I am not your friend!

1135 Kata
"You are.." "I am!!!" "Okay... Karena kamu merasa berhak-terdengar dari intonasi bicaramu-untuk ngomong jealous, i'll say the same. Aku juga nggak suka kamu ninggalin janji kamu sama aku untuk perempuan lain!" "Stef is just a friend, Rayya.." "So are they! Aidan, Seth, bahkan Nord? Oh Gosh, I can't believe you just mentioned Nord!" "Ray.." "Adil kan?" Nathan bergeming. "Aku sedikit mengerti -hanya sedikit- saat kamu batalin janji kita karena dia sakit. Tapi aku nggak habis pikir kenapa kamu harus nginep?!" Rayya memijit pangkal hidungnya. "So, aku mau, disini, in our relationship -yang entah aku juga nggak begitu paham kita dalam hubungan seperti apa-, semua adil!!!" Bergelut dengan perasaan aneh yang terus memburu. Rayya tidak suka keadaan seperti ini. Dadanya sesak. Napas tercekat. Yang Rayya inginkan sekarang mengeluarkan kejengkelan-kejengkelan yang dia simpan. "Okay. Deal!" Tukas Nathan. "Okay! Good, then!" "So, bisa temani aku makan? Aku belum makan daritadi. Nungguin kamu." Nada bicara Nathan melembut. Rayya yang masih menimbang-nimbang perasaannya saat ini mulai gamang. Rayya merasa kalah saat akhirnya kedua kakinya melangkah ke pantry, mengecek makanan-yang ternyata tidak ada sama sekali. Rayya memutuskan membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan. Udang di freezer, baby spinach, s**u, keju. "Kamu mau masak?" "Katanya lapar.." "Iya, aku lapar banget." Wajah Nathan berseri. Perdebatan untuk saat ini paling tidak berhenti. Dipandanginya Rayya yang melenggang kesana kemari. Mulai dari memakai apron. Mengucir asal rambutnya, masih tersisa helaian-helaian yang tergerai di lehernya yang jenjang. Argh! Nathan tidak pernah dengan sengaja mengamati Rayya seintens ini. Nathan tidak pernah merasa bahwa mengamati Rayya dari belakang bisa sebahagia ini. Tak disangka tubuhnya beranjak dan kakinya melangkah mendekat ke arah Rayya. Rayya merasakan tangan melingkar di pinggangnya. Seketika tubuhnya menegang. "Nate.." "Hm.." Kecupan Nathan terasa hangat di puncak kepala. Nathan mulai membenamkan wajahnya disela-sela rambut Rayya dan bergumam. "I love you, Semesta.." Honestly, I'm in love with you. "I know.. Kamu udah bilang itu berkali-kali" ****** "So, udah dapet mobilnya?" Nathan duduk menikmati masakan Rayya malam ini. Sedangkan Rayya hanya asik dengan buah jeruknya. "Udah, mungkin sekitar 2-3 hari lagi aku udah bisa terima. Finally, aku bisa kemana-mana sendiri. Harusnya aku gini dari dulu." "Aku ikut seneng kamu akhirnya beli mobil, tapi aku lebih seneng kalau kamu nggak punya mobil." "Nate.." "I know kita udah bahas ini. Just saying!" Nathan menyudahi ketidaksetujuannya akan keputusan Rayya soal mobil. Dia pun melanjutkan makan malamnya. "Oh ya, Rabu malam Anniversary Om Wijaya sama Tante Lusi yang ke 25, Nadine undang kamu nggak?" "Nadine ngambek sama aku. Tapi aku udah terima w******p dari Nord!" Dahi Rayya berkerut. Bingung akan penjelasan Nathan tentang Nadine. Nathan kemudian melanjutkan penjelasannya. "Soal janjiku ke kamu yang aku batalin kemarin." "Oh, I see.. Wajar lah, kalau aku jadi Nadine, aku juga nggak terima sahabatku digituin sama cowok!" "Rayyy.. Jangan bahas ini lagi, oke?!" "Nate.." "Hm?" "How's Stephanie doing?" "She's doing great. Udah mendingan. Sebenernya besok aku diminta kesana." "Jadi besok kamu kesana?" "Ehm.. Nggak." "Kenapa?" "Nggak apa-apa. Aku males kalau berujung kita ribut lagi. Lagian kondisinya membaik." Rayya tersenyum. Mendapati Nathan memutuskan sesuatu untuknya meskipun hal yang kecil sangat membahagiakan. Kebahagiaan yang sederhana. "I'm okay kalau kamu mau kesana.." Mata Nathan terlihat kaget. Kemudian Rayya melanjutkan kata-katanya. "... tapi sama aku." Nathan tersenyum mengangguk. ----- Pesta malam ini sangat meriah dan mewah. Tema outdoor dengan hiasan lampu kelap kelip di pinggir taman menambah keromantisan acara. Tema kasual dipilih melihat beberapa tamu undangan yang memang hanya kerabat dekat. "Rayyaaa.. Kangen banget gue!!!" Nadine memeluk Rayya erat. Setelah pandangannya tertuju ke samping, ia segera mengacuhkannya. "Bri.. Lo nggak ngeri punya istri ambekan gini?" Nathan memulai perdebatan. Nadine yang menyadari sindiran itu bersiap membalas. Brian hanya terkekeh dan menepuk bahu Nathan. "Udah udah, Nad.. Nathan aja diladeni sih." Rayya mencoba menengahi. "Iya, bener.. Ngapain gue urusin dia. Eh, Ray.. Tadi nyokap, bokap, Seth sama Nord nyariin lo. Yuk kesana!" Rayya mengikuti Nadine ke satu meja bundar. Disitu sepasang suami istri paruh baya dan beberapa pemuda seumurannya sedang berbincang asik sembari makan malam. "Tante, Om.. Happy Anniversary.. Makin mesra yaaa.." Rayya memeluk Tante Lusi dan juga Om Wijaya. "Ah, Rayya.. Makasih.. Tante kangen sama kamu jarang nongol." Rayya yang kemudian duduk di sebelah Tante Lusi menjawab. "Iya, Tante.. Lagi repot sih emang. Paling ketemuan sama Nadine aja di apartemen yang deket dari workshop." "Eh, udah kenal Nord sama Seth kan?" "Sudah, Tante.." "Ya udah yuk, Pa.. Udah selesai kan makannya? Kita sapa tamu yang lain. Kami tinggal dulu ya, Ray.. Lagian Om sama Tante udah nggak nyambung ngobrol sama kalian." Rayya mengangguk diikuti gelak tawa. Nathan mengamati dari jauh dimana Rayya, Nadine, Seth dan Nord berada di meja yang sama. Berbincang. Tertawa. Sesekali Nathan melihat Seth memandang ke arah Rayya dengan tatapan yang sedikit-aneh. Oke fine! Memuja! Tatapan memuja. Nathan benci mengakuinya. Baru saja masalah Aidan selesai, walaupun selalu ada kemungkinan dia kembali menemui Rayya, sekarang Nathan harus dihadapkan dengan lelaki lain yang juga menunjukkan ketertarikannya kepada Rayya. "Samperin aja daripada melotot sendirian disini." Brian yang sedari tadi mengawasi gerak gerik Nathan yang aneh menyadari dari mana asal kekesalan Nathan. "Seth udah lama balik dari UK? For good atau cuma liburan?" "Dua bulan lalu. Bisa dibilang for good untuk satu tahun kedepan. Dia lagi urusin beberapa kerjaan di kantor sini." Nathan mengangguk. Setahun? Lumayan lama untuk mengetahui seluk beluk seseorang. Tapi waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. "Kemarin mereka jalan. Makan malam juga. Seth was happy!" "Ck.." Nathan berdecak malas mendengar detail cerita itu. "Cuma cerita aja. Biar lo lebih waspada. Yuk, ah. Gabung aja. Lo bisa ngawasin lebih dekat." Nathan dan Brian kemudian bergabung dengan yang lain untuk berbincang. Nathan yang posesif segera meminta Nord-yang duduk di sebelah Rayya-untuk pindah. Hal ini disambut oleh kekehan yang lain, kecuali Rayya yang memandangnya sebal dan juga Seth yang menelisik aneh. Pesta berjalan lancar dan menyenangkan. Pukul sebelas malam setelah melewati basa-basi panjang akhirnya Nathan dan Rayya berhasil duduk di dalam mobil untuk pulang. Rayya yang lelah hanya terdiam dan mencoba untuk tidur. Berbeda dengan Nathan yang masih saja terusik dengan keakraban Rayya bersama Seth di pesta tadi. Tidak banyak. Mereka hanya berbincang. Tapi tetap saja itu sangat mengganggu. "Seth lagi deketin kamu kayaknya." Rayya yang mendengar pernyataan Nathan yang tiba-tiba mengernyitkan dahinya. "Dia nggak punya teman hangout, Nate.. Yang dia kenal sibuk semua. Aku doank yang santai." "That's not even a reason." "Emang nggak boleh dia deketin aku?" "Nggak!" Sahut Nathan cepat. "Why?" Nathan mengangkat bahunya. Rayya yang merasa aneh dengan sikap Nathan belakangan ini kemudian bertanya. "Nate, are we really 'friend'?" Rayya menekankan kata 'friend' disini. Ada makna lain disitu. Nathan paham akan ini. Rayya hanya tidak mau melambung terlalu tinggi untuk Nathan. Segala sesuatunya harus pasti sebelum dia secara terang-terangan menyerahkan seluruh hatinya. Nathan masih menatap Rayya lekat. Menelusuri iris mata Rayya dari kiri ke kanan. Mencoba menemukan pemahaman yang sama tentang kata itu, atau bahkan pertanyaan Rayya. "Not really!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN