Nathan's Side

1769 Kata
Aku menyusuri lorong salah satu apartemen. Semenjak hunting bersama sepekan yang lalu, Stephanie akhirnya tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor agency nya sesuai dengan anjuranku. Dipenuhi rasa sesal karena lagi-lagi telah membiarkan Rayya sendiri, aku bergerak cepat menekan bel dan sesekali mengetuk pintu. Pintu terbuka, yang ada di hadapanku adalah seorang wanita berumur sebaya denganku. Seketika itu ada sedikit rasa kesal menyelimuti. "Mas Nathan ya? Masuk saja, Mas.." Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku ke dalam, mengikuti langkah wanita itu sampai dia mempersilakanku untuk duduk di sofa. "Saya Santi manager Mbak Stef. Setelah ini saya harus ke kantor agency jadi saya minta tolong Mas Nathan jaga Mbak Stef ya. Dia demam dari semalam." "Oke, Stef tidur? Perlu ke dokter nggak?" "Iya, Mas.. Baru saja makan dan minum obat. Kata Mbak Stef nggak usah ke dokter." Setelah kepergian Santi dari apartemen, aku memutuskan untuk duduk di sofa dan menonton beberapa acara televisi sembari menunggu Stephanie bangun dari tidurnya. Sesekali aku mencoba untuk mengirim pesan kepada Rayya dan menelponnya. Hasilnya nihil. Pikiranku saat ini terpaku hanya pada Rayya dan Rayya. Hanya sedikit cerita. Stephanie telah menemaniku melewati masa kecilku. Saat itu dia adalah gadis yang terpuruk akibat perceraian orang tuanya. Naluri laki-laki dalam diriku muncul untuk melindunginya. Stephanie tak lagi sungkan mencurahkan semua keluh kesahnya kepadaku. Stef layaknya kayu yang rapuh. Kami selalu terlihat bersama. Bahkan saat kehadiran Rayya, kami masih bersahabat. Rayya yang mengalami beberapa macam bully-an karenaku, terpaksa menjaga jaraknya denganku di sekolah, tanpa ada yang tahu bahwa kami tinggal satu atap. Tak terkecuali Stef. Tapi Stephanie hanyalah Stef untukku. Seorang sahabat yang butuh pelukanku untuk menenangkannya, butuh pendapatku dalam mengambil keputusan, butuh lindunganku disaat dia terpuruk. Aku sadar sepenuhnya bahwa Rayya lah semestaku. Aku bisa dengan mudahnya uring-uringan karena Rayya menolak berangkat sekolah bersama. Aku yang selalu mengomel akan semua hal yang tidak penting. Insecure, overprotektif, semua muncul bersama jika ada Rayya di dekatku. Aku merasa kurang dibutuhkan padahal dalam segala hal Rayya selalu minta bantuanku. Hal sekecil apapun dia berusaha melibatkanku. Aku yang selalu geram melihat senyumannya kepasa semua orang. Karena senyuman itu hanya untukku. Aku hanya mau senyuman itu untukku. Semua perhatian, senyuman, pelukan hangat Rayya, aku mau semua hanya untukku. Bukan untuk Aidan, Nord atau lelaki lain di luar sana. Thanks to Nadine, mantan terbaikku, yang menyadarkanku seberapa berharganya Rayya. Dan sebaiknya aku menelponnya. "Halo.." "Nad.." "Lo tuh kebangetan, Nate!!!" Teriakan Nadine sangat-sangat menamparku. Saat ini mungkin Rayya sedang ada direngkuhannya. "I know." "Lo tuh.. Arghhhh.. Njengkelin, malesin, bikin emosi." "I know, Nad.." "Gue nggak lagi-lagi kasih saran apapun ke lo. Gue capek! Prioritas donk, Nate.." suara Nadine melembut. "Lo tahu prioritas gue, Nad.. She is always my priority." "Tapi pada prakteknya nggak! Rayya kecewa sama lo kalo lo pengen tahu. Gue nggak tahu hubungan kalian serumit apa. Udah saatnya lo ngomong, Nate! Mau sampai kapan lo diem aja." "Gue pikir itu udah cukup buat kami. Kami saling ngerti, saling butuh, saling menjaga." "Tapi lo nggak jaga hati Rayya! Dan itu nggak cukup, Nate! Lo tetep harus ngomong." "Gue berusaha jaga hati Ray-" "Kalau lo jaga hati Rayya, lo sekarang ada di dealer mobil, bukan di apartemen temen lo yang manja itu!" Tut tut tut Nadine marah. Aku tahu. Dan aku mungkin pantas mendapatkannya. Ralat. Aku memang pantas mendapatkannya. Kucek lagi ponselku. Rayya sama sekali tidak membalas pesanku. Bahkan membacanya. "Dateng jam berapa?" "Hei, Stef.. Sekitar setengah jam yang lalu. Kamu mau minum?" Aku menggandeng lengan Stef untuk duduk bersama di sofa. Stef menggeleng. "Udah enakan? Tadi Santi bilang sore baru balik lagi. Mending buat istirahat dulu kalau masih pusing." "No, it's okay.. Udah ada kamu juga disini." Selama beberapa saat aku hanya menemani Stef mengobrol dan menonton beberapa acara tv. Jujur saja yang ada di pikiranku sekarang adalah hanya aku ingin cepat ke workshop atau manapun itu untuk bertemu Rayya. Tapi wanita yang sedang duduk di sebelahku sekarang memang betul sedang membutuhkanku. Walaupun dia terlihat lebih baik, tapi suhu badannya masih panas. Aku beberapa kali membujuknya untuk pergi ke dokter, tapi Stef menolak. Santi baru saja tiba saat makan malam. Aku yang baru saja mengantar Stef ke kamarnya, kemudian beranjak untuk menyiapkan sepiring makanan dan juga obat. Setelah aku mengantarnya aku berencana pamit untuk pulang. Tapi lagi-lagi Stef menahanku. Bulir-bulir keringat yang ada di keningnya dan juga suhu tubuh yang tak kunjung turun menandakan Stef tidak baik-baik saja. Aku memutuskan untuk menunggu hingga demamnya turun. Sinar matahari pagi menembus lewat tirai membangunkanku. Stef masih nyenyak dalam tidurnya. Suhu tubuhnya sudah turun. Saat aku keluar kamar, kutemukan Santi tidur di sofa. Aku segera membangunkannya dan memintanya untuk menjaga Stef dan menelponku jika keadaannya memburuk lagi karena aku harus pulang. Santi mengiyakan. Tak membutuhkan waktu lama di hari Minggu pagi untuk sampai ke apartemenku. Jalanan Jakarta di Minggu pagi lenggang. Segera setelah memarkir mobilku, aku setengah berlari ke unit memastikan bahwa Rayya pulang. Bahwa dia baik-baik saja. Bahwa dia tidak marah, tidak kesal, tidak kecewa. Walaupun aku tahu itu mustahil. Rayya berhak marah. Kelegaan muncul saat aku melihat Rayya duduk di sofa dengan setoples cookies. Aku melirik dapur dan yakin bahwa dia membuatnya sendiri. Aku langsung menempatkan diri duduk di sebelahnya. Rayya tidak merespon sama sekali. Bahkan saat aku ikut mengambil beberapa cookies di toples pelukannya. Rayya hanya pasrah tanpa menoleh ke arahku. "Aku udah khawatir kamu nggak pulang, Ray. Tapi tadi aku telpon Bayu katanya semalem dia antar kamu pulang." Rayya akhirnya memandangku. Tidak ada senyuman di bibirnya. Rayya hanya menghela napasnya. Kemudian berjalan ke arah pantry. "Ray.." Rayya masih bergeming. Tak ada niatan untuk menjawab semua omonganku. Dia membereskan dapur, mencuci beberapa alat kotor. Aku hanya memperhatikannya dari dekat. Mengikuti langkahnya. Saat Rayya menyelesaikan semuanya dan akan masuk ke kamar, aku menahannya. Kugenggam lengannya kemudian turun ke tangannya yang saat ini sama sekali dingin dan kaku. Ini bukan tangan Rayya. Tangan hangat dan lembut itu tidak ada. "Ray.." aku yakin tatapanku saat ini penuh dengan permohonan. Aku benar-benar memohon segala maaf Rayya. "Aku emang pulang. Tapi kamu yang nggak pulang!" "Ray.." "Sesibuk-sibuknya kamu pasti pulang. Tapi semalam nggak. Semarah-marahnya kamu atau aku nggak berbalas pesan atau telpon kamu pasti pulang. Tapi semalam juga nggak." "Ray.. Demam Stef tinggi. Dia butuh aku semalam." "I see.. Stef sakit dan dia butuh kamu. Dia sendirian. Nggak punya siapa-siapa disini. Kamu udah bilang itu kemarin." Aku belum pernah melihat mata Rayya seperti ini. Ada ketidakpedulian disana. "Aku mau mandi dulu. Setelah ini aku mau pergi cari mobil." "Oke. Aku juga mandi dulu. Jam sepuluh kita jalan ya?" "Aku udah janji sama orang lain, Nate.. Kamu nggak perlu antar aku." "Ray.." Begitu saja. Rayya benar-benar kecewa. Dan aku merutuki kebodohanku. ***** Membiarkan Rayya pergi sendiri saat aku bisa menemaninya adalah hal terakhir yang akan aku lakukan agar kemarahannya reda. Contohnya saat ini. Rayya sudah pergi sekitar dua jam yang lalu. Aku tidak melarangnya, mencegahnya, seperti yang biasa kulakukan. Bisa dihitung dari hari kami berbaikan sampai saat ini. Kurang lebih hampir dua minggu dan kami kembali ke keadaan ini lagi. Tak lama ponselku berbunyi. Panggilan video dari Nord. "Hi, dude! Wawww ada mantan pacar ikutan. Loh, lo bukannya ada janji sama Rayya?" "Too late, Nate.. Rayya jalan sama yang lain. Tahu gitu gue aja yang anter, Nad!" "Maksud lo Rayya jalan sama siapa???" "Sama Seth. Dia kan ngerti banget soal mobil, jadi gue saranin Rayya jalan sama dia aja!" "Nad!!! Lo gila!!!" "Santai, Nathan Denzel!!! Seth cowok baik-baik. Single, mapan, bertanggungjawab. Yang jelas nggak plin plan!" Aku terganggu dengan suara gelak Nord yang seakan menghinaku. Atau memang dia menghinaku saat ini! "Nord! Diem nggak lo!" "Hahahaha.. Nadine 100% nggak salah. Seth is as she said! Dia bakal jagain Rayya dan memilihkan mobil yang nyaman untuk Rayya." "U got my point, Nord! Rayya emang harusnya ditemani dengan seseorang yang punya full time buat dia. Bukan part timer! She is precious" "What did you say, Nadine Wijaya!!! Part timer???" "Iya, seperti lo! Bentar ke Rayya, bentar ke orang lain!" "Lo nggak ngerti, Nad!" "Emang gue nggak pernah ngerti sama lo. Sampai sekarang juga gue nggak ngerti. Kalau lo nggak serius mau Rayya, lepasin. Biar dia cari orang yang pantas buat dia!" "Wuihhh, santai Nad! Nathan mungkin butuh waktu mikir." "Kelamaan Nord! Dari jaman putus sama gue udah tiga tahun dan dia nggak ngomong apa-apa sama Rayya!" "Gue pusing dengerin lo, Nad!" "Ya udah gue off. Nord nasehatin sahabat lo!" Nadine mengakhiri panggilan kami. Aku paham Nadine sedang marah seperti halnya Rayya. Tapi melibatkan Seth di dalamnya sungguh tidak pernah ada di pikiranku. Setelah bercakap dengan Nord yang kurang lebih intinya sama. Aku mengakhiri panggilan. Seketika pikiranku buntu membayangkan Rayya dengan senyumnya berdiskusi dengan Seth. Aku kenal Seth. Yah! All Nadine said is the truth. Seth cowok baik. But please, not now. Bukan di saat Rayya marah, kesal, ataupun kecewa denganku. Sudah berapa kali pesan yang ku kirim tak terbalas. Rayya mendiamkanku dan seperti orang bodoh aku menunggunya sekarang. Sudah berapa kali aku berjalan mondar-mandir dari pantri ke pintu demi melihat wajahnya. Oh Gosh! Aku bisa gilaaaa!!! Rayya dan Seth terlalu lama untuk sekedar mencari mobil. Ini sudah waktunya makan malam dan mereka belum juga pulang. Tepat jam sepuluh malam Rayya pulang. "Darimana aja sih, Ray?!" Rayya hanya melirik sekilas tampak tak berminat menjawab pertanyaanku. Tapi akhirnya dia menjawab juga. "Dealer." "Sampai jam segini???" "Dinner." "Sama siapa?" Kali ini tatapan Rayya terlihat jengah dan malas. "Seth. Kamu kenal juga, kan? Dan aku dengar dari Nadine kalian berteman baik. So, nggak ada masalah kan?" "Aku bisa temani kamu, Rayya!!!" "Sabtu." "What?" "Hari Sabtu kamu seharusnya temani aku. Tapi hari ini Minggu, aku janji dengan orang lain. Aku nggak punya janji apa-apa sama kamu." "Kenapa harus minta tolong orang lain kalau aku bisa?" "Dan kenapa harus selalu minta tolong sama kamu kalau orang lain juga bisa?" Rayya menjeda sejenak. "Look, Nate.. Aku lagi nggak mau berantem." "Kita nggak berantem, Rayya! Kita bicara!" "Seriously??? Okay, what do you wanna talk about?" "Saat Nadine bilang nggak bisa harusnya kamu telpon aku." "Kenapa?" "Kenapa???" "Iya.. Kenapa aku harus telpon kamu?" "It's basic rule, Rayya!!!" "Haha.. Are you kidding me? Aku nggak ngerti basic rule yang kamu maksud!" Oh Gosh. Not again, Rayya. Aku benar-benar kesal dengan pembicaraan ini. "Kamu butuh aku. Aku butuh kamu. That's the basic rule!" Damn! What was that?! "Ahhh.. What was that? Aku butuh kamu kemarin, Nate.. Bukan hari ini!" "Kamu selalu butuh aku!!!" "Wuahhh.. No, I'm not!" "Yes, you are." "Kamu mau ngomong apa sih, Nate.. Aku capek!" "I don't like the fact you hung out with other guy!" "It's Seth!" "Anyone, Rayya! Mau Seth, Aidan, Nord, bahkan Bayu sekalipun!" "Wait.. Are you jealous?!!!" Jealous? Ya. Aku memang cemburu. Sangat cemburu! "I am!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN