*** Pulang dari sekolahan Biru, Aruna kembali ke kafe Bagus. Una menggenggam tangannya erat lantaran mobil Bagus sudah terparkir rapi di halaman kafe. Ia keduluan. Entah alasan apa yang akan dirinya berikan nanti. Namun, tentu dia tak bisa menghindar. Kaki-kaki Una melangkah kecil masuk ke dalam restoran. “Baru juga jadi manajer, tapi sudah ngelunjak. Lihat saja sekarang, dia keluyuran.” Salah satu teman kerja Una berbisik kencang di depannya ketika ia baru saja menginjakan kaki di dalam restoran. Una menguatkan diri, tak ingin terpengaruh oleh sindiran itu. Ia melanjutkan langkah meski sempat terhenti. Satu-satunya yang harus dirinya temui saat ini adalah Bagus. Bagaimanapun juga dirinya harus memberi Bagus penjelasan mengenai kepergiannya yang mendadak. Meski itu suatu kesyukuran

