hadapi dengan pertengkaran. Berbeda dengan omelan-omelan harian Nathan kepada Rayya yang akan menguap begitu saja.
Rayya bimbang.
Jika sampai dua hari lagi Nathan tak kunjung menghubungi, lalu apa yang harus dia lakukan?
Helaan nafas panjang tak juga menghapus gundah hatinya. Rayya memutuskan untuk mengetik sesuatu pada ponselnya. Harus!
.
_Rayya_
Udah delapan hari
Apa aku harus nunggu lebih lama?
Nate..
Miss you
.
Kehadiran Aidan tak pernah disangka bisa memberi efek separah ini untuk Nathan. Rayya yakin Aidan datang untuk kebaikan. Tapi Rayya tak pernah tahu bahwa luka Rayya saat itu adalah luka bagi Nathan juga.
*****
Flashback on
.
"Jadi kasih surprise Aidan?" Nathan yang masih sibuk dengan tugas kuliahnya memfokuskan diri ke depan layar laptopnya.
"Jadi.. Dia belum tau aku udah balik.. Hehe.."
"Aku anter ya nanti?"
"Nadine ga kesini? Ga ah, Nate.. Aku ga enak sama Nadine gangguin janji kalian terus.."
"Apasih, Ray.. Kita udah bahas ini berulang kali.."
Nathan dan Rayya dalam perjalanan menuju rumah Aidan. Setelah pulang dari Jogja menemui Ayahnya, Rayya sengaja ingin memberi kejutan kecil untuk Aidan.
Sesampainya di depan rumah Aidan, Rayya melepas seatbelt nya dan menyuruh Nathan langsung pulang.
"Aku tungguin dulu ya.. Kalo aja Aidan pergi.. Ga ada mobilnya soalnya, Ray.."
"Lampu kamarnya nyala, Nate.. Paling mobilnya dipake yang lain.. Kamu pulang aja, nanti aku biar pulang bareng Aidan, ya?!" Rayya mengalungkan tasnya menyamping dan segera turun dari mobil. Nathan hanya mengiyakan dan beranjak pergi.
Rumah dengan bangunan minimalis ini memang tempat yang ditinggali Aidan selama di Jakarta. Papa mamanya sesekali berkunjung karena mereka tinggal di Bandung.
Rayya memencet tombol bel di samping atas pintu rumah. Ada sosok perempuan paruh baya tapi masih meninggalkan kecantikan masa mudanya, membukakan pintu untuknya. Mama Aidan.
"Selamat malam, Tante.. Aidan ada?"
"Rayya? Aidan lagi pergi makan malam di luar."
"Udah lama keluarnya, Tante?"
"Udah sejam yang lalu sih, tapi Tante ga tau mereka pulang jam berapa, namanya juga malam minggu kan? Kalo kencan suka lama.." senyuman terbit di wanita paruh baya itu. Hati Rayya terasa berat, sesak saat itu.
"Kamu lebih baik pulang aja, daripada nunggu lama.. Nanti Tante sampaikan sama Aidan kamu cari dia."
Tak kunjung mendapat jawaban dari Rayya, akhirnya Mama Aidan menawarkan opsi yang lain.
"Atau mau nunggu? Tapi maaf Tante mau istirahat, jadi kamu bisa tunggu di teras. Gapapa kan?"
Rayya mengangguk. Tak lama setelah itu pintu langsung di tutup begitu saja.
Dalam sunyi dan dinginnya malam, Rayya masih bertahan menunggu Aidan datang. Butuh sekitar empat puluh menit, sosok yang Rayya nantikan akhirnya datang juga.
Masih dengan raut tanda tanya, Rayya memandang pria yang sedang keluar dari mobilnya dan berjalan ke arahnya tanpa menyadarinya.
"Ai.."
"Rayyaaa.. Katanya lusa balik? Kok ga ngabarin?"
Rayya hanya tersenyum menggeleng.
"Kamu dari mana?"
Aidan yang sepertinya membaca situasi pun menghela nafasnya.
"Abis makan malam."
"Sama siapa?"
"Kita pergi bentar, yuk.. Aku mau ngomong."
Segenap rasa menjalar ke tubuh Rayya. Rayya ingin segera melarikan diri dari situasi ini. Tapi dia ingin mendengar penjelasan Aidan.
Soal malam minggu, kencan, dan dengan siapa dia pergi malam ini.
Semua berputar di otaknya.
Rayya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Pasrah saat dirinya dituntun untuk masuk ke dalam mobil. Masih dengan pandangan nanarnya, Rayya mengikuti kemana saja Aidan membawanya. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sudut taman sebuah restoran.
"Kamu makan dulu, ya?"
"Ga usah, Ai.. Aku ga lapar."
"Udah pokoknya makan dulu!"
"Nggak! Aku mau to the point. Tadi kamu makan malam sama siapa?"
"Kamu ga biasanya gini.. Ihhh.. Kenapa sih?" Seru Aidan sambil mencubit pipi Rayya.
"Ai!!! Aku ga bercanda! Jelasin sekarang!"
"Iya.. iya.. Makan malam sama teman." Ujar Aidan santai, tapi sama sekali tidak memandang Rayya.
"Teman yang mana?" Tanya Rayya penuh selidik.
"Kamu ga kenal, Ray.. Anak teman Mama." Aidan masih menunduk seakan bingung akan menjelaskan dari mana.
"Ai.. Aku pengennya kamu jujur cerita, jadi aku ga kayak orang oon gini nanya terus!"
Pandangan Aidan kemudian terarah ke iris mata Rayya. Menatapnya sendu. Kemudian menggenggam erat tangan Rayya seolah meyakinkan sesuatu.
"Ray.. Kamu tau aku sayang kamu, kan?"
Rayya hanya menatap kosong ke arah sorot mata Aidan yang meragu.
"Kamu tau aku cinta kamu, kan?"
Lagi-lagi Rayya diam. Perasaan tak karuan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kalau aku minta waktu boleh? Aku butuh waktu untuk ngeyakinin Mama soal kamu.. Dan selama itu aku pengen kamu tetep sam-"
"Anaknya temen Mama kamu cewek?" Aidan diam. Tapi Rayya tahu pasti jawabannya.
"Kamu dijodoh-jodohin lagi?" Lagi-lagi Aidan hanya diam, dia hanya ingin merengkuh Rayya saat ini. Membiarkan Rayya tahu bahwa ini semua akan baik-baik saja. Aidan tetap akan memilihnya.
"Seharusnya aku udah tahu sejak awal ya, Ai.. Mama kamu emang ga pernah suka sama aku.. Dulu kupikir memang karena beliau begitu.. Tapi setelah tadi, sepertinya aku salah."
"Ray.."
"Kita udahan aja, ya.. Aku tahu banget kamu gimana.. Kamu ga akan berani nolak permintaan Mama kamu."
"Aku bisa bicarain sama Mama, Ray.." Aidan memohon. Rayya ragu-ragu kemudian berusaha tersenyum.
"Oke.. Aku kasih waktu."
Aidan bersemangat mendengarnya.
"Satu bulan cukup?"
Aidan mengangguk mantap kemudian merengkuh Rayya ke dalam pelukan eratnya. "Makasih, sayang.."
.
Flashback off
*****
.
_Rayya_
Sembilan hari
.
"Bay.. Nathan ga ada hubungin kamu?" Rayya putus asa. Sudah mendekati ulang tahun Nathan tapi tak kunjung ada kabar.
"Ga ada, Mbak.. Waktu itu aja cuma mastiin Mbak Rayya makan teratur. Sama pas awal aja, Mbak Rayya diminta nungguin Mas Nathan jemput."
"Hmmm.."
"Emang ada apaan sih, Mbak? Berantem ya?"
Rayya sendiri tidak paham apa yang terjadi. Rayya tidak mengerti kenapa Nathan bisa sebenci ini dengan kehadiran Aidan.
"Ya udah nanti kalo Nathan ada hubungi kamu, kasih tau ya, Bay.. Dia ga bales sama sekali w******p aku."
Dengan langkah gontai, Rayya kembali naik dan merebahkan diri ke kasur. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Dipandangi box disebelahnya. Hadiah untuk Nathan yang dia siapkan jauh-jauh hari.
'Aku masih pengen jadi yang pertama ngucapin selamat ulang tahun'
Rayya memalingkan wajahnya ke arah balkon kamar. Dia butuh udara malam. Yang dingin. Tanpa Nathan. Sofabed balkon jadi teman yang pas untuk tubuhnya yang lunglai. Seharian ini dia menyibukkan diri di gudang, merapikan barang, mengecek stok, dan lain-lain. Akhirnya kantuk membawanya. Gelap.
.
_Rayya_
Sepuluh
Happy birthday, Nate!
Ini pertama kalinya aku ngucapin ini lewat whatsapp
Kamu tega!
.
Dilemparkan ponsel itu ke arah kasur. Sudah pukul sepuluh pagi dan tidak ada balasan ataupun kabar dari Nathan. Melewatkan hari ini sendirian. Rayya tak pernah membayangkan. Pertahanannya tumbang. Rayya membenamkan wajahnya ke bantal. Pundaknya bergetar. Terisak.
Tangisnya pecah.
Entah berapa lama dia akan terus seperti itu. Yang Rayya tahu, hari ini dia hanya ingin menangis. Mengeluarkan semua.
Posisinya berpindah ke pojok kasur. Masih dengan menekuk kakinya dan membenamkan wajahnya disana. Memeluk diri.
Sekarang sudah jam makan siang. Rayya baru ingat dia melewatkan sarapan. Tapi nafsu makannya tak kunjung datang. Sampai seseorang membuka pintu dan memunculkan sosoknya.
"Bayu bilang kamu belum makan dari pagi. Makan yuk, diluar."
Rayya hanya memandangnya nanar. Kemudian membenamkan lagi wajahnya. Entah apa yang Rayya rasakan saat ini. Hanya saja Rayya berpendapat Nathan sudah keterlaluan. Nathan benar-benar sudah mengabaikannya. Dan akhirnya Rayya terisak lagi.
"Ray.." tangannya menyapa dan mengusap lembut puncak kepala Rayya. "Maafin aku."
Seketika tangisnya pecah. Nathan membawa Rayya ke dalam pelukannya sembari mengucapkan berkali-kali kata maaf.
Nathan tidak pernah mengira bahwa Rayya akan bereaksi seperti ini. Nathan hanya butuh waktu. Butuh waktu untuk menyiapkan diri. Karena dia tahu, saat Aidan kembali maka Rayya pasti akan memaafkan dan mendengarkan apapun alasan Aidan meninggalkannya.
Rayya dan kelemahannya.
Aidan Hugo Sasmita.
*****
"Udah donk, Ray.. Masa' mau nangis terus sih.. Itu mata udah bengkak!"
Rayya hanya diam dan terus melemparkan bantal ke arah Nathan.
"Makan yuk.. Aku laper nih.."
"Makan sendiri aja sana! Udah terbiasa gitu kan?!"
"Aku maunya sama kamu.. Ini kan ulang tahun aku, Ray.. Masa kamu tega sih!"
Rayya benar-benar jengkel pun akhirnya membuka suara.
"Yang tega disini sebenernya siapa, sih?! Yang diemin aku siapa? Yang bikin aku ngungsi kesini siapa? Ato emang udah ga mau tinggal bareng? Ngomong aja sih, Nate.. Aku beresin barang-barangku besok! Aku juga punya tempat tinggal kalo kamu lupa!"
"Ray.. Udah donk.. Maaf ya.. Nanti malam pulang, ya.."
Rayya enggan menjawab.
Nathan mendekat dan memeluknya untuk ke sekian kali. Meletakkan dagunya di ceruk leher Rayya.
"Maafin aku ya kayak anak kecil. Aku cuma ga sanggup liat kamu sedih lagi."
Rayya hanya diam terpaku, namun kemudian membalas pelukan Nathan.
"Aku baik-baik aja, Nate.. Asal kamunya ada."