Selama hidup Flo tidak pernah merasakan namanya pacaran. Dekat sama cowok sudah biasa, tapi hanya sebatas sebagai teman. Kasusnya selalu sama, antara Flo yang tidak peka atau perasaan Flo yang tak berbalas.
Perempuan dengan bandana polkadot itu memasuki kelasnya dengan santai. Lebih tepatnya tetap berusaha santai, padahal hatinya lagi was-was.
Sesil, salah satu orang yang paling dihindari Flo hari ini menghadang jalannya. Flo mengurut pangkal hidungnya. Cewek itu lagi tidak berminat untuk berkelahi dengan Sesil.
"Lo beneran masuk seni musik?" ketus Sesil dengan mata menyipit sinis.
"Iya," jawab Flo. Matanya menatap mata Sesil menantang
"Dan jadian sama Kak Bagas?"
Pertanyaan yang sangat Flo nantikan.
"ENGGAK!" Flo berteriak di wajah Sesil. Membuat cewek itu sampai menutup telinga, karena suara itu membuat telinganya mendengung.
"Uhuk!" Cewek berbandana polkadot itu terbatuk. Sepertinya ia membutuhkan minum karena teriakannya ini.
"Mending lo bantuin gue deh. Kalau sampai ada yang nyebarin rumor aneh itu langsung lo sangkal," omel Flo balik.
"Lah jir, kok malah lo yang ngomel. Lagian foto lo kesebar dan lo nggak ngomong apa-apa bahkan di grup kelas. Foto lo sama Kak Bagas makan."
"Itu gue lagi nerima bayaran poster yang gue bikin, denger ya." Flo mendekatkan diri ke Sesil. "Sesukanya kita sama cowok ganteng, bayaran atas kerja kita itu yang utama. Kak Bagas nggak ngebayar pake mentahannya jadi dia ngajak makan-makan. Kalian yang ngelarang gue makan-makan bayarin dulu sini upah desain poster bikinan gue!" Flo balik mengomel dan menunjuk Sesil dan orang-orang sekitar yang ikut melihat.
Setidaknya Flo bersyukur karena ia bisa meluapkan ini di depan anak kelas lain. Ia harap rumor itu cepat berhenti. Ia memang tidak memberikan klarifikasi di grup kelas. Itu karena menurut Flo akan percuma, setiap katanya akan disangkal oleh mereka yang percaya apa yang mau mereka percayai.
Setelah meluapkan semuanya, Flo berlalu melewati Sesil. Ia kembali berjalan menuju kelasnya. Dihiraukannya berbagai tatapan yang mengarah kepadanya itu.
Sesampainya Flo di kelas Tiara yang biasa heboh dengan kehadirannya kini hanya terdiam di bangkunya dengan pandangan lurus ke depan. Flo sampai mengetuk meja di depan Tiara untuk menarik atensi sahabatnya itu.
"Gue nggak keliatan kah?" Flo melambaikan tangannya.
Tiara melihatnya sekilas lalu kembali menatap ke depan seakan dirinya tidak ada. "Gue nggak mau kena gibah juga. Jadi anggep kita nggak kenal," ucap Tiara yang akhirnya mendapat pitingan dari Flo.
"Ahahaha ampun!" seru Tiara sambil menepuk lengan Flo yang melingkar di lehernya.
Tiara tergelak hingga sudut matanya mengeluarkan air mata. "Lagian lo pake segala cuma read aja di grup bukannya ngejelasin," kata Tiara di sela-sela tawanya. Flo sendiri kembali duduk dengan tenang di kursinya. Ia membuka tasnya dan melepas kardigan yang membalut tubuhnya.
"Percuma juga kalau gue ngomong di grup doang. Nanti dianggep bohong. Mending sekarang aja nih, kalau ada yang mau nanya ngomong langsung sama gue," tantang Flo.
Tiara sendiri berdecak sambil menggelengkan kepala. Tak menyangka kalau nyali temannya memang sebesar ini.
"Lagian Kak Bagas juga kenapa nggak ngasih mentahannya aja sih. Segala nraktir makan," celetuk Tiara sambil menangkup wajahnya dengan tangan yang ditumpu ke meja.
Flo mengendikkan bahunya. "Mungkin kalau mentahannya lebih mahal dari traktiran?"
***
Jam istirahat tiba, Flo merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Tiara yang sudah selesai lebih dulu lantas berdiri. Menunggu Flo mengambil dompetnya dan menaruhnya ke dalam saku rok.
"Ayo," ajak Flo.
Mereka berdua berjalan menuju kantin. Melihat keadaan anak-anakbkelas sebelas yang sepertinya sudah tidak memerhatikannya lagi, Flo berpikir mungkin saja omelannya tadi pagi sudah tersebar ke grup angkatan. Flo tersenyum miring, baguslah menurutnya. Setidaknya ia tidak mendapat tatapan sinis dari barisan penggemar garis keras Kak Bagas.
"Kayaknya udah nggak pada peduli juga sama rumor itu." Tiara berbisik. Sahabatnya itu belum tahu kalau Flo sudah mencak-mencak di tengah lorong tadi pagi karena ulah Sesil.
Flo menarik tangan Tiara agar mempercepat langkahnya menuju kantin. "Ayo, cepet deh keburu nggak dapet tempat duduk," ucap Flo.
Keadaan kantin sudah cukup ramai. Flo langsung melangkah ke arah gerobak siomay. Memesan satu porsi, setelah membayarnya ia membawa piring itu ke salah satu meja yang kosong yang berada di tengah. Kepalanya memanjang, lehernya bergerak, matanya berlari mencari keberadaan sahabatnya.
"Ah, Ra, kok mau aja sih ngantri gitu," gumam Flo kala netranya menangkap Tiara yang sedang mengantri di gerobak dimsum.
"Lo sama sekali nggak khawatir?" Sandy yang baru terlihat di mata Flo tiba-tiba duduk di depannya.
Flo melebarkan matanya terkejut. "Lo dari mana aja?" Flo tak menjawab pertanyaan Sandy justru balik bertanya.
Sandy menghela napasnya singkat. "Padahal gue sama lo terus."
"Oh, ya? Masa sih?" Flo sendiri dari tadi tak menyadari kehadiran Sandy.
Kemudian Flo menyuap siomay itu. "Gue enggak perlu khawatir karena emang nggak ada yang perlu dikhawatirin. Kalau misal rumor yang kesebar di angkatan gue terdengar di telinga Kak Bagas juga gue yakin Kak Bagas bakalan bantu gue untuk ngebantah."
Sandy menatap Flo dengan tatapan bersalah. Cowok itu pikir semua ini gara-gara dirinya. Seandainya ia tak menyuruh Flo untuk lebih keras lagi mendekati Bagas, mungkin cewek itu tidak perlu terkena berita miring seperti itu.
"Mukanya nggak usah gitu juga dong. Lagian berita kayak gini juga kalau didiemin nanti hilang." Flo berusaha menenangkan.
Sandy baru ingin membuka mulutnya. Namun, sebuah minuman berwarna jatuh dari atas kepala cewek itu.
Kejadian itu berlangsung cepat. Flo tersentak dengan siraman itu. Ia mendongakkan kepalanya mencari pelaku penyiraman.
Alia, perempuan itu dengan wajah tanpa bersalahnya menjatuhkan gelas plastik kosong itu di depan mata Flo.
"Maaf, gue nggak liat kalau ada lo di bawah sini."
Apalagi ini? Kenapa Alia melakukan ini kepadanya, padahal ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan kepadanya.
Apa ini ada kaitannya dengan rumor itu?
Saat Alia hendak berbalik untuk melangkah pergi. Flo lantas mengeluarkan suaranya untuk menahan langkah kaki itu.
"Kak Alia suka Kak Bagas?" tembak Flo. Ia tidak akan membiarkan kakak kelasnya itu pergi begitu saja setelah mempermalukannya seperti ini di depan umum.
Alia menyunggingkan senyum miringnya. "Apa lo bilang tadi?" kata Alia dengan nada tinggi.
Tepat saat ia ingin menyerang Flo lagi dengan kata-kata sebuah gelas melayang ke arah Alia. Flo sendiri terkesiap saat salah satu siswa melempar gelas berisi es jeruk ke arah Alia. Membuat kondisi Alia tidak beda jauh dengan kondisinya.
Kemudian anak yang melempar gelas itu berbalik pergi. Alia sendiri belum sempat melihat pelakunya.
"Siapa yang berani lempar gue pake ini, hah?" amuk Alia.
Beberapa anak sudah membuat lingkaran di sekeliling Alia dan Flo. Seakan memang menyediakan arena gelut dan tontonan gratis.
"Itu suruhan lo, kan? Iya, kan?!" Mata kakak kelasnya itu sudah melotot sempuran. Geraman lolos dari mulutnya. Tangannya mengepal seakan siap untuk mengobrak-abrik Flo.
Flo beringsut ke belakang. Ia belum siap berkelahi fisik dengan kakak kelasnya itu.
Flo melangkah mundur hingga tubuh ia menabrak tubuh seseorang. Cewek itu belum sempat melihat siapa yang ia tabrak. Namun, sebuah jas almet sudah menyelimuti dirinya.
Bagas menembus kerumunan itu. Berdiri di belakang Flo dan sangat mengejutkan ketika ia memberi jas almetnya kepada Flo untuk menutupi noda yang mengotori seragam cewek itu.
"Kak Bagas?"