"Hai, Nate!
Sapaan dari seseorang sekejap membuat mood Nathan memburuk. Entah apa yang diinginkan orang itu hanya dengan berbasa-basi dan berkata 'Hai'.
"Mau apa lo?"
"Cuma mau ngomong sebentar, mungkin lebih ke minta ijin. Walaupun sebenarnya gue juga ga tau kenapa harus minta ijin ke lo."
"Kalo ini tentang Rayya, gue ga mau ngomong apa-apa!"
"Nate, please. Gue butuh ijin lo buat jelasin ke Rayya. Karna gue tau Rayya ga akan dengerin kalo lo bilang nggak."
"Apalagi yang mau lo jelasin? Mau memperjelas kalo lo ninggalin dia gitu aja, padahal dengan lapangnya dia kasih lo waktu?! Bisa ngakal dikit ga sih, Dan?! Lo ngerti ga dampak perbuatan lo?! Beruntung Rayya masih nalar otaknya, dia bisa cari pengalihan positif dan yang perlu gue tekankan, kondisi dia jauh lebih baik tanpa lo!"
Ya! Aidan ada di hadapan Nathan saat ini. Lebih tepatnya menghalang Nathan di depan pintu kantornya.
"Gue cuma minta satu waktu aja, Nate.. Kalo Rayya udah ga mau denger penjelasan gue ya gue mundur dari hidup Rayya."
Nathan terlihat menimbang-nimbang. Sebenarnya dia enggan membiarkan Rayya bertemu dengan Aidan. Tapi dia rasa Rayya butuh mendengar penjelasan itu.
"Oke, sekali aja! Setelah itu jangan ganggu Rayya lagi!"
Nathan berlalu dari hadapan Aidan. Dia kesal, jengkel, marah disaat yang bersamaan. Setelah kejadian tiga tahun lalu yang Nathan sadari sangat membuat Rayya terpuruk. Meski gadis itu tidak pernah menampakkannya tapi Nathan tahu Semesta-nya hancur.
Menjadi pacar yang tak dianggap oleh keluarga Aidan adalah awal dari rapuhnya Rayya. Rayya yang selalu memberikan waktu kepada Aidan yang terus berjanji meyakinkan orang tuanya akan hubungan mereka. Berakhir dengan Aidan meninggalkannya tanpa kabar.
@callmenate : Mendungkah Semestaku? @semestarayya
Postingan Nathan di sosmed kali ini bukan hanya menggambarkan pemandangan langit di depannya. Tak ayal postingan itu lagi-lagi membuat gempar.
@nads_wijaya : lo apain Rayya?
@gits_inggit : Mbak Rayya mulu di mention, Inggit kapan..
@rayyasboy : Mbak Rayya aman kalo ada aku, Mas..
@nord_wijaya : dinner sama aku yuk, Ray.. dijamin ga mendung
.
@callmenate : @nads_wijaya gue kurung! @gits_inggit malesin banget! @rayyasboy jagain sampe nanti gue jemput! @nord_wijaya gue ikutan! Traktir
.
@semestarayya : duh rame.. @nads_wijaya gue baik-baik aja nadnad.. rinduuu.. @nord_wijaya eh calon jodoh!
.
@nord_wijaya : @semestarayya wahhh dapet kode
@callmenate : @semestarayya jangan asal ngomong!!!
@nord_wijaya : ga jadi, Ray.. satpam merangkap bayimu posesif @semestarayya
Sisa komentar yang lain tak jauh dari pertanyaan 'Mas Nathan sama Mbak Rayya jadian?', 'pacarnya, Mas?', 'ih yang mana sih orangnya?' dan lain-lain. Karena Nathan tak pernah sekalipun memperlihatkan wajah Rayya di sosmednya. Memang Nathan tak berniat. Walaupun begitu yang biasa terjadi adalah mereka yang langsung stalking sosmed Rayya untuk mengeceknya.
Percakapan dengan Aidan hari ini cukup menguras pikiran dan konsentrasi Nathan. Dan layaknya anak kembar, Rayya menyadari ada yang tidak beres dari postingan Nathan. Dering ponsel Nathan berbunyi, lagu Mocca mengalun. Nathan langsung menebak itu dari Rayya.
"Semestaaaakuuuu.." Nathan duduk di belakang meja kerja kerjanya.
"Hmmm.. Kenapa? Lagi ada masalah?"
"Nggak."
"Trus kenapa postingan begitu?"
"Takut kamu lagi sedih aja."
"Baru sembuh sedihnya."
"Sedih kenapa?" Nathan langsung beranjak lagi dari kursinya.
"Di diemin dua minggu."
Nathan merebahkan kembali badannya di kursi.
"Maafin aku ya, Ray.. Aku kayaknya terlalu ngekang kamu, ya.. Padahal hak aja aku ga punya."
"Kamu punya hak, Nate.." Nathan tertegun mendengar ucapan Rayya. "Kamu dikasih kepercayaan sama Ayah jagain aku, kan?" Seketika hembusan nafas kasar terdengar.
"Aidan kemarin nemuin aku.. Dia mau ketemu kamu dan aku ijinin. Jadi silakan selesaikan apa yang perlu diselesaikan. Pesanku satu.. Aku ga mau kejadian tiga tahun lalu terulang. Aku ga mau liat kamu kayak gitu. Dan ga suka!"
"Thanks, Nate.. Cepet jemput ya.. Aku pengen peluk kamu.."
"Hmm, nanti jam 5 aku usahain sampai workshop, ya! Bye!"
*****
"Mbak Rayya.. Stok needle yang 4.00mm abis"
"Semua merk?"
"Iya mbak, tinggal yang dari china set-setan itu. Yang retail ga ada."
"Ya udah, Git.. Kamu pesen langsung.. Jumlahnya 2x lipat dari biasa aja, soalnya yang ikutan workshop tambah banyak."
Rayya melanjutkan kegiatannya merapikan rak benang berdasarkan merknya. Inggit mengamatinya dengan serius. Bukan karena Inggit memperhatikan bagaimana penyusunan benang, tapi penasaran akan apa yang terjadi akhir-akhir ini.
"Mbak Rayya.."
"Hm."
"Kemarin sama Mas Nathan berantem ya, Mbak.." Rayya menoleh dan menatap Inggit sekilas kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
"Ya gitu deh, Git.."
"Mas Nathan tumben betah, biasanya marah sama Mbak Rayya paling tahan setengah hari aja. Inget ga, Mbak? Waktu Mas Nathan marah-marah Mbak Rayya dianter sama temen cowok siapa tuh namanya? Yang tinggi, jenggotan, putih."
"Hendra?"
"Nah iya itu.. Marahnya Mas Nathan cuma ngomel-ngomel, trus pergi tapi sorenya tetep jemput Mbak Rayya." Rayya hanya mengangguk.
"Tapi pas Mas Aidan datang kok mendadak garang gitu?"
"Ya karena Nathan tau, Hendra cuma orang yang pernah suka aku, Aidan itu mantan aku."
"Mas Nathan sama Mbak Rayya pacaran ga sih?"
"Jangan ngaco deh, Git!"
"Ya coba pikir, Mbak.. Kalian berdua jomlo, Mas Nathan over protektif, ga di kehidupan nyata aja, di sosmed apalagi, berasa bucin."
"Nathan ya gitu dari dulu."
"Tapi Mbak Rayya pernah ga suka sama Mas Nathan?"
Rayya terdiam. Mencerna kalimat Inggit kemudian menghembuskan nafas panjang.
"Udah ah, Git.. Kamu kalo diladenin ngelantur omongannya! Gantian rapihin ya! Aku mau cek file dulu." Ucap Rayya sembari mengacak-acak rambut Inggit dan melenggang naik ke lantai tiga.
Ingatan Rayya kembali ke jaman SMA dimana pertama kalinya Rayya tahu apa itu suka, apa itu cinta. Nathan dengan segala pesonanya kala itu mampu sedikit mengusik hatinya. Rayya hanya bisa menyimpannya erat, bahkan orang-orang yang tahu bahwa mereka hanya sebatas teman saja membully seenaknya, apalagi jika mereka tahu kenyataan Rayya menyukai Nathan.
Sampai akhirnya Hendra yang selalu melindungi Rayya dari segala bully yang dihadapi. Bukan Nathan. Karena Rayya tahu jika Nathan membelanya itu hanya memperparah keadaan.
Ya! Nathan memang cinta pertamanya. Tapi hanya sebatas itu. Tak ada yang istimewa.
Yang istimewa hanya satu, saat Rayya yang bukan siapa-siapa bisa menyedot semua perhatian Nathan. Bahkan bisa menciptakan Nathan yang seprotektif sekarang.
Diamati boks kado yang akan Rayya berikan kepada Nathan tiga hari lalu saat ulang tahunnya. Dia lupa menyerahkannya. Keadaan saat itu sungguh mengalihkan semua pikiran Rayya. Yang Rayya tahu hanya dia ingin Nathan tidak mendiamkannya. Nathan kembali berbicara.
*****
"Mas Nathaaan!" Sapaan mendayu-dayu Inggit membuat Nathan mendadak kesal. Dia berlalu tanpa menjawab.
"Dih, ga mau info percakapan baru, ya? Ya udah sanaaa, cuekin aja Inggit, Inggit ikhlas"
Sekejap wajah tekuk Nathan berubah menjadi sok manis, bahkan gaya bicaranya pun dibuat-buat.
"Inggit baik, mau ngopi apa? Frappe? Latte?"
"Mas Nathan mah kalo ada maunya aja Inggit dibaik-baikin!"
"Cepetan mau apa? Sebelum berubah pikiran nih gue!"
"Eh.. Eh.. Frappe aja.. Frappe!" Inggit menyunggingkan senyum yang dibenci Nathan. Smirking!
Nathan lantas menyebrang ke coffeeshop untuk membelikan frappe untuk Inggit dan ice americano untuk Rayya.
"Nih! Sekarang ngomong!"
"Kalian pacaran ga sih sebenernya?!" Nathan mendelik kaget dengan pertanyaan Inggit.
"Lo ngomong yang bener, Git! Gue ambil nih frappe nya!"
"Ya gimana ya, Mas.. Kalian itu take care of each other.. Anteng-anteng aja ga punya pacar, kayak ga merasa terganggu.. Trus ya pas banget kejadian akhir-akhir ini Mbak Rayya lagi dikelilingi orang-orang yang suka sama Mbak Rayya.. Dan mendadak Mas Nathan jadi ambekan."
"Apa lo bilang? Gue? Ambekan?"
"Lha iya kan? Apa coba kalo ga ambekan? Diemin Mbak Rayya hampir dua minggu betah banget.. Gengsi?"
"Lo kalo ngomong tuh ya!"
"Dari Mas Hendra, trus di sosmed tuh Mas Nord, sekarang Mas Aidan.. Mana coba yang bikin Mas Nathan ga ambekan? Ambekan semua kan? Pada kadarnya."
"Kadar???"
"Iya.. Kadar gebetan, Mas Nord, cukup di ambekin lewat sosmed, tapi masih bisa jogging bareng.. Kadar terang-terangan suka, Mas Hendra, dijutekin langsung, plus berimbas ke Mbak Rayya yang di ambekin juga.. Kadar mantan, Mas Aidan, di ambekinnya parah, sampe dua minggu.. Dan Mas Nathan sadar ga? Yang kena imbasnya Mbak Rayya semua.." Nathan terdiam mencoba mengerti omongan Inggit yang sebenarnya tidak ingin sama sekali dia mengerti. Inggit si koplak yang mendayu-dayu tiap ada Nathan bisa bicara se-real ini.
"Kok diem, Mas.. Terpesona sama Inggit ya?" Dan kemudian pikiran Nathan buyar.
"Git!"
"Kalo Mas Nathan sayang, ada cara yang lebih oke daripada ambekan. Dan nyimpen rasa itu bukan keputusan terbaik. Ya udah, Inggit mau naik dulu. Makasih Mas, Frappe nya!"
Inggit melenggang meninggalkan Nathan yang masih dengan pikirannya. Boy yang sedari tadi diam di pojokan kasir mendekati Nathan.
"Dasar cemburuan!"
Nathan siap-siap melemparkan gelas americano yang dia pegang sedari tadi ke arah Boy, sebelum akhirnya Boy berlari ke atas. Bayu dan Toni hanya mengamati dan tertawa lirih. Akhirnya Nathan memutuskan menyusul Rayya ke atas.
"Woahhhh!!!"
Rayya yang mendengar suara Nathan sarat akan jengkel langsung mendekatinya.
"Kenapa?"
"Itu pegawai-pegawai kamu pada kenapa sih, Ray? Pinter banget pada mojokin aku!"
"Mojokin gimana?"
"Udah jadi dinaikin belum gaji mereka? Biar pada diem kalo kerja! Woahhh!"
"Apasih, Nate! Duduk dulu deh.. Ini buat aku kan?" Rayya langsung mengambil satu cup ice americano dari tangan Nathan, meminumnya, lalu meletakkannya di meja kerja. Rayya berjalan ke arah Nathan dan menyerahkan sesuatu.
"Apa ini?" Nathan masih heran.
"Birthday present.. Tadinya mau dikasih pas hari H tapi aku lupa." Mata Nathan berbinar.
"Aku buka ya?" Rayya mengangguk.
Beberapa detik kemudian Nathan hanya diam dalam takjub. Dia angkat bagian pundak sweater agar bisa melihat keseluruhan.
"Suka?" Tanya Rayya yang dibalas hanya dengan anggukan. Rayya mendekat tanpa aba-aba kemudian memeluk Nathan erat. Nathan masih bingung. Degup jantungnya tak beraturan.
"Thanks for everything, Nate.. Aku mau terimakasih sama Tante Mirna yang udah lahirin kamu.. Aku bersyukur bisa deket kamu terus, nyusahin kamu.. Aku yang bukan siapa-siapa bahkan bisa menghabiskan waktu kamu. Aku minta maaf."
Nathan hanya diam. Kemudian merengkuh Rayya lebih erat. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia hanya ingin begini. Memeluk Rayya seerat yang dia mampu.